Nian Patah yang Lihai Mematah

Ilustrasi: Aprililia

Di kampung saya, bagian tubuh tertentu yang tidak sempurna menjadi penanda cela. Heri Gembung, Ijon Pengka, Anto Celek, Leman Tengkak, Ukil Sumbing, dan seterusnya.  Cukup satu cacat kecil, ia akan abadi. Hidung bengkok, kaki pincang, mata juling—nama lengkap pun boleh lupa, julukan jangan.

Tapi Nian Patah tidak digelari begitu karena kakinya patah atau tangannya atau hidungnya atau bagian tertentu dari tubuhnya ada yang patah. Dia dipanggil begitu karena semacam ‘keahlian’ – dia pandai kali mematah.

Dari yang besar sampai yang kecil dipatahnya semua yang bisa dipatah. Dari anak-anak sampai agaknya napasnya yang terakhir terlatih mematah.

Jadi kernet angdes di awal masa remaja, setoran ke supir dipatahnya. Jadi penjaga heler di akhir masa remaja, pitih dedak kasar dan dedak halus masuk saja ke kantongnya tanpa dilapor ke induk semang.

Jadi juru timbang getah dan kulit manis, di masa dewasa awal, jarum timbangan disetelnya supaya “kurang seangin”. Jadi pengurus masjid yang khusus ditugasi mencari donatur untuk pembanguan menara, di masa dewasa matang, lalu juga olehnya ujung-ujung infak dan sedekah.    

Terakhir, ketika menjadi walinagari, dana korban banjir dan galodo aih dipatahnya pula.

Harusnya, seminimalnya, korban dapat segantang se-KK. Rupanya yang sampai ke tangan hanya segenggam kecil saja. Itu pun disorakkan untuk makan sepekan.

Bukan saja jumlahnya yang kecil dari yang seharusnya diterima, tetapi jenis berasnya juga sudah makan tangan keahliannya: beras-beras patah saja lagi yang sampai ke warga terdampak.

Kariernya sebagai walinagari—setingkat kepala desa kalau di tempat lain—sekarang ini juga tercapai karena kepandaian dia mematah itulah.

Setelah berhasil mengumpulkan dana besar untuk membangun menara masjid, dia terangkat jadi pegawai kontrak di kantor bupati. Bantuan bibit dan pupuk dari pemda banyak yang dikasihnya ke orang-orang kampungnya saja. Bantuan mesin bajak dan pengirik padi, orang-orang kampungnya juga yang rata-rata mendapat.

Pokoknya, setiap dana pemda yang turun ke kampung-kampung, setelah dipatahnya agak sedikit, lalu dialokasikan utamanya pada kampungnya sendiri dulu.

Jadinya, suka orang-orang kampungnya kepadanya. Sayang orang-orang kampungnya akan dia. Jadi buah bibir dia, mau mengabdi dan gigih berjuang untuk kampung sendiri. Jadinya, ketika dia mencalon jadi walinagari, menanglah dia.

Setelah jadi wali, kepandaian mematah itu dirawatnya terus.

Pembangunan tali bandar harusnya 5 kilometer panjangnya, dipatahnya jadi 2,5 saja. “Tidak semua saluran irigasi mesti dibetonisasi, ada yang tetap harus dibiarkan alami,” katanya pada sebuah rapat dengan wakil-wakil masyarakat di musnag.

Jalan desa yang menurut ketentuannya sampai ke tempat penimbangan di tepi hutan, dipatahnya, cukup sampai ke tepi sungai belaka. “Biar orang-orang kampung kita ini tetap membiasakan berjalan kaki,” katanya memberi pengertian suatu kali di kedai kopi.  

Apa yang dilakukan Nian Patah bukan hal baru. Jauh sebelum ia lahir, di kampung kami sudah ada juga orang-orang yang lihai mematah.

Di zaman Kompeni, pada 1717 persisnya, VOC menemukan defisit uang tunai yang besar pada kas kantor cabang mereka di Pantai Barat Sumatra. Para pejabat tinggi mereka di sana bersekongkol dalam skandal besar dan menggemparkan dalam sejarah Perusahaan itu. Hofman—pejabat tertinggi di kawasan itu—ketahuan mematah 43.975 rijksdaalder (rsd.) dari kas Kompeni.

