
Selama dua puluh tujuh tahun menjadi pegawai negeri, Sumarno mengenal satu kata yang paling aman di kantor pemerintahan.
“Siap.”
Kata itu pendek, mudah diucapkan, dan hampir selalu berhasil menyelesaikan percakapan.
Ketika kepala dinas meminta laporan selesai sebelum waktunya, Sumarno menjawab siap. Ketika rapat yang dijadwalkan pukul sembilan baru dimulai menjelang makan siang, ia tetap siap. Ketika hari Minggu diminta mendampingi acara padahal sudah berjanji mengantar istrinya ke pasar, jawabannya juga siap.
Bahkan pesan WhatsApp pukul sebelas malam pun mendapat jawaban serupa.
Besok pagi bahan paparan sudah di meja saya.
Siap, Pak.
Sumarno pernah mengatakan kepada istrinya bahwa menjadi pegawai negeri sebenarnya tidak membutuhkan banyak kosakata.
“Kalau bicara sama atasan, cukup hafal tiga: siap, baik, dan segera ditindaklanjuti.”
Istrinya tertawa. Sumarno ikut tertawa. Mereka belum tahu bahwa menjelang pensiun, satu kata yang tidak termasuk dalam daftar itu akan mengubah hidup mereka.
***
Sore itu kantor hampir kosong. Jam dinding menunjukkan pukul 16.17 ketika telepon meja Sumarno berbunyi.
“Pak Marno, Bapak diminta naik.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Sumarno melihat layar komputer. Tabel yang sedang dikerjakannya belum selesai. Ia menekan tombol simpan, merapikan kemeja, lalu berjalan menuju lantai dua.
Ruangan kepala dinas terasa terlalu dingin.
Pak Kepala duduk di balik meja. Dua orang yang beberapa kali dilihat Sumarno datang ke kantor duduk di hadapannya. Ia mengenal wajah mereka, tetapi tidak pernah benar-benar tahu apa jabatan mereka.
“Pak Marno ini senior kita,” kata Kepala Dinas. “Kalau urusan administrasi, ia jagonya.”
Sumarno tersenyum kecil. Pengalaman mengajarinya satu hal: pujian dari atasan tidak selalu berarti kabar baik. Kalimat Bapak ini senior sering kali menjadi pembuka untuk pekerjaan yang tidak ingin diberikan kepada pegawai junior.
Kepala Dinas menggeser sebuah map.
“Begini, Pak Marno. Ini pekerjaan lama. Cuma administrasinya ada yang belum lengkap.”
Sumarno membuka map. Beberapa lembar dokumen. Ia membaca halaman pertama, kemudian berhenti pada tanggal yang tercetak di sudut kanan.
“Kegiatan ini sudah selesai, Pak?”
“Sudah.”
“Tahun lalu?”
“Iya.”
Sumarno membalik halaman berikutnya.
“Terus yang ini?”
“Cuma administrasi.”
Sumarno kembali melihat tanggal. Kata cuma tiba-tiba terasa berat.
Kepala Dinas menyandarkan tubuhnya. “Besok berkas ini dibikin seolah-olah sudah selesai bulan lalu. Bisa, kan?”
Tidak ada bentakan. Tidak ada ancaman. Bahkan kalimat itu disampaikan dengan nada yang hampir terdengar seperti meminta bantuan memindahkan meja.
Sumarno terdiam. Selama dua puluh tujuh tahun bekerja, ia mengetahui bahwa perintah paling sulit tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang justru disampaikan sambil tersenyum.
Ia memegang ujung map. Biasanya pada saat seperti ini mulutnya akan bekerja lebih cepat daripada pikirannya. Siap, Pak. Selesai. Urusan bagaimana caranya bisa dipikirkan kemudian.
Akan tetapi sore itu, entah mengapa, ia teringat Dimas.
Dua minggu sebelumnya anak sulungnya berdiri di depan rumah sambil mengangkat ponsel. “Pak! Aku lolos!”
Dimas diterima sebagai ASN.
Malam itu mereka makan ayam goreng, sambal terasi, dan lalapan. Tidak ada pesta. Istrinya hanya membeli satu botol minuman bersoda yang dibagi berempat.
Di tengah makan, Dimas berkata, “Aku pengin kerja kayak Bapak.”
