Karena Paranormal Itu, Simardi Yakin Tidak Cepat Mati

Ilustrasi: Aprililia

Simardi ini orang hebat. Sekolah tinggi. Gelarnya sudah profesor. Banyak orang yang kagum di kampungnya ketika dia jadi profesor. Dulunya, waktu dia baru dapat gelar doktor, ia pulang kampung, ada satu dua tetangga datang padanya.

“Hei Simardi, benar sudah jadi dotor kamu?” kata Pak Gaek, teman bapaknya yang tinggal di depan rumah masa kecilnya. Sebutan dotor di kampung Simardi, sama dengan artinya dan dipahami sebagai dokter, bisa mengobati orang sakit.

“Ada apa Pak Gaek?” tanya Simardi, lalu menyalakan api, membakar rokok yang baru terselip di antara bilah bibirnya.

“Saya agak demam, bisa kamu obat. Kasih reseplah satu dulu, biar ditebus obat ke apotek. Tapi kalau ada obat di tasmu, berilah itu dulu….” katanya. Simardi menghisap rokoknya lebih dalam, lalu tersenyum.

“Oh Pak Gaek, saya doktor, bukan dotor, tidak sama dengan dokter…. Gelar dotor ini dua tingkat di atas doktorandes…. Jadi tidak bisa mengobati orang,” jawab Simardi, setengah tergelak kecil.

“Samalah itu. Takut pula tak kubayar resep dan obatmu. Untuk sekadar uang berobat, hasil panen sawahku masih bisa membayar….” Begitu pula lagak jawab Pak Gaek.

Simardi hanya garuk kepala. Dan, itu ketika jadi dotor eh doktor.

Nah, ada suatu masa, saya lama tidak berjumpa Simardi. Kabarnya dia sudah jadi profesor. Mengajar di sebuah kampus ternama di Jakarta. Ragu pula saya. Ada yang bilang dia di Jogja.

Pada suatu siang, di awal tahun 2000-an saya menerima SMS (Short Message Service), yang ketika itu belum ada WA seperti saat ini. Isinya, “Bung saya tunggu di rumah, ngobrol-ngobrol kita. Lama tidak berjumpa.”

Saya pun datang ke rumahnya. Ia sedang duduk di teras. Di samping kursinya ada meja kecil, dan teronggok secangkir kopi bersisian dengan asbak.

Saya lihat badan Simardi sangatlah kurus. Saya ingat, sudah hampir dua tahun ternyata kami tidak bertemu. Ternyata dia sakit gula. Katanya ada juga gangguan ginjal, jantung agak bermasalah. Tetap merokok, dengan alasan, bukan rokok yang membuat orang mati. Tapi tibanya ajal sesuai janji.

Saya tersenyum, lalu dari mulutnya terdengar, “Saya takut mati! Dua hari lalu, tetangga belakang blok ini meninggal. Dua minggu sebelumnya, orang depan rumah ini meninggal.”

Saya tertawa dan berkata, “Yang sudah penuh janjinya ya berangkat. Kita juga akan berangkat!”

“Bukan begitu. Kata orang, kalau sudah ada orang meninggal di sekitaran kita, biasanya saja ada dua atau tiga orang lagi menyusul di dekat sini….”

Saya lihat wajah pucat Simardi. Tubuhnya kurus. Matanya cekung. Kehilangan rona kecerahan pada wajahnya.

“Sudah gaek usia saya, belum terbiasa salat. Puasa hampir tidak pernah juga. Ini akibat kebiasaan sejak muda, habis berhuru-huru saja– tua terbiasa tidak salat juga. Saya belum mau mati….”

Saya tahu, Simardi memang hampir tidak pernah salat. Dia salat jika ada rombongan kantor atau pejabat dan kebetulan singgah salat di masjid dalam perjalanan, ya dia ikut. Tapi sering malah singgah ke lapau dekat masjid, merokok sebatang dua batang. Kalau bulan puasa dia sering makan siang di kedai berkelambu, atau beli bungkus dengan alasan ketika ada yang tampak, “Saya sakit asam lambung” atau “Semalam tidak sahur” dan alasan lainnya.

