Menyambangi Jembatan Setan

Pemandangan fantastis Jembatan Setan (bawah) di atas Ngarai Schollenen. (Foto: Anton Kurnia)

Baru lewat tengah hari saat kami sampai di Jembatan Setan. Tempat yang dalam bahasa Jerman dikenal sebagai Teufelsbrücke itu termasuk wilayah administratif Andermatt di Uri, salah satu dari 26 kanton (kotapraja) yang berkonfederasi membentuk Swiss. Jembatan Setan tersembunyi di bawah jembatan jalan modern sehingga tidak terlihat langsung dari jalan raya.

Krisna Diantha yang memegang kemudi meminggirkan dan memarkir mobilnya di tepi jalan raya. Selama saya berkunjung ke Swiss, Krisna, wartawan yang juga pendaki gunung, menjadi tuan rumah saya di apartemennya di Kriens, pinggiran Luzern. Satu lagi rekan perjalanan saya adalah Sigit Susanto, penulis dan penerjemah sastra asal Kendal yang menetap di Swiss. Dia datang dari Zug yang berjarak sekitar setengah jam dari Kriens. Sigit dan Krisna menjamu saya dengan penuh persahabatan selama saya berada di Swiss.

Lukisan Setan Merah di bukit batu di Andermatt, pegunungan Alpen, Swiss. (Foto: Anton Kurnia)

Menjelang musim panas pada akhir Mei 2024 itu kami bertiga baru saja turun dari Oberalpass yang dingin dan bersalju abadi di puncak Alpen dengan ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Jarak dari Kriens ke Oberalpass sekitar 81 kilometer. Sementara, jarak antara Oberalpass dan Teufelsbrücke sekitar 11 kilometer yang kami tempuh kira-kira dalam 25 menit.

Kami bertiga turun dari mobil dan menghirup udara segar di ketinggian sekitar 1.400 dari permukaan laut seraya menebarkan pandangan ke sekitar. Langit terang dan hawa terasa hangat. Setelah menyeberang dari tempat parkir dan berjalan tiga puluhan langkah, di hadapan kami terpampang Monumen Suvorov yang berdiri di tepi Ngarai Schöllenen yang curam. Di atasnya terdapat Diavolo Klettersteig atau Via Ferrata del Diavolo yang jalan masuknya terdapat di dekat monumen.

Klettersteig dalam bahasa Jerman adalah sebutan untuk jalur panjat tebing dengan sangkutan besi dan kabel baja yang banyak terdapat di sekujur pegunungan Alpen. Dahulu jalur kabel baja sepanjang sekitar 700 meter pada 265 pasak dan kait besi itu dipakai oleh militer untuk melintasi bukit batu, tetapi kini “jalur besi” itu digunakan oleh para turis. Diavolo Klettersteig setinggi 460 meter yang bisa ditempuh sekitar 2,5 jam berakhir di Teufelstalboden yang berketinggian 1.850 meter di atas permukaan laut. Dari sana ada jalur menurun menuju sisi lain Andermatt.

“Aku sudah pernah naik ke puncak itu,” ujar Krisna seraya menunjuk jalur besi di atas kami.

Saya membayangkan betapa gamang berada di ketinggian puncak bukit batu yang tampak dingin menjulang.

Monumen Suvorov dan jalur panjat tebing Diavolo Klettersteig di atasnya. (Foto: Anton Kurnia)

Kami beranjak ke Monumen Suvorov di bawah jalur panjat tebing. Monumen ini dipahat pada batu gunung untuk memperingati perjuangan pasukan Marsekal Aleksandr Suvorov yang memimpin 21.000 tentara Rusia dalam pertarungan sengit yang dikenal sebagai “Pertempuran di Saint-Gotthard” melawan pasukan agresor Napoleon Bonaparte dari Prancis yang dipimpin Kolonel Dumas pada 1799. Dalam pertempuran itu, ratusan serdadu gugur sebagai martir dan berkubur di jurang dalam yang disebut Schöllenenschlucht atau Ngarai Schöllenen.

