Penyair Syahdan Agogo

Ilustrasi: Aprililia

Di pojok utara prapatan Balaikota, yang menghubungkan Kota S dan Kota T, tepatnya di belakang Gedung Hantu Monroe (demikian orang menyebut bekas gedung bioskop Sriwana Theatreitu), terdapat sebuah kedai kopi yang hanya membuka jualan di malam hari. Pemiliknya adalah seorang perempuan buta bernama Puk Minah, yang sudah tua dan bongkok. Ia dibantu oleh cucunya, bocah perempuan, yang selalu duduk terkantuk-kantuk di depan tungku.

Di warung kopi milik Puk Minah itulah para seniman Kota S biasa berkumpul di malam hari, sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Dulu Puk Minah biasa dipanggil “Mak”, sekarang, sejalan kondisi fisiknya yang semakin menua, ia dipanggil “Puk” yang artinya nenek dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia.

Para seniman yang nongkrong pun terus berubah dari masa ke masa. Satu-satunya seniman dari angkatan lama yang masih tersisa adalah penyair Syahdan Agogo, yang kini berusia 68 tahun. Yang lebih tua atau seumuran dengan Syahdan Agogo sebagian besar sudah meninggal. Ada juga yang menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa, seperti pematung Yadi Pekor, yang sering berbicara dengan patung-patung setengah jadi di studionya yang mirip bengkel tukang kayu.

Di warung kopi itu, mereka akan begadang semalam suntuk sambil ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal, dari soal dunia kesenian yang makin tergerus oleh internet sampail soal pemerintah kota yang carut-marut. Dan percakapan mereka akan berakhir manakala terdengar kumandang azan Subuh dari masjid Ibnu Majah di barat alun-alun.

Selain kalangan seniman, sesekali akan tampak juga para wartawan, pengurus partai, aktivis LSM, atau caleg gagal, yang stres karena ditagih utang. Mereka akan membaur dengan para pengunjung kedai lainnya, termasuk sopir angkot, tukang ojek, SPG, pedagang asongan, PSK, gembel, bahkan orang gila. Sebentar-sebentar akan terdengar suara gitar dan krecek para pengamen yang membawakan lagu patah hati atau protes kepada pemerintah yang kerjanya cuma omon-omon.

Karena tidak tertampung pada tiga bangku panjang yang terdapat di depan dan kiri-kanan warung, sebagian dari mereka akan duduk beralas tikar dan kardus di trotoar, juga undakan di sekeliling Patung Kuda, serta di tempat yang agak menyuruk ke dalam, tepatnya di kedai tuak Jero Kotok di belakang bekas gedung bioskop.

Dari kalangan seniman, malam itu tampak Toni Kardan, berdiri di belakang Patung Kuda. Pria tinggi besar itu tengah berbincang dengan seorang gadis bercelana pendek yang terlihat gelisah dengan asap rokoknya. Persis di kaki Patung Kuda, duduk bersender di kaki patung, pelukis Sadrah Kuncir. Ia dikelilingi oleh beberapa mahasiswa jurusan seni rupa. Sementara di bawah baliho iklan deodoran tampak kritikus sastra Hamdan Baus berkacamata tebal. Baus didampingi oleh penyair Rita Octora, yang belum lama ini menerbitkan buku puisi Peluh Jantan, yang dipuji setinggi langit oleh Hamdan Baus dalam resensinya di Jurnal Seni Equator.

Sedangkan pada bangku panjang di depan warung, duduk membelakangi meja warung aktor Bahal Osbon, yang pernah berak di panggung dalam pementasan drama Pintu Tertutup karya Jean Paul Sartre, hingga menggegerkan jagat teater. Tetapi oleh kritikus teater Toni Kardan justru diapresiai sebagai pementasan terbaik dalam 25 tahun terakhir, “Kendati menyimpang dari naskah,” katanya, saat menjawab pertanyaan sejumlah wartawan yang mencegatnya di pintu keluar gedung teater. Meskipun pujian itu dianggap menghina oleh sutradara Faris Arya, karena improvisasi yang dilakukan oleh Bahal Osbon, pemeran tokoh Garcin itu, bukan saja telah mencoreng citra dunia teater, melainkan juga mengotori gedung kesenian dengan tinja, sehingga membuat pemerintah kota berang karena nama Kota S viral di dunia maya gara-gara tai.

