Fragmen-Fragmen buat Penyair

Ilustrasi: Aprililia

1/

Mungkin, aku tak pernah lengkap menghitung diri begitu cepat termangu memanjat waktu bersama patahannya. Katamu, suatu hari, “Tak ada tangga menuju surga,” Ya, dan kita pun harus membuat tangganya. “Apakah surga ada di angkasa?” tanyamu kemudian, begitu tersendat, seperti ada kerat yang beranak. Sementara di pucuk hari senja terus saja berlahiran di pohon-pohon ketapang makin samar dan menghitam, kelak jadi malam. Begitulah, aku mengenangmu, sebagai sebuah puisi, yang menempuh gigil sunyi, bertahun-tahun, terjebak di sebuah tempat yang tak tertandai. Ah, pergi saja kau Descartes. Sebab aku makin malas berpikir ingatanku lemas, tak mengalir. Tentang sebuah syair yang kesepian. Dan, karena itu aku merasa tak ada. Bukankah, katamu, kita mesti berpikir dulu kalau mau dianggap ada?

Siapa yang pernah benar-benar menyelinap ke dalam mimpiku? Apakah dirimu yang lama mengeluh, tentang potongan kenangan yang berpeluh. Tumbuh jadi masa kecil, berbinar, seperti kerlip gemintang. Meski di usia ke-43 ini, saban malam aku menyilet kalimat menyemai rindu yang larat dan tambah berat. Tetapi apa yang sebenarnya telah kutanam? Dan selalu saja aku selalu kehilangan dirimu. Perjalanan kita patah, acapkali dipenuhi cerita-cerita gombal yang tak berbingkai. Duh, di mana kamu?

Sepertinya aku tak lagi menemukan kesejukan di matamu. Masa lalu bagai daun-daun yang gugur, tak lengkap diingat. Dan bukankah antara ingat dan lupa, jaraknya cuma sedepa. Begitu dekat, begitu melekat. Kini tak perlulah kau mengingatkanku tentang jejak sejarah, sebab sejarah selalu saja dekat dengan anyir darah. Manusia-manusia yang berebut mencari tanah.

2/

Pagi. Sepi. Pernah aku angankan kelahiran baru di mana kata-kata ngerubung mirip semut meniti jalannya sendiri-sendiri. Dengan segelas kopi kuseduh dirimu yang terasa makin lampuh. Meski lampion matamu mengingatkanku pada sebuah binar yang terus berdenyar, menakar-nakar kelakar, sesekali merupa bunga mawar—tetapi banyak yang juga tak serupa, bukan? Ehm, kau sejak lama telah memungut kesendirianku, menangguhkan derita yang tak henti-henti luka. Tapi bagaimana aku dapat melahirkannya? Ingatanku tak lagi lekat pada garba bunda. Sementara di rahim kota telah lahir anak-anak kecil yang tegar, dengan celana penuh debu. Berjalan di sepanjang lorong kota ini, mengisap matahari, mengunyah udara. Seperti mengisyaratkan sebuah keinginan yang hambar. Aha, pintu terus saja terbuka, menyeret masa lalu sampai lampus. Meninggalkan angin dingin di sepanjang tengkuk, bikin bulu kuduk berdiri. Sebentar, meski kau tak akan pernah setuju, biarlah aku kenang dulu para tetua moksa dan luka. Ah, betapa aku ingin melacak peta tubuhku yang sempat luruh. Di batang silsilah.

Maka aku bayangkan, diriku akan hanyut bersamamu, tersangkut di reranting pohon tua. Di mana sungai terus saja mengalir, menuju ke muara entah. “Bukankah harus ada yang termaknai?” tanyamu sendu, bibirmu beku. Mengeja semua petuah, dogma, yang terselip di akar-akar cuaca. Ya, harus ada yang termaknai, ketika lembar hari berganti, sebagaimana kita yang terus saja berada di dalam antrian panjang.

Meski, seperti kau bilang, selalu ada yang berdetak, mengumbar sebuah jarak. Dan mengusir geriak-geriak gelisah yang terasa makin basah, di ujung jarimu.

Begitulah, aku ingin menangis lagi seperti bayi. Menjenguk nyala matahari pagi yang lesap ke dalam pori. Dan kelak akan lepai, tak mampu dikunci.

