
Lampu ruang pertunjukan padam. Sebelum mata penonton sempat mengenali bentuk panggung, telinga lebih dahulu disergap raungan sirene yang berulang-ulang. Bunyi itu tidak sekadar menandai dimulainya pertunjukan, tetapi segera menciptakan situasi darurat yang mengubah ruang teater menjadi lanskap krisis.
Layar putih yang membentang di belakang panggung, berkelebat citra tentara abad ke-19, pasukan berkuda, hingga konvoi pesawat tempur modern. Sejarah bergerak melampaui kronologi. Kolonialisme tidak lagi hadir sebagai sebuah periode yang telah berlalu, melainkan sebagai mesin kekuasaan yang terus berganti rupa.
Perlahan cahaya membuka ruang. Enam aktor memasuki panggung mengenakan rompi kerja, celana pendek, sepatu bot, dan masker penyaring udara yang lazim digunakan pekerja tambang. Di tangan mereka tergenggam sapu lidi yang dimainkan secara terbalik.
Pada sisi lain panggung berdiri sebuah altar kecil dengan bendera Merah Putih, sementara layar belakang menampilkan singgasana merah yang melayang-layang perlahan. Raungan sirene berganti dengan lengkingan beluk, tradisi vocal khas Sunda yang mengiris ruang pertunjukan. Tubuh-tubuh para aktor bergerak seperti para pekerja paksa, tetapi tanpa pernah berubah menjadi ilustrasi sejarah.
Adegan pembuka tersebut segera memperlihatkan arah artistik “Nata Sukma Complex#”. Tatang R. Macan yang menulis cerita tutur masyarakat Sunda yang berjudul Wawacan Nata Sukma pada tahun 1883. Proses eksplorasi artistiknya terus ditumbuhkan melalui beberapa produksi yang diawali dengan judul Nata Sukma pada tahun 2024 hingga tahun 2025. Tatang konsisten untuk tidak berusaha merekonstruksi masa tanam paksa secara realistis.
Ia justru mempertemukan fragmen-fragmen sejarah dengan citra-citra kontemporer sehingga batas antara masa lalu dan masa kini menjadi kabur. Tentara kolonial berdampingan dengan pesawat tempur modern, pekerja paksa hadir melalui tubuh-tubuh bermasker tambang, sementara singgasana merah melayang di atas lanskap demonstrasi dan kerusakan ekologis. Seluruhnya membentuk jaringan simbol yang menolak membaca kolonialisme sebagai peristiwa yang telah selesai.
Pilihan tersebut menjadi tesis utama pertunjukan ini. Yang dipersoalkan Tatang bukan kolonialisme sebagai fakta sejarah, melainkan kolonialitas, logika kekuasaan yang terus hidup melalui eksploitasi tenaga kerja, penguasaan ruang hidup, ekstraksi sumber daya alam dan ketimpangan sosial yang masih membentuk kehidupan hari ini.
Karena itu, Nata Sukma Complex# tidak mengajak penonton bernostalgia terhadap masa lalu, tetapi menempatkan mereka di tengah pengalaman yang mempertanyakan bagaimana sejarah terus bekerja dalam tubuh dan kehidupan manusia.
Sesungguhnya di sinilah letak kekuatan pertunjukan ini. Tatang tidak menyampaikan gagasan tersebut melalui pidato atau dialog yang menjelaskan sejarah. Ia membangun pengalaman indrawi melalui bunyi, tubuh, ruang, cahaya dan citra visual.
Penonton tidak terlebih dahulu diajak memahami kolonialisme sebagai pengetahuan, melainkan mengalaminya sebagai pengalaman estetis. Dari titik inilah Nata Sukma Complex# bergerak melampaui drama sejarah dan berkembang menjadi sebuah dramaturgi tentang kolonialitas yang masih terus diperebutkan hingga hari ini.
Kolonialitas sebagai Pengalaman Indrawi
Banyak pertunjukan teater yang bertema sejarah masih bergantung pada pendekatan representasional. Masa lalu direkonstruksi melalui kostum, dekorasi dan dialog yang menjelaskan peristiwa-peristiwa penting. Nata Sukma Complex# menempuh jalan yang berbeda. Tatang R. Macan tidak menghadirkan panggung sebagai museum kolonial, melainkan sebagai ruang simbolik tempat berbagai lapisan sejarah saling bertemu dan saling menginterupsi.

