
Saya menghubunginya lewat pesan pendek. Saya jelaskan kepadanya bahwa beberapa mahasiswa saya membuat website khusus memuat artikel-artikel tentang karya sastra. Di dalamnya ada cerita pendek, esai dan kajian sastra, puisi, jurnalisme sastrawi, dan beberapa genre lain yang tak jauh dari sastra. Salah satu alasan beberapa mahasiswa saya membuat laman yang tak populer itu, karena banyak media cetak yang dulu membuka halaman sastra, kini sudah menutupnya. Jika ada yang masih buka, mereka tak menyediakan honorarium lagi –sesuatu yang penting bagi profesi penulis. Munculnya banyak media internet yang menyediakan ruang satra, juga tak banyak yang menyediakan honorarium. Kalaupun menyediakan, jumlahnya relatif kecil. Tak sebanding dengan harga rokok dan kopi—dua benda sangat akrab dengan para penulis—yang sekarang sangat mahal. Meskipun mungkin ada pengasuhnya yang harus iuran agar bisa menghonori penulis.
“Siapa tahu di perusahaan Bung masih ada remah-remah yang bisa membantu para mahasiswa saya itu agar bisa memberi honorarium layak bagi para penulis yang dimuat …,” kata saya dalam pesan pendek itu.
Cukup lama dia membalasnya meskipun ketika saya kirim langsung ada centang biru pada pesan itu.
Siang hari, ketika saya keluar kelas dan akan makan siang di kantin fakultas, saya membuka pesan. Saya lihat ada balasan dia. “Kira-kira berapa honorarium per tulisannya, Bung?”
“Sudah lengkap saya buat dalam proposal, Bung,” jawab saya.
“Saya tak sempat membacanya. Kirim nominalnya di chat ini aja ya,” balasnya lagi. Kali ini dia cepat membalasnya. Mungkin karena jam makan siang dan dia sudah agak longgar waktunya, makanya bisa membalas dengan cepat.
Sebenarnya saya ingin langsung bicara lewat telepon, tapi saya enggan. Segan tepatnya. Dia sudah punya jabatan tinggi di perusahan negara itu, tak selevel dengan saya yang hanya seorang dosen bergaji dan berinsentif berapa yang kamu pasti tahu jumlahnya. Juga, dengan mengirim pesan—jika dia tidak memasang timer yang dalam jangka waktu tertentu pesannya bisa hilang—akan menjadi pengingatnya.
Tiga hari kemudian, dia mengirim pesan. Isinya membuat saya tersenyum. Kali ini pesannya agak panjang. “Salam Bro,” katanya, mengganti panggilan dari biasanya ketika kami saling sapa di chat maupun media sosial selama ini. “Sebelumnya saya minta maaf betul. Saya senang Bro masih perhatian dengan dunia sastra yang dulu sama-sama kita jalani semasa kuliah. Tak banyak orang yang setia seperti itu. Biasanya kalau hidupnya sudah mapan atau merasa dunia itu tidak nyaman, akan meninggalkannya dan fokus ke bidang lain. Tapi saya salut padamu. Di sela waktumu mengajar, kamu masih bisa membimbing banyak anak muda di bidang itu di komunitas yang kamu dirikan dan menginisiasi penerbitan website khusus bidang sastra itu. Saya sudah membaca link media yang dikelola oleh para anak didikmu itu. Luar biasa. Banyak penulis besar sekarang yang menulis di sana. Jika terus dikelola dan sabar, media itu akan menjadi rujukan para penulis sastra maupun kritikus, juga pembaca umum, seperti beberapa media besar di zaman kita dulu yang sekarang sudah banyak ditutup itu ….”
Lumayan panjang. Itu chat dalam satu kiriman pertama.
Yang kedua, “Saya angkat topi untuk apa yang kamu lakukan selama ini. Kamu masih idealis seperti dulu waktu kita ke sana-sini, ke Taman Budaya di tepi laut itu, di Gedung Abdullah Kamil, dan di mana pun acara sastra diadakan. Tapi, Bro … ini yang menjadi masalah. Bro tahu sendirilah kondisi sekarang. Semua perusahaan BUMN sedang menjadi sorotan media dan lembaga hukum. Kami merekrut pegawai saja diawasi dengan ketat, apalagi mengeluarkan uang, sangat ketat pengawasannya. Serupiah pun dihitung oleh pengawas, peruntukannya harus jelas. Yang menjadi persoalan sekarang, BUMN yang sekarang ikut saya kelola ini kan tak ada hubungannya dengan dunia sastra atau literasi. Ketika saya usulkan dalam rapat pimpinan, mereka tak setuju. Alasannya, pemerintah sekarang banyak menggelontorkan dana lewat berbagai kementerian di bidangnya untuk membantu perkembangan dunia sastra dan literasi. Ada Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Dana Abadi yang sekarang dikelola LPDP, dan banyak lagi. Saya sudah berusaha maksimal mungkin menjelaskan, tapi ya, maklumlah, meskipun posisi saya ada di atas mereka, tapi untuk keputusan masalah keuangan, memang diputuskan bersama .… Sekali lagi, saya minta maaf ya Bro. Kontaklah jika kebetulan ke Jakarta. Ngopi kita….”
