Perjamuan Akbar

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Seandainya badik di tangan Taslan Koetjeer tidak ditahan lekas-lekas oleh Rantamsari, kulit punggung Baastian sudahlah pasti akan tersamak resik dan berakhir jadi selembar bahan baku tutup beduk.

“Minum dan tenangkan dirimu, Kisanak,” setelah mengulurkan bumbung nira, Rantamsari berbalik badan memunguti pakaian Taslan yang terserak di bawah pohon ceremai. Kiranya Taslan Koetjeer punya alasan kuat untuk memaki-maki. Tiga jam lebih dirinya mesti bertingkah menyerupai patung lempung. Sebetulnyalah itu masih Taslan anggap masuk di akal, jika tidak ditambah terpanggang matahari pukul satu siang dengan ia cuma mengenakan kancut, sudah begitu dibentak-bentak pula tak boleh bergerak semata-mata demi dua kali tembakan cahaya, yang kata Baastian van der Berg—teknisi yang menggotong mesin, cuma itu satu-satunya jalan yang mesti ditempuh agar hasil cetakan yang dikeluarkan oleh si Mesin tidak mengecewakan hati.

Ditulis selang sehari sesudahnya pada kertas warta Selompret Melajoe, mesin daguer itu turun dari lambung kapal pada Selasa, 27 Desember 1887. Mesin tersebut datang bersama-sama rombongan barang lain yang niscaya akan membuat hati masygul ketika mengetahui bahwa semuanya didatangkan untuk menandai sekaligus memamerkan kemajuan pesat akal-budi manusia. Orang-orang, entah itu bocah atau dewasa, perempuan dan laki-laki, berebut berdiri dan saling injak di sepanjang jalanan cuma untuk menonton bagaimana benda-benda ajaib itu digotong menuju bekas garnisun milik Kompeni Hindia Timur.

Dua belas ekor burung yang piawai membeo segala bunyi, baik bunyi yang dikeluarkan oleh satwa lain maupun suara yang diucapkan manusia hanyalah pembuka sebuah arak-arakan panjang belaka. Sebab tempik sorak tak henti-hentinya menggema di jalan raya berdebu, menyusul dipamerkannya teropong yang khusus dirancang untuk melihat bagaimana benda-benda langit bergerak, timbangan kembar seukuran anakan gajah, meriam dan bedil, piring hitam yang jika diputar mampu mengeluarkan nyanyian, ramuan penyembuh segala rupa penyakit, sampai kuda besi yang akan berjalan jika kita menarik salah satu pegangan di telinganya.

Taslan tak mengacuhkan perihal gegap gempitanya orang-orang menyambut dan mengelu-elukan kedatangan si Mesin. Bahkan ia mengesampingkan ketersohoran si Mesin yang kabarnya berhasil digunakan untuk menangkap wajah tuhan orang-orang Serani. Hasrat terbesarnya menulis surat permohonan kepada studio Mooi Djoernatan muncul setelah Rantamsari, salah seorang telik sandinya, dua pekan sebelum ini membuat kupingnya panas dengan berkabar bahwa keluarga Oei Tjie Sien menjadi pihak pertama di bandar Sleko yang menyewa perkakas itu langsung ke pemilik studio, Mejiers Bersaudara. Berlipat gandalah kedongkolan Taslan Koetjeer serta martabatnya sebagai juragan kulit serasa dirampok, begitu diberi keterangan tambahan, selain bahwa Tjie Sien dengan enteng membayar 450 florin untuk enam kali tangkapan gambar—yang itu artinya ongkos pergi pulang ke Makkah untuk berhaji; digeret pula meja panjang marmer milik keluarga mereka ke kebun belakang, di mana kemudian Oei Tjie Sien sekeluarga berpose duduk-duduk mengerubungi meja untuk diambil gambarnya.

Ingatan atas meja marmer itu menggumpal, menggergasi, dan selalu bisa melempar Taslan ke masa bertahun-tahun silam, ketika ia mengekor ayahnya menghadiri perjamuan akbar di rumah yang baru dibeli Oei Tjie Sien. Rumah gedong itu, yang saking luas halamannya bisa dipakai memelihara tiga ratusan kerbau betina tanpa saling bergesekan ekor, dulunya ialah milik Hoo Yam Loo—salah seorang pengepak besar apiun yang rudin sejak para pencoleng berbanyak-banyak membawa masuk candu selundupan dari Tumasik, baik yang datang melalui Buleleng maupun lewat desa-desa di pesisir Juwana. Adapun yang lekas-lekas menggelembung menjadi buah bibir bukannya kisah kemelaratan mendadak Hoo Yam Loo, melainkan bagaimana bisa seorang Tjie Sien, yang sebelumnya cuma dikenal orang-orang dusun lantaran memikul sendiri dagangan berupa kuali dan bokor dan mangkuk porselen untuk dikelilingkan itu bisa menebus rumah seharga 37.400 florin.

