Keterlarutan antara Bunyi, Tubuh dan Kesadaran dalam “Tarekat Bunyi” Indra Arifin

Tarekat Bunyi merupakan pencapaian penting dalam dunia akademik penciptaan seni musik kontemporer Indonesia yang mengantarkan Indra Arifin meraih gelar doktor. (Foto: M Veridho Putra S)

Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Rabu malam, 13 Mei 2026, menjadi saksi pencapaian penting dalam dunia akademik penciptaan seni musik kontemporer Indonesia.

Indra Arifin, mahasiswa Program Doktor (S3) Penciptaan Seni Program Pascasarjana ISI Surakarta, resmi meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude setelah menjalani ujian promosi melalui pementasan karya musik Tarekat Bunyi. Dengan capaian akademik tertinggi itu, menjadikan Indra Arifin sebagai doktor seni termuda di ISI Padang Panjang saat ini dalam usia 33 tahun.

Ujian pergelaran karya seni sekaligus ujian terbuka disertasi berjudul “Tarekat Bunyi: Metode Malalu dalam Musik Spiritual Minangkabau” berlangsung hampir tiga jam. Sidang dipimpin langsung oleh Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A sebagai ketua penguji, dengan Dr. Fawarti Gendra Nata Utami, M.Sn sebagai sekretaris sidang.

Anggota penguji terdiri atas Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hum, Dr. Aloysius Suwardi, S.Kar., M.A, Dr. Asep Saepul Haris, S.Sn., M.Sn, Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum, dan Dr. Rafiloza, S.Sen., M.Sn. Sementara itu, Prof. Dr. Bambang Sunarto, S.Sen., M.Sn bertindak sebagai promotor dan Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si sebagai co-promotor.

Dalam suasana khidmat yang dihadiri seniman, akademisi, serta masyarakat umum, sidang promosi berlangsung sekaligus menjadi pertunjukan terbuka yang menampilkan karya penciptaan seni berbasis riset dan tradisi Islam di Minangkabau.

“Setelah dilakukan pendalaman dan penilaian oleh para penguji, maka promovendus dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude atau dengan pujian. Indra Arifin merupakan doktor yang ke-164 yang ditelurkan ISI Surakarta,” ujar Eko Supriyanto saat membacakan berita acara sidang dewan penguji.

Usai pembacaan keputusan, Eko Supriyanto yang juga Direktur Program Pascasarjana ISI Surakarta menyerahkan Surat Keputusan Lulus kepada Indra Arifin sebagai penegasan bahwa ia resmi menyandang gelar doktor. Momen tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin yang memenuhi Gedung Pertunjukan Hoeriah Adam.

Indra Arifin, yang sehari-hari mengajar di ISI Padang Panjang, mengungkapkan bahwa proses penciptaan Tarekat Bunyi berlangsung hampir satu tahun di Padang Panjang.

“Proses penciptaan komposisi musik Tarekat Bunyi sudah dimulai satu tahun lalu dengan melibatkan lebih kurang 25 orang,” kata Indra Arifin usai sidang terbuka.

Spiritualitas Bunyi dalam Tradisi Minangkabau

Karya “Tarekat Bunyi: Metode Malalu dalam Musik Spiritual Minangkabau” merupakan gagasan artistik yang berangkat dari pemahaman mengenai dimensi spiritualitas musik dalam praktik tarekat di Minangkabau. Karya ini disusun oleh Indra Arifin dalam Program Doktor ISI Surakarta tahun 2026.

Budaya Minangkabau berlandaskan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Islam menjadi fondasi penting dalam struktur sosial, budaya, dan kepemimpinan adat. Perkembangan Islam di Minangkabau berlangsung melalui tradisi surau dan praktik tarekat. Dalam konteks tersebut, tarekat dipahami sebagai jalan spiritual dalam menjalankan syariat Islam yang berkaitan erat dengan pengajaran tasawuf.

“Tradisi ini melahirkan berbagai praktik musikal yang sarat nilai spiritual dan pengalaman batin kolektif,” papar Indra Arifin.

