
Dalam kontemplasi pribadi, saya kerap merasa ditarik ke dalam pusaran peristiwa tak terduga. Persis seperti saat dering gawai berbunyi dari seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya pada Kamis (2/7/2026).
Laisa, nama di layar itu, menghubungi saya untuk menyampaikan keterdesakannya perihal pembatalan seorang pemateri. Keputusan tiba-tiba itu berdampak pada agendanya bersama Himpunan Mahasiswa Pendidikan Teknologi Informasi. Awalnya, saya merekomendasikan beberapa narasumber bereputasi lain.
Namun, sebelum saya melanjutkan, ia memotong dan memberi tahu bahwa acaranya dilaksanakan lusa. Kondisi ini semacam situasi “Kuldesak”. Karena ia meminta kesediaan saya sesegera mungkin. Tak ada pilihan, saya pun menerimanya dengan satu syarat, rigorous (ketat dan hati-hati)!
Lusa harinya, saya mengisi webinar bertajuk Navigating the Future of Research: Open Science, AI, and Research Ethic pada Sabtu (4/7/2026). Berdasarkan masukan saya, subtopiknya dikerucutkan menjadi Declaration of Generate AI Use in Scientific Articles. Agenda ini diikuti sekitar 40 mahasiswa dari program studi tersebut. Mereka semacam menanti keajaiban informasi mengenai artikel ilmiah. Barangkali, mereka berharap menemukan cara paling cepat agar artikel ilmiahnya dimuat sebagai syarat kelulusan.
Di dunia akademik, hal ini merupakan hal yang lumrah. Pasalnya, penerbitan artikel kini menjadi bukti wajib untuk melanjutkan ke fase sidang skripsi, tesis, atau disertasi. Semacam burung di dalam sangkar, mereka mau tidak mau harus mengikuti sistem yang menekan tersebut. Tidak heran apabila seminar teknis penyusunan artikel tumbuh subur.
Namun, dari kaca mata saya, riset ilmiah seharusnya bermental rigorous. Sayangnya, penyelenggaraan seminar semacam itu kerap terburu-buru, sehingga meniadakan kedalaman dan mengorbankan kualitas artikel itu sendiri. Inilah autokritik saya terhadap fenomena perburuan jurnal yang saya sampaikan sebagai prolog acara.
Ketika disilakan berbicara, saya tidak lantas berbagi layar paparan materi. Saya justru membuka presentasi dengan narasi mengenai pertemuan saya dengan seorang pelancong asal Selandia Baru bernama Robert beberapa hari sebelumnya. Dalam percakapan kami, terjadi pertukaran ulasan buku. Saya membawa karya Fyodor Dostoevsky berjudul Crime and Punishment, sedangkan Robert tengah menamatkan novel George Orwell bertajuk Keep the Aspidistra Flying. Kedua penulis ini jelas memiliki tema dan orientasi yang bertolak belakang.
Membuka webinar akademis dengan anekdot pertemuan literer ini merupakan upaya strategis. Saya tidak sekadar bermanuver retoris, melainkan mencari celah untuk mendobrak pragmatisme yang terlampau mengakar di kalangan mahasiswa.
Kerap kali, webinar semacam ini hanya dijadikan jalan pintas publikasi, di mana mereka terjebak dalam keinginan instan untuk mendapatkan jawaban. Saya mengajak mereka berani autokritik, sebuah pelajaran penting sebelum membabi buta menyalahkan pihak lain. Mengultuskan kuantitas luaran dan mengabaikan etika proses adalah awal mula keruntuhan kredibilitas peneliti.
Dua Kutub Gugatan: Raskolnikov versus Comstock
Pengantar melalui dua protagonis besar, Rodion Raskolnikov dari Rusia dan Gordon Comstock dari Inggris, berguna sebagai representasi gugatan intelektual atas dua kutub yang saling bertolak belakang. Pertemuan saya dan Robert bisa dimaknai sebagai pertentangan krisis moral-eksistensial dan krisis sistemik-material.
Dari kaca mata Dostoevsky, Crime and Punishment mengetengahkan tema rasionalisasi kejahatan demi sebuah tujuan ‘puncak’. Raskolnikov meyakini bahwa manusia istimewa (Übermensch) memiliki hak untuk melanggar hukum jika demi kebaikan umat manusia atau pembuktian intelektualnya. Tanpa pemikiran kritis, pandangan ini sangatlah mengerikan. Dalam konteks riset terkini, inilah mentalitas pragmatis yang berbahaya.
Keputusan mengambil jalan pintas, termasuk memanipulasi data atau menggunakan AI tanpa deklarasi, merupakan cacat intelektual. Justifikasi bahwa artikel ilmiah hanyalah syarat formal kelulusan semata cenderung alibi. Pandangan tajam Dostoevsky membedah ilusi ini melalui hukuman penderitaan psikologis yang akhirnya menyiksa Raskolnikov.
Sebaliknya, Robert mengetengahkan Keep the Aspidistra Flying. Orwell meangkap lanskap Gordon Comstock, seorang penyair miskin yang berusaha melawan “Dewa Uang” (kapitalisme) dan menolak komersialisasi seni. Namun, pemberontakannya tidak berakhir pada pencerahan spiritual, melainkan berujung pada kelelahan fisik dan mental. Ia pun tunduk dan kembali ke tatanan sistem.