“Karena itu saya takut mati? Belum perbaiki diri. Bekal pulang masih minim.”

Saya tertawa. Diam-diam, saya juga takut mati. Menjadi lucu, ketika itu diucapkan Simardi sambil merokok dalam keadaan sakit. Sesekali terbatuk. Katanya sambil bergurau, ia mengatakan, kalau batuknya sudah sembuh, yang tinggal hanya bunyinya. Biasanya dia terkekeh, lalu terbatuk-batuk, memperdengarkan batuk yang kini tinggal bunyinya itu.

Saya lihat kemudian, ia mengangguk-angguk dan tersenyum.

“Hei Bung! Saya, waktu dalam perjalanan dinas, pulang dari Papua, sebangku pesawat dengan orang Papua. Dia paranormal,” cerita Simardi, membelokkan sedikit tubuhnya, ke saya yang duduk tidak berhadapan langsung dengannya. Tapi sedikit menyamping.

“Ya? Apa cerita paranormal itu?”

Saya lihat tiba-tiba wajah Simardi cerah, ceria mengulas dari senyumnya. Ia mematikan rokok yang telah puntung, lalu, “Paranormal itu bilang, saya akan berumur panjang. Jika meninggal, sangat lama lagi waktunya. Jadi tak mungkin mati cepat….”

Dia tampak sedang menghibur diri, mengelabui kegelisahannya.

“Pak Mardi percaya itu?”

Dia mengangguk, “Percaya. Percaya. Sebelum bertemu Bung hari ini, di Jakarta saya sudah sering masuk rumah sakit. Buktinya masih hidup kan?”

“Mana lebih percaya paranormal atau kalau ada tetangga meninggal biasanya akan ada dua atau tiga orang sekitar akan meninggal juga….”

“Saya percaya paranormal ini….” Jawab Simardi. Alasannya, banyak juga tetangganya dulu-dulu meninggal, tidak diikuti dua atau tiga orang di sekitar yang meninggal. Itu kan mitos.

Setelah ngobrol banyak, saya pun pamit. Simardi berkata sebelum saya melangkah pulang.

“Nanti saya telepon paranormal itu. Nomornya masih ada pada saya!”

“Jangan percaya paranormal Pak,” saya mengingatkan. Dia tertawa dan menjawab, “Bukan percaya, tapi menghibur keyakinan bahwa mati itu menakutkan….”

Sekitar lima belas hari kemudian, saya mendapatkan SMS dari Simardi. Dia bilang, saya dirawat di rumah sakit umum.

Hari itu saya tidak sempat membezuknya. Cuma saya balas SMS-nya dengan canda? “Apa kabar paranormal, jadi telepon dia?”

Tidak ada jawaban.

Tiga hari kemudian, ketika saya berniat membezuknya ke rumah sakit, HP saya berdering-dering, banyak sekali SMS. Saya baca satu persatu, berita duka: Simardi telah mendahului kita.

Dalam hati saya bergumam, Simardi pasti kecewa pada paranormal itu! (*)

Catatan Redaksi

Rubrik ini kini bernama “SKETSA”. Sketsa merupakan ruang “bercerita” tentang hal-hal lucu, unik, menarik, menyebalkan, memiriskan dan lainnya yang merupakan potret dari keseharaian manusia, kita sepanjang masa. Ide cerita berangkat dari hal-hal kecil kehidupan kita, baik dari penulis, teman atau pembaca. Rubrik ini khusus ditulis oleh dua orang tim redaksi cagak: Deddy Arsya dan Yusrizal KW, secara bergantian setiap Kamis. Jika ada ide atau usulan tema atau perilaku seseorang, silakan ke email redaksi, akan dituliskan sebagai cerita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top