
Di kampung saya, entah diproduksi oleh pabrik yang mana, ada piring yang amat tipisnya. Sedikit saja terbentur, pecahlah dia. Tidak terbentur pun, tersiram minyak panas atau kuah gulai baru menggelegak, pada retaklah dia.
Karena orang-orang harus berjaga-jaga betul dengan piring tipis. Harus berhati-hati betul jangan sampai tergisir dia, terlenda dia, terbentur dia. Maka, oleh sebab itu, piring tipis ini akhirnya tidak dipakai-pakai lagi, diletakkan saja di sudut dapur, untuk dilihat-lihat orang kalau ada teronggok banyak piring.
Memang begitulah niat banyak orang membeli piring tipis itu. Selain harganya yang memang murah, piring tipis dipunyai bukan untuk digunakan, tetapi lebih untuk menjawab tanya saja, biar di rumahnya terkesan piring banyak. Kalau ada acara, macam berhelat atau kenduri, dikeluarkanlah piring-piring itu semua.
Jadinya, dibanding pada praktiknya, lebih sering piring tipis ini terpakai dalam pembicaraan belaka, digunakan untuk perumpamaan, pisau tajam untuk mencemooh. “Tipis betul!” begitu kalimat yang disampaikan sambil membelakang ketika tanpa dinyana berhadapan dengan seseorang yang tiba-tiba merajuk oleh perkara atau perkataan yang semestinya tidak akan membuat manusia biasa tersinggung.
Memang di mana pun ada selalu manusia yang mudah sekali merajuk bersebab amat perasa—halus hatinya, kata orang mencoba untuk memahami dengan positif.
Di kampung saya, ada laki-laki yang menjadi terkenal seantero kampung karena berulang kali “lari dari rumah bini” bersebab persoalan yang bukan persoalan juga kali.
Misal, pernah suatu kali, laki-laki ini ketika makan malam menyendok nasi agak banyak dari biasanya. Istrinya yang melihat suaminya makan lebih banyak dari biasa, menjadi senang, dan mengomentari dengan girang, “Eh, mau benar selera Uda sekarang?”
Mendapat komentar macam begitu, akan laki-laki ini, dibungkusnyalah kainnya dari lemari. Turun dia dari jenjang rumah bininya malam itu juga.
Perkara semacam itu tidak sekali-dua terjadi. Dan setiap kali lari dari rumah, sekali-dua dijemput bininyalah dia. Tapi, karena sering lari, bininya tidak menjemputnya lagi.
Jadi, pada akhirnya, karena tidak tahan juga tinggal di rumah emaknya—bersama saudara perempuan dan para kemenakan yang kadang-kadang bermulut asing pula—maka baliklah dia sendiri ke rumah bininya. Tak perlu dijemput-jemput lagi.
Manusia jenis piring tipis ini kadang-kadang bisa jadi banyak. Terutama bila wabah kemiskinan sedang menjangkit. Panen gagal atau melaut susah ikan. Maka, jadilah mudah orang jadi retak.
Bagi yang kasar hatinya, terbitlah marahnya. Lebih jauh lagi, muncul amuk. Jadi menganiaya orang. Kita menyebutnya sekarang—sumbu pendek. Akal tak jalan. Sesak dada yang diperturutkan.
Di kampung saya, ada juga yang begitu. Tiap pekan istrinya membeli perkakas dapur baru karena tiap pekan ada saja yang pecah oleh kemarahan lakinya. Lakinya memang terkenal mudah naik pitam. Hanya karena perkara remeh bagi kita, tapi serius amat baginya. Bahkan jenis yang begini ini yang lebih banyak dibanding jenis yang sebelumnya. Pemberang. Mudah betul terbit burangsang. Tidak jarang, orang macam begini, anak atau bininya sendiri yang dianiayanya. KDRT namanya. Ujungnya dibawa polisi
Tapi, bagi yang hatinya halus, tipis, takut melakukan sesuatu yang agresif—merajuk sajalah jalannya lagi.
Lebih baik dari yang sumbu pendek? Memang tidak akan menyakiti siapa pun. Tidak akan ada periuk yang pecah atau pintu yang kupak karena mengamuk. Tidak akan ada orang lain yang bakal terluka apalagi terbunuh karena gelap mata oleh amarah durjana.
Yang akan retak, justru diri sendiri.
Puncak dari merajuk juga bisa: bergayut di pohon ampalam.
Bukan puncak sebenarnya, tapi titik terendah.
Nauzubillah, cuma nauzubillah. Memang kesehatan mental harus betul-betul diperhatikan sekarang ini. Baik piring tipis maupun sumbu pendek, sama-sama bermasalah, sama-sama jelek. Berhadapan dengan mereka sama-sama tidak asyik.
Mengapa ada orang yang mudah sekali tersinggung lantas marah—atau di sisi lain merajuk?
Tergantung mau dilihat dari sudut pandang mana. Tubuh dan susunan DNA? Itu sudut pandang biologis. Kromoson tertentu dari gennya; lingkar kepalanya; lapis jantungnya; kekentalan darahnya. Psikologi? Tekanan mental. Jiwa mengalami pengeroposan dari dalam. Sosiologi? Solidaritas yang merenggang. Kalau kata si Durkheim, anomie—kebingunan akibat runtuhnya tatanan lama, dan tidak cukup siap pada kehadiran tatanan baru. Macam-macam teorilah yang bakalan tiba kalau begitu.
Kata motivator di Youtube, sedih dan marah, takut dan kecewa, semua itu hanya emosi. Bukan diri kita. Tapi selama ini, kita menganggap itulah diri kita yang sebenarnya. Padahal, emosi bagai sesuatu yang hinggap belaka. Yang bisa kita buang atau tepiskan dengan gampang kalau kita tahu caranya. Caranya? Sadari, ajak berdialog sebentar, untuk membuatnya lepas – releasing!
Ha, lega!
Ingin tahu lebih banyak tentang teknik ini?
Ada penawaran premium—dengan potongan harga untuk 10 pendaftar pertama.
Owalaaa…
Untungnya, tanpa pernah terhubung ke motivator di Youtube, laki-laki perajuk di kampung saya sejauh ini tidak berakhir gantung diri. Karena istrinya cinta akan dia, dan dia pun cinta akan bininya, semua orang tahu itu, maka ujungnya selalu bersatulah mereka kembali tiap kali ada ancang-ancang untuk berpisah. Akhir-akhir ini, karena sudah semakin tua juga, sudah tidak pernah terdengar lagi dia lari dari rumah bininya. Hanya terkadang, memang iya, dia terlihat bermenung-menung sendiri juga di pos ronda sambil memilin-memilin kedua empu kakinya.




