
Ada dua dorongan utama yang membuat saya ingin menonton koreografi Comrade, Miracle, Curse karya Thanapol Virulhakul pada agenda Jakarta International Contemporary Dance Festival (JICON) 2026 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Sabtu malam (25/7). Pertama, rasa penasaran terkait teknik penggunaan proyektor dalam karyanya. Kedua, bagaimana ia mengorganisir kecenderungan tubuh orang Tailan yang dipandang ramping, rapuh, dan ringkih dalam sebuah koreografi.
Dua dorongan itu berangkat dari wawancara yang pernah saya baca antara Chikara Fujiwara dan Thanapol Virulhakul bertajuk The Challenge of Democrazy: International Co-Production and the Strategy of “Games” (2017). Wawancara tersebut membahas pertunjukan Girl X (2015), karya kolaborasi Thanapol melalui Democrazy Theatre Studio dengan Suguru Yamamoto, sutradara Jepang dari kelompok teater Hanchu-Yuei, dan karya tersebut ditampilkan dalam Tokyo Performing Arts Meeting (TPAM) 2015. Selain itu, bahasan dalam wawancara juga menyasar dua proyek Thanapol di Jerman tahun 2016, yaitu Hipster the King dalam festival Theaterformen, dan Happy Hunting Ground yang membawanya ke ke Badisches Staatstheater Karlsruhe.
Terkait dengan penggunaan proyektor, Fujiwara sempat mempertanyakan kepada Thanapol, bagaimana ia menampilkan kata-kata atau teks di layar yang dipandang sebagai salah satu ciri khas Hanchu-Yuei. Namun, Thanapol tegas menjawab bahwa teknik itu bukan barang asing baginya, sebab ia juga kerap memanfaatkan proyektor untuk menampilkan teks dan kata-kata.
Tidak kalah penting, bagaimana Thanapol menjawab pertanyaan Fujiwara mengenai pengalamannya bekerja dengan tubuh para aktor Jerman. Ia mengatakan, aktor Jerman memiliki ketahanan fisik karena cara mereka menjalani proses latihan. Selain itu, ia memandang para aktor Jerman terbiasa memahami terlebih dahulu makna dari setiap instruksi sebelum menggerakkan tubuh. Thanapol kemudian menggambarkan bagaimana ia bekerja dengan tubuh orang Tailan. Tubuh yang ramping dan rapuh, secara fisik terlihat ringkih, tetapi menurutnya memiliki daya tahan dan kesabaran lebih besar. Dalam menggerakkan tubuh menurutnya orang Tailan lebih memiliki semangat “just try and see” (coba saja dulu).
Dalam artian, sebagai sutradara, ia merasa lebih dapat bereksperimen dengan berbagai gagasan yang mungkin tampak tidak berkaitan dengan konsep garapan, bahkan terkadang ia meminta sesuatu yang tidak masuk akal. Dari cara bekerja tubuh orang Tailan, Thanapol menyadari bahwa ia sangat membutuhkan bantuan aktor untuk mewujudkan secara visual apa yang pada mulanya hanya berupa gambaran, atau intuisi dari pikiran sutradara. Di balik apa yang tampak dari fisik tubuh orang Tailan kemudian Thanapol juga melihat satu keunggulan yang membedakannya dengan tubuh orang Jerman–tubuh Tailan yang dimaksud ini mungkin juga bisa dihubungkan dengan tubuh Mongoloid Melayu atau Mongoloid Indocina dan Indonesia di antaranya.
Saya kira pernyataan soal “teknik penggunaan proyektor” dan “tubuh orang Tailan” yang diungkapkan Thanapol berkorelasi dengan gagasan pertunjukannya kemudian hari, termasuk dalam pertunjukan Comrade, Miracle, Curse dalam agenda JICON 2026.
Siasat proyektor mekanis
Saya masuk ke ruangan Teater Wahyu Sihombing ditemani Jo–kami adalah rombongan pendukung Rebecca Kezia, kurator JICON 2026. Kami duduk melantai di pojok kiri bagian depan panggung. Pertunjukan Comrade, Miracle, Curse karya Thanapol berlangsung tanpa aba-aba atau pengantar penyelenggara. Ketika memasuki ruangan, saya sudah menyaksikan empat orang penari bergerak di area panggung.
Saya duduk. Persis di hadapan saya ada dua bongkah batu seukuran kepala manusia. Seorang penari tampak bergerak bergerak ke arah batu. Ia lantas mengangkat batu itu dalam gerakan lamban dan tegas. Batu itu digilir ke penari lain yang tampak sudah membentuk formasi serong dan akhirnya batu itu diletakkan di bagian kanan belakang panggung.
Proses mengangkat dan memindahkan batu itu berlangsung cukup pelan. Tampak para penari mendayagunakan seluruh tenaganya menggilir batu sampai ke posisi yang dituju. Begitulah kemudian sampai dua bongkah batu itu terletak berdampingan. Saya membayangkan gerakan ini semacam bentuk kerjasama, mungkin menggambarkan gotong royong, seakan beban berat dipikul bersama-sama.