3/

Cuma genang diriku. masuki lorong-lorong solitude terlelap dalam permainan kartu yang lungkrah di atas meja, terbuka. Meski bagiku, tanggal lahir tampak semilir tak mampu dijaga, tanda diri yang telah lahir katakanlah, sebagai pahat jejak yang lama berkerak dari biografi tubuh di ruas kalimat, bicara syair yang ngembara ke negeri saga. Cuma genang dirimu, terapung-apung, tak mau timbul, mirip pelampung. Aih, siapakah kamu yang terus bercerita tentang prosa seputar vagina dan payudara?

Dan sebelum semuanya tiba, kembali seperti semula. Sebab kita berada dalam lingkaran yang sama. Aku tahu, kau akan kembali sebelum malam benar-benar malam, membawa kata-kata yang terjangkit birahi. Minta disetubuhi. Berteriak dalan sunyi.

Maka segera kulupakan Rimbaud, dengan negeri syairnya yang menelikungku dalam belantara angin, selalu ngalir dalam beku kata-kata. Pun Paz, yang tak selalu pas melacak suara lain begitu asing dan dingin.

Cuma, diri, aku dan kamu, yang menggelar warna-warna luka. Melengkapkan detak jam, juga lembab lebam. Dan ada yang terus berputaran, tetapi bukan waktu. Ah ya, pengetahuan yang kau miliki selama ini dari buku, terasa sia-sia bukan? Sebab hidup bukan muncul dari sela-sela buku, melainkan dari anasir yang berkelir.

4/

Apakah aku selalu bertemu denganmu? Kapan dan di mana? Apakah di sebuah pasar yang sesumbar atau di tengah derau puisi yang makin parau. Biarpun nyeri masih tinggal gentar. Lelaki yang kerap mengasah belati kata sampai badannya berdarah. Tetapi kata-kata selalu basah, lemah, dan lelah.

Sudah saatnya kita berangkat tidur. Rapikan ranjangmu, cari hangat yang sempat terlewat. Mungkin di tempat lain, kita masih bisa merapikan imaji. Dan, lagi-lagi rambutmu terbayang, basah sehabis keramas, begitu lemas seperti kata. Seperti kata.

5/

Barangkali aku cuma tinggal sejarah. Sebab selalu ada orang gila yang muncul dari sajak-sajak, minta dituntun ke pintu cahaya. Tetapi selalu ada matahari yang lain, tampak begitu pasi dan nyendiri. O, dusta yang laknat, mengapa tetap kukerat? Berapa banyak rindu yang tenggelam hilang di tengah pelabuhan sunyinya sendiri tertinggal perahu untuk melarung laut? Sayang, perempuanku juga lenyap, diminum hujan sampai demam dan aku terperosok ke dalam kangen yang ngilu membuka jajaran kenangan yang tumpang tindih dengan berita di halaman surat kabar hambar. Menakar kelakar yang tak lagi berdenyar.

Apakah aku menyesalinya? Akan kepergian perempuan itu? Mungkin. Barangkali aku akan kehilangan bibir untuk kucium setiap hari, atau percakapan basah yang mengingatkan hujan bakal turun berwaktu-waktu.

6/

Namun selalu ada arca baru dari puisi jadi patung yang mutung. Meski tampak begitu murung. Betapa kelahiran ini telah mengambil separuh usiaku, mengingat wajah Ibu. Meski aku terus saja menabung luka, menyimpan sobekan surat cinta yang tak jadi kukirim buatmu. Ah, cinta yang bimbang? Siapa yang pernah memberikannya alamat, sebuah buah tangan, atau sepotong ingatan buatmu? Aha, kelahiran ini pun sebenarnya tak lagi punya air mata sekadar menandakan perih atau gembira.

Kini usia terasa makin purna, sayang kita tak pernah bisa untuk mencoba dewasa. Segalanya terasa makin samar sekarang. Dan ingatan diriku dan dirimu tetap saja meruang, menyebarkan getah sengit, yang terasa terjepit.

