
“Namamu siapa?”
“Jono, Pak. Sujono.”
“Usia?”
“Lima puluh lima.”
“Kamu PKI atau maling?”
“Maling, Pak, bukan PKI,” Jono menjawab cepat.
“Jawab yang bener!”
“Maling, Pak, maksudnya, saya dituduh maling.”
“Kalau maling itu artinya PKI!”
“Bukan keduanya, Pak.” Polisi itu tertawa pendek.
“Kamu mencuri ini?” Salah satu polisi itu menunjukkan logam kuningan.
“Itu saya ambil dari tempat sampah, Pak,” kata Jono lemas dan mulai terisak.
“Tolong saya, Pak … Saya bukan maling.”
Dua polisi itu saling memandang. Salah satunya duduk di bangku sambil membawa catatan. Polisi yang berdiri dan menjawil pundak temannya, memberinya kode untuk mengikuti. Setelah bicara beberapa menit di pojok ruangan, mereka kembali dan bicara pada Jono yang duduk pasrah dengan pipi basah. Polisi itu kemudian mengatakan bahwa Jono terancam dengan pasal 362 KUHP.
“Ancamannya lima tahun penjara.” Jono diam dan menangis mendengar itu. Kedua polisi itu memperhatikannya.
Subuh sebelumnya
Pagi itu suara adzan bergema, menembus angkasa dan bilik runah Jono, tapi suara istrinyalah yang membuat mata Jono terbuka. Ototnya terasa kaku dan kepala dan matanya berat akibat gula darahnya yang tinggi. Setengah sadar, dan dengan jantung seperti tersendat, Jono mendengarkan suara istrinya sembari bangkit perlahan.
“Baguslah kita tak punya anak! Aku tak tahu bagaimana kalau ada bocah di sini!”
“Aku sedang memikirkan cara,” katanya dengan suara lemah. Dia kemudian duduk di ranjang.
“Cara?” Istrinya tertawa sinis dari ruang tengah. “Uang tak bakal ada hanya dengan dipikirkan!”
Tidak ingin mati mendadak, Jono beranjak dari ranjang yang kusut. Dia keluar dari pintu melewati punggung istrinya yang membungkuk memunguti butiran menir yang tumpah. Dari pinggir tembok samping rumah, dia mengambil sepeda Phoenix berkarat dan menaikinya di jalan yang masih berembun. Tapi, Jono tak tahu harus kemana. Perutnya lapar, dan dia ingin segelas kopi. Namun, dia harus mengabaikan itu dulu.
Di sepanjang jalan, dia melihat bendera-bendera partai berwarna kuning, merah, dan hijau berjajar mingkup di pinggir jalan menjelang pemilu Juni 1992. Di langit timur, cahaya merah merekah. Sepedanya berjalan melewati jalan yang basah setelah hanya berputar-putar dan melihat para buruh berangkat bekerja. Menjelang siang, tiba-tiba dia berpikir mengunjungi pabrik di mana dia pernah bekerja di sana. Dia ingin melihat pohon petai yang dulu ditanamnya. Selebihnya, dia berharap ditawari kembali bekerja jika beruntung.
Menjelang siang
Di pos penjagaan dia menemui satpam yang dikenalnya, dan meminta izin untuk masuk ke dalam. Satpam itu menimbang sejenak sebelum kemudian membiarkannya masuk.
“Jangan macam-macam,” satpam itu berpesan.
“Apa yang akan aku lakukan coba?” jawab Jono.
Setelah itu, dia berjalan di antara gudang bahan, tempat biasa dia bertugas. Beberapa karyawan yang berada di sekitar membiarkannya begitu saja tanpa bertanya. Mereka yang mengenalnya hanya melambaikan tangan. Jono perlahan berjalan melewati gudang dan ruang produksi, lalu menuju pohon petai tua yang berdiri mepet pada tembok pembatas pabrik. Di sana, dia berhenti dan memandang pucuk pohon yang daunnya seperti ekor merak berserak cahaya. Setelah matanya menangkap kilatan matahari dari sela dahan, dia duduk dan menangis. Di saat itu, dia melihat beberapa palet benang yang di dalamnya masih ada logam kuningan. Tangannya menghapus air mata di pipinya, kemudian meraih palet itu. Matanya mengamati seksama logam itu dan berpikir jika dia bisa mengumpulkan rongsokan itu, dia bisa menjualnya. Setidaknya hari ini istrinya tidak perlu marah-marah. Setelah berpikir seperti itu, dia beranjak, mengambil logam kuningan itu dan mengantonginya di saku celana.
***
“Hei, bukankah kamu Jono?” Jono kaget dengan suara Marto. Wajahnya berubah pucat melihat bekas atasan itu menegurnya.
“Kamu bukan karyawan lagi, kenapa masuk ke pabrik?”
“Saya hanya kangen,” jawab Jono dengan suara bergetar.
“Selain karyawan dilarang masuk, kamu tahu itu!”
“Saya … saya ….”
“Apa yang kamu bawa itu? Kamu mau mencuri?”
Wajah Jono makin pucat mendengar tuduhan itu. Dia berdiri canggung dan kakinya gemetaran. Langit pucat berkilat, lalu berputar dalam mata Jono, sementara suara Marto terdengar seperti mesin disel yang bising. Beberapa karyawan kemudian datang bersama satpam, menghampiri.
