
Bekas-bekas tambang memang banyak tampak. Bangunan-bangunan tua pendukungnya jelas masih tersisa untuk dipandang-pandang mata. Kanal, jembatan, pagar, rentangan kawat baja, atau apa pun itu, masih ada untuk dilihat-lihat lagi. Masih dan masih, meskipun kondisi dan keadaannya bisa rawan dan memprihatinkan, terabaikan dan tak terawat sebagaimana harusnya.
Tapi, ada hal lain yang tidak materi atau benda, yang belum begitu banyak ditelisik: ingatan dari ruang sadar maupun tidak sadar manusia di sekitarnya. Ingatan tentang orang-orang Belanda. Ingatan tentang masa ketika negeri-negeri emas itu ramai. Ingatan tentang jalan-jalan tambang kuno yang kini telah ditelan belukarraya. Dan, yang paling menarik, ingatan tentang emas yang hidup, bernyawa, dan dapat terbang.
Kami mewawancarai beberapa penduduk setempat dengan tiga hingga bahkan empat tingkatan usia. Tua, setengah baya, dewasa-muda, dan remaja. Dari mereka tampak bagaimana satu lanskap yang sama terus hidup dalam imajinasi generasi yang berbeda-beda. Pada generasi tertua, tambang masih hadir sebagai pengalaman yang dekat dengan kehidupan keluarga mereka. Pada generasi setengah baya, ia hadir sebagai cerita yang diwariskan dari orang-orang tua. Pada generasi muda, ia mulai menjadi serpihan-serpihan kisah yang samar, setengah dipercaya dan setengah diragukan.
Apa Salido dan tambang emas Salido dalam alam pikir berbagai lapis generasi di situ?
Cerita hororkah yang tersisa?
Imajinasi tentang emas sebesar kuda?
Lantas, apa dan siapa orang asing?
Dan lain sebagainya? Angku Guru, atau Muslim, yang kini mendekati delapan puluh tahun, adalah salah satu yang masih menyimpan banyak cerita tentang masa itu.

Kami menemuinya di sebuah rumah di sebelah PLTA. Ia duduk di atas kursi kayu rendah, punggungnya sedikit membungkuk, tapi suaranya masih keras dan teratur. Sekali-sekali ia berhenti, seperti sedang memilih kata yang paling tepat dari tumpukan ingatan yang tersimpan di kejauhan. Di luar, suara anak-anak bermain di halaman tetangga bercampur dengan deru arus air sungai yang keras. Ia terlihat tidak terganggu. Agaknya, ia sudah terbiasa bercerita dengan latar bunyi seperti itu.
Dia menceritakan apa yang dia ingat dair masa kecilnya, ketika berumur 7 atau 10 tahun. Masa itu, orangtuanya bekerja berladang, ke sawah, atau ke hutan, mencari damar dan rotan. Namun, di antara kerabat-kerabat, ada yang masuk hutan menambang emas.
“Semasa Gunung Arum ramai. Banyak orang sini yang ikut menambang emas. Siapa yang suka menambang emas, pergi menambang emas. Dunsanak-dunsanak saya banyak yang menambang emas ke sana, Angku Mangguang, Angku Suluak, Angku Luduak, Imam Sawadi, Angku Supin—yang terakhir ini jadi mandor di sana. Perempuan tidak ada. Mereka itu belajar menambang emas dari Belanda. Bekerja pada Belanda sebagai pengangkut material emas ke luar.“
Dalam ingatannya, ketika masa tambang sedang semarah, tambang juga menghidupkan ekonomi kampung. “Semasa itu turun orang tambang setelah gajian ke kampung ini, ke koto ini, banyak kedai dan toko, lengkaplah. Gajian mereka yang di atas turun ke bawah pergi berbelanja. Macam-macam yang dijual. Kain, piring, pokoknya kebutuhan rumah tangga.”
Ia sendiri tidak pernah berjumpa dengan orang Belanda. “Saya tidak pernah bertemu orang Belanda. Waktu kecil saya, Belanda sudah pergi semua.”
Namun, jejak mereka masih hadir dalam cerita-cerita keluarganya.