Sambil tersenyum, saya masih memandang chat yang panjang itu. Seorang mahasiswi yang sedang lewat, menyapa saya. Mengingatkan sebetulnya. Mungkin dilihatnya saya sedang bengong. “Pak, mi sagunya terlanjur dingin, nanti tak enak lagi ….”
Saya tergagap dan hanya bisa membalasnya dengan tersenyum.
***
Namanya Ahmadi Syarif. Kami dipertemukan dalam sebuah Diklat Jurnalistik yang diadakan media kampus di aula rektorat. Saya tahun kedua ketika itu. Kami beda fakultas. Dia di Fakultas Ekonomi sedang saya di Sastra. Tapi kami satu angkatan. Ketika itu, saya sudah kerja part time sebagai wartawan di koran lumayan berpengaruh di Padang. Lumayanlah. Honornya bisa untuk bayar kos, makan selama sebulan, juga bisa sesekali nonton film di Bioskop Raya atau Presiden, dan lainnya. Lebihnya bisa beli buku.
Saat diklat itu, kami makin didekatkan dengan kesamaan hobi masing-masing, yakni menulis karya sastra. Dia suka menulis cerpen dan saya puisi. Beberapa cerpennya sudah sering dimuat di koran lokal, sedang puisi saya hanya sesekali dimuat di media ketika itu. Pertemanan kami kemudian terus memanjang dan makin akrab ketika kami sama-sama mendaftar menjadi pengelola redaksi di koran kampus. Karena pengalaman saya di media umum, saya diterima sebagai redaktur, sedang dia jadi reporter. Tapi itu tak menghalangi kedekatan kami. Apalagi hasil liputannya sering saya yang ngedit dan mendiskusikannya sebelum terbit.
Ketika tulisan dia atau tulisan saya dimuat media, kami selalu merayakannya dengan makan enak di sebuah rumah makan di daerah Pondok. Itu rumah makan kecil, milik Elfialdi, seorang penulis juga, yang kebetulan sefakultas dengan saya. Meski dia orang Padang asli, tetapi dia suka ayam kecap, menu yang jarang kita temukan di rumah makan Padang di mana pun. Dan itulah salah satu yang membedakan dia dengan teman-teman yang lain. Karena ada masakan spesifik yang tak ada di rumah makan lain, pelanggannya banyak, dan rata-rata pelanggan tetap.
“Meski hanya bisa untuk makan sekali, lumayanlah. Tapi kalau untuk hidup, dunia satra tidak menjanjikan,” kata dia saat kami makan.
“Tapi kalau bisa tembus koran Jakarta, honornya kan besar. Bisa untuk hidup sebulan,” timpal saya.
“Iya sih, tapi saingannya kan berat. Apalagi banyak media yang sulit percaya kepada penulis muda seperti kita. Nama besar Seno Gumira, Budi Darma, Danarto, Kuntowijoyo, Yanusa Nugroho, AA Navis atau Sapardi, sudah seperti Tembok Berlin. Susah digoyahkan. Bayangkan, Bang Harris Effendi Tahar, atau Bang Darman Moenir, hanya sesekali dimuat dan karya mereka sering dikembalikan. Emang kita siapa? Hahahaa ….”
Saya ikut tertawa juga ketika dia tertawa hingga beberapa butir nasi di mulut kami nyiprat keluar. Tertawa getir tepatnya. Elfialdi yang melihat kami tertawa, hanya ikut tersenyum. Mungkin dia heran, orang sedang makan kok tertawa. Tak lama kemudian, datang Zulmasri, teman sesama penulis juga. Akhirnya kami duduk bertiga dan bercerita ke sana-sini tanpa ujung dengan topik yang tak fokus lagi.
Di lain waktu, saat kami begadang menyelesaikan koran kampus dan tidur di kantor redaksi koran kampus, Ahmadi berkata serius. “Dunia menulis memang benar-benar tak adil untuk orang seperti kita.”
Waktu itu, saya sudah menjadi pemimpin redaksi dan dia redaktur pelaksana. Itu setelah setahun kami bekerja di sana. Bukan bekerja, mengabdi tepatnya, karena kami memang tak dibayar. Dalam posisi dan jabatan kami berdua ketika itu, kami sering dipanggil Wakil Rektor III dan Rektor terkait pemberitaan yang menurut mereka menyinggung universitas. Kena marah yang pasti.
“Cerpenmu ditolak lagi di koran itu?”
“Gila, Bro. Ini sudah yang ke-27 ….”
“Lha, kan media yang punya halaman satra bukan hanya koran itu? Bisa kamu kirim ke media lain.”
