Kuharap Segalanya Damai Belaka Baginya

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Dua orang lelaki berjaket kulit yang menutupi hampir sepenuhnya kemeja berwarna terang yang mereka kenakan dan celana jin datang ke bar milik Jay dua malam sebelumnya. Ada bekas jahitan di wajah salah satunya, membentuk garis vertikal di sebelah kiri. Mereka berkulit kecokelatan, potongan rambut pendek seperti seorang prajurit dengan tubuh yang benar-benar tegap. Mereka menghampiri konter dan bertanya kepada Jay tentang keberadaan orang di foto yang mereka sodorkan: lelaki berusia sekitar tiga puluhan dengan kemeja lusuh berbalut jaket berwarna krem dan mengenakan topi abu-abu.

Jay tidak pernah melihatnya. Aku, rekan kerjaku, dan siapa pun saat itu yang sedang mengunjungi bar juga tidak melihatnya. Mereka tidak pernah melihat lelaki seperti di foto baik di bar maupun di luar sana. Mereka memegangi kening dan mengedarkan pandang ke seluruh bar. Mau bagaimana lagi? Tak seorang pun tahu dan, sebenarnya, tak seorang pun bersedia menjadi pengadu di tempat ini bahkan jika ada yang pernah melihat lelaki seperti di foto.

Setelah dua malam berlalu sejak peristiwa itu, datang seorang lelaki yang samar-samar mirip dengan foto yang kami lihat dua malam sebelumnya. Aku berbisik kepada rekanku, memberitahunya bahwa mungkin itu orang yang mereka cari. Namun, apa yang akan terjadi? Keributan sebelumnya membuat Jay marah, meskipun pada akhirnya dia bisa sedikit memaafkan si tukang onar itu. Dia tidak suka tempatnya menjadi arena perkelahian. Baginya, bar yang dia dirikan adalah tempat minum sekaligus tempat meratapi nasib sial di dalam kehidupan ini ketika rumah ibadah tidak lagi menjadi pilihan akhir-akhir ini.

Lelaki seperti di foto itu duduk di kursi yang kosong lalu memanggil salah satu dari kami. Dia memesan wiski. Dia berbicara dengan nada suara yang rendah, hampir seperti berbisik. Bibirnya bergetar hebat. Pesanannya datang tak lama setelah itu. Bar tidak benar-benar ramai malam ini. Berkali-kali dia mengetuk-ngetuk permukaan meja, menghentak-hentakkan salah satu kakinya, memandang ke seisi bar, dan sesekali melihat ke luar melalui kaca bening seolah memastikan sesuatu yang entah apa.

Dia mungkin merasa diawasi dari suatu tempat yang jauh oleh seorang penembak jitu yang entah berada di atap bangunan yang mana. Ketika aku meletakkan pesanannya di atas meja, dia bahkan seolah terkejut dan wajahnya tampak lega segera kemudian begitu melihat wajahku.

“Dia akan dihabisi,” kataku kepada rekanku. Aku mengatakannya dengan setengah keraguan—mungkin keraguan itu juga merupakan harapan bahwa nasib malang itu tidak akan pernah terjadi. Namun, beberapa kali dalam hidup, aku pernah bertemu orang yang akan dihabisi. Itu pengalaman terburukku.

“Bagaimana kau tahu?” tanyanya. Dia tidak percaya dan menganggap yang kukatakan tak lebih dari sekadar lelucon jelek. “Memangnya apa yang dia lakukan?”

Aku menggeleng. Tentu saja aku tidak tahu. Namun, aku punya firasat bahwa hal buruk mungkin akan terjadi kepadanya. Dia sendiri mungkin tidak akan menyangka bahwa akan seburuk itu dampaknya. Hanya dia dan iblis yang tahu tentang apa yang dilakukannya sebelum ini.

