Pagi Biasanya

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Pagi biasanya kau terbangun dari sisi suami dan anakmu, beranjak dari tempat tidur tanpa berniat membangunkan mereka. Kau melangkah ke arah pintu, mematikan lampu di dalam rumah juga teras, lalu mengikat gorden. Para tetangga mungkin juga melakukan hal yang sama sepertimu. Di saat kau menguak daun jendela, Bu Oka, tetangga dekatmu menyapa disertai anggukan kepala. Kau menimpali keramahannya sembari menyempatkan tersenyum. Itu semacam ajakan sederhana untuk bercengkerama dengannya, sehingga hatimu tergerak menuju keluar. Kau meraih sapu lidi yang tersandar di dinding, mulai membersihkan pekarangan. Bunga kamboja dan dedaunan dari pohon lain berguguran bersamaan semalam. Kau menyapu sambil memilahnya, menaruh bunga-bunga itu di meja teras. Selagi senggang kau dan tetangga itu menjalin perbincangan yang antusias disertai senda gurau.

Suamimu terbangun dan keluar dari kamar. Kau undur diri dari percakapanmu dengannya. Meski kalian saling memaklumi situasi itu, tetapi kau tetap menunjukkan rasa segan untuk merawat hubungan baik dengannya, karena bagimu citra seorang istri tak hanya melekat pada keluarga semata.  Tak berselang lama anakmu juga meninggalkan tempat tidurnya. Anak itu adalah aku yang telah berusia lima tahun lebih ketika itu. Kau menyambutnya di depan pintu kamar, mencurahkan kasih sayangmu dengan perangai lembut dibarengi suara yang membujuk. Ia pun membalas perlakuanmu dengan rengekan manja yang menyentuh perasaanmu. Pagi itu kau menyiapkan handuk serta pakaian untuknya, lalu memandikannya. Suamimu duduk di kursi dapur menunggui air hingga mendidih di ketel. Ia merendam bubuk teh di dalam teko, melarutkan gula, dan menuangkannya ke setiap cangkir di atas meja dengan saringan. Setelah anakmu berpakaian, kau membubuhi pipi serta dahinya dengan ciuman dan memintanya untuk membangunkan mertuamu. Sesaat terdengar kegaduhan kecil di sana yang membuatmu tersipu-sipu selagi kau melangkah ke dapur. Kau menyalakan kembali kompor yang baru saja sumbunya diturunkan oleh suamimu untuk menyurutkan api, kemudian memanaskan makanan untuk sarapan sebelum ia bersiap berangkat kerja. 

Seperti pagi pada hari kerja biasanya, kau selalu melihat suamimu memakai setelan terbaiknya, menyandang sebuah tas kulit tersampir di bahunya sambil melambaikan tangan kepadamu dan kau pun mengimbanginya dengan sikap serupa. Kau menunggu anakmu sementara ia berkelakar bersama mertuamu hingga mereka senang setelah terkuras banyak tenaga. Mereka kemudian membiarkannya menggandeng tanganmu untuk kalian mengisi waktu bersama berangkat ke pasar pagi itu. Anakmu menoleh sesekali ke arah ayah mertuamu yang berdiri jauh di belakang memastikan kalian baik-baik saja di perjalanan sekalian ia berjemur di bawah sinar matahari. 

Di sepanjang jalan kau menggenggam tangan anakmu sambil mengobrol. Pepohonan di kedua sisi jalan itu menaungi kalian dari matahari yang membuat sinarnya berselang-seling terang dan teduh oleh bayangan dari pepohonan. Kalian merasa seperti keluar-masuk cahaya dan ruang gelap, dan menjadikannya sebagai sebuah permainan. Suara keriangan kalian merebak di jalanan itu. Orang-orang di belakang bercakap-cakap, orang-orang dari jalan yang berlawanan menyapa kalian seakan tersentuh oleh keharmonisan. Maka hal itu membuatmu sejenak terhenti untuk saling menukar ucapan basa-basi yang santun dengan mereka. Hiruk-pikuk pasar terdengar saat kalian tiba di sana. Anakmu berdiri di sisimu ketika kau mendapatkan perhatian personal dari pedagang langgananmu di sana. Barangkali karena kau tak bersama ibu mertuamu saat itu seperti pagi sebelum-sebelumnya, maka mereka bertanya sekadar mengakrabkan diri atau benar-benar ingin mengetahui hubungan kau dengan keluargamu. Kau melalui hari-hari berkesan itu setiap pagi tanpa ada yang berkurang dalam hidupmu. 