Pilihan itu tampak jelas pada komposisi visual pertunjukannya. Sebuah altar kecil dengan bendera Merah Putih ditempatkan di sisinya, sementara layar belakang terus memproyeksikan lanskap perkebunan kolonial, tanah yang mengering, demonstrasi masyarakat, hingga singgasana merah yang melayang.
Citra-citra tersebut tidak berfungsi sebagai latar realistis, melainkan sebagai jaringan tanda yang membuka kemungkinan pembacaan. Panggung menjadi ruang tempat sejarah diproduksi ulang, bukan dipamerkan sebagai sesuatu yang selesai. Ketika tubuh-tubuh pekerja bergerak di depan gambar demonstrasi kontemporer, penonton segera menangkap bahwa pertunjukan ini sedang membicarakan kesinambungan struktur kekuasaan, bukan sekadar mengenang masa kolonial.
Pilihan kostum memperkuat pembacaan tersebut. Rompi kerja dan sepatu bot masih mengingatkan pada tubuh buruh, tetapi masker penyaring udara menggeser makna ke konteks yang lebih mutakhir. Masker itu menghadirkan asosiasi terhadap industri ekstraktif, pertambangan, pencemaran lingkungan, dan eksploitasi sumber daya alam.
Dalam satu keputusan artistik yang sederhana, Tatang mempertemukan pekerja paksa abad ke-19 dengan buruh industri abad ke-21. Kolonialisme tidak lagi dipahami sebagai sistem politik yang telah berakhir, melainkan sebagai logika eksploitasi yang terus menemukan bentuk barunya.
Hal yang sama terjadi pada pilihan tata bunyi. Sirene yang berulang tidak hanya membangun suasana mencekam, tetapi menandai hadirnya mekanisme kontrol dan keadaan darurat. Sebaliknya, lengkingan beluk serta dendang tokoh Ibu menghadirkan memori budaya yang berakar pada tradisi.
Pertemuan bunyi mekanis dan vokal tradisional membentuk lanskap auditif yang memperlihatkan benturan antara kekuasaan modern dan ingatan kolektif masyarakat. Penonton tidak hanya mendengar suara ancaman, tetapi juga suara kebudayaan yang berusaha mempertahankan dirinya.
Melalui perpaduan ruang, tubuh, bunyi dan citra visual tersebut, Nata Sukma Complex# memperlihatkan bahwa bahasa teater mampu memproduksi pengetahuan dengan cara yang berbeda dari historiografi. Tatang tidak menjelaskan kolonialitas melalui uraian konseptual, melainkan membuat penonton mengalaminya secara langsung.
Pengalaman indrawi itulah yang kemudian menjadi fondasi bagi seluruh dramaturgi pertunjukan. Sebelum penonton diajak menafsirkan sejarah, mereka terlebih dahulu ditempatkan di dalam atmosfer yang membuat sejarah terasa hadir dan bekerja terhadap tubuh mereka sendiri.
Tubuh sebagai Arena Perebutan Sejarah
Sesudah membangun pengalaman kolonialitas melalui bahasa visual dan auditif, Nata Sukma Complex# bergerak ke lapisan dramaturginya. Menariknya, Tatang R. Macan tidak menyusun konflik sebagai pertentangan sederhana antara rakyat dan kolonialisme. Ia justru mempertemukan berbagai posisi yang saling bernegosiasi dalam memaknai sejarah.
Marhaen hadir sebagai tubuh yang mengalami penindasan, Marhaenis sebagai representasi pengalaman kolektif, Multatuli sebagai saksi yang merekam penderitaan, dan tokoh Ibu sebagai penjaga ingatan. Pertemuan keempatnya membuat pertunjukan bergeser dari drama sejarah menuju refleksi tentang siapa yang memiliki otoritas untuk menceritakan luka.
Kehadiran Multatuli menjadi salah satu keputusan dramaturgis yang paling menarik. Dalam sejarah Indonesia, ia dikenang sebagai penulis Max Havelaar yang membuka mata dunia terhadap kekejaman sistem tanam paksa. Namun Tatang tidak menempatkannya sebagai penyelamat moral. Melalui permainan keaktoran Husin yang tenang dan terukur, Multatuli justru tampil sebagai sosok yang harus mempertanggungjawabkan batas-batas kesaksiannya.
