
Di kampung, ketika azan Ashar berkumandang, orang-orang keluar dari ladang. Jika masih di ladang, apalagi sampai mendekati Magrib pula, orang-orang akan mencemooh. “Mau tidur di sawah, ha?”
Ada banyak hari untuk berleha-leha. Pagi sebelum jam delapan, rehat siang, setelah Ashar hingga habis malam.
Ada kerja yang dibawa pulang? Kadang-kadang saja. Tonggak penopang batang cabai yang harus dipersiang. Semat untuk mulsa yang harus dibuat. Atau ketika masa panen tiba, beberapa proses mengolah hasil panen dikerjakan di rumah. Tetapi acap semua dikerjakan di ladang juga.
Jadi, jika jam kerja selesai, orang sudah mandi dan bersalin baju. Aroma ladang tinggallah. Orang-orang memasuki panggung baru yang ‘harum’. Panggung berleha-leha, mengalai-ngalai di kedai-kedai, dan bercengkerama.
Namun, setengah orang akan berkata: tidak cukup hari saking banyaknya yang perlu dikerjakan.
Tapi, setengah yang lain mengatakan: mau apa di sini, tidak ada yang bisa dikerjakan.
Maka, yang terakhir ini, pergilah mereka ke kota. Merantaulah mereka.
***
Berabad-abad lalu, Thomas More mengimpikan manusia bekerja hanya 6 jam setiap hari. Itu hanya ada di sebuah negeri bernama Utopia, dalam sebuah roman yang berjudul sama. Utopia, terbit pada abad ke-16 di Inggris.
Dalam imajinasi More, masyarakat negeri Utopia itu hanya bekerja 3 jam pagi, dan 3 jam setelah siang. Selebihnya, mereka bisa beristirahat, bermain atau mengembangkan bakat.
Utopia, berasal dari dua kota Yunani, ou yang berarti tidak ada, dan toppos yang berarti tempat. Negara atau dunia ideal yang tidak ada di manapun kecuali dalam roman More itu.
More menulis itu ketika ketika feodalisme mendekati akhir di Inggris. Para bangsawan memperkaya diri dengan terus-menerus menaikkan pajak bagi petani dan memeras jerih-payah dari masyarakat miskin. Harga wol di Inggris meningkat karena industri wol mulai menyebar ke seluruh kota. Para bangsawan mengubah lahan pertanian menjadi peternakan domba yang hanya membutuhkan tenaga kerja terbatas, dan petani-petani yang banyak itu yang kehilangan lawah pertanian terpaksa pergi ke kota untuk bekerja berat dengan jam kerja panjang di pabrik-pabrik benang.
Inilah masa di mana alat-alat tak semakin memangkas jam kerja, tetapi malah memperpanjangnya.
Dan More mengharapkan yang sebaliknya?
***
Apakah perkakas-perkakas telah sangat membantu manusia dalam mempersingkat masa kerja?
Works: A History of How We Spend Our Time mengurai sejarah panjang relasi keduanya. Penulisnya, James Suzman, sampai pada kesimpulan: semakin maju peradaban manusia, semakin banyak alat/perkakas yang berhasil mereka buat untuk niat mempermudah pekerjaan, jam kerja manusia justru semakin panjang.
Begini. Masyarakat pemburu dan peramu atau pengumpul-nomad menghabiskan sangat sedikit waktu untuk bekerja. Mereka hanya berburu sekali-sekali. Setelah mendapatkan hewan buruan, mereka rehat panjang sembari menikmati hewan buruan, dan baru akan berburu lagi setelah makanan itu habis.
Lalu, dalam masyarakat agrikultur, jumlah jam kerja manusia meningkat lebih banyak. Seperti gambaran di bagian awal, sekalipun masa berehat masih cukup banyak, masa berleha masih bisa panjang, namun petani bisa bekerja di sawah sepanjang hari. Menyiapkan lahan, menyemai benih, menyiang gulma, hingga memanen. Belum lagi, mengolah hasil panen menjadi makanan yang siap disantap. Bahkan, ketika malam, mereka pun masih harus bekerja: patroli, menjaga tanaman mereka dari hewan perusak. Hasilnya, memang baik: surplus. Desa-desa padat penduduk tumbuh karena makanan dan nutrisi tercukupi. Usia hidup lebih panjang. Imunitas dan kesehatan lebih baik. Lalu darinya kota-kota lantas terbentuk. Lalu negara-negara kota. Lalu peradaban-peradaban besar dunia.
Lalu, memasuki masyarakat industrial, jumlah jam kerja makin menggelembung. Padahal, segala-gala telah dimesinisasi. Tangan manusia telah dikurangi perannya. Tapi anehnya, jam kerja manusia tidak kurang-kurang juga. Justru semakin banyak manusia mati karena kelelahan kerja—kebanyakan bekerja.
***
Lalu, apa sebenarnya yang menentukan jam kerja?
Hasrat akan kemajuanlah yang menentukan jumlah jam kerja, bukan penemuan perkakas. Begitulah kira-kira kata Suzman. Ketika teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, hasrat manusia untuk mengerjakan hal lain lagi justru terus tumbuh, lagi dan lagi.
Hasrat untuk maju, motivasi untuk berprestasi, atau apa pun istilah yang bisa dipakai untuk itu, sejauh ini telah mendorong manusia pada kegilaan kerja.
Maka ia mengajukan suatu tawaran: manusia harus punya titik berpuas diri, di mana ia berhenti mengikuti hasrat untuk terus bekerja demi menggapai kemajuan yang bisa tak ada ujungnya.
Hanya saja, seruan Suzman yang terakhir ini lebih cocok ditujukan kepada masyarakat yang kelebihan jam kerja, yang mati karena kelelahan kerja. Di dunia kita, dengan angka pengangguran tinggi, orang-orang justru mati karena tidak ada pekerjaan.