Namun di suatu pagi yang ganjil pada bulan Oktober, kau kehilangan masa-masa bahagia itu. Segerombolan suara menyeru dalam teriakan bergemuruh di pekarangan rumahmu. Orang-orang itu adalah tetangga yang selama bertahun-tahun menyapamu, mengobrol serta bersenda gurau. Orang-orang itu mengenal keluargamu yang penuh kehangatan dan menyenangkan. Kau tidak tahu-menahu hal buruk apa yang mendatangimu. Ketika kau menyatakan keterkejutanmu, ayah mertuamu dengan kebingungan memberi tahu bahwa mereka datang bukan karena kesalahan dirinya, melainkan karena sebuah peristiwa yang diberitakan oleh radio pusat. Ia meyakini kabar itu masih desas-desus, tetapi ia ragu menyampaikannya di luar sana, di hadapan para perusuh itu. Yang mereka inginkan bukanlah kebenaran atau pembelaan. Apa pun yang kalian pikirkan pada situasi saat itu hanya menguap sia-sia. Kau mendekap tubuh anakmu, memintanya dalam suara gemetar agar tidak menangis dan tetap bertahan seperti itu selama mungkin. Pagi itu hanya rumah satu-satunya sebagai pertahanan kau bersama keluargamu.

“Bakar! Bakar saja kalau tidak mau keluar!”

Seakan tak pernah ada nostalgia dalam ingatanmu, jauh sebelum hari terakhir kau bersama suamimu keluar melalui pintu belakang. Ia menggendong anak kalian dan kau tersungkur di halaman belakang, di sela-sela rerumpun bambu. Ia menurunkannya dari pangkuan ke sisimu. Kau tak tahu harus berbuat apa. Anakmu tak sekalipun menangis, ia hanya terperangah menatap suamimu dalam keadaan panik, tergesa-gesa kembali ke dalam rumah yang sudah dijalari api. Setiap kali masa lalu itu menyerang pikiranmu, seakan-akan penderitaan itu menjelma api di sekujur tubuhmu sembari kau meratapinya hingga kelelahan. Sekian lama hatimu dihinggapi penyesalan, seandainya saja kau melakukan sesuatu, apa pun itu, demi menyelamatkan suami serta mertuamu saat mereka keluar bersama-sama dengan api yang merayapi tubuh mereka, tetapi kau hanya terdiam menyaksikan mereka kalang-kabut kepanasan disertai jeritan memilukan yang akhirnya dihentikan sebilah parang dari tangan seseorang yang melesatkannya ke leher suami dan kedua orang tuanya.

Dengan tatapan hampa yang serupa di hari kejadian itu, kau mengenangnya kembali di saat duduk bersamaku. Aku menghimpun potongan-potongan peristiwa itu dari apa yang telah kau ceritakan kepadaku selama ini. Kita sama-sama menangis seperti dua orang dalam pengasingan dan dipenjara duka. Kekejaman mereka tak juga redup saat itu. Mereka nyaris merampas anakmu, tetapi kau menghalau dengan teriakan putus asa untuk menggantikannya dengan dirimu sebab mereka hendak melakukan hal serupa seperti kepada suami dan mertuamu.

“Jangan bunuh anak saya! Kalau mau membunuh saya, lakukan sekarang!”

Mereka mengurungkan niat keji itu dan tidak puas jika hanya melayangkan parang ke lehermu. Mereka tak ingin terburu-buru mengakhiri. Tubuhmu terombang-ambing oleh tangan-tangan mereka selagi merenggut seluruh pakaianmu sampai tak menyisakan sehelai pun, bahkan kehormatanmu sebagai perempuan pun telah dikuliti. Bagi mereka perbuatan itu atas dasar kemarahan, kebencian, atau mungkin untuk meluapkan kesenangan  semata. Kau menoleh ke arah anakmu, seakan berbicara kepadanya di dalam hatimu agar tidak merengek dan meneteskan air mata setitik pun. Ia tidak menangis kala itu atau mungkin ia berusaha membendungnya. Ia berdiri membeku di belakangmu dengan pikiran anak-anaknya yang dicengkam ketakutan dan menahan diri sembari memahami perasaannya serta keadaanmu saat itu. Ia masih bertahan di sana tanpa memalingkan wajahnya dari bahu-bahu yang mengerumunimu, dari tangan-tangan yang mengarakmu, dari suara-suara yang mencelamu di sepanjang jalan desa. Kau kian jauh dan luput, hingga menyisakan ia seorang diri.

“Setan! Sundal! Pembunuh jenderal-jenderal!”

Mereka mengalungkan selembar label di lehermu dan berulang-ulang mengumumkan berbagai kecaman tentang dirimu. Kegaduhan itu mengundang orang-orang berhamburan ke jalan, menyaksikanmu dengan raut yang merendahkan, mengumbar sumpah serapah, seolah-olah kau yang melakukannya, seolah-olah tanganmulah yang berlumur darah para jenderal yang mati itu. Kau terhuyung-huyung karena tangan-tangan mereka terus mengguncangmu ke sana kemari. Di sela-sela keramaian itu mungkin ada beberapa pasang mata yang menaruh iba kepadamu, tetapi siapa yang mau menyuarakan hati nuraninya untukmu. Tak ada seorang pun yang bertekad menolong sebab tak ingin tertular kesialan darimu.