Di atas gerobak lembu sepanjang perjalanan menuju tempat perjamuan, Taslan muda mendengar ayahnya mengomel bahwa undangan perjamuan tersebut tak lebih cuma akal-akalan Oei Tjie Sien untuk memelorotkan celana lantas memamerkan bokongnya yang burik—yang sebentar lagi akan dijilati orang-orang, sebab kini dialah orang paling berduit di wilayah luar benteng.

Seandainya saja diberi kesempatan, Taslan tentu saja ingin menyanggah perumpamaan jorok yang terlepeh dari mulut ayahnya. Tapi sialnya kesempatan itu rupanya tidak pernah muncul, dan memang tak mungkin muncul sebab adegan bagaimana ayahnya membanting pinggan sampai pecah sebelum menyeret lengan Taslan untuk meninggalkan meja perjamuan akan terus bercokol di benaknya sampai bertahun-tahun kemudian.

Sebanyak delapan belas orang yang duduk mengelilingi meja panjang marmer milik Oei Tjie Sien susul-menyusul mengatai-ngatai Taslan Koetjeer kampungan dan tak beradab dan berlaku mirip garangan, cuma karena Taslan mencomot lantas memasukkan ke mulut, penganan seukuran tapak tangan yang pada kemudian hari ia tahu itu merupakan bagian has luar daging babi yang diolah dengan cara dipanggang. Gajih yang melekati sepanjang tepian daging itu alangkah keparatnya berhasil membuat air liur Taslan menetes-netes hingga ia benar-benar kehilangan daya tahan untuk berlaku sopan.

“Anak muda, apakah sejak lahir kau tak diberi makan?” Sembari berdiri dan mengangkat gelas sampanyenya, wakil residen Willem van Dijk mengarahkan pandangan jijik ke Taslan muda, lantas memutar bahu dan membungkuk di hadapan Oei Tjie Sien. “Jika diperkenankan, lantaran makan malam kita ini sudah dirusak oleh manusia yang saya yakin tak mendapatkan air susu cukup dari tetek ibunya, bagaimana kalau kudapan ini kita beri nama baru? Daging Setik Barbar, misalnya. Sepertinya nama itu enak didengar.”

“Silakan, sekehendakmu saja, Meneer.”

Membawa pulang wajah yang babak belur dihajar rasa malu, Taslan Koetjeer bersumpah akan membalas perlakuan orang-orang di meja perjamuan tersebut, terutama keluarga Oei Tjie Sien, dengan cara yang bahkan mungkin tak pernah dibayangkan oleh arwah nenek moyang mereka di alam kubur.

***

Subuh itu Taslan Koetjeer masih dalam rangka selonjoran di bale menikmati kesenangan mengisap apiun ketika jendela rumahnya berderik. Api lampu minyak yang ia gunakan untuk memanasi cako bergoyang-goyang begitu jendela tergeret ke atas dan angin berhasil merangsek masuk ruangan. Taslan menaruh badudan-nya, lantas meraba-rabai bagian bawah dipan, mencari di mana gerangan kiranya badiknya tadi ia taruh. Celakanya, badik tersebut tak kunjung ketemu, membuat tengkuknya tiba-tiba serasa diinjak-injak dua ekor gajah sekaligus. Jelas saja ia gentar. Memang masih ada sekiranya sepuluhan depa jarak yang memisahkan jendela dengan bale, tapi apalah artinya jarak sejauh itu jika ia cuma bertangan kosong sementara si tamu tak diundangnya kemungkinan besar sudah siap dengan tombak atau tulup beracun?

Untungnya perasaan berhimpitan dengan maut itu tak berlangsung lama. Begitu tahu yang melongokkan kepala dari jendela adalah Rantamsari, Taslan menarik napas lega dan membanting dirinya lagi ke dipan bale.

“Kecu, kenapa tidak kepikiran kalau itu dirimu, Nyi.”

“Kau sepertinya perlu menambah dua atau tiga lagi jawara,” Rantamsari melenggang mendekati bale, “Panut dan Haji Yusup sudah kelewat pikun untuk menjagamu.”

Taslan Koetjeer menggeser pahanya, agar Rantamsari mendapatkan tempat sementara ia mengambilkan satu pipa badudan lagi. Akan menyenangkan jika tamu fajarnya kali ini bisa diajak ikut serta menikmati secebis dua cebis candu. Ia juga masih punya sisa tenaga untuk meladeni, seandainya di tengah keasyikan madat nanti Rantamsari berhasrat naik dan menggoyang-goyangkan pinggul di atas batang singkongnya. Namun rupanya harapan Taslan meleset dan gairahnya mengempis begitu melihat Rantamsari menggeleng.

