
Keramba-keramba air payau menggenang hening, berwarna cokelat. Di sebelahnya air gemericik dari sela-sela akar bakau, di sisi sebelahnya lagi anak Sungai Jantan1 tampak mengalir lamban, dipersiapkan sebagai tepian mandi. Lingkungan Penyengat, tempat tinggal kerabat Suku Anak Rawa2 itu dilatarbelakangi suaka rimba raya bergambut berwarna kehidupan hijau tua. Udara sekitar perkampungan yang juga dipagari pohon api-api, pedada, tancang, serta kelubi dan belukar terasa dingin menyegarkan. Pada musim bakau yang mengurai bunga kuning kecokelatan, madu lebah kelulut pun bertumpah ruah di berbagai pohon yang masuk dalam wilayah hutan mangrove Giam Siak Kecil-Bukit Batu itu.
“Pada musim kelulut ini, bergelanyut sekitaran dua puluh sarang lebah di tiap-tiap pokok bakau,” jelas Pak Entol bernada bangga, membuka kata. Penghulu itu mengisahkan tentang kampung daerah tinggal warga Penyengat yang makmur sejak dahulu, “Keadaan lingkungan daerah ini tetap harus kita jaga secara adat tradisi nenek moyang terdahulu, untuk anak cucu kita di kemudian hari,” kilahnya lagi.
“Beratus-ratus kilo ikan juaro, tapah, makohe, terubuk, dan lainnya bisa didapat dari anak sungai, mata pencaharian tiap kepala keluarga selain peramban madu kelulut bakau,” kata Penghulu Kampung itu lagi. Ia menggambarkan kehidupan warga kampung pedalaman yang terpelihara subur. Ladang sagu cukup dijadikan bahan makanan ruji3; seperti sempolet, mie sagu, atau ambuyat oleh penduduk setempat secara bertemu gelang; mengepul semusim, dapat disimpan hingga bertemu masa panen berikutnya di kilang-gudang sagu.
“Masyarakat kita juga ada yang gemar menjerat pelanduk di sepanjang pipa minyak mentah Chevron4, memburu tapir atau lainnya di samping menual gubal gaharu dan memelihara keramba perkongsian,” sambungnya kemudian, “dan …, untuk mempertahankan tanah suaka dan segala isinya itulah, maka kaum kerabat berkumpul di rumah ini. Sengaja kita hadirkan ketua-ketua adat, para penghulu, hadir pula bomoh5 dari berbagai kampung, tempat bertanya meminta nasihat. Sekaligus, kita akan menentukan kelayakan calon Bomoh untuk kampung kita ini.” Orang-orang yang hadir di ruangan itu lantas membetulkan letak duduk masing-masing yang beralas anyaman pandan, menyaksikan anak-anak muda Penyengat-Suku Anak Rawa membangun tempat upacara. Sebuah bangunan terbuat dari susunan pelepah asam paya berbentuk lancang tongguk alam6, ditegakkan di halaman rumah itu.
Orang-orang yang hadir dari luar daerah itu pun merasa terkesima, “Balai lesung balak namanya,” jelas Pak Entol, sigap menyikapi mata tamu yang tampak penasaran. “Balai tempat upacara tolak bala,” sambung seseorang yang duduk di sebelahnya pula. Sedang di ruang tengah, duduk seorang bujang kemayu atau pemandu dan penerjemah Bomoh. Di sebelahnya lagi, duduk pula para perempuan yang sedang asik mahsyur menisik nipah berdaun muda. Janur nipah dibentuk menjadi aneka ragam hiasan sebagai pelengkap balai lesung balak. Ada pula perempuan-perempuan paruh baya yang dipandang piawai dalam menganyam nipah menjadi bangunan rumah, disebut balai lesung puan. Dan sebuah bangunan lagi dinamakan balai lesung tinggi−bangunan upacara tradisi pengobatan.
“Saudara-saudara sekalian, inilah perangkat upacara Tolak Bala Suku Anak Rawa,” terang Pak Penghulu kepada kaum kerabat yang sengaja diundang untuk menyaksikan upacara sakral itu. “Malam ni harus jadi upacara Tolak Bala. Kalau tidak, akan bertambah korban saudara-saudara kita. Sebelum semua mata pencarian tapak lapan7 kampung kita ini binasa,” seorang tetua adat dalam ruangan itu menimpali, Pak Entol.
“Betul tu, sebelum kampung kita ni tak ada apa-apa lagi di muka bumi, porak-poranda macam negeri dilanggar todak8. Upacara besar langsung kita laksanakan, sebab kecil tak akan telap9,” gumam orang-orang di ruangan itu seraya mengangguk-anggukkan kepala dan menoleh kanan kiri.
