
Apa yang tersisa dari seorang pejabat tinggi Kompeni ketika pulang ke rumah dinas dan melepas jubah jabatannya? Jawabannya, kebetulan, tersimpan dalam surat-surat pribadi pejabat fiskal di Benteng Padang berikut ini.
A van Hoogstraten seorang pejabat fiskal di sana, misalnya, mengirim surat kepada ayahnya David van Hoogstraten di Amsterdam. Isinya mengabarkan tentang kariernya yang terus membaik. Berterima kasih kepada Kompeni yang telah mengangkatnya jadi saudagar (koopman), dan kini mempromosikannya menjadi pejabat fiskal (fiscaal).
Betapa penting nilai jabatannya yang sekarang, katanya bangga, “ada nyawa manusia yang dipertaruhkannya”. Sekalipun begitu, dia mengeluh juga. Setiap hari dia harus berurusan dengan “antek-antek Vondel dan Antonides, Lyon … dan pengacara lainnya” yang membuatnya “telah kehilangan terlalu banyak waktu”.
Pada ranah hukum, kehadiran seorang pejabat fiskal (fiscaal), atau jaksa penuntut umum di Raad van Justitie atau pengadilan Kompeni memang amat penting. Ia bertugas mengajukan tuntutan-tuntutan hukum untuk melindungi keterjagaan aset-aset Kompeni maupun keberlangsungan keamanan dan ketertiban (rust en orde). Ia membawahi beberapa orang panitera pengadilan. Kiranya, ia juga membawahi sekretaris polisi, petugas polisi, dan beberapa orang penyidik.
Di luar jam kerjanya, Hoogstraten dalam surat itu, juga berbicara tentang kerinduannya akan kebiasaan minum teh sore pada keluarganya di Amsterdam—ditemani chitsen yang enak—yang tidak mungkin dilakukannya lagi di sini karena kesibukannya pada pekerjaan.
Dia bertanya kabar kakak laki-laki tertuanya di Amsterdam, teman-temannya, saudara perempuannya—Maria. Dan tentu saja dia bertanya kabar ayahnya sendiri yang telah lama sekali tidak dikiriminya surat, dan juga kakeknya yang “saya percaya telah meninggal dunia karena usianya yang sudah tua”.
Pada suratnya yang lain, kali ini kepada saudara perempuannya Maria van Hoogstraten, A van Hoogstraten mengabarkan kegiatannya pada pagi hari; pukul enam dia duduk di kebunnya (taman di dekat rumah) sambil menulis surat.
Ketika itu, katanya, dia dapat melupakan urusan kantornya sejenak. Dia menikah dengan Debora Quirinna yang berusia 20 tahun, janda Syahbandar Pieter de Geus, dan kemudian mendapatkan seorang anak darinya. “Saya memiliki seorang istri yang manis, yang sangat saya cintai, dan seorang anak perempuan berusia dua tahun yang juga sangat manis”. Mereka, katanya lagi, “dapat menghibur dan mengalihkan perhatianku ketika lelah dalam urusan kantor.”
Surat-surat pribadi semacam itu menggambarkan kehidupan keseharian pejabat-pejabat Kompeni dengan lebih jelas. Di rumah-rumah dinas, mereka akan menjalani rutinitas yang begitu-begitu saja setiap hari: sarapan roti jenis tertentu ditemani segelas kopi yang telah siap sedia disiapkan budak perempuan, minum teh di serambi rumah dinas—jika masih sempat—ketika sore sembari memandangi matahari kuning yang hampir tenggelam ke balik Samudra Hindia sambil mengudap kue-kue kering.
Mungkin mereka akan makan malam pada meja panjang dan kursi dengan sandaran tinggi, diselang-selingi teriakan-teriakan memerintah kepada para babu atau bujang—para budak—yang melayani mereka.
Lantas setelah itu mengisap dalam-dalam sebatang cerutu, mengaso dan bercengkerama dengan keluarga bagi yang punya keluarga, bercinta dengan gila-gilaan atau malas-malasan dengan istri sah ataupun istri siri sebelum dihanyutkan tidur malam.
Ketika pagi, tentu mereka akan tergopoh-gopoh ke kantor untuk menghadiri sidang atau rapat dengan sesama pimpinan atau menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dihadapi Kompeni.
Seorang pejabat fiskal seperti A van Hoogstraten, misalnya, dengan pongah akan keluar-masuk benteng diiringi tiga budak dan empat caffers (pelayan kehakiman) di belakangnya. Ketika kemudian duduk di belakang mejanya, “sebuah senapan akan disajikan di depanku” sebagai penanda otoritasnya. Lalu para pengawal akan dipanggil, laporan-laporan kasus akan dibentangkan untuk ditelisik satu demi satu, dan dengan begitu seorang pejabat fiskal dikatakan tengah bekerja.