Hampir saban malam para seniman itu akan nongkrong di situ, untuk berbincang tentang berbagai hal. Manakala malam makin larut, obrolan mereka pun akan makin ngelantur. Antara realitas dan imajinasi, bahkan hoaks, seakan berbaur jadi satu, karena bagi mereka batas antara kenyataan dan khayalan sangat tipis, bahkan hilang sama sekali.

Malam itu, topik obrolan mereka masih seputar nasib pelukis Sadrah Kuncir, yang kemarin dilaporkan ke polisi oleh Dinas Tata Kota karena gerakan seni muralnya dianggap tidak saja telah mengotori tembok kota, tapi juga telah memprovokasi warga agar menolak membayar pajak akibat layanan publik yang buruk. Gerakan seni mural itu secara sembunyi-sembunyi didukung oleh para aktivis LSM, yang selama ini memang sering berbenturan dengan pemerintah.

“Pokoknya kalau Sadrah ditahan, kita demo!” ancam Kasfo, seorang pimpinan LSM, sambil masuk ke mobilnya.

“Siaap, Bang! Puk Minah juga ikut demo!” timpal Ribat, yang baru keluar dari penjara karena cimeng.

Ngomong apa kamu setan-blis?” sahut Puk Minah, sambil melempar Ribat dengan kulit singkong.

Selain tentang Sadrah Kuncir, malam itu perhatian mereka juga tertuju kepada Norman Goli, pemain selo, yang baru kembali dari Brussel, setelah tiga tahun bermukim di Eropa. Ketakjuban orang bukan pada cerita Goli tentang pengalaman hidup di Eropa, melainkan pada sosok gadis cantik bermata biru yang kini bersender di lengan Goli. Membandingkan keduanya, baik wajah maupun usia yang terpaut jauh, ibarat bumi dan langit. Norman Goli, bujang lapuk, berusia 47 tahun yang biasa dijuluki “si muka kodok”, bersanding dengan seorang balerina remaja bertubuh langsing seperti boneka Barbie. Menyaksikan pemandangan kontras di trotoar malam itu, langit seperti mau runtuh di kepala Pakok, penata lampu panggung, yang jarang buka mulut itu.

Akan tetapi, dari beberapa cerita ganjil tentang kehidupan seniman Kota S itu, yang paling konyol sekaligus miris adalah kisah hidup penyair Syahdan Agogo. Seperti diketahui, penyair asal Bukit Jambul itu bercita-cita memenangkan hadiah Nobel Sastra, sehingga dalam setiap kesempatan ia akan selalu berbicara mengenai hadiah Nobel, tak peduli lawan bicaranya itu seorang pedagang asongan atau penggali sumur.

Untuk membicarakan hadiah Nobel, penyair Syahdan Agogo sanggup duduk berjam-jam. Ia hapal betul nama-nama para sastrawan pemenang Nobel sejak Sully Prudhomme, pemenang Nobel tahun 1901, sampai Han Kang dari Korea Selatan, yang memenangkan Nobel 2024, termasuk judul-judul karya mereka. Akibat obsesinya yang berlebihan itu, Syahdan Agogo sering jadi bahan tertawaan teman-temannya. Selain itu Syahdan juga suka membual. Ia sering memuji puisinya sendiri sembari menjelek-jelekkan puisi penyair lain. “Apa istimewanya puisi Arif Anwar dan Toni Erlangga? Hanya permainan rima yang kosong!” kata Syahdan seraya mencibir.

Pada setiap bulan Oktober, tepatnya pada hari pengumuman hadiah Nobel, Syahdan Agogo akan selalu datang ke kedai kopi sambil menenteng radio transistor, untuk mendengarkan berita pengumuman hadiah Nobel dari Akademi Swedia. Padahal di jaman now, sebenarnya Syahdan Agogo tak perlu repot-repot membawa radio ke warung kopi, karena semua berita dengan mudah diakses di internet. Tinggal klik Google atau masuk ke kanal Youtube, berita yang dicari akan langsung muncul. Bahkan berita mengenai hadiah Nobel disiarkan secara live di Youtube, tak perlu mendengarkan melalui radio. Tapi Syahdan tidak mau melakukan itu. Baginya, mendengarkan berita di radio (seperti yang dilakukannya sejak tahun 1980-an) lebih berkesan ketimbang menonton melalui Youtube.