Jono makin merasa tidak nyaman. Tubuhnya gelisah, dan dahinya mulai basah. Marto mengusir para karyawan itu, dan menyuruh kembali bekerja. Setelah itu dia menatap mantan karyawanya. Jono menunduk mencoba mencari cara menjawab, tapi sebelum sempat menemukan kata-kata, Marto keburu meminta satpam menggeledah sakunya.
“Apa ini?” tanya satpam sambil memeriksa saku Jono. “Oh, cuma kuningan palet,” susul satpam itu sembari menunjukkan pada Marto.
“Kamu berani sekali mencuri terang-terangan!” bentak Marto.
“Bukan … saya tidak mencuri. Itu ada di tempat sampah.”
“Dasar PKI! Tak tahu adab!” suara mantan atasan itu membuatmya menangis.
“Saya …” Jono tak berhasil melanjutkan kalimat karena dada dan tenggorokannya dipenuhi isak. Tangan keriputnya berkeringat, dan jari-jari keringnya seperti terkena tremor.
“Bawa dia ke pos!”
“Pak, maafkan saya,” Jono memohon.
“Sudah, bawa dia ke pos,” kata Marto menegaskan. Satpam itu terlihat bimbang, tapi kemudian mendorong tubuh kurus Jono. Marto melihat Jono dengan mata tajam seolah tengah menusuk jantung bekas anak buahnya itu, lantas bergegas melangkah cepat mendahului menuju kantor.
***
“Sudah kubilang jangan macam-macam,” kata satpam kenalannya.
“Han, tolong aku,” kata Jono memelas, “kita sudah kenal bertahun-tahun.”
“Aku sudah memperingatkanmu, tapi kamu nekat.”
“Aku tak bermaksud … tolonglah, aku tidak mencuri.”
“Kamu membawa barang milik pabrik. Itu mencuri namanya.”
“Aku hanya membawa satu dari tempat sampah,” Jono menjawab putus asa.
“Oh, cuma kuningan kecil?”
***
Jono melihat mobil kijang polisi datang. Pandangan matanya langsung gelap melihat itu. Tubuhnya lunglai di atas kursi, seolah tak ada lagi tulang dalam tubuhnya. Salah seorang satpam menyambut dan membukakan pintu gerbang. Dua polisi berseragam cokelat lantas masuk ke dalam pos satpam.
“Bawa dia, Pak,” kata Marto dengan mata berkilat.
Dua polisi itu menarik dua lengan Jono untuk berdiri. Jono berdiri lemas. Salah seorang polisi memborgol tangannya dan mendorong pantatnya ke atas mobil. Dia duduk bangku di atas kijang bersama sepedanya yang berkarat.
Menjelang sore
“Sudah, jangan menangis. Kami bisa membantumu,” kata polisi itu membuat seluruh jiwa Jono seolah kembali utuh dalam tubuhnya.
“Terima kasih, Pak,” kata Jono cepat sambil berjongkok tepat di depan lutut polisi itu. Air matanya berhenti mengalir. Cahayanya penuh harapan.
“Duduk!” polisi itu memberi perintah. “Minumlah.” Jono mengambil gelas dari tangan polisi itu dan meminumnya tuntas. “Kami akan membantumu,” polisi itu mengulang. “Tapi kami butuh dana untuk menutup kasus ini.” Mendengar itu, Jono menangis lagi. Dia lantas mengatakan tak punya uang satu sen pun. Dua polisi itu saling pandang dalam kehampaan. Jono lantas menceritakan keadaan hidupnya. Polisi yang berdiri menghela napas dan menatapnya di antara rasa kecewa dan prihatin.
“Harta saya hanya sepeda itu,” kata Jono pasrah, “ambil saja itu, Pak, tapi tolonglah saya.”
Dua polisi itu diam sekian lama, seolah tengah menikmati suara angin dan motor di jalan. Setelah yakin tak ada jalan keluar, akhirnya salah satu polisi itu bicara.
“Pulang saja kamu.”
“Apa benar saya tidak ditahan?” Jono tak yakin dengan apa yang dia dengar.
“Sudah, lupakan. Bawa sepedamu.”
Menjelang malam
Sepanjang jalan, meskipun merasa lega, tapi tubuh Jono basah dan gemetaran. Rasa traumanya mengembang hingga membuatnya nyaris jatuh ketika berpapasan dengan mobil polisi di jalan. Hatinya diserang rasa waswas dan cemas. Jantungnya terus berdebar-khawatir dirinya bertemu Marto. Ketika sampai di rumah, dia langsung berbaring di ranjang. Jantungnya seperti derapan kaki kuda yang berlari. Napasnya satu-satu, sesak di dada. Ketika istrinya mendapatinya berbaring di ranjang petang itu, dia marah besar. Jengkel seperti pagi sebelumnya. Lalu, dia menyerangnya lagi dengan suara tajam. Jono tak mampu menjawab dan bercerita karena dadanya kian sesak dan sakit. Istrinya semakin kalap ketika suaminya tak memedulikannya. Katanya, dia merasa celaka hidup bersama lelaki sial seperti dirinya. Malam itu tubuh Jono menggigil oleh rasa ngeri dan demam, diserang trauma dan suara istrinya. Paginya, dia tak pernah bangun lagi.[]




