Dua Hantu Lucu yang Bergentayangan dalam Perut Kita

Ilustrasi: Aprililia

Di kampung saya, banyak sekali jenis hantu. Tapi hantu yang satu ini agak lain pula: hantu minta sedekah. Jadi, pada satu malam, dia muncul. Nenek tua, atau mungkin kakek tua, tidak pernah jelas, yang jelas: tua, ringkih, bongkokan. Dengan menengadahkan sebelah tangan sedikit di atas dada, sembari berkata menghiba, lirih: “sedekahnya, Cu, sedekahnya, Nak!!!”

Pokoknya begitu. Menyeramkan. Melihat wajahnya, yang menakutkan, mula-mula tidak membuat orang lari, tetapi terhipnotis untuk memberi uang. Dan ketika tangan diulurkan untuk memberi, tangan itu segera ditarik dengan cepat oleh tangan hantu, yang juga mengerikan. Penuh sisik dan koreng, luka-luka tercabik, bernanah…

Lalu apa yang terjadi setelahnya?

Tidak pernah jelas. Cerita-cerita hantu selalu mengabaikan detail. Korban, dihajar ketakutan, dan teror. Lutut bergetar tak terkendalikan. Sampai terkencing-kencing di celana. Sudah berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman, tapi tidak bisa, sehingga berakhir pingsan.

Padahal, sumber cerita bisa saja seorang mabuk pulang malam. Pingsan tergeletak di pinggir jalan. Paginya, orang-orang membangunkannya. Dan menguarlah cerita itu. Kalau dia tergolek di situ bukan karena mabuk berat, tapi karena diganggu setan.

Apa pun itu, yang menarik justru, sebuah ketaksadaran. Yang muncul ke permukaan.

Dalam ketidaksadaran itu, pengalaman-pengalaman yang tak pernah diberi bahasa bertahan, agaknya, menyamar sebagai rasa takut yang asal-usulnya tak pasti terjelaskan. Bahwa orang-orang sebenarnya takut sekali menyerahkan uangnya—ngeri jika ada yang meminta padanya.

Jika pemburu sedekah hadir di dekat kita, atau mengetuk pintu rumah kita, atau celengan donasi lewat di depan kita, ketiding sumbangan lalu di hadapan kita,  atau …. Teror segera hadir.

Eeeh, sudah tiba pula dia. Uang keluar pula.

Ketakutan dalam alam bawah sadar semacam itulah, yang menyumbul ke permukaan: jadi sosok hantu minta sedekah.

Dari penghasilan yang tidak seberapa, kita dituntut banyak. Negara meminta pajak, agama memerintah sedeqah dan infak, lalu masyarakat—mengharapkan sumbangsih inyak-eten, dan dunsanak dekat maupun jauh menginginkan kita peduli.  

Agama menghibur kita: sedekah melapangkan rezeki—dan pahala ada tiap kita berbagi.

Ajaran-ajaran moral lain pada umumnya sepakat: kebaikan mendatangkan kebaikan.

Hantu minta sedekah menandai: ketegangan laten antara kemiskinan sistemik dan tuntutan moral berbagi, terutama dalam masyarakat yang penghasilannya sempit tetapi beban moral–religius–sosialnya berlapis-lapis.

Hantu ini adalah personifikasi rasa bersalah kolektif: takut disebut pelit, takut tidak ikhlas, takut gagal menjadi “orang baik”, tapi hidup pas-pasan atau bahkan miskin. Ketidaksadaran ekonomi muncul sebagai teror, bukan sebagai analisis struktural. Bahwa, misalnya, negara absen dalam sistem kesejahteraan, redistribusi struktural, keadilan ekonomi. Negara yang absen, hantu yang hadir. Dalam logika sejarah ketidaksadaran: ketika negara gagal mengelola kemiskinan secara rasional, masyarakat mengelolanya secara mitologis.

***

Hantu yang kedua, yang kini masih bergentayangan di kampung saya: hantu pemburu kepala.

