
Tempatnya tak begitu besar, mungkin seukuran enam kali tujuh meter dengan dua ruangan yang berbeda. Satu area dalam ruangan dengan delapan kursi dan empat meja, sementara itu terdapat sepuluh kursi dan lima meja untuk bagian luar ruangan. Bagian dapur terletak di belakang dan tertutup. Sebuah pintu kain putih dengan aksara Mandarin berwarna hitam menjadi penghubung. Indra penciumanku masih dapat mencium aroma masakan dari dapur itu sekalipun letaknya cukup menjorok ke belakang.
Nuansa peranakan Tionghoa sangat kental, terlihat dari warna hijau yang mendominasi, dipadu dengan warna merah sebagai warna keberuntungan. Beberapa hiasan seperti lampion, kertas merah dengan aksara Mandarin berwarna emas, kalender sobek, meja dan kursi antik berbahan besi, dan peralatan makan berbahan seng dan keramik menjadi pemanis ruangan.
Sebuah kursi dan meja kayu sederhana berwarna cokelat tua terletak menempel pada dinding sebelah timur di bagian dalam ruangan. Tepat di atasnya terdapat sebuah jam dinding kuno yang hanya akan bergerak ketika kursi tersebut ada yang menduduki, begitu kata temanku yang merekomendasikan tempat ini.
“Duduklah di kursi itu, maka pelayan akan mengerti maksud kedatanganmu,” ucapnya beberapa waktu yang lalu.
Semua tempat duduk di kedai ini tampak ramai saat aku datang, hanya kursi kayu itu saja yang kosong. Saking ramainya, terdapat beberapa orang yang berdiri, bahkan ada beberapa yang baru datang langsung pergi, mengurungkan niatnya untuk makan di sini. Para pelayan tampak hilir mudik membawa pesanan yang seperti tak ada habis-habisnya. Suara sutil yang beradu dengan wajan pun seperti tak ada hentinya. Sangat aneh bukan jika di tengah keramaian seperti ini kursi itu tetap kosong? Tampaknya benar kata temanku, kursi itu hanya bagi tamu khusus dengan tujuan tertentu.
Aku segera duduk di kursi kayu itu. Jarum jam yang semula membeku pada angka dua belas, mulai berdetak sejak detik pertama kutempelkan pantatku. Irama detaknya teratur seperti irama jam pada umumnya, tapi entah mengapa aku seperti terhipnotis oleh alunannya. Tik, tok, tik, tok …
Aku terperangah setelah melihat sekeliling, kedai yang sedari tadi tampak ramai sekarang mendadak sepi. Seperti berada di ruang interogasi, hanya ada satu pencahayaan yang menyala, seperti ada sebuah lampu sorot di atas kepalaku. Kegelapan yang pekat mengintai di sekeliling tempatku duduk. Tak ada orang lain selain diriku di ruangan ini. Tak ada suara lain selain suara detik jarum jam yang berpacu dengan suara detak jantungku.
Dari dalam kegelapan itu tiba-tiba muncul sesosok lelaki tua botak berperut buncit mengenakan pakaian juru masak berwarna putih. Apakah dia ini yang bernama Baba Hong?
“Selamat datang, Tuan,” ucapnya sembari melempar senyum ramah.
Karena kemunculannya yang tiba-tiba membuatku sedikit kaget, aku berusaha membalas senyumannya walaupun sedikit kikuk.
“Apa benar Tuan ingin melupakan salah satu kenangan indah dalam hidup Tuan?” ucapnya. “Tak usah kaget, saya tahu karena setiap orang yang duduk di kursi ini pasti ingin memesan teh Penghapus Kenangan Indah,” sambungnya melihat ekspresiku yang sedikit kebingungan.
Hanya sebuah senyum tanggung yang bisa kulemparkan.
“Benar, saya ingin menghapus sebuah kenangan indah,” ucapku kemudian.
“Mengapa? Bukankah kenangan indah selalu dibutuhkan manusia untuk terus bertahan hidup?”
“Tidak semua kenangan indah bisa menjadi penguat hidup. Ada beberapa kenangan indah yang lebih baik terhapus agar hidup dapat terus berlanjut. Saya kira Anda mengetahui hal itu, dan berdasarkan hal itu Anda menyiapkan kursi khusus ini,” ucapku lebih lanjut.