“Aku sudah ke kedai minum, tadi. Kata Ki Brayat, kau sedang sibuk mengurus gerobak pengiriman tebu. Makanya aku ke sini.”

Rantamsari mengeluarkan selembar papir dari kutangnya lantas menepuk-nepukkan kertas berwarna cokelat tembakau itu ke pipi Taslan. Taslan Koetjeer mendekatkan papir pada lampu minyak agar mudah baginya untuk membaca, sementara Rantamsari meringkuk dan menaruh kepalanya di paha Taslan.

“Astaga, gundiknya sampai delapan belas?” Suara Taslan tenggelam di antara kokok ayam yang mulai terdengar sahut-menyahut.

“Bisa lebih, malah. Tapi yang resmi ia kawini ada lima.”

“Apa itu sudah termasuk perempuan Tokyo penjaga gudang di toko Giza?”

“Kyoto, bukan Tokyo. Dua nama itu beda wilayah.”

“Berdebat soal itunya nanti saja,” tukas Taslan sembari meraih tengkuk Rantamsari, mengangkatnya, hingga hidung mereka nyaris menempel satu sama lain.

“Berarti kau sudah tahu, siapa saja yang Oei Tiong Ham sogok, sampai dia mendapatkan izin bermukim di luar Gang Klenteng?”

“Kupikir kau akan bertanya, ramuan apa yang membuat zakar Oei Tiong Ham begitu perkasa.” Rantamsari meringis, untuk kemudian melumat mulut Taslan, sebelum mulut itu sempat memaki-maki.

***

Oei Tiong Ham yang disinggung dalam percakapan mereka adalah anak sulung Oei Tjie Sien. Sosoknya tak pernah dibicarakan oleh siapa pun, sampai kejadian di sebuah rumah judi mengerek namanya. Malam itu, orang-orang yang memasang taruhan sama sekali tidak menyangka, seluruh uang yang tersimpan di nakas Omah Dadoe Darodjat Tinggi akan terkuras tak bersisa akibat dikeruk oleh Oei Tiong Ham. Penyobek karcis rumah judi memberi kesaksian, bahwa laki-laki muda yang sebelumnya tak pernah dilihatnya itu menukarkan uang sebanyak 15 florin dengan dua kantung koin judi, yang setelahnya menaruh koin-koin tersebut hampir di seluruh arena main, kecuali rolet bergambar macam-macam perempuan telanjang.

Sempat kalah dua lemparan di arena dadu batok, Tiong Ham tak mundur dari bangku, malah menggandakan taruhan hingga situasi berbalik memberinya kemenangan. Seterusnya begitulah cara Oei Tiong Ham beraksi. Tiap kali kalah, ia akan memperbesar jumlah taruhannya. Jika menang, maka hasil kemenangan yang baru saja ia peroleh tak diambilnya sepeser pun, demi ia pertaruhkan lagi pada permainan selanjutnya, terus dan terus, tanpa peduli pada raut muka bandar yang melempar dadu atau membagi kartu bercucuran keringat saking cemasnya.

Ketika rumah judi tersebut bangkrut pada pertengahan bulan April 1889, Oei Tiong Ham belumlah genap berusia dua puluh tiga. Meski peristiwa tersebut tergolong mencengangkan dan sempat ditulis oleh seorang pengarsip Kongkoan sebagai kejadian penting no. 3 di bawah persis peristiwa pengibaran bendera hitam dan wabah cacar ular, tapi orang-orang masih menganggap capaian Oei Tiong Ham sebagai sebuah keberuntungan belaka.

Taslan Koetjeer, ditempa pengalaman pahit serta lidah tajam ayahnya untuk selalu punya pedoman bahwa siapa pun adalah musuh dalam urusan berdagang, tak mau terkecoh oleh pandangan umum. Tak ada yang kebetulan. Termasuk munculnya nama Oei Tiong Ham. Jika orang-orang selama ini mencap Oei Tjie Sien adalah saudagar yang, disamping pekerja keras, ia licik dan piawai berdiplomasi dan kejeliannya membaca peluang adalah isi kepala tengkulak merica bandar Lamuri dan pemilik rumah dagang Armenia digabung jadi satu. Maka, bisa dikatakan, Oei Tiong Ham lahir untuk mengembangkan dua sampai tiga kali derajat mutu dari bakat warisan tersebut.

