Seperti Apa Keluarga Cemara Itu?

Ilustrasi: Syahrial Yayan

“Keluarga Cemara itu seperti apa?” ucapan itu meluncur pelan dari bibir Riri, siswi kelas satu SMP yang sedang duduk di dinding pembatas lapangan sekolah. Di tangannya tergenggam es teh cekek yang tinggal separuh. Pandangannya tertuju pada ujung sepatunya yang mulai sobek. Sesekali ia berganti posisi duduk karena permukaan tembok yang keras membuat bokongnya pegal.

Riri sudah menunggu selama satu setengah jam, tetapi ibunya belum juga datang menjemput. Ia tidak memiliki ponsel. Sebagai ganti, ibunya menuliskan nomor telepon pada bagian dalam tas ranselnya. Jika sudah menunggu lebih dari dua jam, biasanya Riri akan berjalan ke gerobak jajanan yang masih setia mangkal di depan sekolah meskipun jam pulang telah lama usai. Sekolah telah sepi, para siswa telah pulang sejak lama. Riri datang ke sana bukan untuk membeli jajanan. Ia hanya ingin meminjam ponsel milik penjual untuk mengirim pesan atau menelepon ibunya. Riri tahu betul, ibunya pasti lupa atau sedang disibukkan oleh pekerjaan lain.

Selama menunggu, Riri selalu menahan lapar. Waktu pulangnya sering kali tidak sesuai jadwal. Ia tidak marah. Ia hanya pernah menegur ibunya dengan nada bercanda, menyarankan agar ibunya menaruh foto dirinya di dalam tas supaya tidak lupa menjemput lagi di kemudian hari.

Riri bukan gadis yang istimewa di mata banyak orang. Tubuhnya berisi, rambutnya ikal, wajahnya cenderung kotak, dan kulitnya sawo matang. Namun, yang paling membuatnya berbeda bukanlah penampilannya. Riri hanyalah seorang gadis yang kurang beruntung dalam urusan keluarga. Orang tuanya bercerai ketika ia baru berusia dua tahun.

Tentu saja Riri tidak memiliki ingatan apa pun tentang ayahnya. Saat berusia lima tahun, ia pernah mengira kakak laki-laki pertamanya adalah ayahnya. Ternyata bukan. Itu kakaknya. Pernah juga ia mengira kakeknya adalah ayahnya. Jawaban yang ia terima tetap sama, bukan, itu kakeknya. Bahkan ia sempat mengira pamannya adalah ayahnya, sampai diberi tahu bahwa laki-laki itu hanyalah adik ibunya. Lama kelamaan Riri lelah menebak-nebak. Ia berhenti mengira setiap laki-laki dewasa yang dekat dengannya sebagai sosok ayah.

Waktu berjalan. Ketika duduk di bangku kelas empat SD, Riri mulai memahami arti perceraian. Ia hanya tahu satu hal, Ayah dan Ibu tidak bisa hidup bersama lagi. Awalnya, hal itu tidak terasa penting baginya. Riri berpikir bahwa sosok ayah mungkin tidak memiliki pengaruh besar dalam hidupnya. Sampai suatu hari ia mulai merasakan kekosongan.

Sejak kecil, Riri hidup dengan hati yang terasa berlubang. Ada ruang kosong yang tidak mampu ia jelaskan. Bahkan kepada dirinya sendiri. Ia tidak benar-benar memahami perasaannya, hanya tahu bahwa ada sesuatu yang hilang. Kekosongan itu ia lampiaskan melalui berbagai kegiatan sekolah. Namun, isi kepalanya sering terasa penuh setiap kali mengingat bahwa ia tidak memiliki seorang ayah. Belum lagi kondisi ekonomi keluarganya yang tidak baik. Riri sering makan hanya dengan tahu goreng atau nasi hangat yang diberi garam. Meski begitu, ia tidak pernah mempermasalahkan makanan. Selama tidak beracun dan bisa mengenyangkan perutnya, ia akan memakannya.