Dia hanya tersenyum kecil. Matanya yang sipit itu makin menyempit saat bibirnya ditarik pada kedua sisi.
“Baiklah, mohon tunggu sebentar.” Dia lalu pergi ke arah dapur, meninggalkanku seorang diri di ruangan yang masih tampak sepi ini.
Lima menit berlalu, lelaki botak berperut buncit itu kembali. Dia membawa sebuah nampan kayu berisi teko, cangkir tanpa tangkai, dan sebuah wadah berbentuk kubus. Semua hal yang berada di atas nampan itu terbuat dari keramik, berwarna putih, dan bermotif seekor qilin1 berwarna biru tua.
Wadah berbentuk kubus itu kemudian dibuka. Sebuah buntalan bunga kering diambil dari dalamnya. Buntalan bunga kering itu kemudian dimasukkan ke dalam teko yang telah berisi air panas. Segera air dalam teko tersebut berubah warna menjadi kemerahan dan buntalan bunga kering itu merekah, bentuknya seperti bunga seruni.
Momen ajaib itu memukau mataku sebelum lelaki botak berperut buncit itu menutupnya. Setelah ditunggu beberapa saat, dia menuangkan air kemerahan dari dalam teko ke sebuah cangkir kecil. Cangkir itu lalu disuguhkan kepadaku.
Tangannya lalu merogoh saku di bajunya. Dia mengambil sebuah kunci tua berwarna cokelat keemasan yang sudah aus di beberapa bagian. Ditancapkannya kunci itu pada lubang yang terletak di sisi depan jam dinding. Diputarnya kunci itu ke arah perputaran jarum jam sebanyak lima kali.
“Setiap lima belas menit, seekor qilin akan keluar dari lubang itu,” ucapnya sembari menunjuk ke arah atas jam. “Dengar baik-baik berapa kali qilin itu menyalak, sebanyak itulah sesapan yang harus Anda lakukan untuk menghabiskan teh di cangkir ini. Lakukan hal itu berulang kali hingga teh dalam teko ini habis. Mengerti?”
Aku hanya mengangguk kecil.
“Ingat, Anda harus benar-benar teliti, Tuan. Sebab jika Anda salah langkah, maka efek yang terjadi malah sebaliknya. Kenangan indah itu akan abadi dalam hati dan pikiran Anda,” ucapnya sebelum berbalik dan meninggalkanku.
Tiba-tiba saja aku menjadi gugup. Berbagai pertanyaan berkelindan dalam kepalaku. Apa benar aku ingin melakukan ini? Apa benar ini akan berhasil? Bagaimana jika aku salah langkah dan yang terjadi justru sebaliknya? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang saling berkejaran dalam kepalaku.
Suara qilin yang menyalak sebanyak tiga kali membuyarkan lamunanku. Segera kusesap teh dalam cangkir itu sebanyak tiga kali. Lana tiba-tiba muncul di hadapanku. Dia tersenyum, senyumnya masih sama. Melintang indah di antara kedua pipi dengan sebuah kawah kecil berbentuk bulan sabit terukir tepat di sisi bawah kedua ujung bibirnya. Pupil matanya yang berwarna cokelat tua memancarkan kebeningan layaknya telaga. Rambut dengan sedikit gelombang yang menari-nari kecil tertiup angin. Dia masih secantik dulu.
Aku ingin berlama-lama menatap Lana. Kerinduan yang teramat sangat kembali membuncah, tak mampu kutahan lagi. Tanpa terasa aku berdiri. Kurentangkan tangan untuk mendekapnya, tapi suara qilin itu kembali menyadarkanku, membuat sosok Lana raib dari hadapanku. Kali ini dia menyalak sebanyak lima kali.
Buru-buru kutuang teh ke dalam cangkir. Segera kusesap sebanyak lima kali hingga teh dalam cangkir itu tak bersisa. Lana kembali muncul di hadapanku, kali ini dia menggunakan gaun biru yang kubelikan untuk hadiah ulang tahunnya yang ke-29. Gaun yang menjuntai hingga lututnya itu sangat cocok dia kenakan. Kulit kuning langsatnya makin bersinar. Senyum manis itu kembali merekah. Dia sedikit berputar, membuat ujung gaunnya bergelombang. Kau memang wanita tercantik yang pernah kutemui.