Terbukti, empat tahun berselang, Oei Tiong Ham lewat kongsi dagangnya—Kian Gwan, berhasil membuat siapa saja yang mencari hidup di pulau ini dengan cara berniaga, akan tidur beratapkan mimpi buruk sama: cuma soal waktu dan menunggu giliran saja bagi bisnis mereka dikepruk dari belakang untuk kemudian jatuh tersungkur. Tak salah jika kemudian para ambtenaar yang bekerja di pabean sering memanggili Oei Tiong Ham dengan sebutan Datuk Dua Ratus Juta Florin Berkepala Besi.

Itulah sebabnya, belakangan Taslan Koetjeer meminta Rantamsari untuk meninggikan tingkat kecermatannya dalam memata-matai gerak-gerik Oei Tiong Ham. Taslan berani membayar enam kali lipat jauh lebih banyak dari yang dulu pernah diterima Rantamsari ketika mengumpulkan keterangan dari mana saja Oei Tiong Ham mendapat sokongan sampai akhirnya dia bisa diberi hak kuasa untuk mengepak candu.

***

Dua tahun belakangan, lewat pengrajin sepatu lars di Buitenzorg yang secara berkala mengambil bahan kulit-kulit lembu darinya, Taslan mendengar, bahwa para pejabat tinggi di Betawi sedang dirundung kalut akibat mereka bersilang pendapat dalam menyusun aturan baru terkait perniagaan apiun. Menanggapi laporan itu, maksud Taslan jelas, ia ingin berjaga-jaga. Seandainya rancangan aturan main itu nantinya disetujui oleh gubernur jendral, bisa dipastikan tak akan ada lagi yang namanya para pengepak apiun. Jika pengepak apiun bubar, maka kedai-kedai madat akan tutup. Jika kedai madat tutup, maka para pegecer candu bahkan untuk jenis tike paling buruk pun akan raib. Situasi ini jelas akan memampatkan saluran uang milik Oei Tiong Ham, yang setahun belakangan menguasai hampir tiga perempat penjualan apiun.

Tebakan Taslan, jika nanti pengepakkan candu Tiong Ham gulung tikar, Tiong Ham pasti akan menggotong bisnisnya ke jalur lain. Kemungkinan jalur lain itulah yang harus Taslan korek-korek segera. Jangan sampai ia kecolongan langkah seandainya Oei Tiong Ham berencana banting kemudi, misalnya, ikut-ikutan jadi penyamak kulit atau membuka pabrik penggilingan tebu. Ini jelas gawat, tandasnya kepada Rantamsari.

Meski tidak diucapkan secara terang-benderang, Rantamsari tahu ekor cerita yang oleh Taslan Koetjeer dibuat belibet seperti kepangan rambut ini akan ke mana pada akhirnya.

“Kau ini memang sudah tidak waras,” suara Rantamsari sengau sebab ia menangis dan membekap mulutnya dengan bantal. Waktu itu mereka berdua baru saja bercinta dan Taslan mesti menanggung risiko ditampar dua kali, usai membisiki Rantamsari, bahwa cara termangkus menyadap rahasia tergelap Oei Tiong Ham adalah dengan menyusup ke rumah kediamannya di Kebonrojo.

“Aku tak menyangka saja, kali ini aku harus menyaru jadi lonte.”

“Cuma kau yang mampu melakukannya, Nyi. Lagipula, kau sendiri yang bilang tempo hari, selain serakah di meja judi, dia doyan mengoleksi bokong perempuan. Kita anggap saja itu kelemahannya.”

“Jika urusannya adalah membalas dendam, kenapa tidak kita racun saja. Ringkas dan tak butuh banyak ongkos. Aku juga punya banyak kenalan ahli teluh. Kisanak tinggal bilang saja, mau dimasuki dengan benda apa perutnya, biar nanti aku yang urus.”

“Untuk apa? Kalau dia mampus, aku jadi tidak punya musuh. Lagipula, aku ingin dia merasakan penderitaanku.”

“Penderitaan yang mana?”

Taslan Koetjeer tidak menjawab pertanyaan terakhir Rantamsari. Taslan tak pernah tahu sejatinya penderitaan terbuat dari apa; sampai tujuh bulan kemudian, palet kayu yang dipanggul masuk ke dalam rumah oleh Haji Yusup itu ia buka. Sepasang mata Taslan meradang demi menatapi gambar hitam putih Rantamsari mengenakan kebaya encim dan bersanggul, duduk di samping Oei Tiong Ham yang berdiri tegak dalam balutan jas dan pantalon sedang bertingkah menaruh tapak tangannya di pundak Rantamsari.

“Tadi yang mengirim ini juga ada pesan, harap Tuan datang tepat waktu,” ujar Haji Yusup sebelum berbalik, “jamuan pesta perkawinan bakal digelar Selasa malam di Kebonrojo.”

Taslan Koetjeer menyepak gambar berbingkai di hadapannya. Ia merasa jiwanya porak-poranda. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top