Seekor Ayam Tetangga yang Membawa Cerita Harta Benda

Ilustrasi: Aprililia

Si Marni sering bikin Risma kesal, sesekali ngomel. Tapi, perasaan gondok demikian, hanya ia simpan dalam hati. Dibawa senang saja, karena sudah paham polah si Marni. Memaklumi tetangga namanya. Hidup di kampung, harus selalu pandai menjaga hubungan baik sama tetangga sebelah menyebelah. Kalau ada apa-apa tetangga yang turun duluan.

Secara ekonomi, dibanding Risma, Marni jauh lebih baik. Suaminya kontraktor. Punya mobil, motor, sepeda, dan rumah yang bagus. Ukuran orang kampungnya, itu sudah hebatlah.

Kalau sore, setelah mandi, Marni dandan, pakai gelang dan kalung emas. Kalau ada acara, penuh gelang di tangan dan besar kalung di leher. Belum lagi cincin.

Si Marni suka pamer. Flexing istilah orang kini. Cuma ada satu penyakitnya, ia merasa uring-uringan kalau tak ada yang perhatian ke penampilannya. Karena itu, Risma adalah tetangga sekaligus teman terbaik, yang katanya, “Bagai saudara…, mau mendengar dan teman curhat… Tidak pelit pujian.”

Risma menyadari kebutuhan Marni, kalau melihat Marni mau ke pasar, atau jalan dengan suami, selalu sempat-sempatkan untuk mengomentari. “Aduh Uni Marni, cantik betul. Gelangnya menyala, hati-hati dirampok….”

Sambil senyum, Marni menjawab, “Kan ada sekuriti idaman, suami tercinta. Ini emas murni lo. Oya, emas lagi mahal ya sekarang….”

Bagi Risma, kadang kasihan juga si Marni yang ia sapa dengan uni Marni. Sebagai orang kampung, dibanding para istri tetangga dekat rumah, Marni jauh lebih beruntung, hidupnya senang. Dirinya saja, punya suami sebagai tukang bangunan, berkuli kadang, tidak punya kalung dan gelang emas. Yang ada perhiasan emas-emasan, istilah orang emas imitasi. Istilah suaminya, pura-pura emas, emas icak-icak. Tapi dibawa melagak, difoto pakai hape, menyala juga, bagai emas sebenarnya.

Rumah Risma dibanding rumah Marni, bagai bumi dan langit. Sambil berseloroh, Risma bilang ke Marni.

“Uni Marni, rumah kita, bedanya bagai bumi dan langit. Rumahku bagai bumi habis dilanda banjir, rumah Uni Marni bagai langit biru indah dan cerah….”

Mendengar pujian Risma, Marni tertawa, sambil menepuk-nepuk lengan atas Risma. Ia terpingkal. Bahagia betul kalau sudah begitu. Memang, di dunia ini, ada orang seperti Marni, juga ada orang seperti Risma yang menerima hidup apa adanya dan memanfaatkan kawan seperti Marni dengan sesekali ada apanya.

“Kamu mau kutraktir bakso? Nasi goreng? Mau apa?” Nah kalau sudah senang begitu, Marni akan royal. Coroh, kata orang Minang. Kadang momen-momen seperti itu dimanfaatkan untuk hal lain oleh Risma. Termasuk, minjam uang untuk bayar cicilan motor lakinya yang nunggak. Pas dipinjam, Risma tahu cara merayakan kebaikan Marni. Satu ucapan, “Terima kasih uniku sang ratu nan kaya lagi baik hati….”

Sambil cengegesan Murni hanya jawab, “Aamiin, aamiin ya Allah…. Ah kamu, biasa ajalah ya Risma.”

Tak banyak orang yang mampu seperti Risma. Ibu-ibu lain lebih banyak mencemooh, gunjing, sesekali membuly Marni. Memang, lagak pamer Marni kadang bikin jengkel. Istilah kata, kaya belum seberapa, sudah merasa punya segalanya di dunia ini.

Penyakit Marni ini, apa pun yang baru dibeli, benda-benda yang mahal di dalam rumahnya, perlu diberitahu agak satu dua orang tetangga. Kadang dengan mengajak main ke rumahnya. Menawarkan arisan di rumahnya saja. Tapi karena tahu perangainya, banyak yang tidak mau datang.

“Ngapain datang, si Marni mau pamer hartanya….” Begitu kata kebanyakan ibu-ibu.

“Mereka gak mau datang ke rumahku, takut kepikiran tidak bisa beli apa yang kupunya. Rata-rata mereka iri….” Buruk juga prasangka si Marni ini kadang.

Tapi, Marni punya sifat baik juga. Dia tidak pelit nyumbang acara sosial, kegiatan pemuda dan lainnya. Kalau ada tetangga kesulitan uang, terutama untuk biaya sekolah anak, ia mau pinjamkan. Untuk beli beras atau kebutuhan harian, dia juga pinjamkan. Cuma celakanya, Marni suka cerita kalau sudah bantu, suka bilang kalau si anu, dan si anu juga, minjam uang ke dia. Dengan Bahasa yang disusun bagai bijaksana, Marni mengatakan, “Kalau untuk sekolah anak, untuk makan keluarga, saya pinjamkan. Apa guna kita diberi rezeki lebih oleh Allah, kalau pelit….”

Suatu sore, setelah mandi nampaknya, dandan agak menor selayang, Marni ngajak Risma makan bakso. Risma yang selalu menjadi teman pendengar terbaiknya, mau-mau saja. Biasanya ada-ada saja yang akan dibicarakan Marni.

Sambil makan bakso, Marni bercerita. Kali ini, ceritanya tentang ayam tetangga sebelah kanan rumahnya, si Lili yang punya banyak ayam.