Jam sibuk bagi bar ini tiba. Mulai banyak yang berdatangan. Kami hampir kewalahan. Jay mestinya menambah satu lagi pegawai terampil jika kondisi semacam ini terus berlangsung. Bar penuh sesak. Musik jaz yang diputar Jay bahkan hampir tidak terdengar, kalah telak dengan suara obrolan para pengunjung bar. Ini bukan tempat yang tenang, ini adalah tempat orang menumpahkan segalanya. Jika mencari ketenangan, orang mestinya pergi mendaki gunung atau melakukan kemah di tengah alam liar.

Secara sepintas aku mendapati dua orang yang datang pada dua malam sebelumnya. Mereka masih mengenakan pakaian yang persis sama. Mereka tidak menuju ke konter, tapi segera menghampiri lelaki seperti di foto. Mereka duduk di hadapannya. Tidak mengatakan atau bahkan melakukan apa pun. Yang mereka lakukan hanyalah menatap lelaki seperti di foto itu minum wiskinya dengan wajah merah. Lelaki seperti di foto juga tidak bereaksi.

Ketegangan yang tampak pada dirinya tadi seolah telah sirna. Mungkin akhirnya dia bisa pasrah, mungkin pada akhirnya dia sudah punya cukup keberanian untuk menghadapi konsekuensinya. Aku coba bersiaga untuk kemungkinan terburuk. Namun, Jay yang melihatku tegang berkata kepadaku bahwa selama mereka tidak ribut di tempat ini, itu sama sekali bukan urusan kami.

Tak lama berselang lelaki seperti di foto datang ke konter, meninggalkan uang, dan memuji wiski yang kami sajikan. “Itu wiski terbaik yang pernah aku minum selama ini. Senang sekali berkunjung ke tempat ini. Seharusnya aku datang lebih awal ke tempat ini. Andai aku tahu lebih awal. Tapi setidaknya aku pernah datang ke tempat ini.”

“Kau baik-baik saja?” tanya Jay sambil menerima uang itu, memasukkannya ke mesin kasir. Jay memerhatikannya cukup lama.

Dia mengalihkan pandangannya sebentar setelah mendengar pertanyaan Jay. Beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya. “Baik-baik saja. Nah, terima kasih untuk wiskinya.”

“Datanglah lagi lain kali,” kata Jay.

Dia hanya membalas dengan senyuman. Selalu ada lain kali. Namun, mungkin memang tidak akan pernah ada lain kali baginya.

Setelah lelaki seperti di foto itu meninggalkan konter, dua lelaki yang lain juga beranjak dari tempat duduk mereka tanpa memesan apa pun. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya di sini. Ini seperti adegan dalam film-film tentang gembong narkoba. Lelaki di foto mungkin telah menghina kartel atau semacamnya. Dia kini sedang menghadapi konsekuensinya. Dia barangkali tahu tentang segala yang menantinya di masa depan ketika melakukannya. Dia mungkin memilih bar ini untuk minuman terakhirnya, hanya untuk sedikit memberikan keberanian. Hanya untuk perjamuan terakhirnya.

“Menurutmu dia akan datang lagi, Jay?” tanyaku.

Jay tidak menjawab. Dia seperti berpikir tentang sesuatu, mungkin tentang lelaki seperti di foto tadi. Entahlah. Hanya Jay dan Tuhan yang tahu. Sepanjang sisa jam buka, Jay sama sekali tidak mau berbicara apa pun lagi kecuali yang berurusan dengan transaksi.

***

Malam demi malam bergulir seperti kelereng yang meluncur di permukaan meja yang tidak setara tinggi keempat kakinya. Bar Jay tetap ramai. Tidak terjadi perkelahian. Hanya ada orang-orang minum, mengobrol, atau minta nasihat kepada Jay. Orang-orang kadang memanggilnya dengan Bapa. Suasana hati Jay telah kembali seperti semula, dia menjadi pria tua ramah dengan lelucon payah seperti sebelumnya.

