Teman-Teman Samaun di Jakarta Sibuk Semua

Ilustrasi: Aprililia

“Nanti kalau kamu ke Jakarta, kontak saya. Kita ngopi, makan-makan dan jalan. Mampir ke rumahku. Amanlah itu,” kata Muno pada Samaun, sambil teriak ke bagian kasir, “Teh telur satu Uda….”

Samaun sedang makan malam di restoran Kubang bersama temannya Muno, yang baru ia jemput di Bandara International Minangkabau. Muno adalah teman yang dia kenal ketika sama-sama kegiatan di sebuah organisasi pemuda 15 tahun lalu. Keduanya baru saja menghabiskan martabak mesir, Muno kemudian pesan teh telur. Di Jakarta katanya, jarang bersua teh telur.

Ceritanya kemarin Muno telepon Samaun, bahwa dia akan ke Padang. Muno katanya kerja di kementerian, kementerian apa, Samaun malas tanya.

Menjemput kawan pulang sekejap dari rantau, sudah biasa bagi Samaun. Mengajak makan dan langsung membayarkan kawan dari Jakarta hal biasa bagi Samaun. Katanya, tidak karena itu pula kita akan miskin.

Teh telur pesanan Muno datang, terhidang di meja. Muno langung mengaduk dengan sendok teh telurnya.

“Dua minggu lalu, si Ele saya ajak pula dia ke sini, makan dan minum teh telur. Dia pulang sekaitan adik bungsunya baralek– menikah dengan teman masa sekolahnya,” kata Samaun. Ele temannya Muno juga, cukup dekat, yang katanya kerja di salah satu BUMN. Jauh hari sebelum Ele, Samaun cerita kalau Sial, temannya yang ahli IT, juga pulang. Minta Samaun menjeput. Karena Sial pulang tengah hari, ia ajak makan gulai kepala ikan di Bungus. Besar sendawa Sial, saking kenyangnya.

“Apa cerita Ele dan Sial?” tanya Muno.

Samaun tersenyum. Muno menyelipkan rokok di sela bibirnya, lalu menyulutnya dengan korek. Asap meliuk di depan wajahnya.

“Kalau Ele katanya dia tahun depan akan naik jabatan. Kalau Sial, dia ditawar bekerja mengelola IT sebuah media di salah satu perusahaan swasta milik tim suksesnya presiden. Mantaplah.”

“Wah kerenlah itu. Makin banyak teman hebatmu di Jakarta, Samaun….”

“Iya, syukur alhamdulillah. Kata mereka, sebagaimana kata kau juga Muno: Kalau aku ke Jakarta, amanlah itu. Kontak saja. Kita ngopi. Mampir ke kantorku atau ke rumahku. Silakan bawa keluarga, keliling Jakarta kita….” Demikian Samaun bercerita.

Samaun adalah pegawai biasa di kantor wali kota. Istrinya buka kedai kecil-kecilan, yah jual sembako dan kebutuhan harian di dekat komplek perumahan padat. Cukuplah. Bisa beli mobil Avanza bekas, untuk sekadar jemput kawan sukses di rantau dan bawa raun-raun ketika pulang bisalah.

Samaun juga tempat kawan-kawan pinjam uang kecil-kecilan, sejuta dua juta adalah. Kadang banyak yang tidak bayar. Biar saja, nanti kalau dia meninggal, kata Samaun, dia akan hadir menjelang jenazah diberangkatkan ke kuburan. Ketika pihak keluarga berkata, jika ada utang piutang almarhum, temui pihak keluarga, maka Samaun akan menemui pihak keluarga. Dia hanya mau bilang, “Almarhum punya utang sama saya, payah sekali dia membayar dan memintanya. Maka, dengan ini, biar lapang jalannya ke surga, utangnya saya iklaskan. Ini kebaikan terakhir saya untuknya….” Itu rancangan kalimat di kepala Samaun yang katanya nanti disampaikan ketika momennya tiba. Kadang itu ia ceritakan ke teman-teman sebagai bahan olok-olok memancing tawa, perintang-rintang hari saja.

Samaun memang orang baik. Tamu atau kawan dari Jakarta, Riau, Bandung bahkan Jogja kalau datang minta jeput, dia jeput. Ia traktir makan-makan, kadang. Kalau kebetulan sedang tak ada uang, ia suruh istrinya memasak, dan ia akan berkata kepada kawan atau tamunya, “Makan di kedai sudah biasa. Coba masakan istriku, jamuan untuk kawan dari rantau….” Huff. Banyak pula gayanya Samaun kalau sedang tidak punya uang mentraktir tamu makan di restoran atau rumah makan. Tapi, semua orang tahu, Samaun ini tulus.

