
Dikarenakan perangai kami yang gemar membenahi hal-hal yang sebetulnya tidak rusak, kota kami akhirnya menjadi seperti sekarang: rapi dan terang tetapi sekaligus juga sesak dan tak ada yang betul-betul bisa melihat. Warga dari kota lain menyebut kota kami sebagai kota paling aman di negeri ini—tak ada pencopet, tak ada pengemis, tak ada lelaki yang berani menatap mata perempuan lebih dari tiga detik. Tentu saja kami bangga atas keberhasilan itu, meskipun di dalam dada yang sama terbit pula perasaan berlawanan: jenuh, muak, dan palsu.
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai merasa terasing di kotaku sendiri. Barangkali sejak pemerintah kota menetapkan Hari Kesetaraan Total setiap tanggal 17, menggantikan hari peringatan kemerdekaan. Barangkali juga sejak semua taman diubah menjadi taman refleksi, di mana setiap pengunjungnya (lelaki) wajib menulis catatan introspeksi atas kesalahan gender masa lalu sebelum diperbolehkan duduk di bangku. Atau mungkin sejak mereka memutuskan semua patung pahlawan lelaki mesti dikecilkan—memang tidak sampai dirobohkan, melainkan dikecilkan saja agar proporsional terhadap sejarah.
Aku tahu, niat awalnya baik. Dan begitulah selalu alasannya. Namun niat baik sekalipun kalau dilakukan tanpa kesadaran yang penuh, lama-lama bisa berubah jadi kekuasaan yang menakutkan.
Aku tinggal di blok tua yang masih menyisakan atap seng dan tiang kayu. Persis di seberang rumahku, dulu ada warung kopi, tempat kami—para lelaki dewasa—biasa berdebat soal politik dan sepak bola sambil menatap televisi butut. Sekarang warung itu sudah menjadi ruang konsultasi gender—tempat para lelaki diwajibkan datang setiap bulan untuk “memeriksa kadar toksisitas maskulin” dalam diri mereka. Nama lembaganya Pos Penjernih Kesadaran. Di dalamnya ada petugas muda, biasanya perempuan berseragam abu-abu, yang mencatat setiap kata yang keluar dari mulut kami.
“Apakah Bapak pernah marah kepada istri?”
“Sering, tapi—”
“Baik. Catatan: masih ada residu dominasi emosional.”
“Apakah Bapak masih suka menatap perempuan cantik di jalan?”
“Tidak juga, tapi kadang ter—”
“Catatan: potensi visual patriarkal belum kuat tertanam.”
Begitulah kira-kira. Mereka bilang itu hanya evaluasi ringan, tapi setiap catatan disimpan di pusat administrasi kota. Dan catatan itu amat menentukan apakah seseorang boleh mengajukan kredit rumah, mengurus surat pindah, bahkan ikut dalam pemilihan apa saja yang diselenggarakan warga. Semuanya diukur dari tingkat kesetaraan internal.
Aku tak tahu siapa yang pertama kali menciptakan sistem itu. Mungkin bukan siapa-siapa. Layaknya jamur saja, ia tumbuh dari kelembapan sosial yang terlalu lama dibiarkan.
Dulu, sewaktu muda, aku bekerja sebagai juru arsip di Kantor Wali Kota. Pekerjaanku sederhana: menyusun, memberi label, dan menyimpan dokumen. Aku mencintai ketertiban, tapi bukan ketertiban yang diatur oleh rasa takut. Ketika reformasi kesetaraan mulai diberlakukan, aku sesungguhnya salah seorang yang ikut bertepuk tangan di aula besar itu. Aku kira saat itu kota ini akhirnya belajar menghormati perempuan. Namun lambat laun aku sadar, yang tumbuh bukanlah rasa hormat, melainkan semacam keharusan untuk selalu bersalah.