Namun nasib lelaki seperti di foto itu masih berada di sudut ingatanku seperti batu ganjalan yang menghambat arus sungai. Tidak ada berita apa pun di koran tentang pembunuhan atau semacamnya yang mengarah kepada lelaki seperti di foto. Kuharap memang sekadar khayalanku saja. Kuharap segalanya damai belaka baginya.

Kuharap memang tidak pernah ada orang yang dihabisi dengan cara biadab dan tanpa belas kasihan untuk kemudian dihilangkan seluruh jejaknya. Sampai kemudian dua orang yang dulu datang ke tempat ini untuk mencari lelaki seperti di foto datang dan duduk di konter. Mereka berdua memesan wiski. Jay sendiri yang menangani sementara aku mondar-mandir ke meja-meja lain.

“Dia benar,” kata orang yang memiliki bekas jahitan di pipinya, “Wiski di tempat ini enak.”

Yang satu lagi tampaknya seorang pendiam. Setelah meminum satu gelas, dia hanya mengangguk kepada temannya. Mereka memesan lagi dan Jay menuangkannya tanpa berbicara. Dia hanya memasang senyum ramah, sebuah protokol yang harus dilakukan penjual kepada pembeli.

“Hei,” katanya lagi kepada temannya, “Ayo jadikan tempat ini sebagai langganan.”

Orang yang satu lagi, sekali lagi, hanya mengangguk.

Jay melanggar nasihatnya sendiri. “Apa yang kalian lakukan kepadanya?”

Muka kedua orang itu berubah menjadi kaku, tidak ada lagi wajah bersahabat di sana.

“Kau ingin tahu?” tawarnya.

Jay segera merasa telah melakukan kesalahan. Setiap orang melakukannya, sebijak apa pun mereka. Ini mungkin akan berdampak pada bisnisnya. Bagaimanapun, dia tetap saja penasaran. Rasa penasaran adalah sesuatu yang menyebabkan peradaban manusia bisa sejauh ini. Namun, tak sedikit orang yang harus menemui jalan terjal atau bahkan berakhir tragis karena rasa penasaran.

“Kami diperbolehkan menceritakan seluruh kronologinya sejak awal kepada siapa pun, bahkan kepada komisaris polisi sekali pun. Tapi aku akan bertanya lagi. Kau ingin tahu?” kata orang yang punya bekas jahitan di pipinya sambil menyodorkan gelasnya yang telah kosong.

Jay mengurungkan niatnya. Dia menggelengkan kepalanya. Jay mengisi dua gelas kosong itu. Jay sadar ini bukan masa jayanya lagi. Usia tua telah menggerogotinya dan mereka berdua bukan tipe orang yang bisa dia atasi dengan kondisinya sekarang. Mungkin akan lain cerita jika dia masih berada di usia tiga puluhan awal. Setelah gelas yang ketiga, mereka meninggalkan sejumlah uang begitu saja di atas meja, mereka menindihnya dengan gelas. Jumlah yang berlebihan.

Terlalu banyak kembalian yang perlu diberikan Jay, tapi mereka tidak memedulikannya dan pergi ke arah pintu begitu saja tanpa berkata apa pun. Jay mengambil uang itu, menyisihkan nominal yang berlebih ke sebuah kotak kecil lain yang dia simpan di bawah konter. Dia merasa tidak berhak untuk kelebihan nominal itu. Aku membereskan gelas, mencucinya, dan mengelapnya sampai kering. Malam itu juga berlalu seperti biasa, juga malam-malam berikutnya.

Kami tidak pernah lagi melihat lelaki seperti di foto, tapi kami sesekali melihat dua orang itu datang. Mereka selalu memesan wiski. Setelah tiga gelas, mereka akan pergi dengan meninggalkan uang dengan nominal yang berlebih. Aku tidak nyaman melihat peristiwa semacam itu terjadi berulang kali secara rutin, tapi kegelisahan yang ditanggung Jay tentu saja lebih besar daripada yang aku rasakan.

