Kesunyian Kelas Pekerja

Yusrizal KW

Belakangan ini saya membagi hidup saya di dalam transportasi umum, dari angkot hingga kereta. Lalu dalam pembagian hidup itu saya mengalami berkali-kali peristiwa budaya, salah satunya soal musik. Maklum, saya berangkat dari sebuah desa dan menempuh perjalanan ke tempat kerja dengan melewati kota-kota besar. Dalam peristiwa itu, pertanyaannya saya sederhana, “di mana posisi musik sekarang ini?”

Di KRL Jakarta–Bogor yang saya tumpangi ini misalnya, sejauh yang saya lihat, lima dari tujuh orang yang saya perhatikan memasang earphone di telinganya. Sehingga menurut hemat saya, earphone bukan lagi benda personal. Ia sudah menjadi bagian dari infrastruktur sosial, semacam pelengkap dari seragam yang digunakan oleh tubuh-tubuh yang sedang dipindahkan dari rumah ke tempat kerja.

Dalam tiap gerbong yang saya lalui sebelum memantapkan pilihan tempat duduk, pasti ada yang terpasang earphone di telinganya. Tapi bukan hal itu yang mengilhami saya menulis ini, melainkan ketiadaan reaksi di tubuh para pendengarnya, itu. Tidak ada kepala mengangguk, tidak ada kaki yang menghentak bumi, tidak ada upaya kecil untuk menghidupi musik itu secara fisik. Kalau memang sebagian besar dari mereka sedang mendengarkan musik (sebab bisa saja mereka scroll sosmed), maka musik itu jelas tidak sedang dihadapi sebagai sebuah pengalaman, melainkan sebagai alat.

Ini penting dicatat, kembali lagi menurut hemat saya, karena musik secara historis selalu berhubungan langsung dengan tubuh. Hal itu sebagaimana dijelaskan Christopher Small, musik sejak awal bukan sekadar rangkaian bunyi, melainkan praktik sosial yang selalu melibatkan tindakan tubuh, relasi antarmanusia, dan ruang tempat musik itu berlangsung. Musik adalah ritme, getaran, ajakan bergerak, sesuatu yang sulit dipisahkan dari gestur. Dalam banyak kebudayaan, musik hampir selalu bersifat kolektif, ia terdengar keluar, mengisi ruang, dan membangun suasana bersama.

Tetapi peristiwa yang saya jumpai di kotak besi ini justru kebalikannya. Musik diperkecil, dipersonalkan, dan diputus hubungannya dari ruang publik. Ia masuk ke telinga, berhenti di kepala, lalu dikunci agar tidak bocor ke mana pun.

Pergeseran kebiasaan itu bukan soal selera atau teknologi semata. Ia berkaitan langsung dengan cara kota mengatur pola hidup kelas pekerja. Waktu tempuh yang panjang, jam kerja yang membagi 24 jam menjadi potongan kecil dan tak beharga, serta upah yang tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan membuat tubuh berada dalam kondisi kelelahan yang mentok.

Dalam situasi seperti itu, musik tidak lagi berfungsi sebagai medium ekspresi atau perayaan, melainkan sebagai alat survival. Ia dipakai agar kegundahan kelas pekerja tidak berubah jadi ledakan, agar capek tidak berubah jadi penolakan, agar hidup tetap bisa dijalani meski terasa makin sini makin paceklik.

Musik yang saya temukan dalam rutinitas itu agaknya bekerja seperti suatu anestesi ringan yang kegunaannya cukup untuk menumpulkan kesadaran seorang manusia, tapi tidak cukup kuat untuk memulihkan tenaga. Akibatnya, orang-orang tidak lagi mendengarkan musik untuk merasa lebih hidup, melainkan supaya hidup tidak terasa terlalu menyakitkan. Oleh karena tujuannya adalah bertahan, tubuh tidak perlu ikut terlibat. Tubuh justru harus diam, hemat energi, dan disiapkan untuk diperas terus-terusan di tempat kerja.

