Anwar St. Saidi dan Urban Landscape

JudulTugu Pemuda Sumatera (Lapangan DIPO Padang)
PenulisAnwar St. Saidi
PenerbitNV. Tenunan Padang Asli, 1967
Tebal52 halaman

Anwar St. Saidi, salah seorang pendiri Bank Nasional dan pendiri penerbit NV Nusantara, merupakan salah seorang pejuang dan tokoh penting dalam lapangan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan juga sosial budaya di Sumatera Barat. Perhatiannya yang besar dalam beberapa bidang tersebut dibuktikannya dengan semangat dan kerja keras.

Akan tetapi, melalui buku ini, Anwar St. Saidi menunjukkan kelebihannya yang lain, seorang pengamat tata ruang kota yang baik. Fokus utama buku ini adalah keberadaan tugu pemuda Sumatera, yang berhubungan dengan berdirinya Jong Soemateranen Bond, pada tanggal 9 Desember 1917 di asrama Stovia, oleh Amir, Anas, Tengku Mansoer, Moenir Nasution, Nazir Datuk Pamontjak, dan lain-lain. Dibanding organisasi serupa yang lain, JSB ini merupakan satu-satunya organisasi yang terdiri dari berbagai suku pada masa itu. Tugu ini secara khusus didirikan, tahun 1920, untuk mengenang Kongres Jong Soemateranen Bond yang pertama di Padang, pada Juli 1919.

Namun demikian, Anwar St. Saidi tidak hanya berbicara tentang tugu itu, yang dirasanya sangat penting namun tidak banyak orang yang menaruh perhatian. Mungkin juga hingga saat ini. Ia memberikan konteks yang lebih luas berkaitan dengan peristiwa sosial politik pada masa itu. Pada bagian tengah buku ini, ia menjelaskan secara detail peran dan aktivitas Bung Hatta, sejak belajar di MULO Padang hingga kepindahannya ke Batavia, Rotterdam, dan kembalinya ke Indonesia. Akhir tahun 1932, Hatta pulang kampung untuk menemui keluarganya. Akan tetapi, ia juga berhubungan dengan aktivis sosial politik di Sumbar, yang membuatnya harus ditangkap oleh pihak Belanda. Ia dikenakan passenstelsel, diusir dari Minangkabau. Ia memilih untuk dibawa ke Batavia dan selanjutnya dibawa ke Digul.

Sejumlah tulisan tangan Hatta berhasil diselamatkan oleh adik Hatta, Bariah, dan selanjutnya diserahkan kepada Giassuddin dan akhirnya sampai ke tangan Anwar St. Saidi. Atas usaha Anwar St. Saidi juga, ketika ia bertemu Edeleer Ch. O. Van der Plas di Park Hotel Bukittinggi, agar Hatta diselamatkan dari Digul karena Jepang sudah hampir menguasai Indonesia, dan kemungkinan Hatta akan dibunuh oleh Jepang.

Di bagian lain buku ini, Anwar menulis tentang perjuangan M. Yamin dalam usaha membangkitkan semangat pemuda pada masa penjajahan. Yamin ketika JSB didirikan baru berusia 14 tahun, masih duduk di kelas dua Normal School Padangpanjang. Namun ia telah berkawan dekat dengan Abdoel Moeis, bahkan sering disuruh mengantar tulisan-tulisan untuk Oetoesan Melajoe di Padang, lewat masinis kereta api.    

Peran besar Yamin adalah ketika Kongres Pemuda dilaksanakan. Akan tetapi, peran Anwar dan Taher Marah Sutan juga tidak kalah pentingnya. Seperti dicatat, Yamin menceritakan: Kongres Pemuda dua bulan lagi akan berlangsung, uang untuk biaya kongres masih amat sedikit, maka saya menulis surat kepada Engku Mohammad Taher Marah Sutan di Padang meminta supaya ditjarikan uang untuk biaya kongres itu; sebulan kemudian saja menerima postwissel berisi f. 800,- (delapan ratus rupiah Belanda tahun 1928). Dengan kiriman uang tsb. berlangsunglah Kongres dengan meriah dan mengambil putusan jang sekarang terkenal dengan nama Sumpah Pemuda (hlm. 35-36).  

Tugu Michiels yang lebih besar dibandingkan tugu pemuda Sumatera, terletak di lokasi yang sama, di kawasan Taman Melati, Dipo, dibongkar oleh Jepang pada tahun 1943. Sementara tugu pemuda Sumatera yang lebih kecil, kemudian diperbaiki. Usaha itu tidak lain adalah usaha dari Anwar St. Saidi, melalui PT. Tenunan Padang Asli yang dimilikinya. Pengerjaannya dilakukan oleh Ir. Oei Teng Tie dan Ir. Sjamsoe Asri, pemimpin biro arsitek CV Rangkiang, tanpa honorarium, tentu saja.


Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top