7/

Sekalian saja, aku tulis dirimu. penuh dengan kalimat keluh di gelap kata-kata, mungkin di gang-gang sempit tempat tinggalku berkisah hal-hal biasa dan sederhana yang melulu terlupa. Tentang keganjilan kita, misalnya, yang melecut parut usia, supaya cepat lari mengejar waktu. Merasa menjadi Tuhan, menjadi seorang pencipta, atau mungkin kita berani menantang malaikat sekadar turut mencipta puisi? “Hahaha ….” Kau tertawa begitu lega. Apa? Jangan-jangan sejauh itu, kawan. Nanti kau dicabiknya sampai terlunta.

Sayangku, puisi siapa yang benar-benar kau kenal? Chairil Anwar, W.S. Rendra, Tardji, Taufiq, Sapardi, GM, Joko Pinurbo, atau penyair lain yang gigil mengudap peluh di jaket yang lusuh? Begitu hematkah dunia kita? Sempit dan terjepit. Seperti sebuah ruang kecil yang masih saja bertanya-tanya. Toh, dengan atau tidak adanya puisi dunia tetap berputar juga, kawan.

O, ya, siapa namamu kawan? Mengapa kau tak perkenalkan diri. Namaku AR, lahir tahun 19 …, bla-bla-bla. Sudah membualnya, kawan? Siapa yang akan kau jadikan tema hari ini? Jangan kau tuliskan biografi diri sendiri, dong. Jangan! Penyair selalu berhubungan dengan luka, terlalu setimentil, dan sok bergaya melankoli.

8/

Pernah kau bilang, dulu sekali, sajak ini tak pernah sampai, cuma kata-kata rapuh yang mengeluh, mengelupas huruf demi huruf, cuma jadi sampah aksara. Menelanjangi pakaiannya di depan cermin, berlompatan. Dan kau? Ah ya, kau memungutnya dengan hati-hati sekali, supaya jangan ada yang disakiti, begitu kau bilang. Namun, siapa yang hilang? Selain para filosof abad lalu yang sibuk dengan enigma. Menghitung dirinya sendiri-sendiri. Seakan begitu bangga dengan kelinglungannya sebagai manusia. Seakan membuka metafora dalam tubuhmu.

Lalu dari kata-kata itu, kau menyaringnya sampai bening. Barangkali akan kau minum sebelum tidur. Supaya kau bisa bermimpi yang indah-indah saja. Tiba-tiba dengan ligat, kau memasukkan mereka dalam lembaran arsip di lemari buku juga ruas kepala. Mereka mencarimu, kawan. Mereka kepanasan, katanya. Minta dibukakan, supaya cepat keluar.

9/

Oh, kawan, sebenarnya apa yang telah kau lahirkan? Kok, tambah hari rasanya dirimu tambah bingung. Linglungmu makin menjadi. Mencacah sejarah di negeri yang makin pudar ini. Kau capek? Berbulan-bulan dikerjain puisi. Ke mana pacarmu, kawan?

Ia menjawab, lariiiiii ….! Pacarku pulang kampung halaman, ketika aku kirimkan SMS yang setengah matang, sambil memandang sedap-sedap pohon ketapang, dengan kesiur angin telanjang yang nyungsep di halaman.

O, kau tak lagi merindukannya? Kau tak merindukan bibir, payudara, mungkin vaginanya?

Ya, merci, aku tak lagi takjub pada kemilau cinta, katamu, cuma penjara.

Kasihan kau, kawan. How poor you are! Dan, malam itu, perempuan itu, bekas pacarmupergi sendirian ke kampung halaman dengan bus malam menembus hujan dan kelokan. Tidak kau antarkan? Tidak! Pergi kau!

Lalu kau pun bercerita: semenjak hubungan kami bubaran, ia tak pernah membalas SMS yang kukirim, tak pernah mau mengangkat telepon dariku. Well, kau merasa begitu larat? Mungkin. Hubungan kami memang telah berakhir, it’s over, kata film-film Hollywood. Dan ia tak lagi memukauku, bahkan jika aku tahu dirinya cantik, dengan body yang menarik.

10/

Hari ini kau berulang tahun penyair? Tidak tahu, sudah lupa. Please, dong, jangan lihat wajahmu di cermin. Nanti Freud datang lagi, berikan kuliah tentang seks juga pelajaran biologi di masa puber. Kau kan sudah muak lihat selangkangan? Kemilau cahaya di antara celah paha, dan lubang-lubang yang menyudutkanmu pada sebuah ruang gelap. Begitu pengap. Berdoa sajalah, penyair. Semoga syairmu tambah kemilau tetap memukau.

