| Judul | Gando Hilang |
| Penulis | Chairul Harun |
| Penerbit | Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sumatera Barat, n.d |
| Tebal | 47 halaman |
Sebuah cerita rakyat yang ditulis oleh Chairul Harun berjudul Gando Hilang menarik untuk dibaca. Cerita ini, seperti ditulis di halaman awal, berasal dari cerita rakyat di daerah Kampung Dalam, Pariaman. Isi cerita ini mengenai keluarga raja Tuanku Raja Tua dan istrinya bernama Puti Lindung Bulan. Kerajaan yang dijadikan sebagai latar cerita ini adalah Kuala Tanah Dewa. Seperti cerita rakyat lainnya, pola kisah dan penceritaan ini memiliki kemiripan. Sebagaimana disampaikan oleh Vladimir Propp dalam analisisnya terhadap cerita rakyat di berbagai negara, pola cerita rakyat umumnya dimulai dengan kepergian pewaris kerajaan karena berbagai alasan, mendapat kesaktian dan ilmu dalam perantauan, dan kembali ke kerajaan sebagai pahlawan.
Tuanku Raja Tua hingga umurnya sudah lanjut tidak memiliki keturunan yang akan mewarisi tahtanya. Raja berkeinginan untuk mengangkat seorang anak agar dapat mengisi posisinya kelak. Setelah berkali-kali berdiskusi dengan istrinya, ia kemudian mendapat izin untuk mewujudkan keinginan itu. Akan tetapi, mereka tidak mendapatkan anak yang sesuai dengan keinginannnya dari lingkungan terdekat di wilayah kerajaan.
Mereka akhirnya memutuskan untuk mengambil anak angkat dari daerah lain, yaitu anak dari Lebai Panjang Janggut bernama Buyung Angek. Anak ini dinilai oleh orang tuanya masih memerlukan pendidikan dan pengajaran yang banyak, baik dari sisi etika, moral, olah tubuh, dan lainnya. Sang Raja berjanji untuk melatih anak tersebut nantinya.
Melalui sejumlah pelajaran yang diberikan oleh raja, Buyung Angek dapat melatih diri menjadi pemuda yang kuat. Namun dari sisi etika dan moral, ia memiliki tabiat yang buruk. Sifat manja dan menghabiskan harta untuk berfoya-foya melekat pada dirinya. Dan janji yang diberikan oleh raja kepadanya sebagai pengganti raja menyebabkan ia terus mendapatkan fasilitas dan gaya hidup yang mewah.
Suatu hari Puti Lindung Bulan bermimpi yang ditafsirkan oleh Tuanku Raja Tua sebagai pertanda bahwa mereka akan mendapatkan keturunan. Takwil itu terbukti. Sang permaisuri hamil dan akhirnya melahirkan seorang putra. Namun kelahiran anak mereka juga terbilang aneh. Anak tersebut lahir namun tidak tertampung oleh tangan orang yang membantu kelahiran. Anak itu jatuh di atas tempat tidur. Menembus tempat tidur, dan lalu juga menembus lantai, hingga masuk ke dalam tanah. Ketika digali untuk menyelematkannya, anak tersebut lebih jauh terbenam. Begitu seterusnya hingga digali berhari-hari oleh para laki-laki di kerajaan itu.
Setelah dapat diangkat dan diselamatkan, anak itu diberi nama Gando Hilang. Ia memiliki kekuatan lebih. Namun kelahiran anak ini menjadi api kecemburuan Buyung Angek. Ia menilai bahwa keluarga kerajaan tidak memperhatikannya lagi. Lebih-lebih Gando Hilang berkemungkinan akan menjadi raja nantinya. Karena itu, ia menyusun siasat dan akhirnya membunuh sang raja, permaisuri dan juga Gando Hilang. Ia mengajak sang raja untuk pergi ke perbatasan wilayah dan membunuhnya. Ketika kembali ke istana, ia kemudian membunuh ibu angkatnya. Demikian juga dengan Gando. Namun segala senjata tidak mempan melukai tubuh Gando, yang akhirnya dapat melarikan diri. Nantinya, ayah dan ibu gando ini dapat ditemukan tubuhnya dan dikembalikan nyawa mereka dengan bantuan nenek Raja Jin.
Gando kemudian pergi menyelamatkan diri. Ketika telah letih, ia pingsan di dekat sebuah sungai. Akhirnya ia diselamatkan oleh Mande Rubiah, yang kemudian membawa dan merawatnya. Ia juga mendapatkan bantuan ilmu dan didikan lainnya. Untuk membalas kebaikan Mande Rubiah, ia ingin membalas kematian anaknya bernama Sutan Magek Alam yang dibunuh oleh seorang penjudi dan penyabung ayam, sekaligus raja bernama Si Gumanta. Berbekal ayam yang dimiliki oleh Mande Rubiah, dan pertolongan dari Nenek Raja Jin, akhirnya ia dapat memenangkan adu ayam dan kemudian setelah melalui pertarungan, Si Gumanta terbunuh. Ia bahkan dapat memperistri kekasih Gumanta bernama Puti Maharajat yang dijadikan taruhan.
Gando bahkan menjadi raja di Kuala Medan Aceh. Ia lalu teringat kembali dengan orang tuanya. Ia meminta izin kepada semua orang di Kuala Medan Aceh, dan kembali ke kerajaan orang tuanya. Ia menemukan Buyung Angek, yang merasa terhina karena didatangi oleh Gando yang berpura-pura meminta obat. Pertarungan terjadi dalam waktu lama, dan akhirnya Buyung Angek dapat dikalahkan. Ia mencari orang tuanya yang masih berada di hutan tempat ayahnya terbunuh dan ibunya yang tersekap di dalam jurang. Mereka dapat diselamatkan dan hidup kembali, memimpin kerajaan. Gando kembali lagi ke Kerajaan Kuala Medan Aceh untuk hidup bersama dengan istrinya.Cerita Gando Hilang ini menyajikan sejumlah informasi penting yang dapat dianalisis lebih jauh. Sebagai sebuah cerita rakyat, cerita ini dapat dijadikan sebagai sumber untuk merangkai cerita asal-usul dan menghubungkannya dengan cerita-cerita lainnya yang berkembang. Sejauh ini cerita Gando Hilang ini memang jarang terdengar. Dan buku ini patut untuk dibaca dan dikaji secara khusus.





