
R itu tidak singkatan apa-apa. Amaknya bilang biarkan saja menggantung di sana. Nanti juga ada yang mengisinya.
Sampai sekarang tidak ada.
Namanya Lestari R. Orang memanggilnya Tari. Waktu pertama pindah ke kota ia membeli kasur lipat, satu panci, dan sebotol kecap pedas yang habis dalam sepuluh hari. Tiga minggu pertama ia makan nasi dengan kecap sambil menonton video tari kontemporer di YouTube, memperhatikan cara tangan-tangan itu bergerak, lalu mencoba menirunya, lalu sadar bahwa gerakan yang di layar terlihat seperti kebebasan, di kamar kos ukuran tiga kali tiga terlihat seperti orang keseleo. Namun ada satu malam ia menari sendiri selama hampir dua jam di kamar yang sama, tanpa melihat layar, tanpa musik, dan ketika akhirnya berhenti ia baru sadar belum makan malam. Satu-satunya malam di kota itu yang ia ingat dengan cara berbeda.
Di kampung ada yang disebut perempuan beradat dan ada yang tidak. Yang beradat tubuhnya tahu posisinya tanpa harus ditunjuk. Yang tidak beradat sering dibahas setelah pengajian, bersamaan soal renovasi surau dan kenaikan harga cabai. Tari ingin masuk kategori pertama. Namun tubuhnya terlalu banyak bergerak untuk ukuran kampung, terlalu sedikit untuk ukuran dunia seni.
Menyesuaikan.
Amaknya bilang, “Di mana bumi dipijak, di situ mulutmu harimaumu.”
Versi asli pepatah itu lebih pendek. Amaknya suka menambah, karena pepatah singkat terlalu mudah disalahpahami oleh orang yang punya kepentingan.
Tari hafal pesan itu di antara tulang-tulangnya.
Tari pertama kali duduk di diskusi semacam itu di sebuah ruang makan kolektif yang kursinya berbeda-beda karena masing-masing membawa dari rumah sendiri. Seseorang berbicara cukup lama tentang “tubuh yang politis” sambil makan kerupuk, dan Tari duduk di ujung meja, mencatat kata-kata yang tidak ia mengerti karena takut terlihat tidak mengerti. Catatan itu kemudian ia baca ulang malam harinya di kamar kos, sambil mencoba mencari arti “performativitas” di KBBI dan tidak menemukannya. Ia tutup buku. Ia buka lagi. Di pinggir halaman ia tulis dengan huruf kecil, “tanya siapa?”
Tidak ada yang ia tanya.
Kata “tubuh” di sana artinya konsep. “Kebebasan” adalah nama festival dua tahunan. “Perlawanan” adalah tema residensi yang lolos seleksi. Tari belajar bahasa ini lebih cepat dari gerakan tari piring di sekolah dulu. Bahasa ini tidak butuh bakat, hanya butuh kesabaran dan kemampuan mengangguk.
Suatu malam, jauh sebelum semua itu, ia mencoba mengangkat tangannya ke atas di depan cermin kamar mandi yang pojok kanan bawahnya sudah berbintik jamur. Bebas, seperti orang yang baru saja menang sesuatu meski tidak tahu apa. Tangannya naik. Lalu, pelan-pelan, tanpa diperintah, menurun sendiri ke posisi yang lebih sopan. Tari menatap tangannya melakukan itu dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah terlalu lama diasah sampai tahu sendiri cara menyesuaikan.
Ia memandang wajahnya di cermin dan bertanya: “Sudah kontemporer, belum?”
Amaknya tidak perlu dikabari soal ini. Amaknya pasti akan bilang bahwa tubuh yang baik adalah pisau yang tahu sendiri ke mana ia harus rebah.
“Apa kau sadar tubuhmu politis?” tanya pelatih tarinya, suatu sore di studio yang sewa bulanannya dibayar dari anggaran dinas kebudayaan setempat.
“Ya,” kata Tari.
Ia tidak yakin, tapi jawaban lain akan membuat sore itu tiga jam lebih panjang dari yang ia punya. Perutnya juga sudah berbunyi sejak tadi, dan ia berharap musik dari speaker portabel pelatihnya cukup keras untuk menutup suara itu.
Pelatih itu mencatat sesuatu di buku yang sudah penuh tulisan tapi tidak pernah terbit jadi buku apa pun. Kemungkinan besar ia menulis kata “kritis” atau “sadar tubuh” atau “perlu riset”. Ketiga kata itu sering muncul di dunia ini seperti garam di masakan Padang, ada di mana-mana, tidak ada yang tahu kapan mulai ditambah, tapi semua orang merasa rugi kalau tidak ada.