***
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun …, telah berpulang ke rahmatullah seorang anak dari saudara kita, Kenen bin Salim yang tenggelam di Sungai Jantan sekira kemarin sore. Jasadnya telah ditemukan dini hari tadi …,” Matahari belum lagi menumbuh tunas, tiba-tiba suara toa surau pagi itu membuat suasana perkampungan Suku Anak Rawa seketika mendedah.
Pagi itu, sebagian besar masyarakat Kampung Penyengat libur dari rutinitas ekonomi karena ingin melayat ke rumah duka. Suasana begitu hening, ternak-ternak warga pun tidak terdengar berceloteh. Di rumah ahlil bait tentu terasa begitu riuh pilu, suara isak tangis dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Beberapa pekan belakangan memang sering kejadian orang keracunan dan tenggelam di sungai seberang kampung itu. Belum lagi kering tanah kuburan Markus Gulo dan Pardi Kipli yang mati tenggelam beberapa hari lalu, kini terulang lagi kejadian yang sama persis. Sebagian besar korbannya berusia muda, padahal bagi anak-anak seusia itu, tepian sungai ibarat pelataran rumah, laman mereka bermain. Belum diketahui pasti memang, apa yang menyebabkan orang-orang kampung itu tenggelam. Masyarakat hanya dapat menduga-duga bahwa kejadian ini erat kaitannya dengan operasi perusahaan di Kampung Trans, yang berada di hulu sebelah hutan suaka Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Kampung Penyengat itu.
“Tak dapat dielak lagi, ini pasti berkelindan dengan pabrik baru di hulu sungai itu,” ucap Ngah Dadan, tampak menggerutu. Mereka kaum kerabat beriringan jalan sepulang dari melayat. “Boleh jadi macam itu. Sebab, bukan bebudak10 manusia saja yang mati, ikan-ikan pun banyak yang mengapung mati,” ketus seseorang kawannya pula melengkapi. Memang, semenjak perusahaan baru di hulu itu memulai operasinya, banyak hal-hal janggal yang terjadi−yang selama bertahun-tahun belum pernah dialami masyarakat sekampung-kampung. Sedari pembukaan dan alih fungsi lahan, tanah rimba suaka di hulu makin gerus akibat deforestasi habis-habisan dan menyebabkan konflik tenurial, serta matinya segala macam ekosistem wilayah sekitarannya. Belum lagi banjir gelondongan terbawa arus berlumpur yang salah satu imbasnya sangat merugikan masyarakat yang mendiami hilirnya. Tak terkecuali hutan dan sungai mangrove kampung seberang dari Kampung Penyengat.
“Aih, mak jang11! kalau kayak gini terus-terusan, habislah segala sungai, ladang dan hutan punya masyarakat turun-temurun diterabas si jancok-jancok12 itu!” celetuk orang berperawakan Puja Kesuma alias Putra Jawa kelahiran Sumatra yang berada di sebelahnya itu. Meletup-letup menahan emosi, sambil menunjuk-nunjuk ke arah hulu sungai.
“Matilah kita tak ada mata pencarian lagi,” sahut salah seorang yang tadi pula, “Maka binasalah lingkungan keadaan yang dah lama subur-makmur dalam kehidupan kita ni,” katanya lagi. Seseorang yang lainnya hanya memaku bibir, tampaknya sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Eh, Wak! Kalian ingat tak, Bomoh Tua pernah becakap pasal ini sekitar empat bulan yang lalu?” bergetar juga bibirnya.
“Bomoh yang dah mati sebab tenggelam dulu tu?” tanya seorang teman, Ngah Dadan tadi. Seketika Ngah Dadan dan si Puja Kesuma saling berpandangan, diam.
“Halah! Sembarang berbual saja dia tu. Saya tak percaya dengan dia. Dah jelas dia pembengak13. Pasalnya, saya pernah ikut dengan toke-toke perusahaan di hulu tu, tak pernah saya merasakan masalah apa pun seperti yang telah digembar-gemborkan dukun tua tu sama masyarakat kampung kita ni,” ketus Wak Bahlil, memecah keheningan. Orang yang pernah bekerja sebagai kaki tangan para pemodal itu kini menjadi pengangguran setelah dia dan Ocu Syahril dituduh penghianat oleh warga setempat, yang ia yakini semua itu akibat hasutan dari Almarhum Bomoh Tua. Wajahnya memang terlihat masam sedari tadi.
