
Setelah kelam tiba-tiba, perlahan cahaya merah muncul dari sudut-sudut panggung. Terlihat kabut asap merayap dari sebelah kiri sebuah pondok, yang di sana, di sisi kanannya seorang anak tampak sedang memainkan bansi, alat musik tiup khas Minangkabau. Nada bansi menembus malam, berat dan syahdu, yang tingkah bunyi bagai sedang dimainkan jemari mungil gadis kecil berbaju kurung basiba warna sirah.
Setelah lirih suara bansi hening, gadis kecil itu bergerak ke arah kiri. Lalu, di lain ketika ia melangkah ke area yang lebih lapang. Di tangannya, mirip seekor tupai yang terbuat dari sapu tangan tergenggam lembut, yang kelak akan dimainkannya sebagai tupai janjang. Tak lama terdengar suara lirih gadis kecil.
“Kini hutanku telah banyak ditumbuhi sawit. Tak banyak lagi buah karamuntiang yang dulu kami cari. Mungkin orang bunian telah kehilangan tempat tinggalnya.”
Cahaya merah dengan latar gelap, terlihat bagai melingkupi gadis yang bersuara lirih itu. Ia terus berkata-kata, hingga terdengar bagai menikam hulu hati: “Orang bunian adalah saksi galodo Palambayan. Apa mungkin itu murkanya orang bunian yang kehilangan hutan rimbanya…”
Tak lama, terlihat gadis kecil berbalik arah melangkah ke pondok dimana tadi dia duduk berbansi. Dari arah samping kanannya melangkah, tampak perempuan-perempuan muncul dengan dama togok menyerupai obor kecil menyala di kiri dan kanan tangannya.
Mereka bergerak berlain arah, yang berakhir pada titik yang sama: meletakkan nyala api obor secara berjejeran di depan sebuah tungku. Kemudian mereka menaiki pondok. Di tengah lapangan, seorang perempuan berdendang dengan suara yang risau sementara di belakangnya bergerak lamban laki-laki dengan payung putih melindungi kepalanya: “Alam takambang jadi guru, nan tumbuh jan dipatahkan.”

Demikian bagian-bagian koreografis yang “dikutip” dari pertunjukan tari kontemporer karya Joni Andra dengan judul “Si Bunian Palembayan” dari Impessa Dance Company, di ruang terbuka Taman Budaya Sumatera Barat, 10 Juli lalu. Joni Andra mengangkat kisah dari kampung halamannya sendiri, yaitu Palembayan, Agam. “Si Bunian Palembayan” mengkritik alih fungsi hutan besar-besaran menjadi kebun sawit di Palembayan, Kabupaten Agam. Karya ini menafsir ulang mitos Urang Bunian dari makhluk yang ditakuti menjadi penjaga rimba, dan lahir sebagai respons atas bencana galodo yang menerjang kampung halamannya pada akhir 2025.
Urang Bunian, salah satu sisi filosofis yang diangkatnya, sebagai bagian kehidupan di Palembayan, yang mistik dan penuh pesan moral. Tak hanya selaras hidup dengan manusia di sekitarnya, tapi juga menjaga dan melindungi hutan dari tangan-tangan jahat yang merusak keberadaannya.
“Karya ini tercipta, dengan harapan memberikan sebuah edukasi pada masyarakat untuk mencintai hutan dan lingkungannya, menjadikan orang bunian sebagai simbol kesetiaan untuk menjaga seluruh hutan dan alam sekitarnya,” kata Andra, koreografer yang dikenal kritis terhadap isu lingkungan dan kebudayaan ini kepada cagak.id seusai pertunjukan.