O, ya? Kau berulang tahun, penyair? Beneran nih! Makan-makan dong! Di kafe aja. Siapa tahu kau di sana bisa nulis puisi banyak-banyak. Sampai kau merasa muak, muntah-muntah atau dikhianati kata. Dan sebelum jam dua belas malam lewat, jangan tutup pintu dan jendelamu. Ada seseorang mau masuk, barangkali yang pernah kau kenal di masa lalu, membawa kue, juga kado, dan tentunya sebatang lilin, berangka: 43.

11/

Hari-hari lunglai. Tak ada suara yang membuatmu merasa damai. Sesekali, kau ingat kawan-kawan lama yang ngendon dalam kepala. Begitu lama, bertahun-tahun. Aih, siapa kamu? Apa kamu diriku sendiri? Lalu siapa dong aku? Wahini mah cuma sandiwara yang tak bicara. Capek. Monolog. Bisu yang mengisap lembab di ulang tahunmu. Sama sekali tidak lucu!

Samar-samar, aku, mungkin kamu, mendengar ada yang tertawa. Begitu keras. Deras seperti hujan kemarin sore.

12/

Seseorang mengirim kado buatmu. Tetapi yang tertulis di secarik kertas adalah namaku. Ehm, dari perajin kata-kata. Sialan. Menamai benda seenaknya. Diancuk. Dia pikir siapa dirinya? Dewa? Nabi? Atau Adam yang letih mencari Hawa?

Duh, ke mana si tua Paz pergi? Jalan-jalan. Di mana? Tidak tahu. Mau apa? Katanya, cari inspirasi. Ayo, Bung, sebagai lelaki mestinya kau tak miskin imaji masih banyak warna pelangi yang tak lengkang ditandai. Jauh sebelum dirimu pergi. Percayalah.

13/

Ibu, rahimmu terbuka lagi. Tapi jangan lagi kau kirim aku ke situ. Aku tak mau, Ibu! Hormat dari anakmu yang menguji nyali merakit sunyi dalam puisi. Tetapi jangan takut Ibu, aku masih ingat hangatnya rahimmu, juga semua impuls yang menyentakku, denyar otot yang berkontraksi, dengan lenguhmu, bersama anyir darah yang simbah.

Izinkan, aku sekadar mengenang perihnya. Terlontar ke bumi, terlahir sebagai lanangmu.

14/

Ah, kapan kau main ke rumahku? Kutunggu berwaktu-waktu, namun kau tak datang-datang. Ada banyak buku yang belum terbaca. Malah dikerubungi oleh debu. Katanya, kau kepingin mencari foto-foto pengarang yang kelewat umur. Mungkin, engkau bisa lama-lama menafsir di sana, mengunjungi situs-situs masa lalu yang tak pernah terbuka, juga membaca sebagian riwayat yang terpenggal.

Aneh, kok, pengarang jadi tukang jagal? Apa dirinya tak mampu bikin autobiografi dirinya sendiri? Atau, semua itu dari dirimu sendiri?

15/

Mungkin, kau akan bertanya begini, “Mengapa dunia selalu berhubungan dengan angka-angka?”—supaya tak lekas lupa—(gema suara yang tak jelas berpantulan di batu-batu).

Tapi mengapa selalu ada matematika, di arloji, kalender, juga usia? O ya berapa usiamu sekarang? Tuh kan angka lagi. Maaf, aku sudah lupa. Dan kau membayangkan dirimu menjadi orang-orang di masa lalu, yang tak pernah peduli pada usia, yang kalau ditanya berapa umurnya sekarang akan bilang, “Ya, waktu saya lahir, pohon itu masih segini, nih,” sambil menunjukkan batas dirimu di cakrawala.

(Angka-angka itu, selalu kau benci sejak duduk di bangku sekolah berseragam putih-biru. Kau tak tahu, apakah dirimu benar-benar membencinya, atau tidak. Tetapi kau selalu merasa takut, jika guru menunjukmu untuk ke depan kelas, mengerjakan soal-soal. Dan seketika tubuhmu berkeringat. Betapa ruwetnya dunia, pikirmu.)