“Hussh …! bicara tu yang elok-elok, tak usah menyanyah14. Macam manapun, dia tu banyak jasa-jasanya dengan kampung kita ini. Bukan macam Wak Bahlil yang saban petang asyik keluar masuk dari perusahaan-perusahaan itu.” Orang yang semula memaku bibir itu tak mau kalah. Sedikit ketus ia berbicara, sambil matanya melirik-lirik Wak Bahlil di sampingnya. Wak Bahlil hanya menyeringai. “Tapi kalau diagak-agak15, kata Bomoh Tua tu dulu ada faedahnya juga. Kampung kita ni boleh jadi ada yang tak mengena alias ada utang yang belum terbayar. Sebelum meninggal, dia menyarankan Pak Entol supaya melakukan ritual tolak bala untuk kampung kita ni,” sambungnya lagi. Bibirnya makin tampak bergetar-getar. Ngah Dadan dan si Puja Kesuma masih asyik melempar pandang.
“Iya tak iya pulak ya?! Selama tak ada Bomoh lagi kampung kita ini, macam-macam cilako16 yang menghampiri; tiba-tiba ikan mati, tiba-tiba orang-orang mati. Semua serba tiba-tiba. Haissh …! Mesti dilakukan ritual tolak bala ni,” kata teman Ngah Dadan yang tadi mengiyakan. Bualan-bualan orang-orang itu pun tak putus-putus hingga mengantarkan mereka ke pintu-pintu rumah masing-masing.
***
Lilin-lilin sarang lebah bertuah bersumbu kain pintal pun dinyalakan. Dengan cahaya lilin itu bujang kemayu memeras tampuk limau purut, ganjil jumlahnya, biasanya lima buah jumlah. Sesudahnya, serpihan gubal gaharu dibakar sedikit demi sedikit ke dalam bara api. Baunya sangat wangi, menyengat bersama embun semalam, tatkala bulan mengambang separuh purnama.
Alat tabuh-tabuhan ketobong−gendang pusaka yang telah berusia abad, dipukul. Bunyinya bergeruduk nyaring, digendang oleh bujang ketabung. Ketika itu, Bomoh Muda, bakal dukun pengganti Bomoh Tua yang telah mati mengenaskan di Kampung Penyengat, mengenakan gonto17 tujuh buah pada pergelangan tangan kirinya. Bomoh pun mulai terlelap, berada di alam bawah sadar. Matanya memejam. Bibirnya tampak pucat memasih. Tubuhnya pula gemetar terguncang-guncang, kelihatan bergerak-gerak di bawah tudung pusaka tua berwarna merah, diberi les kuning yang berambu sutera merah dan kuning pula. Ia dipercayai sebagai alat penghubung alam nyata dengan dunia gaib. Bomoh Muda perlahan bangkit sesuai irama gendang, lalu bergumam lirih yang kata-katanya sukar dipahami. Bahasa yang dipakai dalam sastra lisan masyarakat Suku Anak Rawa, lain dari pada bahasa percakapan sehari-hari berbahasa Melayu Tua.
“Assalamu’alaikum ....
Sembah sujud daghi cucu wo datuk
Yang gelar dibeghi sidi mudo
Sayo daghi tadi wo kaki babilanten
Kami susun jaghi sepuloh tuk
Kami tekuokkan kepalo nan satu
Sembah sujud daghi inang datuk
Manolah wo juo samo datuk
Bukan kan naghi sajo kan naghi ndek ghang Penyengat
Bukan kami sajo beso makasud nak kan kami ulang
Datuk Anak Ghawa
....”18
Setelah melagu mantra yang cukup panjang itu, Bomoh Muda makin menggila. Roh Belian19 telah masuk ke dalam dirinya. Sementara gendang ketobong makin renyah dan rancak dipalu-palu, gemerincing dan beralun sejadi-jadinya. Duk, daduk … dadada … duk, daduk … dadada … duk …! begitu merasuk, mencekam sepanjang tiga malam.
Pada malam pertama; malam meramu bertih padi, beras kunyit, mayang, gaharu, ketitipan, dan limau purut, sudah datang seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun sebagai orang pertama yang meminta obat kepada Bomoh. Masih dalam keadaan terpejam, dukun kampung itu menyentuh dan meniup-niup bagian mata gadis yang terlihat bengkak akibat jerebu bakaran hutan di hulu kampung sebelah, sewaktu ia mencari ranting-ranting kayu bakau untuk api-apian menyalai ikan.
“Saya risau, mata anak kami ini jadi buta, sebab sudah berpekan-pekan dia tak dapat menengok,” kata Bah Zul, ayah gadis itu di antara orang-orang ramai di ruang rumah tengah, “Sudah kami usahakan berobat ke Pekanbaru, tapi harus pula dioperasi,” sambung ibunya bernada sedih. “Manalah ada duitnya,” kata Bah Zul lagi menimpali, terdengar amat pasrah, “Sekarang ini kami berharap betul kepada Bomoh Muda,” jelas orang kampung yang kerap disebut masyarakat suku terasing itu, selamanya percaya pada pengobatan tradisional.
