Membaca Fiksi, Mengenal Diri: Kisah Orang Asing dan Keanehan Sastra

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang membuat Anda merasa waspada? Bukan karena mereka terlihat berbahaya, tetapi karena ada sesuatu yang lain dari mereka. Mereka tidak dikenal, dan di dalam diri Anda, muncul kesadaran bahwa mereka mungkin tidak seperti kelihatannya. Itulah esensi dari orang asing yang sesungguhnya. Menurut sosiolog Georg Simmel, orang asing adalah seseorang yang datang dari luar kelompok dan membawa kualitas yang tidak berasal dari kelompok tersebut. Namun, di dunia modern, kita lebih sering mendefinisikan orang asing sebagai orang yang belum kita kenal.

Namun, kesadaran tentang keasingan ini sering kali muncul saat mereka melakukan sesuatu yang tidak terduga. Seorang kasir supermarket yang tiba-tiba menanyakan hal pribadi, atau orang di antrean kantor pos yang ingin mencoba jam tangan Anda. Saat itu, mereka bukan lagi sekadar orang yang tidak kita kenal, melainkan orang yang kita sadari tidak kita kenal. Kita mulai mempertanyakan motif mereka dan curiga bahwa mereka mungkin menyembunyikan sesuatu. Mereka mungkin adalah penipu.

Dalam pengertian paling sederhana, orang asing adalah orang yang kita sadari tidak kita kenal. Dan, menurut artikel ini, pemahaman tentang ‘orang asing’ ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan cara kita membaca dan memahami fiksi.

Mengapa Orang Asing Jadi Simbol Fiksi? Artikel ini menguraikan empat alasan utama mengapa orang asing memiliki hubungan istimewa dengan dunia fiksi.

Pertama, duplikasi dan kepalsuan. Seperti halnya orang asing yang dicurigai memiliki sesuatu yang fiktif atau duplikat, fiksi pun dapat menipu dan tidak sepenuhnya seperti kelihatannya. Saat kita memperingatkan anak-anak tentang bahaya orang asing, kita tidak menyuruh mereka menghindari semua orang yang tidak dikenal. Sebaliknya, kita memperingatkan mereka untuk waspada terhadap orang yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Kita, pada dasarnya, mengajari mereka untuk membedakan antara fakta dan fiksi.

Kedua, daya tarik rasa ingin tahu. Baik orang asing maupun fiksi memancing rasa ingin tahu kita. Penulis Honoré de Balzac menyamakan orang asing dengan “jilid pertama novel” yang membuat kita penasaran akan akhir ceritanya. Orang asing diibaratkan seperti novel yang belum kita baca atau selesaikan.

Ketiga, kemampuan bercerita. Orang asing sering kali diharapkan atau diminta untuk memiliki cerita. Mereka datang dari tempat lain dan belum dikenal, sehingga mereka punya cerita untuk diceritakan. Fiksi juga sering mengaitkan orang asing dengan cerita yang mereka miliki. Contohnya adalah Colonel Chabert karya Balzac, yang ceritanya, meskipun benar, ditolak oleh semua orang. Orang asing tidak hanya menceritakan kisah, tetapi juga dapat menginspirasi karakter lain untuk menciptakan cerita tentang mereka.

Keempat, keberadaan mereka di mana-mana. Orang asing sangat umum dalam fiksi. Hampir tidak ada cerita yang tidak menampilkan sosok pendatang baru, karakter yang tidak ortodoks secara sosial, atau karakter yang tidak sepenuhnya seperti kelihatannya. Narator dalam novel George Eliot, Middlemarch, secara eksplisit menyebutkan bahwa “orang asing… selalu memiliki daya tarik istimewa bagi pikiran perawan”. Mereka adalah bahan baku utama dalam fiksi.

Fiksi sendiri menyerupai orang asing. Kita berinteraksi dengan keduanya dengan cara yang mirip; terkadang kita percaya dan terbuka, terkadang kita skeptis dan defensif. Setiap kali kita terlibat dengan karya fiksi yang tidak kita kenal, kita sebenarnya melakukan kontak mental dengan setidaknya satu orang asing, baik itu penulis, narator, atau karakternya.