Yusrizal KW

Di titik ini, transportasi umum seperti KRL adalah ruang latihan kepatuhan yang sangat efektif. Tidak ada tulisan “dilarang bergoyang”, tapi semua orang tahu itu tidak pantas. Secara alamiah tubuh belajar sendiri terhadap batas budaya seperti itu. Ia tahu kapan harus diam dan kapan untuk tidak bertindak “berbeda”. Kontrol tidak lagi datang dari petugas, melainkan dari rasa malu, rasa tidak enak, dan ketakutan kecil untuk dianggap mengganggu atau aneh.

Earphone menjadi teknologi yang sangat cocok dengan mekanisme itu. Ia menawarkan kebebasan yang sepenuhnya aman bagi sistem. Kamu bebas memilih lagu apapun, bebas larut dalam emosi apapun, asal semua itu tetap terjadi di dalam kepala dan hal itulah yang diinginkan oleh government.

Namun, disiplin itu tidak pernah sepenuhnya sempurna. Ada retakan kecil yang kadang muncul, meski sangat gampang untuk ditekan. Kepala yang sempat mengangguk lalu berhenti. Jari yang mengetuk paha sebentar lalu diam lagi. Bibir yang hampir bernyanyi, tapi segera ditutup rapat. Momen-momen kecil ini menunjukkan bahwa tubuh sebenarnya masih merespons, hanya saja respons itu segera disensor oleh keadaan di sekitar.

Lalu, lagi-lagi yang mengalami hidup paling keras dalam kondisi ini adalah kelas pekerja. Mereka yang menghabiskan dua sampai empat jam sehari di perjalanan dan mereka sebetulnya tidak sedang memilih gaya hidup yang sunyi. Mereka sedang mengelola keterbatasan, sebab bergerak berarti mengeluarkan energi tambahan, dan energi adalah sesuatu yang harus dihemat agar cukup sampai rumah dan dihabiskan bersama keluarga. Musik lalu diperlakukan seperti kopi atau rokok: alat bantu agar tubuh tetap berfungsi, bukan menjadi sumber kenikmatan. Sehingga segala bentuk ekspresi ditunda, kesenangan ditangguhkan, tubuh diperlakukan sebagai mesin yang harus dijaga agar tidak rusak sebelum waktunya.

Dalam kondisi seperti ini, jangan heran jika euforia kolektif menghilang. karena euforia butuh ruang, waktu, dan tenaga—tiga hal yang paling banyak dirampas dari kelas pekerja kota. Kemudian yang tersisa adalah individu-individu yang dipaksa mengelola emosinya sendiri-sendiri. Musik yang dulu bisa menyatukan orang kini dipecah menjadi pengalaman privat yang tidak saling bersentuhan.

Juan M. Loaiza berpendapat bahwa ketika musik semakin dipraktikkan sebagai pengalaman privat yang terisolasi yang hilang bukan hanya ruang berbagi suara, tetapi juga jaringan relasi sosial yang selama ini menjadi tempat musik memperoleh maknanya.

Situasi ini jelas menguntungkan banyak pihak. Kota diuntungkan karena ketertiban terjaga. Perusahaan diuntungkan karena pekerjanya datang tepat waktu tanpa membawa emosi yang meluap. Negara diuntungkan karena tidak perlu menyediakan ruang publik yang benar-benar layak untuk istirahat atau berekspresi. Semua tanggung jawab dialihkan ke individu: atur emosimu sendiri, tenangkan dirimu sendiri, dengarkan musikmu sendiri.

Karena itu, earphone tidak bisa dibaca sekadar sebagai simbol kebebasan personal. Ia adalah bagian dari suatu megadesain kapitalisme dengan tujuan untuk menjinakan emosi massal yang murah dan efektif. Daripada menaikkan upah, mempersingkat jam kerja, atau membangun kota yang lebih manusiawi, government cukup menyediakan akses ke hiburan privat. Selama warga bisa menenangkan dirinya sendiri, selama warga terjebak dalam kesemuan itu, tuntutan struktural yang seharusnya bisa dikritisi kini tidak lagi jadi perhatian dan dibiarkan begitu saja.

Tubuh yang selalu diam di tengah musik yang berdendang bukan tanda kedewasaan emosional. Ia adalah tanda kelelahan yang dinormalisasi, tanda bahwa hidup para pekerja telah direduksi menjadi serangkaian fungsi praktis kapitalisme.


Referensi:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top