Setelah bertemu Muno, Samaun langsung pulang. Dia cerita ke istri rencananya  bulan depan, mau main-main ke Jakarta, sekalian bertemu dengan anak sulungnya yang sedang kuliah di sana. Samaun ingat kata-kata teman-temannya: “Cukup sediakan ongkos pergi dan pulang. Makan dan penginapan, teman-teman yang sering dijeput, dijamu makan, dipinjami uang waktu di kampung akan mengatasi semua itu….”

“Mereka bilang ke aku, amanlah itu Samaun. Kau bawa badan saja, telepon aku….”

Kepada istrinya Samaun nyombong, bahwa kalau jadi orang baik, teman akan banyak. Semua akan berebut melayani kita kalau kita berada di kota tempat mereka merantau atau kerja.

Maka tibalah hari Samaun ke Jakarta. Ia WA beberapa temannya sehari sebelum berangkat. Ketika berada di pesawat dia juga swafoto dalam pesawat. Ia bagi foto itu ke WA teman-teman, dengan kalimat: sampai ketemu di Jakarta kawan….”

Semua temannya menjawab dengan emoji jempol, senyum, lalu kata: siap!

Sesampai di Jakarta, Samaun mengontak Muno. Beberapa kali. Tidak diangkat. Lalu Ele. Beberapa kali, baru diangkat dengan kalimat, “Maaf Samaun, nanti aku kontak balik ya. Lagi miting. Maklumlah orang kantoran di Jakarta ini begitu….!”

Setelah itu ia hubungi pula Sial. Samaun tersenyum, karena Sial langsung angkat dan menjawab.

“Selamat datang di Jakarta Maun. Maaf, saya mau tugas ke Bandung. Berangkat satu jam lagi. Sayang sekali kita tidak bisa ngopi hari ini. Oya, padahal kamarmu sudah disiapkan istriku untuk bermalam dan kita ngobrol sampai dini hari….” Kata Sial pula.

Maun melirik jam tangannya. Pukul 14.30. Ia merasa perutnya lapar. Tampak kafe kecil, ia masuk. Pesan soto Betawi, dan kopi. Temannya di Jakarta yang sering ia temani dan bantu, selain Muno, Ele dan Sial, ia coba kontak dan WA beberapa kali sembari ngopi sehabis soto tak bersisa di mangkuknya. Tapi tak banyak yang merespon. Satu dua membalas WA. Ada yang menjawab, “Kenapa tidak Minggu depan saja, bisa kuajak keliling Jakarta…. Minggu ini belum bisa bertemu ya….” Ada pula temannya waktu hendak pindah ke Jakarta ia pinjami uang beli tiket untuk istri dan dua anaknya, menulis di pesan WA, “Samaun, pukul 16 nanti kuhubungi ya….” Dan rata-rata nanti kuhubungi itu tidak seorang pun menghubungi Samaun. Tapi rata-rata mereka sibuk. Padahal Samaun pilih ke Jakarta hari Sabtu, akhir pekan.

Samaun tersenyum, ketika ingat kata-kata: Amanlah. Aku jeput kamu. Kita ngopi. Kita keliling. Mampir ke rumahku. Makan dan penginapan itu urusanku. Jangan cemas Samaun, kita sudah lama berteman. Silaturrahmi penting. Pokoknya, kalau di Jakarta, kamu tinggal bilang, mau kemana mau apa?

Tiba-tiba dari mulut Samaun menyembur kalimat dalam seringaian sinis, “Ini yang mereka katakan amanlah mungkin….

Samaun pun tertawa-tawa sendiri. Apalagi ketika menelepon istri, ia terpingkal-pingkal. Kata istri Samaun kepada dirinya, “Untung Uda ke Jakarta dalam rangka menemui anak, rindu ke anak dan urusan lain. Bertemu mereka untuk senang-senang saja, buna. Coba kalau dengan sengaja liburan untuk diajak ngopi dan raun sama kawan-kawan Jakarta tu, bisa meraung-raung ke langit tujuh sakit hatinya hahaha….”

