Melati Suryodarmo yang Tak Jemu-Jemu Membicarakan Tubuh

Melati menerima Lifetime Achievement Award. (Foto: Radja Sinaga)

Suasana masih tampak lenggang, meski perhelatan penghargaan Lifetime Achievement Award yang diselenggarakan Nandur Srawung #13 di Militaire Societeit, Taman Budaya Yogyakarta, Minggu, 25 Oktober 2026 akan segera dimulai. Penghargaan Lifetime Achievement Award pada gelaran pameran seni rupa tahunan Nandur Srawung #13 ini dianugerahkan kepada seniman performans terkemuka Indonesia, Melati Suryodarmo. Penghargaan tertinggi ini diberikan kepada Melati atas dedikasi, komitmen yang kuat, serta kontribusi berkelanjutannya yang luar biasa bagi perkembangan seni rupa kontemporer, khususnya seni performans (performance art), baik di Indonesia maupun internasional.

Bangku-bangku yang dijajarkan di teras aula bahkan masih rumpang—begitu juga daftar hadir yang harus diisi penonton nantinya, masih tertulis kurang dari delapan baris. Dari banyaknya barisan itu, saya melihat seorang budayawan Indonesia, Halim HD yang jauh dikenal sebagai networker budaya lintas negara.

Namun obrolan saya dengan Halim HD tidak berlangsung cukup lama. Pasalnya jelas, tepat di belakang kami, di dalam aula, seseorang perempuan yang melakoni kesenian kontemporer asal Surakarta akan membawa semacam refleksi untuk khalayak dalam bentuk pidato kebudayaan, setelah dirinya didapuk menerima penghargaan tersebut.

Di Balik Tubuh yang Bebas

Melati Suryodarmo, lahir dari orang tua yang menekuni seni pertunjukan. Bedanya, sang ibu seorang penari klasik, sementara ayahnya berkutat atas seni pertunjukan eksprimental.

Dalam pidatonya, Melati menarik jauh pemaknaan seni tidak semata-mata yang tampil di atas panggung. Ia menyebut seni sebagai laku kehidupan. Dari laku itu, mula-mula sekali ia mencoba menyarikan dengan jalan tubuh.

Jauh sebelum akhirnya mengakrabi tubuh, pertanyaan paling fundamental yang dititik-beratkan Melati adalah aspek seni itu sendiri. Tak sulit kita mendengar sejak lama bahwa seni sangat bertalian dengan kebebasan. Selain itu, ekspresi dalam berkesenian tak jarang disebut dan dimaknai sebagai sesuatu yang personal. Dari kebebasan itulah, Melati mencoba memikirkan gerak waktu kesenian yang sudah dijalani dan dipelajarinya.

Namun pada praktiknya, kebebasan dalam seni tidaklah bebas sebagaimana yang dikira. Melati melihatnya dengan sendiri, bagaimana ruang yang bisa didayakan sebagai jalan berkesenian itu tidak benar-benar bebas. Seni hari-hari ini masih tetap kaku untuk dijalankan.

Hal itu dilihatnya tidak sekadar jatuh terhadap pelaku seni itu sendiri. Boleh saja, hasil-hasil kesenian yang hari ini kita lihat ternyata tidak benar-benar berada di tempat yang luas. Seni, baik itu saat diproses dan ditawarkan kepada penikmat, masih saja belum menemukan pertemuan yang sebanding.

Melati membacakan pidato kebudayaan. (Foto: Radja Sinaga)

Di sinilah sekelumit seni itu makin meruncing. Ia yang seharusnya bebas tidak semata-mata harus mewakili pegiat. Seni yang bebas juga mementingkan mereka yang menikmati. Namun nyatanya, Melati melihat semua itu sebagai sebuah pintu yang mungkin disebut terbuka, tapi tidak seluruh orang melihat keberadaan pintu itu. Bahkan, ketika kita akhirnya menyadari pintu itu, ternyata kita tak mengantongi kuncinya.