Pada menit-menit terakhir menjelang siaran berita, Syahdan Agogo akan terlihat gelisah. Sebentar-sebentar ia akan menoleh ke jam tembok di menara balai kota. Begitu terdengar jingle musik pengantar berita, Syahdan akan memalangkan telunjuknya ke bibir, meminta kawan-kawannya diam, untuk mendengarkan pengumuman dari panitia Nobel yang disiarkan melalui radio. Saat itu jantungnya akan berdegup lebih cepat dari biasanya, karena membayangkan namanya yang disebut sebagai pemenang Nobel. Tetapi, begitu host menyebut nama sang pemenang, tubuh Syahdan Agogo akan oleng ke trotoar karena bukan namanya yang disebut, lantas ngeloyor pergi ke kedai tuak Jero Kotok atau ke kolong jembatan gantung.

Sikap Syahdan Agogo yang tak tahu diri itu kerap dicemooh oleh kawan-kawannya, karena sastrawan sekelas Pramoedya Ananta Toer dan Rendra saja tidak terpilih sebagai pemenang Nobel, apalagi penyair Syahdan Agogo yang cuma terkenal di warung kopi.

Seperti yang juga terjadi malam itu (Kamis, 9 Oktober 2025), penyair Syahdan Agogo kembali datang ke kedai kopi sambil menenteng radio transistor. Orang-orang pun segera menyadari, bahwa malam itu jadwal pengumuman hadiah Nobel untuk sastra, momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh Syahdan Agogo. Setelah memesan secangkir kopi pada Puk Minah, ia pun bergabung dengan kawan-kawannya sesama sastrawan, duduk beralas tikar dan kardus di trotoar.

“Nunggu Nobel, Go?”

“Ya, saya yakin tahun ini giliran saya,” jawab Syahdan Agogo yang kini seluruh rambutnya telah memutih, “Karya para penyair Amerika dan Eropa belum mampu menandingi puisi-puisi dalam Batu Batuk.” kata Syahdan, menyebut judul buku kumpulan puisinya yang diterbitkan oleh UD, sablon dwiwarna, puluhan tahun silam itu.

“Memang puisimu sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris?” tanya Royal, si komikus, sambil mengepulkan asap rokok.

Syahdan Agogo melengos, kurang suka pada pertanyaan yang memojokkan dirinya itu.

Setelah menengok ke jam raksasa di menara balai kota, Syahdan Agogo memanggil rekan-rekannya sesama sastrawan yang duduknya agak berjauhan supaya mendekat ke radio. “Malam ini akan menjadi hari bersejarah bagi kita semua,” kata Syahdan, kemudian memutar knop radio yang segera memperdengarkan suara berdengung.

Begitu terdengar jingle berita, “Ssst …!” Syahdan Agogo kembali menempelkan telunjuknya ke mulut, meminta kawan-kawannya diam, untuk mendengarkan berita dari Akademi Swedia itu. Suara radio yang berdengung membuat Syahdan Agogo kurang nyaman, sehingga meletakkan radionya di pundak, agar lebih dekat dengan telinga.

“Sari berita penting …,” terdengar suara host menyampaikan indeks berita, “Laszlo Krasznahorkai, sastrawan Hungaria, terpilih sebagai pemenang Nobel Sastra tahun 2025.”

Bragg …! Radio transistor di pundak Syahdan Agogo terjatuh ke trotoar. Baterainya tercecer dan menggelinding di aspal. Hati Syahdan Agogo benar-benar remuk. Tapi ia masih bisa berdiri, lalu menghampiri Puk Minah di warung.

“Berapa utang saya, Puk …?” tanya Syahdan Agogo sambil menyodorkan radionya sebagai jaminan.

“Bawa saja radiomu, saya sudah punya TV,” ujar Puk Minah, dongkol.

Sudah berbulan-bulan Syahdan Agogo belum membayar puluhan cangkir kopi yang diminumnya setiap malam. ***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top