
Di kampung saya, ada seorang tukang lauk yang suka sekali menangis. Ketika suatu kali ditanya emak-emak, “kenapa belum juga berbini, Pak?”, matanya sontak berurai air mata kesedihan.
“Mau dengan si anu?” kata emak-emak lain menawarkan seorang janda di hari lainnya. Dia menangis lagi. Pokoknya, penangis sekalilah. Melihat ada di antara ikan-ikannya yang matanya buta saja, bisa menangis dia. Ikannya tidak laku, dia menangis. Ban sepeda ontelnya bocor, dia menangis.
Kalau orang-orang ingin melihat tangisan, orang memperolok-olok dia. Menyembunyikan kantong uangnya, atau melarikan golok pemotong ikan miliknya.
Akhirnya, orang-orang paham saja, dia penangis sekali orangnya. Akhirnya lagi, “jangan goda juga, nanti menangis pula dia!” kata para emak yang mengerubungi sepeda ontelnya.
Di kursi belakang sepeda ontelnya itulah, dia meletakkan sebuah baskom besar berisi ikan. Dengan cara begitulah, dia menjajakan dagangannya, masuk-keluar kampung, sembari memencet oet-oet sebagai penanda kehadiran.
Orang yang gampang menangis lebih cocok jadi penyair sebenarnya, bukan tukang lauk. Tidak cocok saja, orang yang terbiasa bermain golok, bermandi darah, justru penangis kali, habis saja main dia oleh emak-emak iseng. Tapi, kalau jadi penyair dia, agaknya bagus-bagus puisinya, dan bisa pula menang KLA atau terpilih jadi penyair terbaik pilihan Majalah TEMPO.
Penyair yang terkenal suka menangis tentu saja Taufiq Ismail. Dibacakan puisinya oleh anak-anak teater kampus, menangis pula dia. Dideklamasikan dalam sebuah performance Manifesto Kebudayaan di mana dia termasuk penandatangan, terisak-isak pula dia mengenang zaman lalu, di mana Komunis berkuasa dan para penanda tangan Manikebu dibelasah di mana-mana.
Agaknya, itu menangis terharu namanya.
Tapi, ada juga penyair yang menangis karena menderita sedih: Goenawan Moehamad terisak-isak di depan Rosi karena sedih amat melihat jalan sejarah bangsa ini. Terseok-seok pincang pengka begini macam jawi habis kena pungkang.
Orang-orang tua memang acap menangis. Entah karena sedih, entah karena haru, yang gampang kali naik, menyesak ke dada, dan membuat kantong tangis pada mata mudah terburai pecah.
“Owalah, sudah menangis pula, Gaek ini!” kata orang di kampung.
Menangis ialah salah satu ekspresi ketidakmampuan untuk berbuat apa-apa lagi. Ketidakberdayaan yang tidak lagi mampu terkatakan. Tangis sajalah yang menyampaikan.Kalau ada rebab dan saluang, mintak tolonglah ke mereka. Tapi rebab dan saluang acap diam saja sekarang.
Muallem menangis di depan Najwa. Najwa juga dulu menangis di tempat yang sama sekitar 15 tahun yang lalu. Salah seorang bupati di Aceh menangis pula pada suatu rapat dengan pejabat-pejabat dari pusat. Kalau dicari-cari, banyak lagi yang menangis. Di tenda-tenda pengungsian, tiap sebentar orang menangis. Reporter-reporter TV menangis. Ahli-ahli geologi menangis sembari live. Para relawan di lapangan menangis.
Tangis hadir sebagai bahasa alternatif ketika bahasa rasional dan prosedural tidak lagi memadai. Apa mau dikata, menangis saja lagi yang bisa. Tampuk tidak terpegang pada kita. Gagang di tangan orang pusat terpaciknya. Itulah gunanya berkuasa. Itulah gunanya sekarang, orang-orang pada mendekat ke pusat semua. Biar tidak terbit pula tangis karena tidak berdaya.
Sebab orang-orang yang sedang berkuasa di pusat itu memang tampak tidak ada yang menangis. Berdansi-dansi saja mereka dalam pesta. Ringan dan girang saja hati mereka.
Ada yang sehabis pulang dari kungker ke tempat bencana, setelah mengangkat beras agak sebuntil, lalu makan besar di lapau nasi besar, mengembang kedua tangan di atas sandaran kursi kekenyangan, sambil mencungkil cirit gigi, tangan satu lagi menghisap cerutu mahal pula lagi.
Memang kentut juga orang macam begitu.
Menangis memang tidak akan menyelesaikan masalah. “Ayolah, berhenti menangis, Nyonya Lewis,” kata Tuan Besar Zeitlin dalam Sashenka, novel Simon Montefiore, yang terkenal itu. Ketenangan dalam saat-saat krisis tidak hanya keharusan dalam hidup dan sebuah pertanda peradaban, tapi sebuah seni, hampir seperti agama, kata novel itu pula.
Tapi, dengan logika semacam itu, kekuasaan menjadi terlihat dingin dengan ketenangannya. Logika teknokratis memuja ketenangan sebagai kebajikan tertinggi. Menangis, dalam kuasa logika ini, menjadi terlihat lancung, salah, tidak tepat.
Menangis memang tidak menyelesaikan apa-apa. Tapi dunia yang sama sekali tidak menangis di hadapan kemalangan yang tragis justru patut dicurigai. Bisa jadi sudah terlalu pedar kelenjer empati dan jadi bebal. Dan pada titik ini, air mata orang-orang yang nestapa bukan lagi sekadar tangis biasa, ia telah berubah menjadi “laporan” paling jujur tentang bagaimana kekuasaan bekerja.
Catatan Redaksi
Rubrik ini kini bernama “SKETSA”. Sketsa merupakan ruang “bercerita” tentang hal-hal lucu, unik, menarik, menyebalkan, memiriskan dan lainnya yang merupakan potret dari keseharaian manusia, kita sepanjang masa. Ide cerita berangkat dari hal-hal kecil kehidupan kita, baik dari penulis, teman atau pembaca. Rubrik ini khusus ditulis oleh dua orang tim redaksi cagak: Deddy Arsya dan Yusrizal KW, secara bergantian setiap Kamis. Jika ada ide atau usulan tema atau perilaku seseorang, silakan ke email redaksi, akan dituliskan sebagai cerita.




