Bank Nasional: Bank Kebanggaan Sumatra Barat

JudulPeringatan 50 Tahun Bank Nasional
PenulisPanitia Peringatan 50 Tahun Bank Nasional
PenerbitBank Nasional, 1980
Tebal140 halaman

Dalam Sejarah perjalanan sosial budaya kita, terdapat sejumlah tinggalan penting yang telah berperan dalam menjaga dan membangun keberlangsungan bangsa. Tinggalan itu dalam bentuk material atau wujud dan juga yang kasat mata. Tingalan-tinggalan itu juga ada yang telah hidup bertahun-tahun lalu, sejak masa prasejarah hingga kontemporer. Sebagian tinggalan itu telah tidak berfungsi, dan Sebagian lagi masih hidup dalam bentuk yang baru. Sebagian tinggalan juga bertransformasi dan mendapatkan bentuk dan fungsi baru, yang sesuai dengan kebutuhan masa kini.

Dalam bidang perekonomian, Bank Nasional yang didirikan pada 27 Desember 1930 oleh Himpunan Saudagar Indonesia (HIS) di Fort de Kock merupakan salah satu lembaga penting. Dalam merealisasikan Bank Nasional, HSI membentuk Abuan Saudagar di Fort de Kock, yang mengurus persiapan pendiriannya. Bank ini merupakan bank lokal, yang dimulai dengan modal hasil iyuran para pendirinya. Semakin lama, modal dan keuntungan yang diperoleh semakin memperkuat posisi bank ini. Beberapa cabang dibuka di Kota Payakumbuh, Batusangkar, Solok, Padang, dan bahkan hingga ke Jakarta.

Bank Nasional memberikan bantuan yang tidak sedikit bagi pertumbuhan usaha-usaha kecil dan menengah. Bank ini, misalnya, memberikan modal kepada NV Inkorba yang membuka lini usaha ekspor impor tekstil dan barang lainnya. Demikian juga dengan sejumlah penerbit dan toko buku yang didirikan sejak masa colonial hingga dekade 1980an. Para pengusaha kecil juga mendapatkan bantuan pinjaman modal dan usaha, yang menjadi bagian penting dalam proses produksi dan jasa yang dikembangkan.

Di bidang perjuangan kemerdekaan, Bank Nasional juga memberikan andil dalam penyediaan dan pembelian persenjataan, biaya operasional, hingga pergerakan para tokoh perjuangan. Anwar Sutan Saidi, pendiri Bank Nasional dikenal sebagai tokoh yang memberikan jasa besar bagi perjuangan. Anaknya, Rustam Anwar, juga menjadi tokoh maesenas dalam bidang seni dan budaya, termasuk dalam pendirian NV Nusantara yang menjadi perusahaan penerbitan dan percetakan besar di Sumatra Barat.

Buku Peringatan 50 Tahun PT. Bank Nasional ini memberikan informasi penting mengenai sejarah dan perjalanan bank kebanggaan ini. Buku ini diisi dengan sejumlah sambutan dari berbagai pihak, terutama yang memiliki hubungan bisnis dan sosial dengan bank ini. Sambutan ini dimulai Direktur Utama hingga Menteri Keuangan. Selanjutnya dihadirkan sejarah pendirian Bank Nasional, dengan para pendiri yang terdiri dari para ulama dan tokoh penting. Mereka Adalah Anwar Sutan Saidi, Haji Mohammad Yamin, Marzuki Datuk Mangulak Basa, Haji Syamsuddin, Haji Mohammad Thaher, HMS Sulaiman, Djamain Tuanku Mudo, Haji Syarkawi Khalidi, Rasyid Sutan Tumanggung, dan Malin Sulaiman. Sepuluh orang ini merupakan pendiri Bank Nasional, yang pertama kali mengumpulkan dana awal sejumlah f 1.000,00, yang masing-masing mereka menyetor uang sejumlah f 100,00 secara berangsur-angsur setiap minggu. Perkembangan keuangan bank ini sangat pesat, yang pada tahun 1946 tercatat statuter modal ditingkatkan menjadi Rp. 5.000.000,00.

Bagian selanjutnya dari buku ini berisi riwayat hidup dari sepuluh orang pendiri Bank Nasional. Kita dapat membaca biografi singkat para pendiri bank ini, yang juga berguna untuk mempelajari sejarah lainnya yang bersangkut paut dengan nama-nama tersebut. Dalam halaman-halaman berikutnya, dilampirkan berbagai kliping pemberitaan mengenai Bank Nasional. Kata kunci yang dapat kita temukan dalam sejumlah pemberitaan itu adalah pernyataan dan pengakuan dari tokoh-tokoh penting bahwa Bank Nasional adalah bank perjuangan.

Hal ini didasarkan pada perannya sebagai soko guru atau pilar utama dalam perjuangan, termasuk di beberapa bidang lainnya seperti ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan pembangunan secara luas. Buku ini saya kira memberikan gambaran penting peran masyarakat Sumatra Barat dalam sejarah bangsa Indonesia. Ilustrasi berupa foto, tabel, dan grafik menambah hidupnya imajinasi yang dapat kita bangun mengenai bank ini. Kita juga dapat membawa berbagai informasi yang disajikan dalam buku ini dengan kondisi kantor Bank Nasional yang masih ada, dengan peralihan fungsinya kini sebagai sebuah kampus perguruan tinggi di Kota Bukittinggi.                  


Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top