Qilin itu kembali keluar dari jam dinding dan menyalak. Lamunanku buyar, Lana kembali raib. Kali ini dia menyalak sebanyak tujuh kali. Segera kutuang lagi teh dari dalam teko ke dalam cangkir. Buru-buru kusesap teh itu sebanyak tujuh kali hingga tak bersisa. Lana kembali muncul. Kali ini dia berlarian di pantai. Kakinya yang jenjang berlarian di atas pasir putih yang lembut.
Dia tampak bahagia, menari-nari dan berlarian dengan riangnya di bawah sinar matahari dan di antara debur ombak. Namun, aku tak ingat pernah mengajaknya ke pantai. Seorang lelaki tiba-tiba muncul menggenggam tangannya. Mereka lalu berjalan bersama di bibir pantai itu, membiarkan ombak-ombak kecil menyentuh kaki mereka sembari sesekali saling tatap dan melempar senyum.
Keduanya tampak bahagia. Belum sempat kulihat wajah pria itu, qilin kembali keluar dan menyalak. Kali ini dia menyalak sekali dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya. Iramanya pilu dan kesepian. Kutuang kembali teh dari dalam teko. Itu adalah teh terakhir, tak tersisa setetes pun di dalam teko.
Aku mengambil napas sebelum meneguknya kali ini. Qilin itu masih mengeluarkan suara yang makin lama makin pelan, dalam, dan pilu, hingga suara itu menghilang dan qilin itu kembali ke sarangnya. Segera kuminum teguk terakhir dengan sekali sentakan.
Kali ini Lana muncul dengan gaun putih yang menjuntai hingga ke lantai, menutupi kaki indahnya dengan sempurna. Dia menggenggam beberapa kuntum mawar putih yang terikat menjadi satu. Sekali lagi, senyum merekah memperlihatkan jajaran giginya yang rapi. Dia tampak sangat bahagia. Sebuah kristal tergantung di ujung kedua matanya. Kristal itu lalu mencair membasahi pipi dan terjun indah dari ujung dagunya.
Pria yang menggenggam tangan Lana di pantai itu kembali muncul. Kali ini bisa kulihat dengan jelas wajahnya. Dia Lee, sahabatku. Ah … kali ini aku ingat momen ini, pernikahan Lana dan Lee. Aku benci momen ini. Momen yang membuatku memutuskan untuk melupakan semua kenangan indah bersama Lana. Sialnya, dalam momen ini mereka tampak serasi.
Aku kaget lantaran jam dinding di atasku tiba-tiba berdentang kencang. Semua kenangan indah yang kurasakan tentang Lana keluar begitu saja dari kepala dan dadaku. Melayang memenuhi udara kedai ini hingga penuh sesak. Pada dentangan jam kedua belas, semua gambaran kenangan itu menguap ke udara dan menghilang. Ruangan ini kembali ramai seketika seperti saat pertama kali aku masuk ke sini.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mengamati sekitar. Suasana kedai ini kembali seperti kedai biasa yang ramai pengunjung. Kulihat jam dinding yang mengeluarkan qilin itu. Jarumnya kembali membeku di angka dua belas.
Aku benar-benar lupa akan kenangan indah bersama Lana. Hanya tersisa rasa benci, marah, dan sedih dari kenangan ketika dia memutuskan untuk menikah dengan Lee. Setelah menenangkan diri sejenak, aku beranjak untuk membayar tagihan di kasir.
Hari sudah sore saat aku keluar dari kedai itu. Matahari sudah sangat condong ke arah barat, sebentar lagi tenggelam. Aku bergegas menuju stasiun, takut tertinggal kereta terakhir hari ini. Sembari berlari, aku terus memandang ke arah barat menikmati sinar senja yang terlihat sangat indah. Untuk pertama kalinya aku dapat menikmati hidup kembali, sejak kejadian itu, ketika tanganku berlumuran darah mereka. []