“Kau tahu tidak, ayam si Lili, kurang ajar betul. Masuk ke rumah aku. Dia naik di meja makan. Kamu tahu, meja makan itu baru dibeli suamiku harga 20 juta satu set. Mahal,” kata Marni sambil menambah kecap pada kuah baksonya.

“Mahal sekali mejanya ya Uni Marni?” respon Risma sambil memasukkan kerupuk jengat ke kuah baksonya.

“Mahal untuk ukuran orang kampung kita, iya. Oya. Setelah kucoba usir, ayam itu melompat ke kulkas besar dua pintu yang keluaran terbaru. Itu baru dibeli suamiku di atas harga sepuluh jutaan pula. Kulkas bagus, bisa menyimpan sayur dalam waktu yang lama. Ayam sialan,” Marni melap mulutnya dengan tisu.

“Baru beli kulkas baru Uni Marni?” pura-pura takjub Risma.

“Iya. Lupa aku cerita ke kamu. Nah, si ayam memang bikin naik darah. Ayam itu, setelah di kulkas, terbang pula dia ke lemari pajang, tempat kristal dan benda-benda mahal yang kubeli waktu di Singapura, Malaysia dan Jakarta….”

“Lemarinya pasti mahal ya Uni Marni?”

“Selain lemarinya mahal, harga dua puluh jutaan juga. Tapi, benda-benda kristal, keramik dan lainnya itu totalnya bisa puluhan juta  juga Risma…. Dasar ayam si Lili….”

Risma yang menyadari bahwa tetangganya sedang memanfaatkan ayam sebagai juru pamer harta benda dalam rumahnya, pura-pura takjub saja. Memang begitu pula lagaknya pamer.

“Yang bikin kesal. Kebetulan pintu kamar terbuka. Ayam si Lili itu ketika diusir keluar malah masuk kamar. Ya ampun, dia injak-injak tempat tidur sofa keluaran terbaru yang baru dibelikan suamiku sebagai hadiah ulang tahun perkawinan…. Mana bed covernya berbahan impor lagi….” Marni berceloteh dengan semangat, penuh emosi yang dibuat-buat. Risma malah minta tambah pesanan juice sirsak. Ini gelas kedua. Marni makin berapi-api cerita ayam tetangganya hinggap di benda-benda mahal dalam rumah.

“Trus ayamnya gimana, berhasil ditangkap?” lanjut Risma sambil menikmati juice sirsaknya yang baru datang.

“Nah. Untung suamiku datang. Ketika berhasil ditangkap, dan dibawa keluar. Wah. Dasar ayam bikin tensi naik deh. Si ayam itu malah berak, pas kena jam tangan suamiku. Tahu gak jam suamiku berapa belinya? Hampir 25 juta….”

Risma pura-pura membesarkan matanya, dan, “Mahalnya lagi…. Bagaimana Uni Marni cari uang sebanyak itu. Murah rezeki Uni Marni ya….”

“Rezeki sudah ada yang mengatur,” jawab Marni sambil mengunyah bakso terakhirnya. Kemudian dia lanjut cerita.

“Lucunya, setelah jam suamiku kena kotoran ayam itu, ayam si Lili ini lepas. Dia hinggap di motor listrik terbaru, yang bungkus plastiknya belum dibuka….”

“Jadi, jadi Uni Marni baru beli motor listrik juga….?”

“Iya. Untuk si Quen, anak sulungku itu. Pas dibelikan dia belum sempat pakai….”

Dan cerita Marni meledak-ledak, mengalahkan panasnya kuah bakso. Dalam pikiran Risma, dari cerita seekor ayam tetangga saja, ia mengetahui isi rumah dan harga barang-barang Marni. Betapa ayam itu telah dimanfaatkan keberadaannya. Dia juga tidak tahu, apakah ayam si Lili memang begitu.

Kadang, pikir Risma, betapa kurang bahagianya Marni. Ia merasa orang lain harus tahu pencapaiannya, apa yang dimilikinya. Karena itu, dia dianggap sebagai teman baik. Bisa validasi juga.

“Pulang kita lagi, Uni Marni?” kata Risma. Muka Risma terlihat cerah, matanya berbinar. Ia merasa puas bercerita tentang ayam tetangga.

“Oya, bungkuslah bakso untuk suami dan anak-anakmu Risma. Jangan kita saja yang enak….” Kata Risma sebelum membayar. Bagi Risma ini betul yang ditunggunya. Tanpa basa-basi, ia mengangguk.

Sesampai di depan rumah, masih di atas mobil, Marni berbisik ke Risma, “Cerita ayam si Lili tadi, boleh kau ceritakan ke orang-orang. Lucu. Biar orang tahu, ayam si Lili itu lucu….”

Risma mengangguk, dan sebelum turun mobil, ia berkata, “Besok pagi, ayam suamiku kusuruh pula masuk ke rumah Uni Marni…. Menurutku, masih banyak yang belum dihinggapi ayam barang-barang mahal di rumah Uni Marni…..”

Uni Marni tersenyum, dan berkata, “Biar giliran ayam suamimu nanti hinggap di dekat kompor gas dan chicken set dapur minimalis terbaruku. Harganya ya ampunnnnn muahal…. “

Risma tertegun, dan turun dari mobil. Ia bayangkan suami dan anak-anaknya besuka cita menikmati bakso. Ia juga membayangkan, besok suaminya akan berkerut kening, karena ia ingat uang cicilan motor belum ada besok jatuh tempo.

Terbayang oleh Risma, sambil membawa ayam ke rumah Marni, dan berkata, “Bisakah pinjamkan uang untuk bayar cicilan motor, dan besok ayamku ini akan bercerita tentang isi rumahmu!”

Risma tersenyum dengan pikiran nakalnya. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top