Sahayun dalam Konteks Revitalisasi Sastra Pedalaman

JudulSahayun Kumpulan Puisi Indonesia
PenulisTan Lioe Ie, dkk.
PenerbitYayasan Taraju, 1994
Tebal70 halaman

Pada tahun 1994, Yayasan Taraju menerbitkan sebuah antologi puisi berjudul Sahayun Kumpulan Puisi Indonesia. Buku ini merupakan Kumpulan puisi pemenang lomba yang diadakan oleh Yayasan Taraju. Minat peserta lomba ini luar biasa, dengan kiriman 806 judul puisi yang masuk ke meja penjurian. Dewan juri yang terdiri dari Mursal Esten, Atma Zaki, dan Alda Wimar, kemudian memilih sepuluh puisi terbaik dan tiga puluh lima puisi nominasi terbaik, yang kemudian dibukukan dalam Sahayun ini.

Era 1990an merupakan masa yang sangat dinamis dalam dunia perpuisian dan kesusasteraan di Indonesia. Pada masa ini gerakan revitalisasi sastra pedalaman sedang hangat. Sebuah kampanye sekaligus gerakan yang mempertanyakan otoritas dan standar estetika yang diterapkan dalam kesusasteraan, khususnya media dan juga lembaga mainstream di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Ekses dari gerakan revitalisasi sastra pedalama ini, salah satunya, adalah jaringan yang menguat di berbagai daerah. Mereka yang menjadi bagian dari revitalisasi ini kemudian mengadakan berbagai acara, seperti pertemuan sastra, lomba penulisan sastra, publikasi bersama, dan aktivitas diskusi. Yayasan Taraju, saya kira, juga berada dalam konteks sosial yang dinamis dalam kesusasteraan ini. Lomba dan publikasi, seperti Sahayun ini, menjadi salah satu bentuk dari jaringan yang kuat antara para penyair di berbagai daerah di Indonesia.

Sepuluh puisi terbaik dalam buku ini ditulis oleh Tan Lioe Ie, Yaan Zn, Meifrizal, Agung Bawantara, Warih Wisatsana, K. Landras Syaelendra, Endang Supriadi, Gus tf, dan Suhendra. Dua puisi Agung Bawantara masuk dalam sepuluh puisi terbaik. Sementara tiga puluh lima puisi nominasi terbaik ditulis oleh sejumlah penyair dari berbagai daerah. Sejumlah besar penyair dari Sumatra Barat termasuk dalam pilihan ini.

Dilihat dari tema yang ada dalam puisi-puisi terpilih ini, tidak ada keseragaman. Sepertinya panitia tidak menetapkan tema tertentu sebagai pengikatnya. Selain secara eksplisit catatan juri yang tidak menemukan kekhususan dari semangat sastra pedalaman. Para penyair mengeksplorasi berbagai tema, sumber, dan bentuk yang beragam. Puisi-puisi yang masuk dalam kumpulan ini menunjukkan pencapaian estetika dalam berbagai aspek.

Seperti pembicaraan dalam tulisan sebelumnya mengenai antologi puisi Batin, kumpulan puisi Sahayun ini juga memiliki posisi yang penting sebagai dokumentasi atas capaian dan penciptaan puisi dalam kurun waktu tertentu. Puisi-puisi yang dikirimkan oleh para peserta dalam lomba ini mungkin saja adalah puisi-puisi terbaik, yang memiliki kekuatan estetika pada tahap tertentu. Kita dapat merasakan berbagai tawaran tema dan bentuk pengucapannya dalam puisi-puisi ini. Satu hal umum yang terkesan adalah adanya kritik atas persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar. Contoh petikan puisi berjudul Bintang yang Menempuh Badai (Sthiraprana Duarsa) berikut ini memperlihatkan bagaimana kritik yang dramatis.

Ibu yang berduka menabur bunga
Di atas bunga cinta yang tumbuh di halaman kekuasaan
Tangan yang merah oleh darah
Melepas bayang-bayang yang tak mungkin berkelit
Dari tebasan pedang

Di manakah kita kini dapat duduk dengan tenang
Agar bisa mengenang semua yang musnah
Kapankah kita mulai belajar tentang kepedihan
Kekerasan yang mengalahkan ketakutan
Dan melahirkan kekerasan

Kumpulan puisi Sahayun ini juga memberikan data bahwa Sumatra Barat memiliki posisi yang penting dan diperhatikan oleh para sastrawan di Indonesia. Sejumlah penyair dan sastrawan pada umumnya menjadikan Sumatra Barat sebagai salah satu titik penting untuk dijadikan sebagai mata rantai dalam berbagai dinamika sastra.  


Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top