Sumarno tertawa. “Kayak Bapak apanya?”
“Ya lurus. Sampai mau pensiun nggak pernah kena masalah.”
Saat itu dada Sumarno mengembang.
Sekarang kalimat itu kembali datang dengan cara berbeda.
“Gimana, Pak Marno?”
Sumarno mengangkat kepala. “Maaf, Pak.”
Kepala Dinas masih menatapnya.
“Kenapa?”
Sumarno menarik napas.
“Tidak, Pak.”
Senyum Kepala Dinas menghilang. Dua orang di depannya saling berpandangan.
“Apa?”
“Saya tidak bisa.”
Untuk pertama kalinya selama dua puluh tujuh tahun, Sumarno mengetahui bahwa mengucapkan kata tidak ternyata membutuhkan tenaga jauh lebih besar daripada mengatakan siap.
Beberapa detik ruangan itu sunyi.
Kepala Dinas mengambil kembali map dari tangannya.
“Ya sudah.”
Hanya itu. Tidak ada bentakan. Sumarno justru makin tidak nyaman. Ia berdiri.
“Permisi, Pak.”
Kepala Dinas tidak menjawab.
***
Tiga minggu kemudian meja Sumarno dipindahkan. Tidak terlalu jauh. Hanya dari ruangan utama menuju sebuah ruangan kecil di bagian belakang. Dalam nota dinas tertulis: penataan organisasi.
Pekerjaannya ikut berubah. Tidak ada lagi berkas penting yang mampir ke mejanya. Undangan rapat berkurang. Grup kecil yang biasanya membahas pekerjaan tidak lagi seramai dulu di teleponnya.
Sumarno memperoleh sesuatu yang selama puluhan tahun diimpikan banyak pegawai: waktu luang. Ternyata waktu luang yang didapat karena tidak lagi dianggap penting rasanya berbeda dengan liburan. Pada minggu pertama beberapa teman masih mampir.
“Sampeyan kenapa, to?”
“Kenapa apanya?”
“Katanya ada masalah sama Bapak.”
“Enggak ada.”
“Terus kok dipindah?”
“Penataan.”
Temannya mengangguk meskipun jelas tidak percaya.
Minggu berikutnya hanya satu dua orang yang datang. Sebulan kemudian hampir tidak ada. Di kantin, kursi di sebelah Sumarno lebih sering kosong. Bukan karena mereka membencinya. Mereka hanya paham bahwa di kantor, kedekatan pun kadang perlu disesuaikan dengan arah angin.
***
Suatu malam istrinya bertanya ketika mereka sedang menonton televisi.
“Kamu ada masalah di kantor?”
Sumarno pura-pura memperhatikan berita.
“Pak.”
“Hm?”
“Kamu dipindah, ya?”
Sumarno menoleh. “Tahu dari siapa?”
“Bu Rini.”
Sumarno mendengus. Kabar kantor rupanya bisa tiba di rumah lebih cepat daripada surat resmi.
“Cuma pindah meja.”
“Kenapa?”
“Penataan.”
Istrinya menatapnya. Dua puluh empat tahun hidup bersama membuat perempuan itu tahu kapan suaminya sedang menyembunyikan sesuatu.
“Ada apa?”
Sumarno akhirnya bercerita.
Tidak semuanya.
Hanya sebuah map, tanggal yang harus diubah, dan jawabannya kepada Kepala Dinas.
Istrinya diam. Sumarno menunggu kalimat yang sejak tadi ditakutkannya. Kenapa tidak dituruti saja? Mereka masih punya cicilan. Anak bungsunya belum selesai kuliah. Masa pensiun Sumarno tinggal beberapa tahun lagi.
Namun, istrinya malah bertanya: “Kamu nolak?”
Sumarno mengangguk.
“Tumben.”
Sumarno tertawa kecil.
“Makanya dipindah.”
Istrinya mengambil remote dan mengecilkan volume televisi.
“Ya sudah.”
“Ya sudah bagaimana?”
“Besok tetap kerja.”
“Cuma itu?”
“Mau bagaimana lagi?”
Istrinya berdiri, membawa dua gelas kosong menuju dapur. Sebelum masuk, ia berhenti. “Dulu waktu nikah kamu bilang mau jadi pegawai sampai pensiun.”