Dramaturg muda yang memakai kacamata tanpa lensa karena katanya itu lebih apa adanya, mengatakan gerakannya belum terkonseptualisasi, bahwa marahnya perlu lebih akademis. Tari memikirkan kalimat itu selama tiga hari, lalu memutuskan itu artinya ia harus beli buku yang direkomendasikan si dramaturg. Bukunya seharga dua ratus tiga puluh ribu. Ia beli. Ia baca sampai halaman dua puluh satu. Sisanya dijadikan alas monitor laptopnya yang goyang.
Koreografer senior mengatakan tubuhnya harus terbuka. Mentor yang selalu terlambat meminta agar ia tidak membuat hadirin tidak nyaman. Kurator, sambil menandatangani sesuatu yang haknya ada pada Tari, bilang risikonya tentu di tubuhnya sendiri.
Setiap kalimat itu datang dengan nada lembut seperti surat penolakan kerja. Dan seperti surat penolakan kerja, Tari menyimpan semuanya, tidak membuang, tidak membalas.
Suatu malam setelah latihan ia mencuci kostumnya sendiri di wastafel kamar mandi kos. Air yang keluar tidak panas, tidak dingin, sesuai suhu pipa yang sudah lama tidak diperhatikan siapa pun. Tangannya mengucek bagian ketiak yang susah hilang baunya. Ia berpikir apakah ada penari lain yang juga mencuci kostum di wastafel atau apakah memang begini caranya, atau apakah ada cara lain yang belum ia tahu.
Ponselnya bergetar di pinggir wastafel. Pesan suara dari amaknya.
“Lestari, ini Amak. Tadi Amak beli pisang goreng di pasar, ingat kamu suka yang tipis-tipis itu. Amak simpan di kulkas. Kalau pulang bilang ya, Amak hangatkan.”
Tari mendengarkannya dua kali. Tangannya masih di dalam air.
Pertunjukan itu diberi judul “Penyesuaian”. Judul ini lahir dari diskusi panjang yang melibatkan kopi, tiga macam rokok, dan satu orang yang menangis karena alasan berbeda dari yang dipikirkan semua orang di ruangan itu. Mereka sepakat judul ini elastis. Elastis artinya bisa dipakai untuk melamar dana, menghindari sensor, dan menjelaskan ke wartawan yang tidak punya cukup waktu untuk mengerti. Sinopsisnya puitik dan rumit dengan cara yang membuat orang merasa bodoh kalau tidak mengerti.
Tari tidak menyukainya. Namun, tubuhnya sudah menandatangani duluan.
Panggung disusun menyerupai ruang rapat yang telah kehilangan semua rapatnya. Meja panjang. Kursi plastik. Papan tulis. Kain warna hitam-merah-kuning yang oleh panitia dan proposal artistik disebut aman.
Sore sebelum pembukaan, ia mendapat pesan dari amaknya. “Kapan pulang, Nak. Amak sudah masak rendang.” Tari duduk lama di depan layar itu. Ia ketik “Minggu depan”, lalu hapus. Ketik “Habis pertunjukan ini”, lalu hapus. Akhirnya ia kirim tanda hati dan menutup aplikasinya.
Malam pembukaan. Penonton datang dengan semua kata yang diperlukan sebelum pertunjukan mulai. Mereka tahu kapan harus hening. Kapan bertepuk tangan pelan. Kapan berbisik. Sebagian besar dari mereka seniman. Penonton yang sama dari seratus satu pertunjukan sebelumnya. Mereka datang seperti kucing yang datang ke tempat yang sama setiap hari, sudah hafal jalan sebelum sempat lapar. Pentas berlangsung di taman budaya provinsi yang mangkrak belasan tahun. Bangunan yang dari luar lebih mirip hotel gagal daripada taman budaya.
Tari menari.
Geraknya presisi. Aman. Cukup untuk masuk katalog, cukup untuk diunggah ke media sosial lembaga dengan caption yang dimulai dengan kata “sajikan”. Lutut kirinya sudah sakit sejak tiga minggu lalu karena satu latihan yang terlalu repetitif, tapi ia belajar meletakkan sedikit lebih banyak berat ke kaki kanan sehingga tidak terlihat dari depan.
Di tengah pentas, ia berhenti.
Ia berjalan ke meja. Membuka map. Membaca.
“Catatan residensi. Tubuh terlalu personal.”
“Surel kurator. Mohon tidak memancing ketidaknyamanan.”
“Pesan suara koreografer senior, pukul dua dini hari. Tubuhmu harus lebih dibuka.”
“Kontrak. Segala risiko artistik dan non-artistik ditanggung sepenuhnya oleh seniman.”