“Mereka sepertinya akan terus datang, Jay,” kataku ketika kami beres-beres.

“Mereka mengancamku.”

“Dengan membayar lebih banyak dari yang seharusnya mereka bayar?”

“Ya. Hanya karena aku bertanya saat itu. Mungkin mereka menandai tempat ini.”

Itu berlebihan, tapi tentu saja ada kemungkinan hal semacam itu terjadi. Mereka mungkin benar-benar orang yang berbahaya, lebih dari yang bisa kami bayangkan. Sebaiknya memang tidak terlibat. Kami tidak ingin menjadi isi berita pada sebuah kolom kecil yang mengisi sebuah koran lokal yang selalu berisi berita-berita kriminal.

Setelah bar benar-benar dibersihkan, rekan kerjaku minta pulang terlebih dahulu sementara aku hendak tinggal lebih lama. Jay duduk di kursi, menghitung uang penjualan hari ini, mencatatnya pada sebuah buku besar penuh angka yang sudah bosan kupelajari di bangku sekolah menengah. Jay berkata jika ingin minum aku bisa menuang sendiri. Aku tanpa sungkan mengambil wiski dan minum satu gelas.

Aku kini duduk di konter, berada di hadapan Jay yang sibuk dengan angka-angka. Kini, di malam yang telah luruh dan hendak menjelma pagi, aku memikirkan si lelaki dan nasib yang dia alami setelah keluar dari bar ini malam itu. Aku menyesap wiski secara perlahan. Lagu jaz masih berputar dengan suara rendah.

Jay akhirnya selesai dengan urusannya, menutup buku, dan mengunci mesin kasir. Dia melepaskan kacamatanya—dia benar-benar tidak cocok dengan kacamata itu. Dia meraih botol wiski dan mengambil gelas dan menuangkannya untuk dirinya sendiri. Kami tidak berbicara. Aku ragu untuk membuka pembicaraan seperti biasanya sementara Jay juga tampaknya menahan diri. Kami sama-sama bungkam. Wayne Shorter memainkan “Speak No Evil”. Kehidupan selalu menemukan masa-masa sulitnya dan Jay telah menemui satu lagi masalah dalam hidupnya.

Andai ada cara untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dan mampu membebaskannya dari beban semacam itu, aku tanpa ragu akan mengajaknya pergi ke tempat semacam itu. Namun, kehidupan akan terlalu mudah untuk dilalui jika tempat semacam itu benar-benar ada. Tidak akan ada lagi orang yang berpikir untuk bunuh diri. Tidak akan ada lagi perkembangan dalam berpikir untuk menyelesaikan masalah. Hidup yang terlalu mudah kedengarannya buruk juga.

Tidak ada yang benar-benar dapat kami lakukan dan pahami dari peristiwa ini. Inilah konsekuensi memiliki pekerjaan yang senantiasa berhubungan dengan orang lain. Namun, apakah memang ada jenis pekerjaan yang tidak melibatkan orang lain? Setiap orang, dengan suatu cara yang tak kumengerti, terhubung satu sama lain. Jay dan aku terhubung oleh pekerjaan, kami dan lelaki yang memesan wiski itu juga terhubung oleh sesuatu yang gagal kami uraikan dengan baik.

Namun, apa pun itu, ketika dua orang itu datang lagi untuk memesan wiski, kami hanya perlu menuangkan wiski ke gelas mereka. Berapa pun gelas yang mereka minta. Selama persediaan masih ada kami akan menuangkanya. Berulang kali. Sambil perlahan mencoba melupakan lelaki seperti di foto dan menganggap dua orang itu hanya sekadar pengunjung biasa seperti yang lain. Ini cukup tidak berperasaan. Namun, kami memang bukan tokoh suci. Kami hanyalah manusia yang dipenuhi celah. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top