Demi bertahan hidup, ia menyerah pada semiotika kepatuhan kelas menengah yang membosankan, menerima pekerjaan biasa, dan membeli bunga Aspidistra. Di tengah atmosfer akademis kiwari, kisah ini mewakili keputusasaan para peneliti pemula yang awalnya idealis, tetapi akhirnya bertekuk lutut. Mereka tunduk pada sistem penerbitan pragmatis semata-mata demi meraih syarat kelulusan.
Perjumpaan tak sengaja dengan Robert di sebuah kedai kopi Cribo di Tasikmalaya ini bukanlah kebetulan semata. Menautkan dua bacaan yang menghilirkan realitas berbeda ini memiliki nilai hermeneutika yang tajam. Ini adalah pengingat bahwa kita harus waspada terhadap rancangan sistem yang meruda paksa (Orwell), sekaligus berhati-hati terhadap rasionalisasi kepalsuan dari dalam diri kita sendiri (Dostoevsky).
Menjawab Kecemasan Ambiya
Gagasan literatur tersebut memantik diskusi yang riil. Pada sesi tanya-jawab, salah seorang mahasiswa bernama Ambiya mengajukan sebuah kasus. Ia membaca bahwa pada tahun 2024, jurnal Frontiers in Cell and Developmental Biology menerbitkan artikel yang memuat gambar anatomi tikus buatan AI Generatif (Midjourney). Meskipun penulis secara terbuka mendeklarasikan penggunaan AI tersebut pada metodologi, anehnya, artikel itu tetap lolos tinjauan sejawat (peer-review).
Hal ini memunculkan pertanyaan kritis, jika seorang penulis telah mematuhi etika Open Science dengan mendeklarasikan penggunaan AI, sejauh mana tanggung jawab peer-review dan editor jurnal dalam memvalidasi kebenaran luaran tersebut?
Selanjutnya, Ambiya berkaca pada program studinya. Jika kelak mereka merancang aplikasi berbasis AI untuk masyarakat, tetapi terbukti cacat atau memiliki bias algoritma, apakah kewajiban “deklarasi AI” ini berisiko menjadi tameng (loophole) bagi peneliti untuk lepas tangan dari kesalahan fatal atau halusinasi sistem yang mereka cantumkan?
Menjawab kegelisahan itu, saya teringat kasus oknum peneliti yang mencoreng nama Indonesia di kancah riset internasional melalui fabrikasi data menggunakan AI, manipulasi identitas, dan afiliasi palsu demi hadiah dan kesempatan ke luar negeri. Namun, deklarasi penggunaan AI dalam penelitian yang sesungguhnya adalah sikap jantan seorang akademisi.
Berdasarkan pedoman jurnal-jurnal bereputasi, penggunaan AI sebagai alat bantu memang diperbolehkan, asalkan diklaim secara transparan. Sejauh mana tinjauan sejawat memvalidasi temuan, hal itu bergantung pada standar ketat (klasisfikasi) jurnal tersebut, di mana keputusan akhir tetap di tangan editor.
Terkait kekhawatiran deklarasi AI dijadikan tameng, risiko itu memang ada. Namun, peneliti yang bertanggung jawab tidak akan berhenti pada ambisi agar artikelnya dimuat. Mereka harus berani menolak ilusi Raskolnikov, bahwa peneliti bukanlah Übermensch yang bebas melanggar etika demi pembuktian intelektual. Sebaliknya, seperti pelajaran dari Comstock, peneliti sejati pantang tunduk pada tekanan ekonomi pragmatis. Ini artinya, mereka lebih mementingkan riset berkontribusi bagi masyarakat sekalipun harus membayar mahal dengan proses yang letih nan getih.
“Pain and suffering are always inevitable for a large intelligence and a deep heart ….” (Dostoevsky, 1866, hlm. 264). Merujuk pada kalimat Dostoevsky tersebut, peneliti harus menolak jalan instan. Riset yang autentik pasti melewati proses panjang penderitaan intelektual. Penggunaan AI Generatif secara ugal-ugalan merupakan usaha menolak rasa nyeri dalam membaca, meninjau, dan mengolah data. Gelar istimewa akademik tidak bia dicapai secara mudah. Sebaliknya, keahlian harus dirancang bangun melalui kejelian, ketekunan, dan kesabaran yang melelahkan.
Di sisi lain, mahasiswa juga harus melihat peringatan Orwell (1936, hlm. 45), “Money is what God used to be. Good and evil have no meaning any longer except failure and success”. Inilah kritik tajam terhadap sistem instan dalam dunia akademik, di mana publikasi terakreditasi Scopus/Sinta telah menjadi “Dewa uang” yang baru. Jika orientasinya semata-mata berhasil atau gagal terbit, mahasiswa tidak akan lagi melihat penelitian dalam dimensi etis (benar atau salah secara keilmuan). Dan di sanalah, esensi ilmu pengetahuan benar-benar menemui sakratulmautnya. []