Kesadaran moral ternyata tidak identik dengan pengalaman. Menyaksikan penderitaan tidak pernah sama dengan mengalaminya. Dari titik ini, pertunjukan menggeser perhatian penonton dari persoalan kolonialisme menuju persoalan representasi: siapakah yang berhak berbicara atas nama mereka yang menderita?

Sebaliknya, tokoh Ibu menghadirkan dimensi yang lebih emosional. Melalui dendang dan permainan yang tidak berlebihan, Yuniarni menghadirkan kesedihan yang lahir dari kehilangan, bukan dari retorika. Kehadirannya memperluas makna kolonialisme sebagai pengalaman yang tidak hanya merampas tanah dan tenaga kerja, tetapi juga memutus hubungan manusia dengan ruang hidup, keluarga dan ingatan budaya. Dalam pembacaan ini, tokoh Ibu tidak sekadar menjadi karakter dramatik, melainkan juga personifikasi tanah yang terus menyimpan jejak kekerasan sejarah.
Pilihan Tatang membangun pertunjukan melalui tubuh-tubuh kolektif juga memperlihatkan kecenderungan estetiknya. Keenam Marhaenis tidak berkembang sebagai karakter individual, tetapi bergerak sebagai satu organisme yang terus berubah: menyatu, tercerai, lalu kembali membentuk formasi baru.
Fokus penyutradaraan tidak diarahkan pada kecemerlangan satu aktor, melainkan pada bagaimana tubuh-tubuh tersebut membangun lanskap sosial yang hidup. Dengan cara itu, penderitaan tidak dipahami sebagai pengalaman personal, tetapi sebagai memori kolektif yang diwariskan lintas generasi.
Videografi memperkuat pendekatan tersebut. Alih-alih menjadi dekorasi, proyeksi visual berfungsi sebagai mitra dramaturgis para aktor. Sawah yang mengering, demonstrasi masyarakat, kawasan industri, hingga singgasana merah yang terus melayang tidak menjelaskan adegan, tetapi membuka lapisan makna yang melampaui dialog. Tubuh manusia dan gambar digital bekerja secara bersamaan: yang satu menghadirkan pengalaman konkret, sementara yang lain memperlihatkan struktur kekuasaan yang bekerja di balik pengalaman itu.
Di sinilah kekuatan penyutradaraan Tatang terlihat paling jelas. Ia tidak membiarkan teks mendominasi panggung, tetapi mendistribusikan makna ke seluruh unsur pertunjukan sehingga tubuh, bunyi, ruang, dan visual memiliki kedudukan dramaturgis yang setara.
Meski demikian, ambisi artistik tersebut menghadirkan satu catatan penting. Kepadatan simbol dan rujukan sejarah membuat beberapa adegan bergerak terlalu cepat sehingga tidak semua citra memperoleh ruang resonansi yang sama.
Masker pekerja tambang, singgasana merah, maupun pertemuan antara beluk dan sirene merupakan simbol yang sangat kuat, tetapi pada beberapa momen segera berganti dengan simbol lain sebelum sempat berkembang sepenuhnya. Pengelolaan ritme yang lebih longgar akan memberi kesempatan kepada penonton untuk membangun hubungan yang lebih mendalam dengan simbol-simbol tersebut.
Terlepas dari catatan itu, penyutradaraan Tatang berhasil menghindarkan Nata Sukma Complex# dari kecenderungan menjadi teater propaganda. Pertunjukan ini tidak menawarkan slogan atau jawaban yang selesai. Sebaliknya, ia mengajak penonton menyusun sendiri hubungan antara kolonialisme, kapitalisme, krisis ekologis dan kehidupan kontemporer. Di situlah kekuatan dramaturginya: bukan pada kemampuan menjelaskan sejarah, melainkan pada kemampuannya membuat sejarah kembali diperdebatkan melalui pengalaman estetis.
Melintasi Selat Malaka: Kolonialitas sebagai Pengalaman Asia Tenggara
Pemanggungan Nata Sukma Complex# selama dua malam, 23-24 Juli 2026, di Panggung Budaya Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Tanjong Malim, Malaysia, memperlihatkan bahwa pertunjukan ini bekerja melampaui konteks nasional tempat ia dilahirkan. Perpindahan ruang pertunjukan tidak mengubah relevansi karya, justru memperluas cakrawala pembacaannya. Jika di Indonesia ia berbicara tentang warisan tanam paksa dan keberlanjutan eksploitasi, di Malaysia pertunjukan ini berhadapan dengan masyarakat yang memiliki sejarah kolonial berbeda, tetapi menyimpan pengalaman serupa mengenai penguasaan tanah, tenaga kerja, dan sumber daya alam.