Di tengah proses penafian atas kerja-kerja yang telah dilakukan, sambil melihat kembali jejak-jejak seni yang dilihat, Melati akhirnya memilih tubuh sebagai praktik kesenian. Baginya, tubuh adalah medium yang sangat penting untuk pencarian-pencarian lebih jauh dalam seni.

“Tubuh membawa pengalaman, ia menyimpan ingatan rasa takut, kegembiraan, luka, kebiasaan, dan pengetahuan yang selalu tidak dapat diterangkan melalui kata-kata,” kata Melati di atas panggung.

Bahwa dengan seluruh keterangan itu, tak ayal tubuh bergerak di dalam sejarah manusia. Tak ada tubuh yang menjadi ada dengan begitu saja. Semua input dalam kehidupan membangun tubuh menjadi identitas tertentu.

Kendati tubuh itu terbentuk dari banyak hal, bukan berarti tubuh rela dan pasrah untuk diidentitaskan. Melalui tubuh itu juga, ia bisa menemukan identitas lain, atau mungkin identitas yang sebenarnya, dalam artian yang sesuai dan tak berketimpangan.

Karena keluwesan tubuh yang diyakini Melati, ia mampu menjadi layar yang tak menemukan akhir untuk menampilkan peradaban.

Persinggungan Tubuh

Saya mencoba memahami, pada titik yang rawan dan mudah patah bagai ranting yang busung, tubuh yang adaptif itu betapa rentan. Sudah sejak lama, jika kita sepakat menganggap tubuh sebagai identitas, entah itu terkait budaya dan lain halnya, ada hal-hal yang terus dipaksakan sehingga tubuh terkesan tak luwes. Ada faktor-faktor yang menjembatani tubuh itu dimaknai dengan cara yang ketat.

Kesalapahaman itu tentu tidak semata-mata datang dari luar. Justru tubuh yang tak luwes itu bisa datang dari kita sendiri dalam menempatkan terminologinya. Asumsi yang datang pada dasarnya dimulai dengan cara membentangkan dunia dari dua kutub yang benar-benar berbeda. Kita mengenal kutub itu sebagai barat dan timur. Dari lanskap kolonialisme, kita menciptakan tubuh sendiri yang berusaha menolak barat dan berusaha mencari-cari tahu apa itu timur. Hingga pada kenyataannya, kita lupa pencarian itu makin lebarkan sayap terhadap batas yang sebenarnya tidak benar-benar ada. Kita acap memikirkan pembentukan tubuh kita sendiri dengan mencari perbandingannya atau menolak tubuh yang telah memang ada.

Tak jarang, Melati melihat di kancah internasional, beban tubuh yang merupakan identitas harus benar-benar ditampilkan. Tubuh dipaksa dan diperas untuk menunjukan kepada yang asing dan memaksa penikmat benar-benar sepakat apa yang diinterpresentasikan di atas panggung sebagai identitas kebudayaan yang sahih. Inilah yang Melati coba untuk diurai.

Tentu dalam artian tersebut Melati bukan hendak menolak tradisi, yang lahir dari Indonesia dengan segala tradisi yang diembannya. Melati melihat dan menjadikan kegelisahan itu sebagai prosesnya memutar daya kreatif bahwa identitas yang ditampilkan melalui tubuh bisa saja menciptakan batas itu sendiri. Yang dengan bangganya kita terus bawa, kita tanak, dan kita pegang dengan sangat erat, seolah-olah ketika itu semua memudar, kita benar-benar kehilangan tubuh kita sendiri.

Pengelolaan Identitas Tubuh

Di sinilah ruang-ruang penentuan identitas atas tubuh itu Melati gelisahkan. Ketika pendeskripsian biasanya kita sandingkan datang dari luar tubuh kita, ternyata deksripsi yang hari-hari tampil justru datang dari kita sendiri. Kita tidak menemukan keganjilan itu dengan sangat terbuka—atau dengan terbuka. Namun, secara pelan dan halus, pendeksripsian itu benar-benar nyata berada di ruang identitas pemaknaan atas tubuh kita.