Jika hantu minta sedekah lahir dari ketegangan ekonomi dan rasa bersalah yang dipendam, maka hantu pemburu kepala muncul dari lapisan ketakutan yang lebih dalam dan lebih tua: ketakutan akan kekerasan yang tak pernah selesai diceritakan.

Hantu pemburu kepala itu diceritakan menggunakan pedang panjang, pisau runcing-tajam, atau sejenis kapak gadang, tidak pernah jelas. Mungkin sejenis jihin, demit, silumat, atau gergasi buruk rupa, atau entah apa, juga sama tidak jelasnya. Yang jelas, ia bergentayangan memburu kepala-kepala—terutama korbannya ialah anak-anak yang suka kelayapan.

Kepala-kepala itu nanti digunakan untuk mengokohkan tiang-tiang jembatan, jalan layang, dam dan bendungan. Intinya, untuk mengokohkan pembangunan.

Hasil dari semua cerita itu ialah, teror.

Ketika malam, setiap melewati jembatan yang baru saja selesai dibangun melintangi sungai besar yang memisahkan kampung satu dan kampung di seberang, selalu muncul perasaan tergidik dalam pikiran kanak-kanak saya: apakah kepala-kepala itu akan terbang-bergentayangan meneror setiap orang yang lewat, atau sekurang-kurangnya menggemakan jeritan tertahan penuh derita dan sakit saat ia dipisahkan dari badan?

Ketika siang, sepulang sekolah melewati jembatan yang baru itu, selalu terbersit tanya sambil menelisik-nelisik: pada bagian manakah dari jembatan ini ditanam kepala?

Cerita tentang hantu pemburu kepala itu diserbarkan para orangtua untuk membuat anak-anak ketakukan, untuk menjadikan mereka patuh, lantas tunduk pada suruh dan tegah.

Bisa jadi memang itu hanya cerita petakut, tak lebih dari omong-kosong. Namun, sering kali, yang kita sebut omong-kosong justru adalah cara sejarah bekerja di bawah sadar: menyimpan apa yang tak boleh diingat, lalu mengembalikannya dalam bentuk yang tak lagi dikenali.

Sering terjadi, pada suatu masa, orang-orang dijemput paksa oleh sekelompok orang—entah hansip, entah kesatuan pengaman sipil—dari rumah ibunya, dari rumah istrinya, dari rumah anaknya untuk dipenggal di tepi-tepi tebing, di tubir-tubir lembah, di pinggir-pinggir suwung.

Pernah pula, kampung demi kampung dimasuki dan digeledah oleh sekelompok orang—entah kesatuan aksi pemuda-pelajar, entah sekelompok peronda, entah seregu pasukan—untuk mencari dan menemukan orang-orang ‘bersalah’ dan ‘tidak bersih diri’ yang akan segera dibunuh dengan cara dipenggal.

Barisan orang-orang dengan leher dan tangan terikat yang akan segera menjadi mayat hanya dalam sekali tebasan? Mayat-mayat tanpa kepala yang bertumpuk-tumpuk dalam lubang yang digali tergesa-gesa, atau mengapung-ngapung di sungai-sungai menuju muara yang kadangkala ditemukan tersangkut di jala penangkap ikan?

Di atas tumpukan mayat tanpa kepala itulah kemudian rezim baru didirikan—yang sukses membangun, jembatan, jalan layang, kota-kota, bendungan … tetapi tidak pernah berhenti ‘memenggal kepala’.   

Ketakutan dan kengerian akan kehadiran gerombolan pemburu kepala itulah yang menjadi narasi yang ditebar ‘para orangtua yang ketakutan’ kepada anak-anak mereka dalam wujud cerita hantu.

Cerita petakut yang sesungguhnya juga berasal dari ketakutan penceritanya sendiri.

Lahir dari semacam trauma yang tak kunjung tersehatkan sekalipun telah dipoles ‘pembangunan’.

Pada akhirnya, betul kata ibu saya dulu, menguatkan saya ketika takut:

Halah, mana ada hantu. “Hantu dalam perut!”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top