Pokok-pokok Adat dan Budaya dalam Rangkaian Mustika Adat

JudulRangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau
PenulisIdrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu
PenerbitCV Rosda, 1978
Tebal221 halaman

Begitu pentingnya terbitan buku sebagai salah satu media untuk menyebarkan dan mempelajari kebudayaan. Selain penyebaran dan pewarisan melalui ruang-ruang yang mempertemukan masyarakat, buku dapat menjangkau ruang yang lebih luas. Demikian juga dengan isi yang dirangkum dalam buku. Di satu sisi, kita memerlukan ruang pembelajaran secara langsung, baik dalam hal mengurasi ajaran-ajaran adat dan budaya, termasuk juga dengan praktik sehari-hari, yang memberikan pengalaman dan pemahaman yang lebih membumi. Di sisi lain, media buku dapat menjangkau publik yang lebih luas, lintas generasi, dan mungkin juga memberikan akses bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan luas.

Buku Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau karya Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu merupakan referensi klasik mengenai dasar-dasar adat Minangkabau. Buku ini secara gamblang menyajikan pokok-pokok kebudayaan Minangkabau, disertai dengan contoh-contoh kristalisasi nilai topik yang dibicarakan melalui pepatah petitih, pantun, dan gurindam. Sebaliknya, Idrus Hakimy juga menggunakan pepatah petitih, pantun, dan gurindam untuk menjelaskan hal-hal penting yang ada di Minangkabau.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Pertama mengenai sumber dasar adat Minangkabu, yang menjelaskan mengenai alam terkembang menjadi guru, adat dan agama Islam, dan sifat adat yang tetap dan berubah. Pada bagian ini Idrus Hakimy menghadirkan bagaimana adat terbentuk dan bersumber pada alam, termasuk sifat dan gejala yang ada di dalamnya. Belajar kepada alam adalah sebuah cara yang valid, nyata, dan terbukti. Dari banyak nilai adat yang dirumuskan dan dibahasakan melalui metafor atau adagium, kita dapat menangkap dan memahami maksudnya dengan sangat baik.

Bagian kedua merupakan kelanjutan dari bagian pertama, terutama yang bersangkut paut dengan moralitas adat dan kaidah hablinnas yang sesuai dengan ajaran Islam. Saya kira bagian ini merupakan respon dan pemikiran Idrus Hakimy mengenai perdebatan hangat mengenai adat dan Islam. Pokok pembicaraan pada bagian ini mengenai keutamaan budi, garis keturunan ibu yang sesuai dengan budi, posisi kaum ibu, perkawinan, dan posisi budi dalam kehidupan bermasyarakat. Budi dalam kasus ini adalah akhlak atau akal logika. Budi menjadi salah satu ukuran nilai moral yang menggabungkan antara akal, etika, dan estetika. Timbangan ini menjadi fundamen penting dalam kehidupan sosial.

Bagian ketiga berisi kaedah-kaedah pokok adat Minangkabau. Bagian ini merupakan aturan-aturan mendasar mengenai tata hidup adat, pribadi, dan sosial yang diimplementasikan di Minangkabau. Dapat dikatakan bahwa bagian ini memberikan panduan ringkas mengenai tata aturan yang berlaku. Misalnya saja mengenai sosok ideal pribadi menurut aturan adat Minangkabau yaitu:

Pulau bertingkek naiek
Meninggakan ruweh dengan buku
Mati rimau tingga balang
Mati gajah tingga gading
Mati manusia tingga jaso

Demikian juga dengan peringatan adat tentang hal-hal yang perlu dihindari dalam hidup, agar menjadi pengingat dari berbagai ancaman atau kegagalan.

Batang aua paantak tungku
Pangkanyo sarang limpasan
Ligundi di sawah ladang
Sariek indak babungo lai
Manguleh kalau mambuku
Mambuhua jikok mangsan
Budi kalau kelihatan dek urang
Hiduik nan indak paguno lai

Bagian keempat berjudul pembagian adat Minangkabau. Pada bagian ini Idrus Hakimy menjelaskan sejumlah bagian penting dalam adat dan budaya Minangkabau dengan menggunakan penjelasan sumber-sumber yang ada di masyarakat. Saya kira bagian ini menjadi salah satu keunikan buku ini, yaitu menyajikan penjelasan dari pokok-pokok adat dan budaya seperti adat nan sabana adat, adat nan diadatkan, adat nan teradat, cupak, rumah gadang, pakaian adat, atau ikatan ekonomi dengan pantun atau gurindam. Misalnya saja, rumah gadang dijelaskan dengan hal berikut.

Rumah gadang basandi batu
Sandi banamo alua adat
Tonggak banamo kasandaran
Atok ijuak dindiang baukieh
Gonjong ampek bintang bakilatan
Tonggak gaharu lantai cindano
Tirali gadiang balariak
Bubungan burak katabang
Tuturan labah mangirok
Gonjong rabuang mambusuik
Paran gamba ula ngiang, dan seterusnya.

Buku ini cukup mudah diikuti, dengan penyajian data, informasi, deskripsi, dan penggunaan sumber-sumber klasik yang manarik untuk dibaca. Idrus Hakimy sebagai salah seorang tokoh adat dan budaya Minangkabau, yang dikenal luas oleh masyarakat, telah memberikan garis besar adat dan budaya Minangkabau melalui buku ini.


Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top