“Iya.”
“Bukan bilang mau jadi orang penting sampai pensiun.”
Istrinya masuk ke dapur. Sumarno menatap televisi yang suaranya nyaris tidak terdengar. Lalu tersenyum.
***
Empat bulan berlalu. Sumarno mulai terbiasa dengan ruangan belakang. Ia membawa termos kecil dari rumah. Menyimpan kopi dalam stoples bekas biskuit. Sebuah foto keluarga ia taruh di sudut meja.
Foto Dimas diletakkan paling depan.
Sesekali anaknya menelepon untuk bertanya soal pekerjaan.
“Pak, kalau atasan kasih kerjaan mendadak gimana?”
“Kerjakan.”
“Kalau susah?”
“Belajar.”
“Kalau nggak bisa?”
“Bilang nggak bisa.”
Dimas tertawa.
“Bapak sekarang filosofis.”
Sumarno ikut tertawa.
Ia tidak pernah menceritakan tentang map itu. Biarlah anaknya mengenal dunia kerjanya melalui jalannya sendiri.
***
Senin pagi pukul 09.12, tiga mobil berhenti di halaman kantor. Awalnya tidak ada yang memperhatikan. Beberapa orang turun membawa tas dan map. Lima belas menit kemudian suasana berubah.
Pintu ruangan Kepala Dinas tertutup.
Telepon berdering dari satu meja ke meja lain.
Orang-orang yang biasanya berjalan santai mendadak mempercepat langkah. Grup WhatsApp kantor yang setiap pagi dipenuhi foto kegiatan, ucapan ulang tahun, dan salam semangat mendadak sepi.
Sumarno sedang menuangkan air panas ketika seorang staf masuk ke ruangannya.
“Pak Marno.”
“Ya?”
“Bapak sudah dengar?”
“Dengar apa?”
“Ada pemeriksaan.”
Sumarno tetap mengaduk kopi. “Soal apa?”
Staf itu mendekat. “Pekerjaan tahun lalu.”
Sendok di tangan Sumarno berhenti. Hanya sebentar. Ia tidak bertanya pekerjaan yang mana.
***
Hari-hari berikutnya kantor tak lagi sama. Satu per satu pegawai diminta memberikan keterangan. Ada yang keluar ruangan dengan wajah pucat. Ada yang mendadak mengambil cuti. Ada pula yang sibuk mencari dokumen lama.
Lemari arsip yang bertahun-tahun hanya didatangi debu mendadak lebih ramai daripada kantin.
Sumarno tetap berada di ruangan belakang.
Suatu sore seseorang mengetuk pintunya. Arif. Teman satu angkatannya. Wajahnya kusut.
“Boleh masuk?”
“Masuk.”
Arif duduk.
Beberapa saat tidak ada yang bicara. Hanya dengung AC tua yang sesekali terdengar seperti orang mengeluh.
“Besok aku dipanggil,” kata Arif.
Sumarno mengangguk. “Soal berkas itu?”
Arif menatapnya. “Kamu tahu?”
“Sedikit.”
Arif mengusap wajahnya.
“Dulu setelah kamu nolak, berkasnya dikasih ke aku.”
Sumarno diam.
“Aku tanda tangan.”
Dari luar terdengar suara seseorang menutup lemari.
“Kenapa?” tanya Sumarno.
Arif tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung kelucuan apa pun.
“Kamu tahu sendiri.”
Sumarno memang tahu. Bisa karena takut dipindah. Bisa karena berharap promosi. Bisa karena semua orang mengatakan itu hanya administrasi. Atau mungkin karena alasan yang jauh lebih sederhana: mengatakan siap memang lebih mudah.
Arif memandang foto Dimas di meja.
“Kamu beruntung.”
“Beruntung apa?”
“Waktu itu berani bilang tidak.”
Sumarno tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir kopinya. Sudah dingin.
“Bukan berani.”
Arif mengernyit.
“Terus?”
“Saya takut.”
“Takut sama siapa?”
Sumarno memandang foto Dimas. Anaknya tersenyum dalam seragam yang masih terlihat terlalu baru.
“Takut kalau suatu hari anak saya tahu bapaknya hidup dari kata ‘siap’ yang salah.” []