Ketika menginjak bangku SMP, perasaannya semakin berkecamuk. Tidak jarang ia menyalahkan keadaan dan bertanya dalam hati mengapa dirinya harus lahir dalam situasi seperti ini. Riri memiliki tiga kakak laki-laki. Jarak usianya dengan kakak ketiga hanya satu setengah tahun. Dengan kakak kedua terpaut lima tahun, sedangkan dengan kakak pertama selisih delapan tahun. Meski tidak pernah bertemu ayahnya, Riri tidak berniat mencarinya.

Ibunya telah menceritakan semua keburukan ayahnya sejak ia kecil. Ibunya juga sering mengingatkan agar Riri tidak perlu bertemu dengannya dan jangan sampai memiliki sifat yang sama. Buruk berarti mirip Ayah. Baik berarti mirip Ibu. Kalimat-kalimat itu seperti doktrin yang ditanamkan sejak dini. Riri tidak pernah membantah apa pun yang dikatakan ibunya. Terlalu menakutkan baginya untuk merespon. Saat ibunya kembali mengungkit soal Ayah, Riri hanya diam.

Di antara ketiga kakaknya, Riri merasa dirinya yang paling tidak pintar. Nilainya selalu berantakan selama SD. Bahkan pernah ada seseorang yang menyebutnya sebagai produk gagal. Rasa sedih, iri, kecewa, dan bingung bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Namun, Riri tidak pernah menceritakan perasaannya kepada siapa pun. Ia takut tidak akan diterima jika terlihat lemah. Padahal, Riri sebenarnya lebih menyukai bidang kreatif. Sayangnya, lingkungan tempat ia tumbuh memiliki standar yang berbeda. Anak pintar adalah anak yang mendapatkan nilai akademik tinggi, bukan anak yang memiliki bakat untuk dikembangkan. Riri sadar bahwa dirinya lebih menonjol dalam kegiatan nonakademik dibandingkan pelajaran di kelas.

Sejak merasa tertinggal dan gagal, Riri membulatkan tekad untuk berubah ketika masuk SMP. Ia ingin menjadi anak yang pintar. Meski demikian, sekolah yang ia masuki bukan sekolah biasa. SMP itu merupakan salah satu sekolah favorit yang dipenuhi siswa-siswi berprestasi. Riri masuk melalui jalur profesi karena ibunya seorang ASN. Namun, ia tetap harus berjuang keras untuk mendapatkan nilai minimum agar bisa diterima. Masa SMP bukanlah perjalanan yang mudah.

Riri belajar dengan sungguh-sungguh. Setiap hari ia mengerjakan PR dengan serius dan berusaha memahami pelajaran sebaik mungkin. Perlahan, kemampuan akademiknya meningkat. Dari yang semula berada di peringkat 24 dari 32 siswa di kelas F, ia berhasil menutup masa SMP dengan peringkat 10 dari 32 siswa. Perjalanan itu penuh kerikil. Ia sering memilih belajar daripada bermain. Selain itu, Riri juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Meski tergabung dalam lingkaran pertemanan yang cukup besar dengan sekitar lima belas anggota, hanya ada satu orang yang benar-benar dekat dengannya.

Di ekstrakurikuler pun keadaan tidak selalu menyenangkan. Riri sering mengalami penolakan ketika pembagian kelompok kegiatan. Jika bukan karena bantuan pembinanya, mungkin ia tidak akan pernah memiliki kelompok. Hanya karena ia tidak memakai pakaian yang sedang tren. Hanya karena ia tidak seceria anak-anak lain. Hanya karena ia pemalu. Hanya karena ia sering keinggalan informasi karena tidak memiliki ponsel. Dan masih banyak alasan lain yang membuatnya kesulitan berbaur dengan teman-teman sebayanya.

Bagaimanapun, sekolah favorit itu dipenuhi anak-anak dari keluarga berada dan berprestasi. Dalam pikiran Riri, mungkin wajar jika mereka ragu berteman dengannya yang biasa-biasa saja, tidak terlalu pintar, dan berasal dari keluarga yang tidak utuh.

Saat pembagian rapor, teman-temannya didampingi kedua orang tua mereka, menerima arahan akademik dari wali kelas dengan hangat, hanya kursi di sebelah Riri yang kosong. Mendengarkan masukan dari wali kelas, menerima rapornya, lalu pulang.

