
Mendadak udara bacin bagai merobek penciuman Marla. Beberapa detik usai memasuki lorong pintu masuk di Pasar Kliwon yang riuh lagi kumuh, hal pertama yang dilihat dan menarik perhatian Marla adalah kawanan lalat hijau.
Kawanan lalat hijau yang tampak sibuk berdengung-beterbangan ke sana kemari. Kawanan lalat hijau yang sesekali menclok dan menjilati longgokan licin kepala babi, jeroan kambing, tulang belulang sapi, dan potongan brutu ayam yang ditata berjejer-jejer di atas meja panjang yang sudah lapuk dan reyot. Kawanan lalat hijau yang, menurut Marla, telah membuat kepala babi, jeroan kambing, tulang belulang sapi, dan potongan brutu ayam itu tak lagi menarik selera para pengunjung di Pasar Kliwon.
Melihat bagaimana bagian-bagian tubuh binatang itu ditata; ditumpuk berjejer-jejer di atas meja panjang, seketika mengingatkan Marla kepada macam-macam barang bukti tindak kejahatan yang pernah ia tonton secara tak sengaja di sebuah berita televisi, beberapa tahun yang lalu. Bagi Marla kedua hal itu memiliki kemiripan. Bedanya, bagian-bagian tubuh binatang yang ia lihat di pasar itu adalah barang dagangan. Sedangkan barang bukti tindak kejahatan yang disiarkan di berita televisi itu adalah barang sitaan. Yang pertama menguntungkan, yang kedua merugikan. Begitulah pikir Marla.
“Daging ayam masih ada?”
“Kosong.”
“Ceker ayam?”
“Habis. Yang tersisa tinggal brutu ayam. Kalau mau yang lain, tuh, ada kepala babi, jeroan kambing, sama balungan sapi.”
“Huh! Aku tak mungkin membeli kepala babi. Kau mestinya tahu itu, Pak Tua.”
Sebenarnya Marla tak berniat untuk menguping, tetapi kedua kuping Marla sudah terlanjur mendengar percakapan itu. Percakapan antara seorang perempuan tua berkerudung dengan lelaki tua si pedagang. Perempuan tua berkerudung yang berniat membeli daging ayam dan ceker ayam, tetapi niat itu pupus seketika lantaran lelaki tua si pedagang, entah kenapa, sedang tak menjual daging ayam, di samping ceker ayam sudah ludes terjual.
Di tengah keriuhan Pasar Kliwon, Marla sempat mengamati gelagat kedua orang itu; perempuan tua berkerudung dan lelaki tua si pedagang, dari jarak beberapa meter, sebelum akhirnya kedua orang itu berpisah lantaran tak mencapai kesepakatan jual-beli. Sesaat, Marla melihat raut kecut yang terbit di wajah lelaki tua si pedagang, membuat Marla sedikit merasa iba. Namun di sisi lain, ada pula perasaan ganjil, amat ganjil, yang dirasakan Marla tatkala memandang raut wajah lelaki tua si pedagang. Namun, Marla tak tahu pasti sebab apa yang membikin perasaannya terasa ganjil.
Dan beberapa saat setelahnya, pikiran Marla bagai dihantui oleh raut kecut di wajah lelaki tua itu. Ya, wajah lelaki tua si pedagang itu. Entah kenapa.
***
Hari itu adalah pengalaman pertama Marla mengunjungi Pasar Kliwon, pasar tradisional yang letaknya tak begitu jauh dari rumahnya. Marla hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit naik sepeda ke Pasar Kliwon. Marlina, ibu Marla, telah menaruh percaya kepada anak perempuan semata wayangnya yang kini genap menginjak usia tujuh belas, untuk berbelanja bahan makanan sehari-hari. Lantaran bagi Marlina, anak perempuan seusia Marla sudah cukup matang untuk belajar belanja di pasar seorang diri.
Dua ikat kangkung, empat ekor ikan bandeng, beras dua kilo, setengah kilo minyak goreng, seperempat lombok, berambang, dan bawang putih. Oh ya, muncang!
Seraya melangkah pelan di sepetak jalan becek yang membelah pasar itu, Marla berupaya mengingat-ingat pesanan belanja yang diucapkan ibunya pagi tadi sebelum dirinya bergegas pergi ke Pasar Kliwon.
Sesaat Marla merasa kikuk tatkala mendapati beberapa pedagang menawarkan bermacam-macam dagangan kepadanya. Sesekali juga Marla meludah lantaran tak nyaman mencium udara pasar yang bacin berbau sayuran busuk, amis daging, bangkai tikus, sampah selokan, dan keringat banyak orang.
Cuih! Percik ludah Marla mengenai genangan air keruh yang tertampung di rongak jalan.