Melati mengasosiaskan hal itu dari realitas yang terjadi hari-hari ini. Siapa yang sering diundang, siapa yang sudah memiliki jaringan, siapa bahasanya dianggap meyakinkan, siapa karyanya yang dianggap memenuhi standar, dan siapa yang harus bekerja berkali-kali lebih keras untuk mendapatkan perhatian yang sama.

Dengan pengulangan-pengulangan itulah, tercipta distorsi ruang atas tubuh. Ada yang di dalam dan di luar. Dalam pandangan Melati sebagai yang dipusat dan di pinggiran. Antara kedua sudut-sudut ini, sebenarnya tidak ada yang benar-benar layak disebut sebagai pusat dan disebut sebagai pinggiran. Saya melihat, bahwa agaknya, tubuh kita tetap berada di tengah dan malangnya berusaha menjauh dari poros itu.

Mereka yang tak terakumulasi bukan berarti tak memiliki pengetahuan dan mereka yang berada dalam deretan angka tak selamanya memahami belukar identitas yang ada.

Namun dari ruwetnya benang identitas yang diciptakan karena keengganan mengurai batas yang kita bangun sendiri, Melati melihat ruang kosong untuk kita telusuri. Ia menyebutnya sebagai mendengarkan adalah sebuah laku. Bahwa dari semua suara yang ada—yang kadung dimaknai pinggir dan pusat—pada dasarnya memiliki kekokohan tersendiri dan kekokohan itu betapa doyong untuk dijadikan penyangga sehingga mampu menafsir.

Selain itu, penghancuran identitas tubuh itu mampu dilebur dengan tidak semata-mata “kami telah menghadirkannya di sini”. Terkadang, mereka yang hadir—entah itu karena keinginan tersendiri atau diajak—tak cukup dikatakan sebagai penonton belaka—sekalipun ia seorang pelaku seni itu sendiri.  Pemberian ruang bagi Melati tidak sekadar menempatkan tubuh seni seseorang bisa dirasakan di panggung. Titik penghancuran batas itu justru terletak ketika panggung telah usai digelar dan ke depannya panggung itu harus dikembalikan lagi kepada dia yang melakoninya, baik terhadap si pembuat, penikmat, pengkritik, dan siapa saja.

Ketika titik ini telah dijalankan, batas-batas itu layaknya menjadi air yang mengumpal di daun dan perlahan menghilang ke udara ketika cahaya dari timur mulai menyingsing. Dan titik selanjutnya yang terjadi, kita bersepakat bahwa seni yang selalu disebut sebagai personal tidak bermakna tunggal. Personal itu justru bermakna koletif, yang telah lama dibangun menjadi berbagai kamar, yang tujuannya begitu tak pantas untuk dijalankan. Dari sinilah kita akhirnya mengenal seni ada ruang yang menjahit masyarakat, membangun peradaban yang ajeg, dan penghancuran hal-hal banal.

Penghargaan Ruang Mawas Diri

Dalam banyak kesempatan, kita memandang—dari kacamata yang retak—bahwa penghargaan sebagai titik puncak keberhasilan. Sayangnya, ketika saya memikirkan itu, saya justru teringat, meski tidak secara utuh dan persis, apa yang disampaikan Melati tak ubahnya seperti yang disampaikan Han Kang ketika mendapatkan Nobel Sastra beberapa waktu silam. Dia, Han Kang, alih-alih merasa bangga dan puas, justru menganggap penghargaan itu sebagai sesuatu yang tidak perlu dibesar-besarkan, sebab dalam keterangannya, Han Kang malah akan menjalani hidupnya seperti sedia kala: menjadi ibu rumah tangga bagi anaknya sembari menulis. Tidak ada perayaan yang megah untuk penghargaan.