Ngarai Schöllenen yang sempit terletak di Swiss bagian tengah dan terbentuk dalam proses geologis selama jutaan tahun oleh arus Sungai Reuss di antara Göschenen di utara dan Andermatt di selatan. Ngarai ini merupakan bagian penting dari rute ke St. Gotthard Pass, jalan lintas pegunungan menuju selatan ke arah Italia, yang dikelilingi oleh dinding batu granit terjal, jalan raya, serta beberapa jembatan dan terowongan yang spektakuler.

Di atas ngarai itulah, sekitar 75 kaki dari permukaan sungai, terdapat jembatan yang mula-mula dibangun dari kayu pada 1230 dan kini dikenal sebagai jembatan batu Teufelsbrücke atau Jembatan Setan. Jembatan ikonik itu lebih dari sekadar keajaiban arsitektur. Dibangun di atas bukit batu granit, jembatan ini menyatu dengan kawasan sekitarnya yang liar dan menghubungkan kanton Uri (yang warganya berbahasa Jerman) dan kanton Ticino (yang mayoritas penduduknya berbahasa Italia).

Nama Teufelsbrücke yang bernuansa mistis disematkan mengikuti sebuah legenda yang beredar turun-temurun dan tercatat setidaknya sejak 1578. Menurut legenda, Iblis turut membantu pembangunannya. Dari mitos inilah, jembatan itu mendapatkan namanya yang misterius.

Begini ceritanya. Menurut Johann Scheuchzer (1672-1733), ilmuwan alam Swiss yang menulis empat jilid Physica sacra, dalam salah satu tulisannya bertitimangsa tahun 1716, dia mendapatkan penuturan dari penduduk setempat bahwa pada abad ke-13 para penduduk desa meminta bantuan Iblis untuk menuntaskan tugas nyaris mustahil, tetapi amat penting, untuk membangun jembatan di atas jurang. Iblis bersedia membantu, tetapi dia meminta mereka berjanji untuk menyerahkan kepadanya jiwa siapa pun yang pertama kali melewati jembatan.

Pintu jalan keluar terowongan menembus bukit bat. (Foto: Anton Kurnia)

Singkat cerita, sebuah jembatan telah berdiri melintasi jurang. Untuk mengakali perjanjian dengan Iblis yang ingin memangsa jiwa manusia pertama yang melintasi jembatan, dibuat siasat cerdik. Penduduk mengirim seekor anjing untuk melintasi jembatan itu. Iblis merasa tertipu. Dengan marah Iblis memanggul sebongkah batu raksasa untuk menghancurkan jembatan itu. Namun, seorang pendeta mencegahnya dengan membacakan doa mustajab sehingga Iblis lari terbirit-birit. Batu raksasa yang dia bawa pun terjatuh. Kini batu setinggi 12 meter dengan berat sekira 2.200 ton yang disebut Teufelsstein alias Batu Setan itu terdapat di dekat Göschenen setelah dipindahkan pada 1977 karena menghalangi pembuatan jalan raya.

Versi lain yang ditulis Meinrad Lienert dalam Schweizer Sagen und Heldengeschihten (1915) menyebutkan bahwa yang dikirim oleh penduduk sebagai pelintas jembatan bukanlah anjing, melainkan seekor kambing. Itu sebabnya kini di dinding tebing dekat terowongan yang menembus bukit terdapat lukisan yang menggambarkan seekor kambing dan sosok setan bertanduk berwarna merah yang dibuat seniman dan penyair Heinrich Danioth pada 1950. Sementara, menurut versi itu pula, yang mencegah Iblis melemparkan batu bukanlah pendeta, melainkan seorang perempuan tua.

Pada 1595 jembatan kayu itu digantikan dengan jembatan batu yang kini dikenal sebagai Jembatan Setan. Kini, di tempat itu terdapat jalur penyeberangan lain, termasuk sebuah jalan terowongan menembus gunung batu sepanjang 60 meter yang dibangun oleh Pietro Morettini pada awal abad ke-18 dan kini dikenal sebagai Urnerloch atau “Lorong Uri”. Ini merupakan terowongan pertama yang dibangun menembus pegunungan Alpen.

Setelah puas melihat-lihat pemandangan menakjubkan dan mengambil foto di sekitar Monumen Suvorov, saya dan dua kawan seperjalanan menyeberang jalan raya ke arah tebing yang menuju Jembatan Setan. Siang itu tidak banyak orang berkunjung. Termasuk kami, tidak sampai dua puluh orang.