16/

Kemungkinan lainnya, tebakmu, di kota lahir juga puisi-puisi segitiga. Punya siapa? Kau tak tahu. Namun puisi-puisi terus berlahiran, mengucurkan tangis dan gembira. Narasi manusia bingung yang mengukir transkrip mimpinya. Ehm, kota ini sebenarnya dipenuhi dengan kesepian juga, di tengah ingar bingar yang menghampar, selalu nada seseorang di sudut, menekuk diri, menuliskan sesuatu. Mungkin rada tertahan, mungkin penuh kegeraman.

17/

Maka kau membayangkan lingkaran baru, yang selalu menjebakmu dengan ilusi-ilusi, bayang kupu-kupu, di mana kau tetap kembali ke tempat semula. Terkadang kau tak berani menatapnya. Ada kengerian yang muncul di sela-sela bola matamu, tetapi kau memaksakan diri untuk mengakrabinya. Dan nyatanya, tambah hari kau merasa candu kata-kata itu jadi banyak. Kau merasa jadi peternak, yang siap mengembang-biakkan kata. Meski akhirnya kau tahu, semuanya itu tak pernah ada. Segala hal yang tertulis, sesungguhnya tak pernah benar-benar muncul. Semuanya tinggal di sisi kepalamu.

18/

Hari ini Jumat terasa berat. Kau ingin menggapai-gapai liur Januari, di mana dingin hujan selalu tertahan di bola matamu. Dan senja ini kau memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, berjalan-jalan di rerindang pohon ketapang. Kau merasa dirimu telanjang, berjalan di jalanan. Sampai masa kecil muncul lagi. Tiba-tiba tubuhmu meriang, kau ingat wajah Ibu, muncul di sela-sela napasmu. Seakan menggapai-gapai, seperti ingin merapikan doa-doa yang lama hambur.

Jumat ini segalanya semakin tersekat. Kau merasakan panas yang gegas. Dan malam itu kau kehujanan. Dingin, tetapi tak punya pacar yang bisa menghangatkan dengan pelukan. Kau ingin singgah, di sebuah tempat, mencari-cari semua yang pernah lenyap dari dirimu. Namun itu pun tak pernah kesampaian. Hujan tambah hujan. Deras dan melibas dirimu. Basah dan kuyup.

19/

Sia-sia kau kerat dirimu. Nyatanya napasmu kian sesak tak mau bergerak. Yang lahir cuma ulat-ulat, terus bertambah. Memasuki tubuhmu seperti ngengat mencari hangat. Dan, kau merasa mimpimu jadi bencana petaka yang selalu membekas, kenanganmu lemas seperti jerat umur yang suatu saat akan terkubur semua kenangan emas yang makin keras.

20/

Ehm, aku ingin mendengarkan blues. Musik dari tanah orang-orang berkulit hitam, mengusir gelisah yang lama. Seperti denyar dari tempat pengusiran. Supaya luka tak lagi bundar. Supaya aku tak melulu terkapar. Tetapi dari ceruk mataku yang lain, kusaksikan kau kedinginan. Masuk dan keluar di dalam hujan. Kawan, siapa yang pernah menerka hujan akan tiba sewaktu-waktu?

21/

Lalu kuingat ciumanmu, perempuanku. Begitu bernafsu, yang membuatku ingin lama-lama di situ. Meski terasa makin hambar sekarang. Benarkah kau benar-benar kukenal, katakanlah, sekian waktu mengisi kolam hidupku? Di mana kau kupelihara seperti ikan yang terus saja berenang, dan suatu saat nanti akan kukail dengan mata pancing? Dan, dari kejauhan, aku mendapati matahari yang lain. Begitu sendiri, seakan tergesa membuka hari yang makin dingin.

Ah, bahkan mantan pacarku, tak lagi mengirim SMS buatku. Mungkin ia telah lupa, tanggal lahirku.

O ya, sekalian, pergi saja kau Tolstoy, tolong dong jangan masuk dalam kepalaku! Nanti kau sebarkan pamflet yang berisi: Tuhan telah mati! Aku tak mau mati kesepian sepertimu.

22/

Sudahlah, tiup lilin itu. Semoga panjang umur, penyair!

(Tepuk tangan, suara hingar, siulan, begitu meriah. Setelah itu cahaya gelap. Hitam.) []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top