Malamnya, Samaun menginap di hotel. Dia coba juga mengontak teman-temannya yang lain. Kali ini sekadar olok-olok saja. Bukan untuk diajak ngopi, jalan atau apalah itu. Juga ngetes, menguji apakah ada teman yang sehangat dia memperlakukan mereka waktu di Padang.

“Kita orang Jakarta ini kadang susah cari waktu senggang. Habis hari di jalan, kesibukan kantor luar biasa. Beda dengan di Padang, kau bisa kemana-mana. Maaf, aku kasip sekali, belum bisa kita ngopi malam ini atau besok juga tak bisa karena aku janji jalan sama anak dan biniku…..” kata orang itu, pada Samaun.

Kali ini tiba-tiba Muno menghubunginya, terasa sekadar bertanya pula tampaknya, “Kapan balik ke Padang, Maun?”

Dengan santai dan asal Samaun menjawab, “Lusa saya ke Padang….”

“Ondeh. Tidak bisa pula kita bertemu. Lusa itu saya baru mau berangkat ke luar kota. Lusa sore saya baru tiba lagi di Jakarta setelah dinas ke Jawa Barat….”

Samaun tertawa, dia tahu dari teman adik sepupu istrinya yang juga kerja di kementerian, kalau Samaun sesungguhnya tidak kemana-mana. Di kantor saja. Kebetulan teman adik sepupu istrinya bekerja di kantor yang sama dengan Muno, dan kenal dengan muno. Dari dialah tahu, Muno tidak kemana-mana. Bahkan teman adik sepupunya itu berkirim foto Samaun sedang ngopi di kantin kantornya.

Sementara Ele, tinggal di Depok. Waktu anaknya hendak pergi kuliah, tampak olehnya kalau Samaun keluar dari gang rumahnya yang berdekatan dengan kos Ele. Anaknya bilang, “Ayah, aku tadi lihat Om Ele keluar gang dengan mobilnya. Ini foto mobilnya yang langsung dikendarai Om Ele….”

Samaun hanya tersenyum-senyum saja. Ele mengaku sedang di luar kota juga. Samaun geleng-geleng kepala sambil senyum. Kecewa juga sih kalau temannya begitu. Sedih sedikit mengingat gaya mereka yang janji kalau ke Jakarta kasih tahu, di Jakarta nanti bla… bla… bla….

Tapi, kata istrinya, syukuri saja. Nah, inilah yang buat Samaun tidak ambil pusing. Ia ingat, tak perlu banyak teman. Uang saja diperbanyak. Kalau kita berpergian, kita bisa suka-suka kita. Dan Samaun, bersyukur, soal uang, istilahnya dia tidak kaya, tapi lebih dari cukuplah. Tidak akan memberatkan kawan-kawan di Jakarta.

Tiba-tiba hapenya berdering. Dia baca, wow: Sial menghubungi. Mungkin temannya akan mengajak ketemuan dan ngopi.

“Halo Sial?”

“Masih di Jakarta kau Maun?”

“Masih. Ngopi kita?” ajak Samaun.

“Itulah Maun. Belum bisa kita ngopi. Aku masih belum bisa meninggalkan pekerjaan, masih di luar kota. Segan aku padamu. Mohon maaf ya, dua hari lagi aku hubungi….”

Setelah telepon ditutup, Maun meposting di Facebook dan IG foto Muno di kantornya yang dikirim teman adik sepupu istrinya dan Ele yang nyetir keluar gang rumahnya yang difoto anak sulungnya. Foto itu ia beri  caption: teman-teman sibuk saya, padah tidak ngapa-ngapain…. Tunggu, sebentar lagi foto teman-teman lain yang kufoto akan kuposting juga…. Kalimat terakhir semacam pancingan, padahal tidak ada. Tujuannya, mana tahu mereka merasa ketahuan berbohong dan tidak mau menemui Samaun di Jakarta.

Benar tak lama, hape samaun berdering. Mulai dari Muno, Ele, Sial dan beberpa nama lainnya. Samaun yakin, mereka akan klarifikasi dan menjawab dengan alasan serta upaya menutup malu karena ketahuan tidak ke luar kota, tidak sibuk dan…. Tapi bagi Samaun, semua telah usai. Tak satu pun panggilan diterimanya. Sengaja ia tak angkat, karena tahu suara teman-teman yang selalu dijamu dan ditemani selama di Padang akan membela diri, mungkin merasa malu dan berpanjang lebar dengan alasan tak penting. Atau mereka malah biasa saja. Ah, sudahlah, gumam Samaun. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top