“Waktu saya kecil, dulu di sini ada rumah sakit sisa-sisa peninggalan Belanda. Saya pernah berobat ke situ. Bangunan rumah sakit itu telah dihanyutkan oleh air besar atau galodo. Saya juga tahu ada orang Belanda di kampung ini dulu, dari orangtua saya yang bercerita. Kata mereka, dulu di kampung kita ini banyak orang Belanda. Pernah orang Belanda membagikan ‘kain tipis’ atau marekan, beragi, kepada orang-orang kampung sini sebagai kain pembagian. Juga anak-anak kalau ada terlihat berkumpul-kumpul, menurut cerita mereka pula, dikasih roti, kue-kue oleh orang-orang Belanda itu. Dan banyak yang lain yang diberikan Belanda kepada orang-orang kampung di sini. Dapat dikata, zaman Belanda, ekonomi di kampung ini hidup. Kalau bekerja orang kampung dengan Belanda, dapat gaji.”
Ingatan tentang masa itu juga berkaitan dengan kesenian. “Ada juga hiburan di masa itu. Badendang. Tari kain, dipentaskan waktu pernikahan. Tari ketek. Tari Bataoyei. Tari Badampiang. Tari Sewang. Tari anak-anak. Tari berbuai. Rebana dan debus.”

Tapi sejak zaman Jepang, hancur, sengsara.
Di antara semua cerita yang diwariskan orang-orang tua kepadanya, satu yang paling membekas dalam ingatan Engku Guru adalah kisah tentang emas terbang.
Menurut cerita yang didengarnya semasa kecil, emas itu bukan benda mati. Emas itu terbang macam kuda bersayap. Kata orang-orang tuan, menakut-nakutinya, “Emas terbang dari Bukit Kayu Manang ke Gunung Arum’.” Cerita itu menjadi alat untuk menakut-nakuti dia dan anak-anak lain agar tidak bermain sampai larut malam. “Menyuruh kita, karena hari sudah malam, untuk naik kita ke rumah lagi!”
Meski tidak pernah melihat sendiri, ia tetap meyakini bahwa emas itu hidup, sebagaimana cerita yang didapatkannya dari orang-orang tua. “Kenapa emas punya banyak urat, dan tidak bertumpuk di satu tempat? Itu menandakan kalau emas situ hidup, emas itu bernyawa. Emas itu berjalan kian-kemari. Sehingga disebut sebagai urat cacing. Itulah yang dicari-cari orang sekarang.”
Lalu, ia melanjutkan dengan penjelasan yang telah berkali-kali didengarnya dari para tetua.
“Yang terbang itu ialah induk emas. Dia masuk ke dalam karang seperti bunyi kacang goreng dikuali, meletus-letus bunyinya. Besarnya sebesar kuda. Taik atau kotoran dari induk emas itulah yang sekarang kita cari, yang sekarang kita tambang.”
Cerita tentang induk emas itu, katanya, berasal dari Angku Bila Balam, salah seorang tertua di kampung tersebut pada masanya. Dari orang yang sama pula beredar banyak kisah mengenai orang Belanda. Dari Angku Bila Balam itu Engku Guru kita ini memperoleh cerita.
“Diceritakannya ke saya, katanya: ‘Nyonya-nyonya Belanda itu baik-baik. Tidak ada yang menyakiti’. Dulu, ada rumah keluarga Belanda di sini. Tinggallah seorang Nyonya Belanda di situ. Ada sekitar 5 orang Nyonya Belanda di kampung ini. Kata Angku itu, ‘bentuknya tinggi-tinggi, hidungnya mancung-mancung’. Begitu diceritakannya ke saya dulu.”
Cerita-cerita semacam itu biasanya muncul di rumah, setelah makan malam, menjelang tidur.
Menariknya, nama Angku Bila Balam juga muncul dalam ingatan generasi berikutnya.
Bachtiar Doni, seorang anggota Bamus kampung itu, berusia menjelang lima puluh tahun, mengingat orang tua itu sebagai seseorang yang sering bergaul dengan orang Belanda.
Ia berbicara sambil sesekali menoleh ke arah jalan kampung di luar jendela, seolah sedang memeriksa apakah sesuatu yang ia ceritakan masih bisa ditemukan di sana. Ia tertawa kecil sebelum memulai, tawa yang terdengar seperti pengantar, seolah menandakan bahwa apa yang akan ia sampaikan adalah sesuatu yang sudah lama ia simpan dan kini senang bisa dikeluarkan.
“Angku Bila Balam ini sering berbaur dengan Belanda. Dia pekerja di PLTA ini dulu,” katanya.
Salah satu cerita yang paling diingatnya justru bukan soal tambang, melainkan soal tata krama.