Tidak ada perayaan. Tidak ada jalan-jalan. Tidak ada foto keluarga. Lagi-lagi, Riri merasa rapuh setiap kali menyangkut keluarga. Saat perasaan itu datang, ia akan duduk cukup lama di dekat rel kereta. Sekolahnya memang tidak jauh dari stasiun. Ia senang memperhatikan kereta yang melintas. Diam-diam, Riri berharap setiap kereta yang lewat dapat membawa pergi rasa sedih dan kesepiannya jauh entah ke mana.

Kadang-kadang ia juga merasa sedih karena tas sekolahnya mulai rusak. Kaus kakinya kendor. Hijab putihnya perlahan menguning. Alas sepatunya menipis hingga telapak kakinya terasa panas saat berjalan di atas aspal. Riri jarang jajan. Sebisa mungkin uang sakunya ia tabung untuk mengganti barang-barang yang sudah tidak layak pakai. Ia tidak pernah meminta kepada ibunya. Menurutnya, jika ibunya mampu membelikan, pasti ibunya akan melakukannya tanpa perlu diminta. Lagi pula, ibunya sedang berjuang menyekolahkan semua anaknya hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Keluarga mereka bertahan hidup dari gaji sang Ibu dan sesekali meminjam uang kepada tetangga. Kerabat dari pihak ibu pun tidak banyak membantu. Mereka menjalani kehidupan masing-masing. Riri sering melihat ibunya menangis. Namun, ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang terjadi. Sejak kecil, Riri selalu berusaha untuk tidak menjadi tambahan beban bagi ibunya. Ia berusaha mandiri, tidak nakal, tidak rewel, dan selalu menerima keadaan meskipun sering kali harus mengalah.

Suasana rumah juga cukup sepi ketika Riri masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kakak pertamanya sedang kuliah. Kakak keduanya jarang ia temui hingga ia sendiri tidak terlalu ingat ke mana perginya. Yang paling sering bersamanya hanyalah kakak ketiga karena usia mereka tidak terpaut jauh.

Sejak kecil hingga SD, Riri dititipkan bersama kakek dan neneknya di desa karena ibunya harus mengajar pagi hingga menjelang sore. Setiap Sabtu dan Minggu, ibunya akan menjemputnya pulang ke rumah. Hari Sabtu biasanya terasa singkat, tetapi cukup untuk membawa Riri pulang dan menghabiskan hari Minggu bersama keluarga sebelum kembali ke desa. Karena sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di desa, teman-teman yang dekat dengannya pun berada di sana.

Di rumah, suasana terasa membosankan sekaligus penuh amarah. Riri memahami betul bagaimana cara ibunya mendidik anak-anaknya. Sejak kecil, Riri dididik dengan keras. Bukan hanya dirinya, ketiga kakaknya pun mengalami hal yang sama. Dilarang melakukan kesalahan adalah aturan mutlak. Harus bisa, bahkan untuk hal-hal yang belum pernah dicoba sebelumnya. Jika melakukan kesalahan, teriakan dan kemarahan bukanlah sesuatu yang asing di rumah itu. Belum lagi kata-kata kasar dan ungkitan mengenai Ayah yang kerap muncul ketika emosi ibunya memuncak.

Riri selalu berusaha terlihat sempurna di mata ibunya. Ia ingin menjadi pribadi yang dianggap mirip dengan ibunya. Namun, kepatuhan itu bukan lahir dari keinginan, melainkan ketakutan. Riri patuh karena takut. Takut pada teriakan. Takut pada kemarahan. Takut pada kata-kata yang menusuk dan meninggalkan bekas yang tidak terlihat. Setiap ucapan menyakitkan itu selalu ia simpan sendiri. Perlahan, Riri tumbuh dengan keyakinan bahwa gagal adalah kesalahan, beristirahat adalah dosa, dan tidak melakukan apa-apa karena lelah adalah perbuatan yang buruk.