Saya tidak dapat membayangkan pada awal pertunjukan beban apakah yang sebenarnya sedang dipikul oleh para penari itu. Hingga kemudian, saya memperhatikan dengan seksama benda-benda apa saja yang hadir dalam pertunjukan, dan saya mulai menduga-duga. Agaknya, mereka berupaya menghadapkan pada penonton beban dan tanggungan sejarah mereka: narasi Siam hingga Tailan!
Ketika para penari itu memindahkan batu saya memperhatikan sekeliling panggung pertunjukan. Ada tiga mahkota tinggi dan runcing dibariskan di bagian tengah panggung menggunakan tiang pajangan. Ada lampu satu lampu pijar berbentuk tabung di bagian tepi kiri dan kanan panggung. Pencahayaan remang-remang dari atas panggung dan susana seperti itu berlangsung hingga akhir pertunjukan. Lalu di bagian belakang tampak layar proyektor menampilkan arsip berupa gambar lanskap, kartograf, hasil pindah lembaran buku, foto-foto lama, dan cukup yakin bahwa pertunjukan Comrade, Miracle, Curse memang berupaya membaca ulang sejarah Tailan.
Sebagaimana kebiasaan saya, ketika pertunjukan berlangsung, saya berupaya mencatat kilasan-kilasan peristiwa panggung. Sebab kilasan serupa ini, akan mudah terlupakan sesudah pertunjukan selesai, ketika kita keluar dari ruangan pertunjukan. Tidak luput, saya menduga-duga melalui catatan, beberapa bagian arsip yang saya kira penting dalam pertunjukan ini. Dan saya kira, arsip yang ditampilkan melalui proyektor slide ini cukup menjawab rasa penasaran saya terhadap teknik penggunaan proyektor dalam karyanya.
Thanapol memilih menggunakan proyektor slide tidak sekedar untuk menampilkan arsip untuk mendukung pertunjukannya. Saya menduga, suara dari putaran mekanis proyektor ketika mengganti slide foto itu jadi bagian strategi dalam pertunjukan ini. Suara tersebut seakan mengganti kekosongan bebunyian musik (atau suara-suara lain) yang absen selama pertunjukan. Suara tersebut juga menebalkan pembacaan penonton bahwa pertunjukan ini berupaya untuk membahas sesuatu yang lampau–tetapi sesuatu yang lampau itu mempengaruhi setiap lini kehidupan hari ini.
Strategi pemanfaatan proyektor slide, baik dengan menghadirkan arsip-arsip kesejarahan Tailan dan suara putaran mekanis proyektor, saya kira adalah kebiasan Thanapol untuk mencari siasat untuk menggugat otoritas politik. Ia tidak melakukan kritik melalui ungkapan secara langsung. Sebab menurutnya–saya kutip dari sebuah percakapan–seniman Thailand bekerja di bawah ancaman sensor. Untuk itu memerlukan sebuah implisit agar karya mereka tidak memicu sensor secara langsung dan ia memilih metafora, permainan, koreografi, dan tubuh sebagai bahasa politik.
Strategi menggugat Otoritas
Nama Siam menjadi pusat pembahasan dalam pertunjukan Comrade, Miracle, Curse dan nama itu muncul pada hampir secara keseluruhan arsip-arsip di layar proyektor. Penggunaan nama ini saya kira untuk memperkuat gagasan pertunjukan yang ingin menarik penonton untuk membayangkan sebuah negara yang sama dengan Thailand saat ini, hanya saja pada periode sejarah ketika nama resminya masih Siam, dan pertunjukan ini ingin mengajak kita untuk membaca jauh ke belakang.
Membaca konteks Siam ini penting bagi saya untuk memahami pertunjukan tersebut dan memahami karya-karya lain Thanapol. Ia berkarya dalam konteks Thailand modern, yaitu negara yang dibentuk oleh proyek nasionalisme abad ke-20, institusi monarki, serta dinamika politik seperti kudeta militer dan gerakan pro-demokrasi. Ia kemudian menggunakan simbol-simbol seperti chada atau mahkota dalam pertunjukan tidak hanya mewakili warisan budaya dari era Siam, tetapi juga memuat makna politik yang sangat kuat dalam Thailand kontemporer. Pertunjukan Comrade, Miracle, Curse, agaknya memang berupaya kuat untuk tidak sekadar mengolah artefak sejarah seperti chada atau arsip-arsip kolonial, melainkan juga mengajak penonton mempertanyakan hubungan antara tradisi, kekuasaan, dan identitas nasional Thailand masa kini.