“Dia menceritakan, kalau orang Belanda tidak suka kita bersendawa, tetapi tidak marah kalau kita kentut. ‘Kalau bersendawa, kamu akan langsung kena marah oleh orang Belanda. Tapi kalau terkentut, tidak apa katanya itu, bagus!’ Dia menceritakan itu ketika tiap-tiap selesai makan. Masih teringat oleh saya.”
Namun, seperti halnya Angku Guru, kisah yang paling membekas dalam ingatannya tetaplah legenda emas terbang.
“Induk ameh itu dari Lubuak Ameh terbang ke Tambang Taya. Berbentuk kuda terbang. Diceritakan ke saya waktu kecil. Waktu itu, saya menganga saja mendengarnya. Terbayang pula wujud kuda dalam kepala saya. Tiba di Tambang Taya, kuda itu turun.”
Baginya, cerita tentang orang Belanda dan cerita tentang induk emas berasal dari sumber yang sama: dongeng-dongeng menjelang tidur yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
“Karena saya baik ke orang Belanda, maka orang Belanda itu baik pula ke saya.”
Begitulah, menurutnya, Angku Bila Balam selalu mengakhiri kisah-kisahnya.
Tampaknya, Angku Bila Balam ini bukan sekadar pekerja biasa. Ia adalah salah satu dari sedikit orang kampung yang benar-benar dekat dengan orang-orang Belanda. Bekerja di bawah mereka, tapi juga bergaul, berbicara, dan dipercaya oleh mereka. Kesetiaannya kepada Belanda juga lahir dari sesuatu yang tampaknya bersifat timbal balik, Belanda yang baik kepadanya, dan ia yang baik kepada Belanda.

(Foto: Yuka Fainka)
Pada generasi yang lebih muda, sebagian cerita di atas itu mulai memudar.
Selvi Novita dan Putri Patricia, keduanya berusia dua puluh tahunan, mengaku tidak tumbuh bersama kisah emas terbang. Mereka kami jumpai bersama, dua perempuan yang tumbuh di kampung yang sama, dengan nenek dan etek yang berbeda, dan karena itu mewarisi serpihan cerita yang berbeda pula. Mereka duduk berdekatan, kadang saling melirik ketika salah satu ragu, seolah memeriksa apakah ingatan mereka cocok. Tidak selalu cocok. Tapi justru di situlah yang menarik.
“Tidak tahu ada cerita tentang emas terbang. Orangtua saya tidak mau menceritakan. Saya tahu, sedikit-sedikit, dari Engku Guru yang menceritakan,” kata Selvi.
Yang ia tahu terutama adalah kenyataan bahwa kampungnya sejak lama dikenal sebagai tempat orang mencari emas.
“Pencarian orang rata-rata emas, jadi saya tahu, kalau di kampung saya ada emas.”
Sementara Putri, dari neneknya, ia mendengar cerita yang berbeda.
“Bangunan-bangunan kuno itu hasil kerja paksa. Dibuat orang Belanda, tapi kita pekerjanya.”
Sementara dari etek-eteknya, ia memperoleh versi lain tentang emas yang hidup.
“Ada dulu orang di Koto Rawang bermimpi, kalau di belakang rumahnya ada emas, sebongkah besar, tapi emas itu terbang. Ketika dia terbangun, segera dia cari ke belakang rumahnya itu, ternyata memang dia dapat emas sebesar ibu jari. Tapi saya tidak tahu apakah benar atau tidak.”
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang membayangkan induk emas sebagai kuda bersayap, imajinasinya jauh lebih sederhana.
“Ketika itu, saya bayangkan emas itu terbang: sekadar terbang, seperti batu saja, yang melayang. Tidak ada imajinasi bersayap, kuda, dan lainnya.”
Demikian pula dengan orang Belanda. Baginya, mereka hadir bukan melalui cerita keluarga yang kuat, melainkan melalui benda-benda yang masih tersisa.
“Saya tahu ada Belanda di sini, hanya dari benda-benda peninggalan zaman Belanda. Sebelumnya saya tidak yakin, hanya dengar-dengar saja, tetapi setelah melihat langsung benda-benda peninggalan zaman Belanda, baru agak yakin. Seperti kursi tempat duduk Nyonya Belanda, misalnya.”
Di situlah, telah nyata terlihat, bagaimana cara ingatan bekerja. Pada generasi tertua, tambang masih berupa pengalaman yang hampir dapat disentuh. Pada generasi berikutnya, ia berubah menjadi cerita. Pada generasi yang lebih muda lagi, ia tinggal sebagai fragmen-fragmen kisah yang terserak: sedikit sejarah, sedikit mitos, sedikit peninggalan benda.