Si Bunian Palembayan adalah sebuah karya tari kontemporer berbasis gerak silat yang ada dalam kesenian Tupai Janjang, yang berasal dari daerah Palembayan, Kab. Agam, Sumatera Barat.
Karya ini sebagai karya inovatif kreatif, didukung dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI, karena mengkolaborasikan dari beberapa cabang seni, seperti seni rupa untuk setting panggung, musik sebagai pengiring dan isian dalam karya tari. Sastra dalam bentuk puisi yang hadir dalam karya tari kontemporer Si Bunian Palembayan.
Menjadi Metafora Ekologis
Sebagai sebuah pertunjukan, upaya Andra secara artistik terlihat ingin menghadirkan suasana magis dan ritmis: musik yang mendukung visual dengan cahaya merah redup dan asap yang bergerak lamban lalu lesap ke udara kelam terasa menawarkan suasana yang khas. Gerak-gerak penari dengan baju berumbai, dengan warna menyerupai sulur-sulur tanaman, menyiratkan sisi tak terlihat urang bunian, yang sejatinya menyatu dengan alam dan tak terlihat kasat mata. Di sisi kiri, perempuan-perempuan berbaju kurung basiba menghadap tungku bagai sedang memasak sesuatu.

Tidak mudah bagi seorang koreografer untuk menawarkan tafsir tentang kehidupan Urang Bunian dan fakta hari ini, terkhusus Palembayan pascagalodo, yang jika dikaitpautkan, ada pesan alam yang harus direnungkan.
Dalam kosmologi Minangkabau dan Melayu, urang bunian adalah makhluk halus penghuni rimba — serupa manusia, tetapi hidup di dunia yang tak kasat mata, di balik batas hutan larangan. Mereka bukan sekadar jin atau peri; mereka adalah penjaga batas, dewa penjaga hutan, penanda bahwa alam punya wilayah yang tidak boleh dijamah manusia. Cerita orang yang “hilang dibawa bunian” sebagaimana dikatakan Joni Andra, yang juga riset soal ini, pada dasarnya adalah peringatan: ada teritori alam yang menuntut rasa hormat.
Alam takambang jadi guru, nan tumbuh jan dipatahkan, sebagai salah satu pesan filosofis pertunjukan ini, yang bisa dipahami sebagai sebuah nilai untuk menjaga alam. Narasi tersebut disampaikan melalui dendang, dalam suasana yang ritmis.
Ketika Urang Bunian diangkat ke panggung tari kontemporer dan disandingkan dengan isu lingkungan, terjadi pergeseran makna yang menarik. Urang Bunian tidak lagi sekadar tokoh mistis, melainkan menjadi metafora ekologis: mereka adalah personifikasi hutan itu sendiri. Jika hutan ditebang, dikeruk, dan dibakar, dijadikan kebun sawit maka bunian pun “terusir”. Melalui pertunjukan ini Joni Andra secara kritis bertanya: ketika yang gaib kehilangan rumah, ke mana manusia akan pulang? Ingatan kita kembali ke narasi yang ditutur oleh Sean: “Kini hutanku telah banyak ditumbuhi sawit. Tak banyak lagi buah karamuntiang yang dulu kami cari. Mungkin orang bunian telah kehilangan tempat tinggalnya.”
Kritikan yang diajukan Joni Andra melalui “Si Bunian Palembayan”, bukan hanya kegagalan atau jahatnya kebijakan, tetapi juga akibat terlemparnya manusia modern dari narasi-narasi yang dulu mengajarinya takut dan hormat pada alam. Ungkapan tak banyak lagi buah karamuntiang, sebagai hilangnya masa lalu yang selaras dengan alam: manusia menjaga, alam memberi makna.
Dari Pengalaman Personal
Bagi koreografer Joni Andra, karya tari kontemporer “Si Bunian Palembayan” bukan sekadar pertunjukan, melainkan jawaban atas kegelisahan panjang terhadap kampung halamannya, Palembayan, Kabupaten Agam. Perjalanan pulang dari Padang melewati Lubuk Basung membuatnya tertegun: rimba raya yang ia kenal semasa kecil telah berganti hamparan sawit di kiri-kanan jalan. Kegelisahan itu berubah menjadi keyakinan ketika galodo menerjang kampungnya pada akhir 2025, tepat saat karya ini sedang digarap. “Setelah melihat apa yang menimpa kampung halaman saya, saya tertegun. Itulah yang meyakinkan saya harus mengadakan pagelaran,” ungkap koreografer yang telah berkarya lebih tiga puluh tahun itu.