Kau tak pernah bisa menjauhkan hidupmu dan masa kecilku dari desa itu. Kemungkinan kau melupakannya hanya dengan lambat laun. Aib itu tak henti-henti membuntutimu hingga ke alam mimpi, bahkan telah menggenangi jiwamu. Kilasan-kilasan cemoohan mereka bercampur baur di benakmu, terngiang-ngiang persis suara-suara yang tengah bergunjing di setiap jalan, di sebuah pasar. Kenangan bersama anakmu, suamimu, serta mertuamu tertelan seluruhnya di setiap penjuru, juga di balai desa itu, tempat pertemuan para keluarga yang pernah kau datangi untuk berunding atau menyimak sebuah ceramah dari Kepala Desa tentang kehidupan rumah tangga yang tenteram dan bahagia telah berubah menakutkan. Di sanalah puncak kekalutan hidupmu, saat mereka mengikat tubuhmu ke tiang penyanggah, dipamerkan sehari-semalam tanpa diberi makan. Dalam setengah sadar kau masih merasakan tangan beberapa laki-laki merayapi tubuhmu dengan niat bejat, tetapi kau hanya memohon kepada mereka dengan suara yang lemah untuk dapat melihat wajah anakmu sekali saja saat itu.

Sesudah hari duka dan penghinaan itu, kau tak diberi waktu sesaat pun untuk mencari anakmu karena mereka akan menyerahkanmu paginya kepada tentara. Kau menerima sumbangan pakaian seadanya serta beberapa suap makanan untuk mengisi perutmu yang kosong sehari semalaman. Saat menanyaimu beberapa hal penting, kau mengeluhkan tentang keadaan anakmu, tetapi tentara yang duduk berhadapan denganmu di ruangan itu menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Kau harus menjawabnya agar tak dikira mengabaikan mereka. Berjam-jam kau mendengar mereka mengorek-ngorek ingatanmu dengan nada bicara yang meninggi serta menyudutkan, berulang-ulang memeriksa namamu di berkas yang menerangkan seluk-beluk kehidupanmu pada masa lalu dan sebelum hari nahas itu. Tak ada satu pun petunjuk yang membuktikanmu terlibat. Namun karena mertua serta suamimu ada di dalam daftar hitam mereka, itu menjadi satu-satunya alasan untuk mengekang hidupmu selama mungkin menetap di desa itu.

 Rumah itu dulunya penuh kehangatan dan menyenangkan. Saat tiba di sana kau hanya merasakan keheningan dari abu dan bau hangus pada sebagian kayu-kayunya yang telah diporak-porandakan api. Kau masih terbayang-bayang api itu memupuskan tubuh suamimu serta kedua orang tuanya, tetapi orang-orang yang memalingkan wajah darimu pada saat jalan pulang tadi adalah penyulutnya. Kau melangkah ke belakang rumah sembari menguatkan hatimu untuk menemui jasad mereka. Tak ada satu pun tubuh tertinggal di situ, kecuali noda hitam bekas terbakar pada rerumputan dan tanah. Rasa kehilangan itu membuat kedukaanmu beserta dendam makin sedalam jurang. Meski para jahanam itu menebusnya suatu hari dengan meminta maaf, itu tidak akan bisa mengembalikan kehidupanmu seperti semula. Namun kau mesti mengabaikannya sementara waktu karena harus mencari anakmu. Aku bersama seorang tetangga pada saat kejadian itu. Orang itu adalah Bu Oka, ia membujukku untuk tinggal di rumahnya sementara. Wanita itu melihatmu dari balik jendela rumahnya dan sembunyi-sembunyi mengantarkan kau menemui anakmu. Kau memeluknya tanpa berkata apa-apa, hanya suara sedu-sedan sembari kau mengusapi wajahnya dengan sentuhan penuh kerinduan seakan-akan ia baru kembali setelah menghilang begitu lama dari sisimu.

Pagi biasanya tak lagi serupa bagimu. Kau harus membiasakan diri bersama rasa kehilangan serta kenyataan baru yang akan kau lalui ke depannya. Sekali seminggu kau mesti memberi keterangan yang sesuai dalam laporanmu, menemui wajah-wajah para interogator itu di sebuah ruangan. Tak dapat kau hindari jika sewaktu-waktu pada malam hari gejolak berahi mereka melonjak saat mendatangimu. Berkali-kali kau memikirkan rencana melarikan diri bersama anakmu. Berkali-kali itu juga kau mengurungkannya sebab kau tak ingin ada kesalahan sekecil apa pun yang akan menyeret hidupku ke dalam suatu masalah, sehingga hanya dirimu seorang yang menanggungnya. Tahun demi tahun hanya sebagai kenangan pahit bagimu dan mereka tak pernah sama sekali memulihkan namamu seperti sejarah yang terus digelapkan kebenarannya. Meski rezim telah berganti hari ini, kau masih terasing dalam lamunan, berbicara sendiri dalam bayang-bayang masa lalu itu, bahkan tak henti menangis seperti kegilaan tengah merasukimu. Setiap kali kau meluapkan beban duka itu, mengisahkan seluruhnya kepadaku, berkali-kali dan berulang-ulang hingga kau kelelahan dan memasrahkannya, sampai akhirnya kisah itu menggenangi pikiranku. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top