Padahal, di usia yang masih sangat kecil, yang ia butuhkan sebenarnya adalah kasih sayang dan pemahaman bahwa segala sesuatu memiliki waktunya masing-masing. Bahwa gagal bukan berarti kalah. Bahwa gagal adalah bagian dari proses belajar. Namun, setiap kegagalan yang Riri alami selalu datang bersama tekanan. Akibatnya, ia tumbuh menjadi anak yang tidak percaya diri, takut gagal, dan takut memulai sesuatu. Riri lebih sering memilih jalan yang paling aman, jalan dengan kemungkinan gagal yang paling kecil. Ia tidak berani mengambil langkah besar.

Dalam setiap fase hidupnya, Riri selalu dipenuhi pertanyaan. “Bagaimana kehidupan SMP nanti? Apa aku bisa jadi lebih baik? Apa aku akan jadi cantik? Pakaian seperti apa yang akan aku pakai? Apa aku masih hidup saat itu? Aku tidak memiliki mimpi.” Ia tidak pernah mampu membayangkan masa depannya. Begitulah Riri menjalani masa demi masa.

Kini, saat duduk di bangku SMA, pertanyaan itu kembali muncul. “Bagaimana aku nanti saat kuliah? Bagaimana kalau sudah bekerja? Apa aku masih hidup? Aku benar-benar tidak tahu ke mana angin akan membawaku.” Lagi-lagi Riri merasa dirinya tidak mungkin berada di posisi-posisi itu. Membayangkan masa depan justru membuatnya takut. Karena setiap kali memikirkannya, pertanyaan yang selalu muncul adalah “Apakah aku masih hidup?”.

Riri terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Dengan hati yang masih terasa kosong. Dengan kehidupan yang tidak mudah. Sampai suatu saat, ia mulai memahami apa yang sebenarnya hilang dari dirinya. “Kalau ada Ayah dalam hidupku, apa aku akan jadi putri kesayangannya? Kata orang, cinta pertama anak perempuan adalah ayah. Kata orang juga, ayah selalu lebih menyayangi anak perempuannya. Apa mungkin karena aku perempuan, Ibu tidak terlalu sayang padaku? Teman-temanku mendapatkan uang saku dari ayah dan ibu mereka. Kata orang, anak terakhir, apalagi perempuan, biasanya dimanja. Kalau Ayah ada, apa aku juga akan merasakan semua itu? Kenapa aku harus lahir di keluarga yang tidak utuh? Bagaimana rasanya memiliki keluarga seperti Keluarga Cemara?” Riri memeluk lututnya sendiri di sudut kamar. Perasaan kehilangan itu perlahan menjadi lebih jelas, seperti menyusun kepingan puzzle tanpa mengetahui gambar apa yang sedang dibentuk.

Memasuki masa SMA, Riri memilih sekolah yang biasa saja. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tidak lagi ingin mengejar kepintaran akademik. Ia ingin mengembangkan kemampuan nonakademiknya. Namun, sebenarnya itu hanya alasan. Yang benar adalah, Riri ingin melupakan kekosongan dalam hatinya dengan menyibukkan diri. Ia bergabung dengan empat ekstrakurikuler sekaligus. Dari Senin hingga Minggu, hampir selalu ada kegiatan sekolah yang harus ia ikuti.

Nilai akademiknya perlahan menurun. Namun, kegiatan-kegiatan itu sedikit menyelamatkannya dari kesepian yang bahkan tidak mampu dipahami oleh orang lain. Bahkan oleh dirinya sendiri. Melalui berbagai organisasi dan ekstrakurikuler, mental Riri mulai terlatih. Kemampuan komunikasinya berkembang. Ia belajar bersosialisasi dan memperoleh berbagai keterampilan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Meski begitu, kebiasaannya mempertanyakan masa depan tidak pernah hilang. “Bagaimana aku akan menjalani kehidupan kuliah? Jurusan apa yang akan aku ambil? Apa aku masih hidup saat itu?” ucap Riri sambil memegang secarik formulir pendaftaran perguruan tinggi.