Anakku yang paling besar seorang guru bahasa. Dia pernah menegurku lantaran aku memanggil istrinya dengan sebutan: Bu Guru.
“Itu merendahkan, Ayah,” katanya. “Sapaan seperti itu adalah warisan patriarki—seolah perempuan hanya pantas dihormati kalau dikaitkan dengan profesi atau suaminya.”
Menantuku tersenyum, lalu berkata dengan nada tenang yang lebih terasa seperti kuliah kecil nan singkat, “Saya lebih suka dipanggil Elara. Bukan Elanora. Nama itu terdengar netral di kuping saya, sebab tidak ada muatan gender di dalamnya.”
Aku diam saja. Namun diamku ternyata ditafsirkan sebagai penolakan; ketidaksetujuan. Di kota ini, diamnya seorang lelaki bisa dianggap sebagai perlawanan pasif. Mau tak mau aku pun belajar berbicara seperlunya, atau bahkan tidak sama sekali jika itu diperlukan. Dan sejak hari itu, aku juga tak lagi tahu bagaimana seharusnya memanggil seseorang tanpa menyinggung siapa pun.
Hari ini, saat aku menulis ini, matahari tepat di ubun-ubun. Kotaku tampak berkilau layaknya batu akik yang habis digosok. Dari jendela, aku bisa melihat anak-anak berseragam oranye melintas, beriringan seperti lebah. Mereka menuju Pusat Pembentukan Karakter, tempat pelajaran moral diajarkan lewat simulasi empati. Di sana, setiap anak harus berperan sebagai lawan gender selama dua jam: anak lelaki memakai rok panjang dan disuruh mencatat perilaku teman-teman mereka yang masih berjiwa maskulin. Sedangkan anak perempuan, sebaliknya, diajari menegur, melapor, dan menilai.
Aku pernah sekali menonton acara latihan itu secara langsung, dan setelahnya tak ada lagi keinginan untuk mengulanginya. Jujur, aku seperti merasakan ada sesuatu yang tak berdenyut di balik semua kerapian itu.
Setiap malam tiba, biasanya, aku duduk di teras rumah seraya mendengarkan siaran radio Suara Kesetaraan. Suaranya lembut, teratur, dan menenangkan, serupa doa yang diulang-ulang hingga maknanya jatuh berceceran. Kadang mereka membaca nama-nama lelaki yang “telah disembuhkan.” Nama-nama itu disebut dengan nada penuh kebanggaan. Namun sering pula, tiba-tiba, penyiar berhenti, dan menyebut satu-dua nama dengan nada datar: menghilang dalam proses penjernihan.
Sejujurnya aku tak tahu apa artinya itu. Tak ada yang tahu. Kami hanya tahu, kalau seseorang mulai banyak bertanya, namanya bisa disebut berikutnya. Namun, beberapa waktu lalu, sesuatu terjadi.
Di salah satu perempatan kota, pada dinding beton putih besar yang biasanya putih bersih, seseorang menulis kalimat dengan cat hitam: Bahkan cahaya yang paling terang sekalipun takkan mampu menghapus sebuah bekas.
Tulisan itu ditulis tak terlalu besar, tapi entah mengapa terasa sangat dalam. Seakan bukan sekadar coretan, melainkan semacam pengakuan yang ditinggalkan oleh seseorang yang sudah kalah, atau malah sudah terlalu sering menang.
Keesokan paginya, tulisan itu menghilang. Dindingnya dicat ulang, lebih putih dari sebelumnya. Namun sejak saat itu, aku tak lagi melihat kota ini dengan cara yang sama. Macam ada sesuatu yang perlahan pecah di dalam kepala—tidak sakit, hanya ngilu tetapi cukup membuat tidurku tak lagi benar-benar nyenyak.