***
Di luar informasi dari surat-surat pribadi di atas, tentang aktivitas para pejabat Kompeni, juga dapat diceritakan bahwa para pejabat Kompeni tertentu juga akan berpakansi di keluar kota. Tuan-tuan kulit putih itu beserta nyonya mereka dilaporkan beberapa kali mendatangi kampung pribumi di hulu, untuk terlibat dalam acara masyarakat lokal.Kita pertama-tama bisa melihatnya pada sebuah acara pengangkatan kulifah di Nagari Padang pada 1717. Di antara pada tamu yang hadir ialah para pejabat dari Benteng Padang. Panitia acara tampaknya telah mengundang pejabat-pejabat Kompeni untuk hadir bersama Panglima Padang dan Bendahara dan sekalian penghulu nagari itu.

Pejabat-pejabat Kompeni mula-mula naik tongkang dari benteng mereka menyusuri sungai ke arah hulu menuju rumah Panglima Padang “di mana kami tinggal untuk beberapa waktu”. Mereka akan dijamu Panglima Padang dengan segala macam makanan dan minuman yang enak-enak. Setelah itu, mereka akan pergi bersama-sama dengan tuan rumah ke sebuah lapangan terbuka di tengah-tengah kampung untuk menghadiri upacara “seorang Malayer diangkat menjadi ulama (priester)”.
Pejabat-pejabat Kompeni di Benteng Padang tercatat juga telah turun ke kampung-kampung pribumi untuk menghadiri tradisi yang lain. Sebelum turun ke sawah dimulai, misalnya, ada upacara—yang disebut tradisi memulai ke sawah (den landbouw openen)—yang dengannya orang-orang pribumi setiap tahun memulai bertani.
Nagari-nagari yang mengadakannya tidak jarang mengundang pejabat-pejabat dari Benteng Padang untuk menghadirinya. Tidak diketahui secara pasti bagaimana peran yang diambil pejabat-pejabat itu dalam kedua upacara tersebut. Apakah mereka, misalnya, diikutsertakan dalam protokol-protokol yang umum di kalangan pribumi sekarang—memberi kata sambutan agak sepatah-dua patah?
Kapiten Cina di Padang, ketika hendak memulai menggarap tanah pertaniannya, juga mengadakan acara yang lebih-kurang mirip. Tanah Kapitan Cina (het Land van de Capitein Chinees) itu terletak setengah jam dari Benteng Padang (liggende een half uur van het Fortres). Ke sanalah Kapiten Cina itu mengundang pejabat-pejabat VOC di Padang—Tuan Komandan dan serombongan besar tuan-tuan dan nyonya-nyonya.
Peran yang diberikan kepada para pejabat Kompeni yang diundang dalam acara tersebut, dan gambaran dari interaksi mereka di sana, tampak lebih jelas: Tuan Komandan dipersilakan untuk yang pertama-tama menancapkan beliung ke tanah pertanian itu, secara simbolik menandai dimulainya pengerjaan sawah. Lalu pejabat-pejabat VOC lainnya juga mengikuti untuk menancapkan beliung masing-masing ke tanah pertanian yang sama.
Respon mereka dari kunjungan-kunjungan atas itu rata-rata: ‘ganjil’, ‘aneh’, ‘jarang ditemui’ atau minimal ‘unik’. Pandangan-pandangan yang tentu saja membiaskan corak Eropa yang melihat masyarakat timur sebagai ‘yang lain’.
Sayangnya, sejauh ini, tidak ada surat-surat pribadi yang bisa dibaca yang berasal dari penduduk biasa kota, baik dari kalangan prajurit apakah lagi dari budak, jadi kita tidak tahu persis kehidupan keseharian mereka— dan apa yang mereka pikirkan dan tengah rasakan?
Bagaimana lagi, yang tersisa dari masa itu memang hanya suara satu pihak, dari mereka yang punya kertas, tinta, dan alamat kirim di seberang lautan. Suara babu yang menyeduh kopi tiap pagi, budak yang dicambuk perintah di meja makan, atau prajurit yang berjaga di gerbang benteng, tak pernah sempat terekam dalam bentuk surat. Sebab menulis surat pribadi adalah kemewahan yang hanya dimiliki tuan-tuan Kompeni.
Maka, arsip yang tersisa hari ini, betapa pun kayanya ia menyingkap kerinduan, keluh kesah, dan cinta seorang pejabat fiskal pada keluarganya di Amsterdam, tetaplah arsip yang timpang: ia menyimpan suara penguasa, dan membiarkan yang dikuasai tenggelam dalam senyapnya sejarah.
[Selengkapnya dalam buku Padang Abad XVII-XVIII: Sejarah Masyarakat dan Tradisi, Kabarita, 2026 (cet. 2)]