Itulah yang terlintas ketika saya berusaha merunutkan ucapan Melati di depan panggung. Penghargaan yang didapat dari segala kerja darah dan keringat dan pertarungan yang tak kenal waktu justru disandarkan akhirnya bukan sebagai sebuah pesta. Melati menganggap semuanya sebagai—semacam—titik awal untuk melihat kilasan waktu yang sudah dijalaninya. Bahwa apakah kemudian yang selama ini dia lakukan sebagai suatu kebenaran yang multak dan utuh? Jangan-jangan seluruh kerja-kerja kesenian kontemporer yang dilakukannya mengarah kepada sesuatu yang bahkan belum bisa dimaknai cukup?

Penghargaan itu juga baginya semacam pengaburan bayang-bayang. Melati yakin bahwa penghargaan yang diterimanya bukan sebagai sebuah usaha mandiri. Di sana, sebagaimana kerja-kerja seni pertunjukan, ada aktor-aktor yang selalu nyaman tidak disorot tetapi menjadi pasak dan tonggak agar pertunjukan berjalan sedimikian rupa.

Para Kurator Nandur Srawung #13. Di tengah Febrian Hasibuan. (Foto: Radja Sinaga)

Bahkan baginya penghargaan bukan pemberhentian terakhir. Entah bagaimana, di setiap proses yang telah berkelindan—yang juga telah diapresiasi banyak orang—masih saja terdapat hal-hal rumpang. Tentu kerumpangan itu bukan sesuatu yang salah. Hanya saja, kerumpang tersebut menjadi pertanda proses kreatif tetap berjalan, senantiasa sebagai panduan, sebagaimana yang dikatakan Melati bahwa seni sebagai laku kehidupan.

Mengapa Melati Suryodarmo

Melati dalam kacamata kurator Nandur Srawung #13 layak dan pantas menerima Lifetime Achievement Award karena dua pertimbangan. Febrian Hasibuan, satu dari tiga kurator, melihat seni tindakan—yang termasuk dalam seni kontemporer—yang ditekuni Melati mampu memberikan warna yang lain. Melati bagi para kurator menempatkan seni tindakan berangkat melalui seni rupa, seperti yang terjadi di Eropa.

“Dia sangat bebas memilih medium. Dia memberi warna dalam seni performance,” kata Febri yang akrab dipanggil Aan.

Di luar pekerjaan seni yang personal itu, Melati dianggap memberikan sumbangsi lain dengan Studio Plesungan yang didirikannya. Di tempat itu, seniman-seniman muda bergerak dan menemukan bentuk tubuh seninya. Dan seniman-seniman yang berada di Plesungan itu kemudian dibenturkan melalui festival yang mereka bentuk sendiri. Dari festival itulah, pencarian-pencarian yang lebih lanjut berjalan, menemukan pemaknaan antara seniman dari Indonesia dan luar Indonesia.

Mengembara Tiga Tahun

Tanpa bermaksud mengatakan meniru, saya melihat Nandur Srawung #13 juga berangkat dengan nafas yang sama seperti yang dikerjakan Plesungan. Festival tahunan ini tidak ingin bergerak dan berhenti di waktu itu semata dan hanya bisa dilihat kembali dengan kenangan dari dokumentasi. Perjalanan Nandur Srawung #13 yang menawarkan tema Akademi secara bertahap mengajak para seniman untuk tumbuh bersama.

Dengan waktu tiga tahun, tema ini secara mandiri dan perlahan menjaring seniman-seniman muda yang bergerak dalam seni kontemporer. Akademi diproyeksikan sebagai ruang belajar, pembentukan diri, dan pegejewantahan mandiri bagi setiap seniman. Puncak akhirnya, pada tahun ketiga, Akademi melakukan kolaborasi di luar kawasan Indonesia agar seniman-seniman muda dikenal.

“Memetakan seni kontemporer hari ini. Tahun kedua laboratorium. Tahun ketiga lintasan,” tutur Aan di samping gedung Militaire Societeit dengan kreteknya yang sejak awal tak juga-juga ujungnya bewarna merah menyala. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top