Saya tahu, dia memang terobsesi agar cerpennya tembus di media bergengsi itu. Ketika itu, cerpen-cerpennya sudah banyak dimuat di koran lain yang terbit di Jakarta. Tapi belum di koran itu. Juga satu majalah sastra bergengsi.
“Ya cerpen-cerpen yang dimuat itu ya yang ditolak media itu. 27 kali, Bro. Saya baca-baca, cerpen-cerpen saya rasanya tak kalah dengan cerpen yang dimuat ….”
“Ya, mungkin cerpenmu mengikuti pola para cerpenis yang sudah dimuat. Coba cari ide yang berbeda dan cara menulis yang juga berbeda,” kata saya sok menasihati. Padahal puisi-puisi saya juga hanya sesekali yang dimuat di media besar. Bahkan meski saya belajar keras menulis cerpen dan mengirimnya ke media, belum ada yang dimuat di media nasional. Hanya dimuat koran lokal. Dan itu pun tak sering. Pekerjaan saya sebagai wartawan di koran harian umum membuat waktu saya memang tersita.
Dia lulus lebih dulu dari saya. Sehari setelah wisuda, dia datang ke kantor koran saya dan mengajak makan di tempat Elfialdi. Di sana, sambil makan, dia menjelaskan bahwa dia akan ke Jakarta. Ada formasi honorer di sebuah perusahaan BUMN bidang pangan. Om dia yang sudah lama bekerja di sana yang me-rekom dia. Katanya, kalau sabar, bisa diangkat menjadi pegawai tetap nantinya. Saya senang mendengar itu. Mencari kerja di zaman itu bukannya mudah. Hanya orang yang punya akses yang bisa kerja di perusahaan besar.
“Nanti, kalau kamu sudah mamacik di sana, bikinlah media internal yang memuat cerpen atau puisi ya. Kasih honor yang besar,” kata saya sambil terbahak.
“Amannn ….”
***
Sejak pertemuan terakhir itu kami tak pernah bertemu lagi. Beberapa tahun terakhir kami terhubung di media sosial dan saling menyapa di sana. Lalu kami saling bertukar nomor kontak pribadi. Dia sudah jadi orang penting dan punya jabatan tinggi di BUMN lain—yang berbeda dengan awal dia masuk dulu. Di grup mantan pengelola koran kampus, beberapa teman memanggilnya “Pak Dir”. Saya tak tahu persis apakah dia memang sudah jadi direktur. Tapi, saya senang dengan hal itu, meskipun dalam beberapa kali obrolan di pesan pribadi, sering agak canggung. Dia tak bisa membalas dengan cepat, dan jikapun membalas, hanya dengan kalimat pendek atau beberapa kata saja. Lama-lama, saya juga jadi jarang menghubungi dia. Hanya melihat sepak-terjangnya di media sosial karena dia sering mengunggahnya di sana, termasuk saat main tenis maupun golf; dua olahraga yang dulu pernah dibencinya. Katanya olahraga para borjuis.
Seminggu yang lalu saya membaca di media daring dan kemudian nonton di televisi: Ahmadi Syarif, kawan lama saya itu, ditangkap oleh kejaksaan. Tuduhannya: memanipulasi laporan keuangan yang mengakibatkan kerugian perusahaan negara itu miliaran rupiah. Saya kirim pesan kepadanya, tetapi kemudian ingat bahwa mungkin HP-nya disita ketika tak ada balasan. Saya sedih melihatnya memakai rompi tahanan berwarna jingga saat ekspose di hadapan wartawan.
Dan hari ini, saya menemuinya di sel tahanan. Waktu terbatas yang diberikan oleh petugas tak banyak saya gunakan untuk bicara lewat peralatan komunikasi yang juga terbatas itu. Dia di dalam, dibatasi kaca yang tebal, dan saya hanya bisa melihat wajahnya yang tampak pucat dan kuyu. Mungkin dia kurang tidur selama dalam tahanan. Kami banyak diam dan saling memandang saja. Sesekali bicara, dan saya mencoba menguatkannya.
Sebelum kami berpisah, saya bilang kepadanya, sambil berseloroh dan tersenyum, “Nanti, kalau sudah keluar dari penjara, atau pengadilan membebaskanmu, jangan lupa janjimu dulu: membuat majalah internal yang ada rubrik sastranya dan kasih honor yang besar kepada penulisnya agar mereka bisa hidup cukup sebulan bersama keluarganya dengan satu tulisan yang dimuat ….”
“Kamu masih mengingat itu …,” jawabnya pelan, berusaha tersenyum, terkesan dipaksakan.
“Masih, itu yang menjadi alasan saya menghubungimu agar membantu membayar honor tulisan di media yang dikelola anak didik saya, karena kamu tak juga menepati janjimu …,” jawab saya kemudian, juga sambil tersenyum. []
Pekanbaru, Oktober 2025