Seperti halnya orang asing yang dapat mengubah cara kita memandang diri sendiri, fiksi pun dapat membawa perubahan transformatif pada pembacanya. Filsuf Walter Benjamin mengatakan bahwa novel itu penting karena “nasib orang asing ini … memberi kita kehangatan yang tidak pernah kita dapatkan dari nasib kita sendiri”. Filsuf lain, Georges Poulet, menyebut keterlibatan dengan fiksi sebagai “invasi aneh terhadap diri saya oleh pikiran orang lain”.

Hubungan antara fiksi dan keanehan ini juga terlihat dalam konsep ‘uncanny‘ (tak asing tapi aneh) karya Sigmund Freud. Freud mengatakan bahwa fiksi adalah tempat yang subur untuk menggambarkan hal-hal yang ‘uncanny‘. Namun, ia juga berpendapat bahwa pengalaman membaca fiksi tidak menimbulkan kecemasan seperti pengalaman ‘uncanny‘ di kehidupan nyata. Fiksi memungkinkan kita untuk mengunjungi kembali jiwa kekanak-kanakan kita tanpa harus menghadapi kecemasan.

Julia Kristeva memiliki pandangan berbeda, Baginya, setiap pengalaman ‘uncanny‘ adalah pertemuan dengan orang asing. Ia juga berpendapat bahwa pengalaman ‘uncanny‘ adalah hal sehari-hari, dan bahwa penemuan alam bawah sadar Freudian membuat kita asing bagi diri kita sendir.

Seperti orang asing, fiksi juga memiliki ambiguitas. Fiksi meminta kita untuk percaya sekaligus tidak percaya, untuk terlibat dan menjaga jarak. Ini menciptakan dualisme aneh dalam pengalaman membaca. Fiksi juga merupakan perpaduan dari hal yang familiar dan tidak familiar. Ia mengikuti pola yang dikenali (awal, tengah, akhir), tetapi juga membawa kita ke dalam kontak dengan hal-hal yang tidak dikenal.

Fiksi literer khususnya dikenal karena mendefamiliarisasi pembacanya. Istilah ini, yang diperkenalkan oleh Viktor Shklovsky, merujuk pada kemampuan sastra untuk membuat kita melihat dunia dan bahasa dengan cara yang aneh dan baru. Derek Attridge juga berpendapat bahwa asa keanehan, misteri, atau ketidakpahaman selalu ada dalam setiap pertemuan dengan karya sastra.

Tanggapan kita terhadap fiksi, dan karakter orang asing di dalamnya, sering kali merupakan kombinasi dari daya tarik dan kewaspadaan. Seperti karakter dalam novel yang terpesona oleh orang asing, pembaca pun terpikat oleh cerita dan karakter di dalamnya. Ahli teori film, Carl Plantinga, mencatat bahwa meluasnya fiksi naratif bertumpu pada daya tarik manusia terhadap cerita tentang manusia lain. Semakin sulit karakter fiksi untuk dipahami, semakin menarik mereka bagi pembaca.

Namun, daya tarik ini sering kali dibarengi dengan kecurigaan. Pembaca, seperti halnya karakter dalam novel, sering kali berada dalam posisi ganda; mereka tertarik dan waspada, tergoda dan curiga. Teks fiksi, terutama novel realis, mendorong kita untuk menyerah pada daya tarik cerita sambil tetap mempertahankan sikap waspada. Ini adalah sikap ambivalen, campuran antara daya tarik dan ketidakpercayaan.

Dengan mempelajari cara karakter-karakter fiksi berinteraksi dengan orang asing, kita dapat memahami cara kita sendiri berinteraksi dengan fiksi. Kita bisa menganalisis novel-novel realis Perancis abad ke-19 untuk menunjukkan bagaimana novel-novel tersebut merefleksikan dinamika ini. Novel-novel yang ditulis di era “genius of suspicion” menunjukkan bagaimana karakter-karakter realis, seperti halnya pembaca realis, terus-menerus mencoba mengidentifikasi dan menafsirkan tanda-tanda.

Pada akhirnya, fiksi, seperti halnya orang asing, dapat mengubah kita. Fiksi filosofis abad ke-18, misalnya, menggunakan karakter orang asing untuk membuat pembaca melihat asumsi budaya mereka sendiri dari sudut pandang orang luar. Dengan demikian, fiksi dan orang asing adalah cerminan satu sama lain. Melalui orang asing dalam cerita, kita dapat memahami bagaimana fiksi bekerja pada kita; membuat kita terpikat dan curiga, menantang persepsi kita, dan berpotensi mengubah diri kita. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top