Aku mulai mengingat Abdul Jamil. Ia bukan seorang tokoh apalagi seorang pahlawan, hanya seorang warga biasa sepertiku. Namun dulu namanya kerap disebut di warung kopi kami—lelaki yang katanya mati di masjid, dan dikabarkan mati karena berani mengucapkan kalimat yang dilarang, bahwa tidak semua keadilan harus sama bentuknya. Dan kini, ketika aku melihat matahari tepat di ubun-ubun, aku merasa seperti melihat bayangan Jamil di trotoar yang bersih: tipis, hampir tak ada, tapi nyata.
Mungkin, pikirku, sesuatu yang terlalu disucikan malah kehilangan kemanusiaannya.
***
Suatu malam, kota mengumumkan Hari Penjernihan Akhir. Pengumuman itu dibacakan oleh seorang perempuan dengan suara yang sangat halus, seolah sedang membacakan doa. Isinya pendek: “Kita telah sampai pada tahap sempurna. Semua bentuk ketimpangan terakhir akan dibersihkan malam ini.”
Aku keluar rumah. Langit di atas kepalaku tampak lebih terang dari biasanya. Dari kejauhan, aku lihat lampu-lampu gedung pemerintahan berkilat persis kumpulan lilin di altar besar. Orang-orang berdiri di depan rumah mereka, sebagian menatap ke arah pusat kota, sebagian hanya menunduk. Tak ada yang bicara aku lihat. Dan tak ada yang tahu siapa yang akan dibersihkan kali ini.
Aku berjalan pelan ke taman refleksi. Di bangku tengah, ada seorang gadis muda berseragam abu-abu—mirip petugas di Pos Penjernih. Ia menatapku beberapa saat, lalu berkata pelan, nyaris seperti berbisik, “Bapak dulu juru arsip, ya?”
Aku mengangguk.
Ia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya, sebuah berkas kusam dengan segel merah. Di sampulnya tertulis: Arsip Abdul Jamil—Disembunyikan.
“Naskah ini dilarang beredar,” katanya, “tapi saya menemukannya di bawah tumpukan laporan lama. Saya kira, Bapak perlu membacanya sebelum malam ini selesai.”
Ia meninggalkanku tanpa menoleh lagi.
Aku membuka naskah itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya hanya ada satu halaman dengan kalimat tunggal: Keadilan bukan meniadakan perbedaan, melainkan menerima luka dari keberbedaan itu.
Aku menutup naskah itu perlahan. Lalu entah dari mana, terdengar raung panjang sirine. Angin kurasakan berhenti. Langit berkedip sekali, kemudian seluruh kota mendadak padam. Dalam gelap itu, aku melihat bayangan-bayangan bergerak cepat di jalanan—para petugas penjernih, membawa alat berkilat biru, mengetuk pintu-pintu rumah. Suara-suara kecil memecah keheningan. Lalu hening lagi.
Aku tahu giliranku akan tiba. Namun anehnya, aku merasa tenang. Aku kemudian menulis satu catatan terakhir di buku harian: Mereka yang akan membersihkan tubuhku, takkan mampu membersihkan pikiranku. Karena pikiran bukan milik siapa pun, bahkan ketika dunia sudah tak mengenal sebuah nama sekalipun.
Ketika pintu rumahku diketuk, aku hanya berkata, “Masuklah. Aku sudah siap.”
***
Pagi hari setelahnya, kota kembali terang. Di radio, penyiar membacakan daftar nama baru yang telah mencapai kesetaraan sempurna. Namaku tak disebut. Namun aku tahu, di kota seperti ini, kadang yang tidak disebut sesungguhnya sudah selesai dibersihkan.
Di taman refleksi, bangku-bangku kosong. Pohon-pohon berdiri diam. Di tanah, dekat akar pohon yang tumbuh miring, seseorang menulis dengan arang: Sebab tanpa sebuah bekas, cahaya pun tak tahu apa yang pernah ia sentuh.
Dan matahari—tepat di ubun-ubun—seolah membaca kalimat itu perlahan, sebelum menelannya habis.