Marla terus melangkah masuk lebih dalam ke Pasar Kliwon. Mengamati satu per satu barang dagangan yang dijajakan para pedagang pasar. Kendati Marla sudah melihat beberapa bahan yang akan dibelinya sesuai pesanan ibunya, tetapi Marla belum ingin lekas membelinya. Pengalaman pertamanya berkunjung ke pasar membuat Marla ingin berlama-lama menjajaki segala penjuru Pasar Kliwon.
Setelah beberapa menit mengayunkan langkahnya dan mengamati suasana pasar yang riuh, Marla berhenti sejenak di salah satu simpang kecil di pasar itu, sembari menimbang-nimbang ke mana langkah selanjutnya. Sedang tak jauh di sisi kiri Marla berdiri, tampak sebuah lorong kecil yang tertutup oleh tirai hitam. Sesekali Marla lihat satu-dua orang keluar-masuk menyibak tirai hitam di mulut lorong kecil itu.
Marla tentu penasaran dengan lorong kecil bertirai hitam yang dilihatnya. Lorong bertirai hitam yang lebih kecil dari lorong utama di pasar itu membuat Marla, entah kenapa, tergerak untuk memasukinya.
Dan sesaat setelah memasuki lorong kecil bertirai hitam di Pasar Kliwon itu, mendadak keheranan Marla membuncah. Jantung Marla berdegup lebih cepat. Marla menelan ludah dan sesekali ingin muntah tatkala melihat sesuatu yang ganjil, teramat ganjil, di balik tirai hitam itu, di dalam lorong kecil pasar itu.
***
Jika di lorong pintu masuk pasar Marla melihat kawanan lalat hijau yang berdengung-beterbangan di sekitar longgokan kepala babi dan bagian-bagian tubuh binatang lainnya, di lorong kecil itu Marla justru melihat pemandangan yang lebih ganjil dan mencengangkan.
Marla melihat para pedagang di dalam lorong kecil itu menjual sesuatu yang teramat ganjil tapi seragam; wajah-wajah manusia. Wajah-wajah manusia yang digantung berjejer-jejer menggunakan runcing kail besi. Wajah-wajah manusia dengan berbagai macam bentuk; wajah orang muda, wajah orang tua, wajah perempuan, wajah laki-laki, wajah halus, wajah keriput, wajah sedih, wajah senang, wajah marah, wajah busuk, dan wajah-wajah lainnya.
Wajah-wajah manusia dijual-belikan di lorong kecil pasar itu. Seketika mengingatkan Marla kepada raut kecut di wajah lelaki tua si pedagang yang sebelumnya ia lihat di lorong dekat pintu masuk pasar. Marla merasa wajah lelaki tua si pedagang yang ia lihat sebelumnya memiliki bentuk yang agak mirip dengan wajah-wajah yang digantung berjejer di sepanjang lorong kecil itu.
Dengan dada berdebar, Marla melangkah pelan memasuki lorong kecil itu lebih jauh, lebih dalam. Tampak beberapa orang di lorong itu yang sesekali memandang Marla tanpa berkata-kata. Seolah kehadiran bocah ingusan di lorong kecil itu bukanlah sesuatu yang menarik perhatian mereka.
“Cari wajah baru, Mbah?” tanya seorang pedagang lelaki kepada seorang nenek bungkuk bertongkat, lantas menunjuk sederet wajah yang menggantung di kail besi. “Yang ini cocok untukmu, Mbah. Garis rahang tegas, sorot mata juga jernih. Kalau Mbah pakai wajah ini, orang akan percaya apa pun yang Mbah katakan.”
Marla mengamati cara si pedagang wajah itu menawarkan wajah-wajah dagangannya kepada calon pembelinya—seorang nenek bungkuk bertongkat, yang terlihat sibuk mengamati wajah-wajah yang menggantung di hadapannya, seolah si nenek sedang bersikeras mempertimbangkan.
“Kalau terlalu mahal, nih,” si pedagang wajah menurunkan salah satu wajah dari kail gantungan, lalu menunjukkan wajah itu kepada si nenek bungkuk bertongkat. “Mbah akan terlihat seperti orang yang pernah menderita, tapi berhasil bangkit. Orang akan hormat pada wajah seperti ini. Tak perlu susah payah bercerita saat memakai wajah ini, Mbah. Sebab wajah ini dengan sendirinya sudah memancarkan semacam aura. Aura karismatik.”
