| Judul Buku | Di Lembah Situjuh Batur |
| Penulis | Darman Moenir |
| Penerbit | Tigaa Sari Utama, Padang, 1993 |
| Tebal | 63 halaman |
Peristiwa rapat, penyerbuan Belanda, dan pengkhianatan di Situjuh Batur pada 15 Januari 1949, merupakan sebuah peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Peristiwa pada subuh hari, ketika para pemimpin tentara republik, pimpinan sipil, dan para pejuang beristihat karena semalaman hingga pukul 03.30 melakukan rapat untuk mengatur rencana perjuangan. Mereka yang sebagian tengah tertidur pulas, sebagian berjaga hingga pagi, atau mereka yang sedang menunaikan salat subuh, harus menerima serangan mendadak pihak Belanda yang mengepung lembah.
Hanya ada satu dua jalan keluar, yang sudah pasti dijaga oleh Belanda. Sebagian harus memanjat tebing agar sampai ke kampung terdekat, Padang Siantah. Itupun sudah pasti berada dalam jarak tembak dan intaian Belanda. Ketika Belanda benar-benar turun dan menembak serta membantai mereka yang berkumpul, hanya sedikit yang mampu mendaki dan menyelamatkan diri. Selebihnya harus menghadapi serangan yang tiba-tiba dan tanpa persediaan senjata dan amunisi.
Serangan itu menyebabkan kematian 69 orang, baik di pihak republik maupun Belanda. Kejadian yang membuat geram para pimpinan militer dan sipil Republik Indonesia. Serangan Belanda itu dikarenakan ulah pengkhiatan Kamiluddin Tembiluk, pengawal dan orang kepercayaan Dahlan Ibrahim. Kamaluddin Tembiluk telah beberapa kali sebelumnya ternyata bekerja sama dengan Belanda. Ia akhirnya mati di tangan orang banyak, masyarakat yang benci dengan ulah pengkhiat bangsa sendiri.
Cerita Di Lembah Situjuh Batur ini ditulis oleh Darman Moenir, yang ditujukan sebagai bacaan anak-anak untuk mengenal sejarah. Dari keterangan Darman Moenir yang tertera di pengantar buku ini, ketepatan dan kesahihan isi peristiwa sejarah menjadi kekuatan buku ini. Namun demikian, peristiwa itu ia hadirkan dalam bentuk fiksi, meski nama dan latar belakang waktu dan tempat disajikan sesuai dengan fakta yang ada. Bagi saya, buku ini menghadirkan sedikit pertanyaan, terkait dengan deskripsi cerita yang dihadirkan dan tujuan penulisan dan penerbitannya. Darman Moenir, pada beberapa bagian, menyajikan ilustrasi kejadian yang sepertinya tidak sesuai untuk dinikmati anak-anak.
“Sjamsul Bahar mendengar sorak-sorai dan teriak-teriakan tentara Belanda. Terdengar perkelahian berlangsung. Ia pun mendengar penyembelihan dilakukan! Darah-darah segar mengalir ke selokan, tertahan di atas jerami dan selembar seng pelindung tubuh Sjamsul Bahar.” (hlm. 43). Tetapi ini, tentu saja, akan diterima berbeda dengan tingkat kedewasaan pembaca. Seperti ditulis Darman, “Dengan demikian saya ingin mengatakan, Di Lembah Situjuh Batur ini memang saya maksudkan untuk anak-anak, atau untuk anak-anak yang sudah bisa berpikir seperti kakak-kakak mereka yang duduk di bangku Sekolah Menengah, bahkan juga untuk ayah mereka dan ibu mereka semua. Jikalau tidak demikian, ia (buku ini), dimaksudkan untuk bahan bacaan bagi mereka yang sudah dia atas lima belas tahun, tetapi masih berpikir secara anak-anak, dan kekanak-kanakan” (hlm. vi). Namun demikian, kita dapat membaca buku ini untuk referensi penting bagi mengenal sejarah daerah dan perjuangan bangsa, tanpa harus menghindari diri disebut anak-anak atau kekanak-kanakan.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