Sosok Urang Bunian dalam karya ini lahir dari pengalaman personal Andra semasa kecil di rumah panggung Inyiak dan Ibuk—kakek dan neneknya. Ia pernah menyaksikan arak-arakan obor dan bunyi talempong di perbukitan pada malam hari yang oleh neneknya disebut “Urang Bunian baralek”, hingga peristiwa lasuang seberat angkatan sepuluh orang dewasa yang “dipinjam” tengah malam dan kembali seminggu kemudian.
Melalui riset tiga bulan, termasuk menelusuri arsip Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat dan kesaksian warga, Andra sampai pada kesimpulan yang membalik tafsir umum: Urang Bunian Palembayan bukan makhluk jahat, melainkan peri atau dewa penjaga hutan. Manusia yang “diculik”, menurutnya, justru mereka yang pernah merusak alam—sebuah hukuman sebab-akibat, bukan kejahatan. Maka galodo, di mata Andra, bukan semata kemarahan alam, tetapi juga kemarahan Si Bunian. “Jin seperti mereka saja mau menjaga alam. Kok kita manusia, bisanya merusak,” sindirnya.
Secara artistik, Andra tetap berpijak pada gerak sebagai pusat komposisi, namun memperkayanya dengan unsur sendratasik agar penonton “terpapah” pada narasi yang sama. Gerak tari dikembangkan dari pakem silek dan tari Minangkabau—tangan rapat, luwes tapi tegas, tidak mendayu—serta karakter melompat si Tupai Janjang, sastra lisan Palembayan yang nyaris punah dan sengaja ia hidupkan kembali lewat penuturan bocah sebelas tahun, Seanna Gyove Inara, yang membuka pertunjukan dengan tiupan bansi. Musik garapan Ossi Darma Desprian mengikuti prinsip Andra bahwa gerak lahir lebih dulu, baru musik mengiringinya, dengan idiom bunyi-bunyi alam dan tradisi Palembayan.

Sepuluh penari dari Impessa Dance Company dan Kata Gerak terbagi dalam dua kelompok kostum serba cokelat—warna tanah dan batang pohon: lima “Urang Bunian” berumbai menyerupai sulur rimba, lima lainnya orang kampung berbaju kurung basibah dan batik lama. Instalasi panggung terbuka karya Rahmat Fernando A. mengusung konsep “respon ruang” yang menghadirkan rimba raya di atas pentas. Simbol paling kuat muncul di ujung pertunjukan: payung yang dibakar, perumpamaan hutan pelindung yang habis dialihfungsikan menjadi lahan sawit—alasan ekonomi yang bagi Andra sulit diterima, sebab banyak tanaman lain seperti kopi, kakao, hingga kayu manis bisa jadi komoditas tanpa merusak alam.
Sebagai karya baru yang belum pernah dipentaskan sebelumnya, “Si Bunian Palembayan” diharapkan Andra menjadi bahan perenungan bagi seluruh lapisan masyarakat—terutama penonton kota, pengambil kebijakan, dan generasi yang tak lagi mengenal hutan. Ia sadar mitos akan selalu diperdebatkan, tetapi baginya bukan itu intinya. “Tidak perlu jauh-jauh memperdebatkan mitos… cobalah dengan memahami, bahwa dengan merusak alam, yang rugi adalah diri kita sendiri,” tuturnya.
“Si Bunian Palembayan” pada akhirnya hanya mengingatkan dengan cara yang paling halus: lewat gerak, bunyi, dan sebuah payung yang terbakar—bahwa selama ini alam sudah menjaga kita, dan kini giliran kita yang menentukan, masih mau menjaganya atau tidak.

Dengan Manajer Produksi Tan Welby Janitra, pertunjukan ini didukung Asisten Koreografer Nurima Sari, dan para penari: Ghaniyah Dwirbelia, Kirana Alycia Khairin, Miyah Agustina, Intan Resma Yuniati, Dwi Oppy Aprilisa, Dinda Syahiba, Ririn Chayrunisa, Maziyah Ramadhani, Dinatul Islami, Viqri Muharrom.
Sedangkan penutur dalam pertunjukan ini adalah Seanna Gyove Inara. Untuk komposer dipercaya kepada Ossi Darma Desprian, instalasi artistik: Rahmat Fernando A, Abel Ghandur, sedangkan penata suara dan cahaya oleh DSP Sound. []