Keberhasilan tersebut tidak lahir karena pertunjukan mengangkat tema kolonialisme, melainkan karena Tatang R. Macan membangun bahasa panggung yang tidak bergantung pada pengetahuan sejarah Indonesia semata. Tubuh para aktor, sirene, beluk, masker pekerja tambang, hingga singgasana merah merupakan tanda-tanda artistik yang tetap dapat dibaca oleh penonton lintas budaya.
Bahasa teater mendahului bahasa sejarah. Penonton mungkin tidak mengenal Wawacan Nata Sukma ataupun rincian sistem tanam paksa di Priangan, tetapi mereka tetap dapat merasakan pengalaman tentang kekuasaan, ketakutan, kehilangan dan perlawanan yang dibangun sepanjang pertunjukan.

Dalam konteks itu, Nata Sukma Complex# tidak hanya berbicara mengenai kolonialisme Belanda di Indonesia. Pertunjukan ini mengajukan pembacaan yang lebih luas tentang kolonialitas, yakni logika dominasi yang terus bertahan setelah kolonialisme berakhir secara formal. Eksploitasi sumber daya alam, perampasan ruang hidup masyarakat, kerusakan ekologis, dan ketimpangan sosial yang muncul di layar proyeksi memperlihatkan bahwa mekanisme tersebut masih bekerja dalam berbagai bentuk pembangunan kontemporer.
Dengan demikian, sejarah tidak diposisikan sebagai masa lalu yang selesai, tetapi sebagai struktur yang terus memengaruhi kehidupan hari ini.
Perspektif inilah yang membuat Nata Sukma Complex# memiliki resonansi yang melampaui batas negara. Pertunjukan ini mengingatkan bahwa pengalaman kolonial di Asia Tenggara bukan hanya persoalan arsip dan ingatan, melainkan juga persoalan masa kini. Tatang tidak menawarkan rekonsiliasi yang menenangkan.
Ia justru mengajak penonton mempertanyakan bagaimana relasi kuasa terus diproduksi, diwariskan, dan diterima sebagai sesuatu yang dianggap wajar. Di titik itu, teater menjadi ruang refleksi bersama tentang sejarah yang belum benar-benar usai.
Selain itu, kekuatan NATA SUKMA COMPLEX# tidak semata-mata terletak pada keberaniannya mengangkat tema kolonialisme. Banyak pertunjukan telah menjadikan sejarah kolonial sebagai bahan penciptaan. Yang membedakan karya Tatang R. Macan adalah kemampuannya mentransformasikan persoalan tersebut menjadi pengalaman estetis melalui bahasa penyutradaraan.
Tubuh para aktor, komposisi ruang, tata bunyi, videografi dan simbol-simbol visual tidak berfungsi sebagai ilustrasi naskah, tetapi sebagai perangkat dramaturgis yang bersama-sama membangun makna. Penonton tidak diminta memahami kolonialitas melalui penjelasan, melainkan mengalaminya secara langsung melalui pengalaman indrawi.
Tentu saja, pertunjukan ini bukan tanpa catatan. Kepadatan simbol, pilihan gerak dan rujukan sejarah pada beberapa bagian membuat ritme pertunjukan terasa sangat padat sehingga tidak semua citra memperoleh ruang resonansi yang memadai.
Ambisi konseptual tersebut justru memperlihatkan tantangan utama penyutradaraan Tatang: bagaimana menjaga keseimbangan antara kelimpahan gagasan dan kejernihan pengalaman estetik. Namun catatan itu tidak mengurangi capaian artistiknya.
Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa Nata Sukma Complex# merupakan karya yang membuka ruang dialog dan pembacaan kritis, bukan karya yang menutup dirinya dalam kepastian makna.
Pertanyaan yang terus bergema setelah pertunjukan berakhir bukan lagi siapa yang pernah menjajah dan siapa yang pernah dijajah, melainkan bagaimana sejarah itu terus diwariskan, diperebutkan, dan dimaknai kembali.
Di situlah kekuatan terdalam NATA SUKMA COMPLEX#. Ia tidak menutup sejarah dengan sebuah kesimpulan, tetapi membukanya kembali sebagai pengalaman bersama yang terus menuntut pembacaan baru. []