Kami berjalan menyusuri trek hiking menuju jembatan seraya menikmati panorama alam yang memukau. Kami lalu masuk ke salah satu terowongan kecil yang menembus bukit batu.

Terowongan itu gelap dan sepintas tampak menyeramkan. Tingginya kurang dari dua meter dengan lebar sekitar satu meter, hanya cukup untuk dilewati satu orang. Apakah di dalamnya ada setan yang sedang mengintai diam-diam untuk menuntaskan dendam ratusan tahun kepada keturunan para manusia yang telah menipunya?

Saya merayap perlahan seraya menyalakan lampu senter dari ponsel untuk menerangi jalan. Tercium aroma lembap dan pengap. Kami berjalan sekitar seratus meter sebelum menemukan ujung lain terowongan. Dari ujung situ kami bisa menyaksikan aliran deras Sungai Reuss di bawah jurang.

Di beberapa titik di atas bukit batu, tampak semacam jendela atau lubang tersembunyi yang tersamar. Di sekitar bukit-bukit batu itu memang terdapat bungker perlindungan untuk berjaga-jaga jika terjadi serangan musuh yang dibangun pada Perang Dunia Kedua.

Andermatt adalah markas Tentara Federal Swiss selama masa itu. Lokasi strategis kota ini di pegunungan menjadikannya tempat perlindungan utama jika terjadi invasi. Jauh di dalam pegunungan Andermatt yang menjulang kokoh tersembunyi bungker perlindungan rahasia. Sampai sekarang masih terdapat ratusan bungker yang tersebar di sekujur pegunungan Alpen.

Di luar terowongan, bentang alam di kaki Jembatan Setan yang saya saksikan sungguh menakjubkan. Bayangkanlah sebuah panorama yang membawa kita pada jejak geologis jutaan tahun dari bukit-bukit batu dan tebing-tebing menjulang setinggi ratusan meter di dua sisi jalan raya, ngarai begitu dalam yang di dasarnya bergemuruh sungai berarus deras, jembatan-jembatan batu melintang di atas jurang, serta puncak gunung bersalju yang tampak menunggu di kejauhan. Di hadapan fenomena alam begitu agung, manusia dengan segala kesombongannya menjadi terasa begitu kecil.

Sungai Reuss yang mengalir deras di dasar Ngarai Schollenen. (Foto: Anton Kurnia)

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati keindahan alam, kami berjalan memutar menuju jalur keluar sejauh sekitar satu kilo meter melintasi sungai dengan melewati jalan kecil berpagar besi. Di atas jalur itu terdapat jaring-jaring baja untuk menahan longsoran batu dari atas bukit. Kami menuju ke tempat sedan Krisna terparkir di tepi jalan raya.

Tak jauh dari Jembatan Setan, terdapat jalur rel trem reversibel terpanjang di dunia yang melintasi pegunungan Alpen dan memungkinkan para pelancong menikmati panorama Gunung Nätschen yang luar biasa indah. Dalam perjalanan pulang melintasi jalan berliku sepanjang lereng Alpen menuju Kriens, saya sempat melihat kereta merah yang melesat cepat di jalur itu. (*)


Catatan:

  • Untuk menuju Andermatt tempat Jembatan Setan berada, kita bisa terbang dari Jakarta menuju Zurich lalu melanjutkan perjalanan dengan mobil sewaan. Bisa juga naik bus atau kereta api terlebih dulu ke Luzern. Dari Luzern ke Ngarai Schöllenen yang berjarak 68 kilometer dapat ditempuh sekitar sejam naik mobil.
  • Di Andermatt kita bisa menikmati pula wisata ski dan melihat pemandangan gunung bersalju atau sekadar duduk-duduk di kafe di ketinggian Alpen sambil minum kopi atau mengudap makanan setempat, seperti älplermagronen (makaroni dan keju dengan saus apel khas Alpen Swiss).
  • Mata uang yang berlaku di Andermatt adalah franc. Kurs untuk 1 franc sekitar Rp18.000,00. Mata uang euro juga bisa digunakan di tempat tertentu.
  • Ada perbedaan waktu 5 jam antara Andermatt dan Jakarta.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top