Setelah kembali belajar mati-matian selama berbulan-bulan, akhirnya Riri berhasil memperbaiki nilai rapornya di penghujung masa SMA. Ia meraih peringkat satu di kelas dan peringkat tiga seangkatan jurusan IPA. Riri juga berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri melalui jalur nilai rapor. Rasanya sangat membahagiakan. Untuk pertama kalinya, Riri menyadari bahwa kepintaran tidak hanya dimiliki oleh mereka yang terlahir pintar. Semua orang bisa berkembang jika mau berusaha dan terus belajar. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Tabungan ibunya tidak cukup untuk membiayai kuliah di perguruan tinggi negeri tersebut. Hasil pengelompokan UKT yang diterima Riri tergolong tinggi menurut ibunya. Akhirnya, Ibu berdiskusi dengan kakak pertama. Mengingat kakak ketiga Riri juga sedang menempuh pendidikan tinggi, mereka memutuskan untuk mendaftarkan Riri ke perguruan tinggi swasta dengan biaya yang lebih terjangkau.

Riri tidak mempermasalahkan keputusan itu. Baginya, di mana pun tempatnya, ia akan menerimanya. Kuliah bukanlah impian yang selama ini ia perjuangkan. Bahkan jika ia tidak kuliah sekalipun, Riri merasa tidak akan keberatan. Namun, ibunya memiliki prinsip yang berbeda. Ibunya selalu berjanji akan menyekolahkan seluruh anaknya setinggi mungkin. Menurut ibunya, pendidikan adalah hak anak yang harus diperjuangkan. Persoalan perguruan tinggi akhirnya selesai.

Namun, ada hal lain yang kembali melukai hati Riri. Saat proses registrasi mahasiswa baru, ia harus mengisi data keluarga. Ketika sampai pada bagian data ayah, jemarinya berhenti bergerak. Kursor di layar laptop terus berkedip. Tanggal lahir ayah. Alamat ayah. Pekerjaan ayah. Nomor telepon ayah. Riri tidak tahu satu pun jawabannya. Ia menatap layar laptop cukup lama. Haruskah alamat ayah diisi sama dengan alamat rumahnya? Atau bagaimana? Riri tidak mengerti. Perlahan ia menutup laptop dan keluar mencari udara segar.

Dadanya terasa sesak. Ia bingung harus bertanya kepada siapa. Ia juga tidak tahu apakah bagian itu boleh diisi sembarangan atau tidak. Anehnya, mengisi data ayah terasa seperti sebuah pengkhianatan terhadap ibunya. Seolah-olah ia sedang mencantumkan sosok yang selama ini tidak pernah diharapkan kehadirannya. Akhirnya Riri pulang dan bertanya kepada ibunya. “Bu, bagian ini diisi apa?” Ibunya hanya tertawa.

Kakak pertamanya yang berada di dekat mereka langsung menyahut. “Tulis saja pekerjaan Presiden RI, alamat di Mars, dan usia satu abad.” Riri mengerutkan dahi. Ia serius, tetapi mereka justru bercanda. “Ya sudah, tulis saja seperti yang kakakmu bilang,” kata ibunya sambil tersenyum. Riri mendengus kesal. Padahal formulir itu digunakan untuk mendaftar kuliah. Meski masih kesal, akhirnya ia mengisi bagian tersebut seadanya. Belakangan, Riri memahami bahwa Ibu dan kakaknya tidak sedang mengejek dirinya. Mereka hanya ingin mengajarkannya satu hal sederhana. Tidak semua hal harus dipikirkan terlalu serius.

Di masa kuliahnya, Riri bertemu seseorang yang menurutnya pantas menemani perjalanan hidupnya. Namanya Killa. Ia berasal dari Jawa Tengah. Bagi Riri, Killa adalah teman yang ideal. Ia baik hati, mampu menjaga rahasia, dan memiliki pemahaman agama yang baik. Banyak pertanyaan yang selama ini berputar-putar di kepala Riri perlahan menemukan jawabannya melalui percakapan dengan Killa. Yang paling penting, Killa selalu mau mendengarkan. Bersamanya, Riri bisa bertanya apa saja tanpa malu, takut dihakimi, atau ditolak.