Dalam menjalankan usaha mematah, Hofman bersekongkol dengan beberapa bawahannya. Jongtijs dan Draijpon, dua wakilnya di Benteng Padang, kedapatan memiliki 18.000 rsd. dari kas barang-barang pribadi di gudang VOC di sana. Vlasvat dan van Santen, dua wakil lainnya, mengaku bahwa mereka telah bertindak mematah atas perintah Hofman.

Sementara itu, pejabat administrator Francais Spijk juga terbukti mematah uang Perusahaan senilai 2943 rsd. Sedangkan pendeta Canter Visscher sata pula sekaki, menjual tekstil milik Kompeni seharga 3.016 rsd. untuk keperluan pribadinya. Tidak itu saja, istri Hofman bahkan juga disebut-sebut terlibat dalam usaha mematah yang sama.

Di zaman Indonesia masih bernama Hindia Belanda, ada datuk merarau dalam penjara karena mematah uang pajak. Sebagai penghulu, dia hidup selesa. Bersawah luas dan punya ternak banyak. Dianjung-disanjung orang karena jabatan dan pusaka. Kini, hina-dina, bagai kambing saja.

Kalau di Jawa, kepala desa dengan centeng-centengnya yang disuruh memungut pajak. Ada masanya kepala desa banyak berulah, disuruhnya pemungut pajak dari kalangan Tionghoa. Jadi, pada bencilah orang ke Cina. Jadi, sentimen negatif ke Cina itu ada akarnya jauh juga ke masa kolonial dulu.

Tapi di Sumatra, penghulu-penghululah yang disuruh mengumpulkan belasting dari kaumnya sendiri. Tidak hanya memungut pajak, tapi juga mengarak anggota kaumnya berodi—kerja paksa untuk kepentingan penjajah. Membangun jalan, menebas hutan, membuka kota—Bukittinggi yang kata orang Paris van Sumatra itu hasil rodi tauwww!

Datuk-datuk ini, iya pula, hendak menyenangkan hati Belanda. Keras ke bawah, menjilat ke atas, biar dapat bintang emas. Bisa naik jabatan nanti, jadi penghulu kepala—angkupalo. Naik lagi, jadi kepala laras—angkulareh. Ber-SK, dapat gaji bulanan, tunjangan anak-bini, urang pensiun, rumah rancak dan dikawal opas.   

Jadinya, pada bencilah para anggota kaum kepada datuknya sendiri.   

Datuk yang mematah setoran pajak tadi itu telah merasakan pedihnya dihinakan dengan dipenjara dan akan dibuang jauh dari negerinya. Sedangkan Hofman yang mematah kas VOC dipecat dari jabatannya. Setelah itu, statusnya sebagai pegawai Kompeni dicabut. Dicambuk dan dirantai di depan umum. Harus pula melayani Kompeni sebagai tahanan rantai tanpa bayaran (kerja paksa) selama 15 tahun nun jauh di Afrika Selatan.

Soal patah-mematah ini memang sudah tabiat manusia agaknya. Mau londo mau indo mau kroco. Mau kafirun atau angku haji. Di saat lapang ada kesempatan dan peluang atau bahkan ketika sempit lagi krisis macam bencana begini pun, muncul jugalah dia. Kita menyebutnya korupsi.

Bukannya memperberat hukuman macam yang diterima si datuk tadi dan Hofman, pemda yang dikepalai bupati pengka yang terpincang-pincang jalannya kabarnya bakal mengampuni tukang patah macam Nian Patah, asal mengembalikan yang dipatah.

Ah, sudahlah. Patah sudah terlalu biasa. Jalan patah, irigasi patah, jembatan patah, bantuan patah, keadilan pun patah. Tak ada akal lagi. Semua-mua sudah habis patah.   


Catatan Redaksi

Rubrik ini kini bernama “SKETSA”. Sketsa merupakan ruang “bercerita” tentang hal-hal lucu, unik, menarik, menyebalkan, memiriskan dan lainnya yang merupakan potret dari keseharaian manusia, kita sepanjang masa. Ide cerita berangkat dari hal-hal kecil kehidupan kita, baik dari penulis, teman atau pembaca. Rubrik ini khusus ditulis oleh dua orang tim redaksi cagak: Deddy Arsya dan Yusrizal KW, secara bergantian setiap Kamis. Jika ada ide atau usulan tema atau perilaku seseorang, silakan ke email redaksi, akan dituliskan sebagai cerita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top