Sesaat, Marla menampar wajahnya sendiri. Mengira sedang berada di alam mimpi dan mengalami mimpi buruk. Marla menampar wajahnya sekali lagi. Rasa pedas sekaligus panas ia rasakan di wajahnya. Wajah Marla memerah seketika. Begitu Marla sadar bahwa apa yang dialaminya bukanlah mimpi, mendadak sekujur tubuhnya bergetar hebat. Betapa Marla merasa cemas. Betapa Marla merasa gentar.
***
“Aku dulu jelek sekali. Sampai-sampai orang tak sudi menatapku barang lima detik. Sekarang? Aku bahkan sudah menikah lima kali. Semua berkat pasar wajah. Di sini, aku menemukan wajah yang membuatku menjadi orang paling beruntung sedunia, Bung! Kau bodoh kalau menolak kesempatan.”
“Lihatlah wajahmu, Nek. Bercerminlah. Retakan di wajahmu itu makin dalam dan berlapis. Orang tak akan tertarik kepadamu, kecuali bahwa kau akan jadi tontonan paling menyedihkan.”
“Jangan buang waktu, Pak Tua. Pilihlah sekarang. Kalau kau menunda, wajahmu akan reyot seiring waktu. Katakan, kau ingin hidup sebagai siapa? Orang yang ditakuti dan dihormati, atau orang yang payah dan dikucilkan?”
“Wajah lamamu yang menyedihkan bisa kau tukar tambah dengan wajah baru, Bung. Kadang-kadang, di pasar ini masih ada orang tolol yang mencari wajah busuk penuh luka dan menyedihkan, seperti wajahmu. Dengan begitu, kau bisa beli wajah baru yang lebih segar.”
Percakapan-percakapan seputar tawar-menawar wajah begitu mengusik pikiran Marla. Sesekali, Marla membayangkan bagaimana jika wajahnya sendiri turut dipajang di kail gantungan itu, bersanding-berjejeran dengan wajah-wajah lain dari berbagai rupa dan bentuk, lalu ditawar oleh orang asing entah siapa, lalu orang asing itu memakai wajahnya, dan menjadi dirinya yang lain. Membayangkan hal itu, membikin Marla bergidik ketakutan.
Segera Marla melangkah, tergesa, menuju ujung lorong bertirai hitam. Marla ingin cepat keluar dari pasar wajah. Marla merasa resah. Bagai dihantui firasat buruk. Ke mana pun Marla menoleh, wajah-wajah itu seolah terus menatapnya tajam. Marla pun dihantui wajah-wajah. Sesekali Marla melihat wajah ibunya. Sesekali juga melihat wajah ayahnya. Menyusul pula wajah-wajah yang lain.
Tinggal beberapa langkah lagi Marla tiba di ujung lorong bertirai hitam itu, tiba-tiba Marla melihat kerumunan orang tengah bertempik sorak di sekitar panggung kecil pertunjukan yang berdiri di salah satu sudut lorong itu. Di sana, bisa Marla lihat seorang lelaki sedang berdiri di atas panggung, wajah lelaki itu berganti-ganti setiap detiknya; wajah muda, wajah tua, wajah perempuan, wajah lelaki, hingga wajah buruk rupa dan mengerikan. Melihat pertunjukan wajah yang sedang berlangsung, kerumunan orang itu tak henti-hentinya bersorak-sorai. Orang-orang di lorong itu bagai tersihir oleh kesenangan paling gemilang dalam hidupnya.
Marla hampir tiba di ujung lorong kecil bertirai hitam itu. Namun, di salah satu sudut yang lain, di dekat ujung lorong kecil itu, lagi-lagi Marla melihat sesuatu yang membuatnya ingin muntah. Marla melihat dua orang lelaki sedang melakukan proses pergantian wajah. Marla melihat salah seorang di antaranya berteriak kesakitan ketika proses pelepasan wajah aslinya. Dan tatkala wajah asli orang itu telah lepas sepenuhnya, sebelum diganti wajah baru, sesaat Marla dapat melihat jelas wajah orang itu; wajah darah belaka. Ya, wajah darah belaka!
Sesaat kemudian, tirai hitam pun tersibak. Marla berhasil keluar dari pasar wajah itu dengan napas ngos-ngosan dan kepala nyut-nyutan. Seketika udara bacin bagai merobek penciuman Marla. Kawanan lalat hijau beterbangan sekaligus menclok sesekali di wajah Marla. Barangkali kawanan lalat hijau itu mencium bau amis darah di wajah Marla dan ingin menjilatinya. Membuat Marla merasa jijik.
Marla pun menampar wajahnya seketika guna mengusir lalat hijau yang menclok di pelipisnya, kemudian berkata pada diri sendiri, “Aku tak ingin ke pasar lagi. Aku tak ingin ke pasar lagi.” ucapnya seraya terisak-isak. []
Purwokerto, 2025—2026




