
Mak Roya adalah tukang gosip. Dia biang perkelahian di banyak rumah tangga orang. Pemisah orang bersaudara. Kepanitiaan pecah. Kekongsian berantakan. Pandai betul dia membuat cerita, menukuk dan mengurangkan kisah atau kejadian, memoles kabar menjadi isu.
Dia jadi kebencian bagi yang kena. Tapi disenangi bagi yang tidak kena.
Setiap orang senang dengan gosip. Tapi jelas tidak mau digosipkan.
Hebatnya Mak Roya, dia juru masak kampung.
Kepala dapur tiap helat. Orang-orang yang kenduri, nyaris selalu memanggil dia kalau ingin hidangan pesta mereka mendapat puji. Oleh karena itu pula, Mak Roya selalu punya panggung, untuk kabar burung. Dia selalu punya pendengar. Pasukan penyebar—ibu-ibu yang pasti akan berkumpul di dapur tiap acara baralek. Di situlah, hulu ceritanya. Alirnya bisa ke mana-mana. Bola liar. Melantun kian-kemari tanpa bisa diprediksi.
Namun, namanya gosip, acap menimbulkan celaka.
Tidak jarang, berakibat fatal.
Sudah sering, korban-korban gosip mendatangi Mak Roya, hendak melabraknya. Tapi Mak Roya, hebatnya, pandai berkelah. Ada-ada saja jalannya dia bisa mengelak. Lebih sering, melemparkan kesalahan, kepada orang lain.
“Saya hanya mendengar pula, dari si A.”
Lalu, Mak Roya, pada satu hari, tiba-tiba mati. Ditabrik truk tentara waktu ABRI Masuk Desa. Entah bagaimana ceritanya. Yang jelas, mati. Menggenaskan. Sebelah wajahnya hancur tak berbetuk, sebelahnya lagi dipenuhi pecahan kaca, berpasir, berkerikil. Darah.
Tubuhnya, yang setengah bonsor, entah telah rarak-patah, remuk-letuk, lenyai-lunglai, tidak ada dalam ingatan orang banyak. Hanya wajahnya itulah yang lekat dalam memori. Karena deskripsi wajahnya itulah yang selalu diulang-ulang—hingga kini—dengan ngeri dan nyeri.
Sebabnya, ia dikabarkan jadi hantu. Hantu dengan muka hancur sebelah, dan sebelah lagi penuh pecahan kaca. Dari truk tentara ketika ABRI Masuk Desa. Hantu Mak Roya beberapa kali muncul: mula-mula di atas kuburnya yang ditanam di kebon tidak jauh dari rumah, lalu pindah ke sudut belakang serambi rumah, lalu pindah lagi ke kebon, tapi kali ini bertengger bagai bergantung ke cabang paling bawah pohon rambutan, pindah pula ke pohon nangka di kebun yang sama, pindah ke pohon manggis di situ juga, balik lagi ke sudut belakang serambi rumah, lalu ke serambi depan, lalu ke atas atap dekat terpasang parabola, lalu … pokoknya, selama sebulan setelah kematian Mak Roya, cerita orang itu saja.
“Mak Roya jadi hantu. Penampakannya berpindah-pindah. Dengan muka hancur sebelah. Sebelah lagi penuh luka, berdarah, tertusuk runcing pecahan-pecahan kaca. Dari truk tentara ketika ABRI Masuk Desa.”
Di mana-mana orang-orang mengobrolkan itu belaka. Cerita dari si anu, pada malam anu. Orang yang dikira asal cerita, ketika dikonfirmasi, juga mengaku, dapat cerita dari si anu yang lain pula. Begitu seterusnya. Dari anu ke anu. Tidak ada yang benar-benar melihat langsung. Dengan mata di kepala sendiri.
Mak Roya hidup, jadi biang gosip.
Mati pun, dia masih ‘biang’ gosip.
Hantu Mak Roya mungkin tidak pernah benar-benar ada. Seperti pernah juga ditulis di sini, hantu ialah produk ketaksadaran kolektif. Hantu hadir sebagai residu sosial. Ia bukan entitas supranatural atau gaib atau sejenisnya. Dalam hidup berkorong-kampung, tidak semua perasaan yang mengganjal di hati dapat dibicarakan terbuka. Lebih banyak menahan ragam saja kita. Konflik dibiarkan berlalu tanpa pernah benar-benar diselesaikan. Berharap waktu akan memudarkannya. Tapi, kiranya, semua itu tidak hilang. Ia menumpuk. Lalu, mencari pintu, untuk meletup. Salah satunya, melalui cerita hantu itulah.
Jika sesuatu tidak sanggup diakui secara terang-terangan, tetapi juga tidak bisa dilupakan. Cerita tentang hantu memberi bentuk pada kegelisahan serupa itu.
Hantu Mak Roya kira-kira bekerja dengan cara demikianlah itu. Semasa hidup, Mak Roya dikenal sebagai penyebar gosip. Ia memecah hubungan dan menumbuhkan curiga, tetapi kebiasaan bergosip itu sendiri tidak pernah dibicarakan sebagai masalah bersama. Ia dianggap urusan pribadi, atau sekadar bagian dari kehidupan kampung, yang patut dimaklumi saja, sebagai kebutuhan bersama akan cerita dan bercerita.
Pada akhirnya, hantu Mak Roya memantulkan kegagalan sebuah komunitas. Kebiasaan bergosip dinikmati bersama, tetapi secara hiprokrit terus-menerus disangkal sebagai dosa. Selama orang-orang lebih memilih menceritakan ‘bayangan’ daripada membicarakan ‘sumber-asalnya’, selama itu pula hantu akan terus hidup di tengah-tengah kita.
Catatan Redaksi
Rubrik ini kini bernama “SKETSA”. Sketsa merupakan ruang “bercerita” tentang hal-hal lucu, unik, menarik, menyebalkan, memiriskan dan lainnya yang merupakan potret dari keseharaian manusia, kita sepanjang masa. Ide cerita berangkat dari hal-hal kecil kehidupan kita, baik dari penulis, teman atau pembaca. Rubrik ini khusus ditulis oleh dua orang tim redaksi cagak: Deddy Arsya dan Yusrizal KW, secara bergantian setiap Kamis. Jika ada ide atau usulan tema atau perilaku seseorang, silakan ke email redaksi, akan dituliskan sebagai cerita.