Beberapa penonton tersenyum. Seorang berbisik, “Satire.” Seorang lain berbisik, “Kontemplatif.” Yang ketiga tidak mengatakan apa-apa tapi menuliskan sesuatu di notes ponselnya untuk esai yang belum dimulai dan mungkin tidak akan pernah selesai.
Tari membalik papan properti. Di baliknya, daftar. Meja, kursi, kain, lampu, dan tubuh penari. Statusnya aktif.
Penonton tertawa pelan. Tertawa yang tahu batas.
Tari menari lagi.
Kali ini tubuhnya bergerak seperti seseorang yang terus-menerus menyesuaikan diri dengan ruang yang selalu satu ukuran lebih sempit dari yang dijanjikan. Benar menurut teori, salah menurut tulang. Diamnya terlalu lama untuk disebut estetis, terlalu singkat untuk disebut perlawanan.
Di baris depan, pejabat kebudayaan berbisik ke telinganya sendiri, “Ini rawan.”
Dramaturg mencatat kata itu sebelum maknanya sempat kabur.
Menjelang akhir, Tari berdiri menghadap penonton.
“Setelah ini,” katanya, dengan suara orang yang membacakan jadwal keberangkatan bus, “ke mana tubuh ini harus dikembalikan?”
Tidak ada yang merasa sedang ditanya.
Lampu padam. Tepuk tangan. Terukur, sah, dapat dilaporkan kepada atasan.
Tari turun dari panggung. Seseorang menyodorkan segelas air dan ia minum sampai habis, tegukan pertama terlalu cepat sampai tersedak sedikit. Seseorang lain mengatakan “Bagus” dan ia bilang terima kasih dengan nada yang sudah ia latih berulang kali sampai tidak lagi terdengar seperti ia baru saja berlatih. Ia membuka ponselnya. Ada pesan dari amaknya. “Rendangnya sudah hampir habis. Besok Amak masak lagi.” Ia masukkan ponselnya ke dalam saku.
Mereka menemukannya di ruang properti.
Tubuhnya tergantung pada kain aman itu. Simpulnya rapi seperti berkas yang telah melewati semua meja persetujuan dan distempel di semua tempat yang membutuhkan stempel.
Di lantai tergeletak formulir inventaris. Semua kolom sudah dicentang.
Pada baris terakhir tertulis, tubuh penari. Keterangan tambahan menyatakan bahwa ia selesai digunakan.
Berita beredar. Kata duka dipertukarkan bersama nomor rekening keperluan santunan. Seorang seniman senior menulis kenangan panjang yang mendapat banyak tanda hati. Dramaturg mengadakan diskusi bertajuk “Etika Representasi Tubuh dalam Seni Pertunjukan”. Kurator menyebut pentas ini penting bagi ekosistem tari kota. Video pertunjukan diputar ulang, dipotong rapi, tanpa ruang properti.
Taman budaya itu direnovasi dipoles seadanya. Ruang properti dijadikan museum arsip. Kain hitam-merah-kuning digantung kembali di dinding yang sama.
Suatu sore, seorang petugas masuk untuk inventarisasi rutin.
Di dinding ada bayangan.
Bayangan itu bergerak pelan, seperti tubuh yang sedang mencari posisi yang tidak membuat ruangan keberatan. Mencoba sudut kiri. Mencoba sudut kanan. Kembali ke tengah, agak ke kiri sedikit, lalu agak ke kanan, lalu berhenti di tempat yang kira-kira tidak terlalu terlihat tapi tidak terlalu tersembunyi. Bayangan seseorang yang bahkan dalam keadaan tidak ada pun masih terus menyesuaikan.
Petugas itu mematikan lampu. Bayangan hilang. Lampu dinyalakan kembali.
Di papan properti ada baris baru, ditulis dengan spidol yang sama, oleh tangan yang tidak ada di ruangan itu.
Tubuh penonton. Kolom status kosong.
Petugas hendak mengisinya. Tangannya berhenti di tengah jalan.
Ia keluar. Mengunci pintu.
Sejak itu, setiap pertunjukan terasa satu ukuran lebih sempit. Orang-orang bertepuk tangan dengan wajah yang sudah bersiap pulang. Penonton pulang dengan perasaan telah menandatangani sesuatu, meski tidak pernah menemukan formulirnya.
Kolom itu, kata beberapa orang yang tidak mau disebut namanya, sudah diisi.
Hanya saja tidak ada yang berani membacanya keras-keras.
Di sudut bawah papan itu, seseorang, entah kapan, entah siapa, telah mengisi huruf R. []
Karanganyar –Kasang, Januari –Mei 2026