Saya mencoba membaca kembali–setidaknya untuk dapat masuk ke dalam karya Thanapol–seusai pertunjukan bagaimana Siam berubah nama menjadi Tailan pada tahun 1939. Bagaimana perubahan ini tidak sekadar pergantian nomenklatur negara, melainkan bagian dari proyek politik untuk membangun identitas nasional modern. Di bawah pemerintahan Perdana Menteri Plaek Phibunsongkhram, nama Thailand (Prathet Thai) diresmikan sebagai simbol nasionalisme baru yang menekankan persatuan bangsa, penguatan identitas etnis Thai, serta konsolidasi negara menjelang Perang Dunia II. Kata Thai sendiri memiliki makna ganda: merujuk pada kelompok etnis Thai sekaligus berarti “bebas”. Karena itu, Thailand kerap dimaknai sebagai “Negeri Orang Thai” sekaligus “Negeri yang Merdeka”.
Dinamika politik usai Perang Dunia II mendorong pemerintah pada 1945 untuk mengembalikan nama Siam, dengan pertimbangan bahwa istilah “Thailand” terlalu menonjolkan satu kelompok etnis. Namun, perubahan tersebut hanya berlangsung singkat. Pada 1949, nama Thailand kembali ditetapkan sebagai nama resmi negara dan terus digunakan hingga sekarang. Meski menunjuk wilayah geografis yang pada dasarnya sama, Siam dan Tailan merepresentasikan dua konsep identitas yang berbeda, dan agaknya persoalan yang berupaya dielaborasi Thanapol.
Siam merujuk pada kerajaan multietnis dengan identitas historis yang lebih inklusif, meliputi masyarakat Thai, Lao, Khmer, Melayu, Mon, Tionghoa, serta berbagai kelompok etnis lainnya yang hidup dalam satu entitas politik. Sedangkan Tailan merepresentasikan negara-bangsa modern yang dibangun di atas gagasan nasionalisme Thai, dengan penekanan pada bahasa, budaya, dan identitas bangsa Thai sebagai fondasi utama.
Dengan menonjolkan nama Siam, agaknya pertunjukan Comrade, Miracle, Curse berupaya membawa narasi yang sama dengan banyak sejarawan dan akademisi dalam membahas kesejarahan Tailan. Mereka sama-sama menggunakan nama Siam untuk perjalanan negara-bangsa Tailan modern, karena dinilai lebih mampu merefleksikan keragaman sosial, budaya, dan politik yang membentuk kerajaan tersebut.
Chada sebagai otoritas
Hampir sebagian besar arsip dalam pertunjukan Comrade, Miracle, Curse saya coba pahami sembari mencatat kilasan-kilasan peristiwa yang saya rasa cukup saya pahami dalam pertunjukan tersebut. Potongan-potongan foto raja berpakaian lengkap, raja mengenakan pakaian modern di atas mobil ketika mengunjungi Eropa, raja memberikan chada kepada seorang perempuan (agaknya) penguasa di salah satu negara di Eropa sana, notasi lagu kebangsaan Siam, bendera merah dengan gambar gajah putih, dan banyak kilasan-kilasan lain muncul selama pertunjukan. Tapi chada dan nama Siam membuka, menutup, sekaligus menjadi pusat dalam pertunjukan tersebut.
Chada adalah salah satu simbol penting dalam kebudayaan Tailan. Mahkota dengan warna keemasan dan bentuk tinggi meruncing itu melampaui sekadar aksesori. Ia merupakan lambang kekuasaan, kesucian, keilahian sehingga konon penggunaannya diatur oleh tradisi dan konteks yang sangat spesifik. Namun sepertinya dalam pertunjukan garapan Thanapol ini chada tidak lagi merepresentasikan mahkota yang tidak dikenal oleh tubuh aktor. Pertunjukan ini memperlihatkan empat tubuh mengeksplorasi mahkota ini seakan-akan mereka sangat asing benda tersebut. Empat tubuh itu menggilir chada dengan hati-hati, melihat bentuknya lebih detil, meraba sekaligus mendekap dan merapatkan mahkota itu ke tubuh mereka secara bergantian–semacam tidak subversif yang manis.
Dan memang, diam-diam melalui karya ini Thanapol ingin mempertanyakan soal revolusi, berangkat dari gagasan Lenin soal “revolusi sebagai mukjizat”–sebagaimana pernah dinyatakan dalam pertunjukan perdana Comrade, Miracle, Curse dalam ajang GHOST:2568 di Bangkok pada 8 November 2025. Namun agaknya Thanapol tidak sedang sekadar mengutip Lenin sebagai rujukan historis, melainkan menggunakannya sebagai landasan untuk mengajukan sebuah pertanyaan artistik sekaligus politik. Ia agaknya mempertanyakan apakah tubuh-tubuh para comrades (kamerad) di atas panggung mampu menghadirkan “mukjizat” tersebut.
Dalam konteks Tailan yang selama beberapa dekade belakangan dibayangi kudeta militer, gelombang demonstrasi mahasiswa, serta ketegangan antara tuntutan demokrasi dan institusi monarki, pertanyaan dalam pertunjukan Comrade, Miracle, Curse garapan Thanapil ini agaknya berkembang menjadi bentuk refleksi yang lebih luas: mampukah tindakan kolektif menciptakan perubahan yang sebelumnya tampak mustahil? []