Pada malam kedua−malam pengobatan, tidak sedikit orang-orang kampung sebelah yang datang mengharap bantuan kepada sang Bomoh Muda. Orang-orang kampung di luar Kampung Penyengat di antaranya ada yang mengidap penyakit kuning, asma, busung lapar, dan derita yang lain beragam.
Mak Itoh yang berumah pondok di dataran tandus, lantaran penebangan hutan tanpa kenal ampun, harus mandi air berlumpur gambut. Kulit tubuh lansia itu tampak melepuh, pecah-pecah dan bernanah. Ada juga Wak Seman yang datang meminta obat linu tulang, tubuhnya lesu tidak berdaya akibat terjerembab ke anak sungai yang setengah mati di belakang gubuk ladangnya setelah berhasil lolos dari kejaran harimau rimba Sumatera. Ada lagi, Ocu Syahril yang belakangan datang, memiliki keluhan badan sepanjang hari terasa penat, meskipun masih berumur muda. Selama tinggal bersebelah kampung dengan pabrik yang menguras hutan ditunggui jin dan setan, Ocu Syahril jadi hilang keseimbangan jiwa dan kurang ingatan.
“Ocu ni jadi kambing hitam perambah hutan,” jelas Bomoh Muda, yang kata-katanya telah diterjemahkan oleh bujang kemayu, “padahal semanalah nilainya ladang milik masyarakat adat yang selebar sengkang kera20 macam punya Ocu Syahril itu. Dilunggukkan21 pun semua milik penduduk kampung ni, beratus tahun lamanya belum tentu akan seluas rimba rusak yang kena tebas toke-toke itu selama ini,” sambungnya lagi. Datar, tapi bersungguh-sungguh. Setelah mengatakan kalimat terakhir itu, belum lagi sampai pada ritual malam ketiga−malam tolak bala, Bomoh Muda terhuyung jatuh. Tetabuhan pun perlahan berhenti. Orang-orang memaku, cukup lama saling memandang. Tampak di sana Ngah Dadan dan si Puja Kesuma, juga saling berlempar pandang. Sunyi. Mencekam.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun …, telah berpulang ke rahmatullah seorang kaum kerabat kita, Wak Bahlil alias Bahlil bin Abu Lahab yang tenggelam di Sungai Jantan. Jasadnya baru saja ditemukan ….” Tiba-tiba dari kejauhan terdengar toa surau kampung mendesing, memecah kesunyian. Tolak Bala Anak Rawa pun gagal dilaksanakan. []
Siak Sri Indrapura, 2026
Catatan Kaki:
- Sebelum bernama Sungai Siak. ↩︎
- Suku terasing (Melayu tua) yang mendiami hutan adat di Siak-Bengkalis. ↩︎
- Makanan pokok yang dikonsumsi secara rutin oleh suatu kelompok masyarakat sebagai sumber energi. ↩︎
- Perusahaan tambang minyak terbesar di Riau. ↩︎
- Dukun atau pemimpin dalam ritual pengobatan tradisional. ↩︎
- Perahu yang mengarungi lautan dengan membawa amanah besar menuju keselamatan. ↩︎
- Konsep ekonomi dalam budaya Melayu; merujuk pada delapan sumber mata pencaharian utama untuk memenuhi kebutuhan hidup (berkebun, berladang, nelayan, beternak, bertukang, berniaga, mengolah hasil bumi, dan mengumpulkan hasil hutan). ↩︎
- Negeri yang hancur akibat pemimpin yang salah; merujuk pada cerita rakyat Melayu “Singapura Dilanggar Todak”. ↩︎
- Mempan; mampu (contoh: tidak telap; tidak mampu). ↩︎
- Anak-anak; berusia muda. ↩︎
- Aksen berbahasa, utamanya masyarakat Melayu di Pesisir Sumatra Utara. ↩︎
- Semacam umpatan kekesalan, aksen berbicara-umumnya suku Jawa. ↩︎
- Pembohong; penipu; berbicara mengada-ada. ↩︎
- Berkata yang bukan-bukan; meracau; berbicara tanpa arah. ↩︎
- Dikira-kira; kemungkinan; mungkin. ↩︎
- Celaka. ↩︎
- Gelang yang terbuat dari tenunan daun kelapa atau nipah. Umumnya digunakan masyarakat pedalaman di daerah Riau. ↩︎
- Salah satu sastra lisan/mantra asli Suku Anak Rawa, Masyarakat Penyengat dalam upacara pengobatan/Tolak Bala. ↩︎
- Roh leluhur; kekuatan gaib. ↩︎
- Kawasan tanah atau tapak tanah yang sangat sempit/ tidak luas. ↩︎
- Dikumpulkan, disimpan. ↩︎