Mereka saling melengkapi. Hingga suatu hari, tanpa disadari, Killa menyelamatkan Riri. Bukan karena melakukan sesuatu yang besar. Melainkan karena kehadirannya membuat Riri percaya bahwa kekosongan di dalam hatinya masih bisa diperbaiki. Killa adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Kedua orang tuanya masih lengkap. Keluarganya tampak harmonis dan utuh. Karena penasaran dengan gambaran “Keluarga Cemara” yang selama ini ia bayangkan, Riri beberapa kali berkunjung ke rumah Killa. Di sanalah ia menyadari sesuatu. Keluarga yang utuh belum tentu berarti semuanya baik-baik saja. Keutuhan keluarga bukan jaminan kebahagiaan.

Suatu hari Killa berkata dengan santai, “Aku memang anak perempuan terakhir, tapi aku lebih dekat dengan Ibu. Ayahku orangnya galak. Kami sering beda pendapat. Kadang menyebalkan dan susah diajak ngobrol santai. Jadi meskipun keluarga kami utuh, bukan berarti semua bentuk cinta itu sama.” Killa tersenyum sebelum melanjutkan, “Apa yang tidak kamu dapatkan mungkin aku dapatkan. Tapi apa yang kamu dapatkan mungkin justru tidak pernah aku rasakan. Bisa jadi kita hanya sedang menjalani ujian yang berbeda, Riri. Jadi berbahagialah di sisa hidup yang singkat ini.”

Awalnya Riri tidak langsung menerima kata-kata itu. Ia bingung. Ragu. Bahkan sedikit menolak. Namun perlahan, ia mulai berpikir jujur kepada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia mencoba memposisikan dirinya sebagai ibunya. Selama ini Riri selalu berpikir bahwa ibunya tidak akan pernah mengerti rasanya menjadi anak tanpa ayah karena ibunya tumbuh dengan kedua orang tua yang lengkap.

Namun, Riri juga menyadari sesuatu. Ia pun tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang harus membesarkan empat anak seorang diri. Riri tidak akan tahu juga rasanya menjadi ibu tanpa ayah dalam satu rumah, atau istri tanpa suami. Riri mulai memahami bahwa kerasnya ibunya memang menakutkan. Namun mungkin, kemarahan itu adalah tembok yang dibangun agar anak-anaknya tidak terjatuh ke jurang yang sama. Agar mereka berpikir matang sebelum bertindak. Agar mereka tetap bertahan. Ia sadar bahwa di balik segala kekurangan ibunya, ada perjuangan yang tidak pernah berhenti. Ibunya juga sedang menjalani hidup untuk pertama kalinya. Ibunya juga pernah bingung. Pernah takut. Pernah tidak tahu harus berbuat apa.

Semua kebingungan yang selama ini dirasakan Riri ternyata belum seberapa dibandingkan kebingungan yang dipikul ibunya selama bertahun-tahun. Begitu kuatnya sang Ibu. Dengan mata yang mulai basah, Riri merogoh ponselnya. Ia mencari kontak bernama “Ibu”, lalu menekan tombol panggil video. Wajah ibunya muncul di layar. Tanpa sadar, air mata Riri menetes. “Kamu kenapa? Gimana kuliahnya? Ada yang bikin nggak nyaman?” tanya ibunya khawatir. Riri menggeleng sambil tersenyum. “Ibu apa kabar? Udah makan belum?” Di seberang layar, ibunya mengembuskan napas khawatir. “Alhamdulillah baik. Udah makan tadi, lauknya beli di tempat biasa. Riri gimana? Udah makan juga?” Di balik sikap keras yang selama ini ditunjukkan, ternyata tersimpan ribuan kekhawatiran. Ribuan luka. Ribuan ketakutan yang tidak pernah diceritakan. Semuanya berpusat pada satu hal, anak-anaknya.

Saat itulah Riri merasa bersalah sekaligus lega. Perlahan, ia mulai menerima keluarganya apa adanya. Menerima segala kekurangan yang ada. Menerima bahwa hidupnya memang tidak sempurna. Dan menerima bahwa dirinya tidak harus terus merasa kesepian. Riri sembuh perlahan. Melalui temannya. Melalui keluarganya. Dan yang terpenting, melalui keberaniannya untuk berdamai dengan dirinya sendiri. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top