
Ada orang, Haji Suir sapaannya. Ia belum haji, tetapi sudah dipanggil haji. Hal demikian, lazim saja di kampungnya. Ada yang dipanggil ketua, padahal dia tidak mengetuai apa-apa. Ada yang dipanggil buya, mengaji tak bisa salat pun tidak. Asal panggilan buya karena olok-olok saja, dikarenakan ia suka main remi, gerak jarinya diplesetkan sebagai bentuk itungan zikir. Ada pula yang dipanggil bos, juragan, komandan yang kesemuaannya tak ada kaitannya dengan aktivitas terkait gelar itu.
Begitu juga Haji Suir. Dikarenakan suatu ketika dulu, Pak Muhidin sepulang naik haji ke Makkah, bertemu dengan si Suir.
“Ada agak satu oleh-oleh dari Makkah untuk saya Pak Muh,” tanya Suir ketika bertemu Pak Muhidin selepas salat Jumat di masjid kampung. Pak Muhidin tersenyum, sembari mengangguk menjawab, “Jeputlah ke rumah nanti petang!”
Petang harinya, si Suir ke rumah Pak Muhidin, yang kini disapa Haji Muh. Begitulah kebiasaan di kampung tersebut, asal seseorang sudah pulang naik haji, ia akan dipanggil dengan Pak Haji di awal namanya, misal Haji Met, Haji Pais, Haji Dedi, Haji Haris, Haji Tyo dan lainnya. Tak jarang pula, dipanggil Pak Haji saja.
“Ini kopiah haji untukmu,” kata Pak Muhidin eh Haji Muh sambil menyerahkan sebuah kopiah berwarna putih ke Suir.
“Masya Allah, terima kasih Pak Haji Muh….” Jawab si Suir.
“Sama-sama ya Haji Suir,” jawab Haji Muh ketika kopiah putih itu telah melingkar di kepala Suir. Lalu ia tertawa. “Dengan berkopiah itu, kau tampak sebagai haji….”
“Maksudnya?” Suir bertanya.
“Dengan kopiah itu tak apalah kupanggil haji pula, Haji Suir begitu,” Haji Muh terkekeh.
Mendengar namanya disebut sebagai “Haji Suir”, ia langsung tergagap, ikut tertawa, lalu menyahut, “Aamiin, masih melekat aura Makkahnya di kopiah ini ya….”
Ia berharap, sebutan “Haji Suir” yang disebut Haji Muh, sebagai doa, yang akan dikabulkan Allah kelak agar bisa ke Makkah pula.
Sejak saat itu—mula-mulanya panggilan seloroh—Suir disapa Haji Suir oleh Haji Muh. Dan lama kelamaan banyak yang dengar Haji Muh memanggil Haji Suir. Mulai di lepau, surau, acara gotong royong. Karena Haji Muh sering menyapa Suir dengan Haji Suir, melekatlah sapaan itu, Suir sudah bagai haji saja. Apalagi, kopiah haji berwarna putih itu sejak diberi Haji Muh, hampir tak lepas dari kepalanya, setiap hari dipakai.
Sebagai haji yang tak pernah naik haji, dipanggil dengan Pak Haji atau Haji Suir, baginya itu ibarat doa, walau dalam hatinya ada gemuruh ketaknyamanan karena mula-mula merasa sebagai olok-olok, umpama cemoohan juga terasa. Untuk menenangkan hati, si Suir diam-diam bergumam menyebut “aamiin” ketika ada yang menyapa atau mengoloknya dengan sebutan “haji”. Dia anggap sebagai doa saja. Dan, bukankah, salah satu kebanggaan laki-laki dewasa di kampung ini disapa dengan panggilan “haji”, pak haji. Iya. Cuma betul-betul pulang dari berhaji.
Cuma ada satu yang membuat hatinya makin tidak enak. Yaitu, si Udin sering mengolok-oloknya di lepau dan didengar banyak orang. Si Udin, menyebutnya “haji tak bertelinga!”
Ada sebab tentu. Si Suir yang tak pernah pergi haji disapa haji itu sering berkata menjengkelkan: “Percayalah pada saya. Anak si Karimun ikut tes polisi. Tidak akan lulus. Hobi dia begadang, perokok dan uang pelicin tak punya pula. Potong telinga saya, kalau dia bisa jadi polisi.”
Dan ternyata anak Pak Karimun lulus, kini sudah berdinas jadi polisi. Nah ingat kan, yang ngomong “potong telinga saya” kalau….
Di lain waktu, Haji Suir berkata di Lepau Menan yang sedang ramai, “Kabarnya, si Asman, membuat proposal minta bantuan ke Si Arnol yang anggota DPRD untuk perbaikan WC masjid. Saya yakin tidak akan dapat itu. Saya kenal si Arnol, sempelit kering, kikir dia itu. Potong telinga saya kalau dikasih bantuan sama si Arnol itu!”
Dan, dan ternyata, Arnol memberi bantuan dana perbaikan WC masjid seluruhnya. Haji Suir yang bilang “potong telinga saya”, beberapa hari setelah bantuan diterima pengurus masjid, jadi olok-olokan warga lepau.
“Hei Suir, ini pisau Pak Leman, potonglah telingamu….” Seloroh Juirman, disambut olok-olok Udin.
“Kalau di mata aku, Suir eh Haji Suir ini sudah tidak tampak telinganya. Sudah sering aku mendengar dia bilang potong telingaku kalau…. Kalau… kalau….” timpalnya lagi.
Suir hanya tersenyum santai, walau mukanya agak merah padam melihat mereka yang tertawa terkaka.
“Hei Ji, Haji Suir, mulai hari ini kau tak boleh lagi bilang potong telinga kalau…, kalau…, kalau apalah itu….”
Haji Suir yang mencoba pura-pura asyik bertanya enteng ke si Udin.
“Kenapa kau larang-larang pula aku berkata begitu…?” Jawab Haji Suir sambal memperbaiki letak kopiah haji hadiah dari Haji Muh.
“Telingamu kan cuma dua, yang dua itu sudah habis kau potong berkali-kali karena yang kau remehkan tak terbukti…. Di mataku telingamu bagaikan sudah tak ada…. Jika sebutanmu haji, maka lengkapnya haji tak bertelinga atau haji potong telinga….”
Semua orang di lepau tertawa. Haji Suir ikut tertawa. Tertawa orang tertawa pula dia, yang ditertawakan orang dia. (***)