Menurutnya,Tarekat Bunyi lahir dari pemahaman bahwa bunyi bukan sekadar unsur akustik, melainkan juga pengalaman spiritual. Zikir dan vokal kolektif dalam praktik tarekat menciptakan peristiwa auditif yang mampu membawa pelaku ke dalam kondisi ekstase atau trance yang disebut malalu. “Pengulangan bunyi menghadirkan kesadaran kolektif, sementara bunyi bekerja sebagai pengalaman embodied atau acoustemology yang melibatkan tubuh, rasa, dan kesadaran.”

Dalam praktik tarekat Minangkabau terdapat dua kategori utama musik, yakni musik ritual seperti ratik, badikia, dan barzanji, serta musik dakwah nonritual seperti salawaik dulang dan kucapi pakiah geleng.

Musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media transmisi nilai moral dan spiritual. Tahapan dalam tasawuf seperti takhalli, tahalli, dan tajalli menjadi landasan penting dalam pengalaman musikal dan spiritual tersebut.

(Foto: M Veridho Putra S)

Ia juga menjelaskan, karya cipta musik Tarekat Bunyi ini bertujuan merekonstruksi nilai musikal tarekat Minangkabau sekaligus mengembangkan metode penciptaan musik berbasis pengalaman spiritual. Selain menjadi kontribusi dalam studi penciptaan musik, karya ini juga membuka ruang pengalaman batin bagi pendengar melalui keterlarutan bunyi yang bersifat intuitif, reflektif, dan kontemplatif.

{Metode yang ditawarkan diharapkan dapat menjadi alternatif baru dalam dunia penciptaan seni,” jelasnya.

Konsepsi Malalu sebagai Temuan

Konsep utama dalam karya ini adalah malalu, istilah lokal Minangkabau yang berarti “melewati” atau “lewat tanpa sadar”. Malalu merepresentasikan keadaan keterlarutan antara bunyi, tubuh, dan kesadaran sehingga batas antara subjek dan objek menjadi cair.

Dalam konteks penciptaan seni, malalu menandai pergeseran dari aktivitas kreatif yang bersifat teknis menuju pengalaman artistik yang intuitif dan spiritual.

“Konsep malalu dibangun melalui lima unsur utama, yaitu baratik, laruik, buah kato, badarun, dan antak,” terang Indra merinci.

Baratik berkaitan dengan pengulangan pola bunyi untuk membangun resonansi batin. Laruik menggambarkan kondisi keterhanyutan total dalam arus bunyi. Buah kato menempatkan kata-kata sebagai pusat kesadaran melalui pengulangan musikal. Badarun menghadirkan pengalaman bunyi kolektif yang melampaui dimensi akustik. Sementara itu, antak merupakan aksentuasi emosional yang lahir secara intuitif dari keterlibatan batin musisi.

(Foto: M Veridho Putra S)

Malalu diposisikan sebagai metode artistik transendental yang menghubungkan bentuk artistik dengan strategi penciptaan. Metode ini berangkat dari pengalaman intuitif, kesadaran estetis, dan orientasi spiritual sebagai sumber utama pengetahuan artistik.

Langkah-langkah penciptaannya meliputi napak tilas pengalaman personal, pendalaman pengetahuan spiritual, dan penguatan pengetahuan kreatif.

Metode malalu diterapkan melalui tiga tahapan spiritual. Tahap pertama adalah takhalli, yakni pengosongan diri dan pelepasan ego melalui eksplorasi bunyi-bunyi sporadis dan eksperimental.

Tahap kedua adalah tahalli, yaitu pengisian kesadaran dengan nilai dan makna melalui struktur musikal yang kompleks serta dialog musikal antarpemain.

Tahap ketiga adalah tajalli, yakni pengalaman keterlarutan penuh melalui ritme repetitif, motif sederhana, dan penyatuan bunyi dengan tubuh sehingga musik dialami sebagai pengalaman spiritual yang imersif.

Indra Arifin yang juga sering terlibat dalam pelbagai pengarapan seni pertunjukan lainnya, menyimpulkan bahwa penciptaan musik tidak hanya bertumpu pada struktur formal dan perencanaan rasional, tetapi juga dapat lahir dari pengalaman batin serta pengetahuan implisit yang terinternalisasi melalui praktik spiritual dan budaya.

“Metode malalu menjadi temuan penting sebagai metode penciptaan musik transendental berbasis kearifan lokal Minangkabau. Metode ini dinilai berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam penciptaan seni bunyi dan musik kontemporer,” sebutnya.

Tarekat yang Terikat

Sementara, dalam bincang-bincang dengan cagak.id, etnomusikolog Rijal Tanmenan, yang ikut menyaksikan pertunjukan Tarekat Bunyi menilai, apa yang berlangsung dalam rentang 120 menit lebih kurang durasi pementasan mengesankan transformasi musikal berbasis tradisi religiusitas masyarakat Minangkabau yang “dicabut” serta-merta dari batin spiritual hakikat tarekat yang berkembang di surau-surau nagari-nagari di Minangkabau.

“Tentu akan sangat terasa religiustis, magis,  dan sufististik tatkala Tarekat Bunyi digelar di surau-surau tarekat yang hingga klni masih ada aktivitasnya di kampung-kampung. Saya membayangkan proses kerja penciptaannya pun melibatkan partisipasi kaum tarekat dan guru atau syekh  yang ada di surau. Ini tentu kerja yang cukup menguras energi tapi capaiannya beda ketika dihadirkan di gedung prosenium yang gemerlap,”terang Rijal Tamenan.

Kendati begitu, secara keselurahan, tambah Rijal,  garapan Indra Arifin cukup disiplin menjaga tempo dan akurasi teknis. “Secara musikal, Tarekat Bunyi berhasil membius audien. Terkesima ratusan penonton dibuatnya,” tambahnya.

Bukan Semata Akademisi

Indra Arifin bukan hanya akademisi, tetapi juga komposer dan seniman riset yang telah lama bergerak dalam eksplorasi musik tradisi dan kontemporer. Lahir di Batusangkar, Sumatera Barat, 5 Maret 1992, ia mulai mengenal dunia seni sejak usia kecil sebelum menempuh pendidikan formal di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang pada Jurusan Karawitan. Ia meraih gelar Sarjana Seni pada 2015 dan Magister Penciptaan Musik Nusantara pada 2017, sebelum melanjutkan studi doktoral Penciptaan Seni di ISI Surakarta pada 2022.

Saat ini, Indra aktif mengajar di Program Studi Seni Karawitan ISI Padang Panjang. Dalam praktik artistiknya, ia dikenal sebagai seniman yang mengembangkan penciptaan musik berbasis riset dengan perhatian besar terhadap tradisi musikal Minangkabau dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam praktik musik kontemporer.

Pengalaman artistiknya terbentuk melalui proses belajar bersama berbagai seniman senior, baik dari Sumatera Barat, tingkat nasional, maupun internasional. Ia juga aktif membangun kolaborasi lintas disiplin bersama koreografer, sutradara teater, dan seniman pertunjukan lainnya.

Sejak 2018, Indra mendirikan Komunitas Gaung Marawa Indonesia, sebuah ruang kreatif yang secara konsisten mengeksplorasi musik tradisional Indonesia dalam pendekatan kontemporer. Melalui komunitas tersebut, ia terlibat dalam berbagai inisiatif pengembangan ekosistem musik tradisi, seperti Forum Komponis Muda Sumatera Barat (FKM Sumbar), Sumatera Collective Composer, Ota Rabu Malam, Musik Tanpa Batas, hingga menjadi Direktur Festival Musik Tradisi Indonesia Pitunang Ethnogroove.

Sebagai komposer, karya-karya Indra banyak bergerak di wilayah eksplorasi bunyi, spiritualitas, dan persoalan sosial masyarakat kontemporer. Sejumlah karya yang pernah dipentaskan antara lain Yow Yow Heptahei (2015), Lareh Nan Bunta (2017), Sua Suara (2018), Tambo (2019), Simulation Buni (2021), hingga Pitunang dan Tanah Batikam (2023). Selain menciptakan karya mandiri, ia juga aktif menggubah musik untuk tari dan teater, bekerja sama dengan sejumlah koreografer dan sutradara, seperti Ali Sukri, Fadila Oziana, Kurniasih Zaitun, dan Hendra Nasution.Karya doktoralnya Tarekat Bunyi menjadi kelanjutan dari perjalanan artistik tersebut. Melalui pendekatan berbasis riset dan pengalaman spiritual Minangkabau, Indra berupaya mempertemukan tradisi tarekat, praktik bunyi, dan penciptaan musik kontemporer dalam satu pengalaman artistik yang reflektif dan transendental.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top