Cerpen

Cerpen

Bukan Kebanggan

Kandar, seorang polisi muda, terjebak dilema pelik. Target operasi satuannya adalah Ancah Kutung, preman kebal senjata yang ternyata ayah kandungnya. Saat tugas mendesak untuk menghentikan kebrutalan sang ayah, Kandar harus memilih: loyalitas pada seragam atau ikatan darah. Sebuah peluru bertanda merah menjadi kunci takdir tragis di tengah pertikaian berdarah ini.

Bukan Kebanggan Selengkapnya

Cerpen

Penyair Syahdan Agogo

Di kedai kopi buta Puk Minah, para seniman Kota S berkumpul di malam hari. Satu-satunya angkatan lama yang tersisa adalah penyair 68 tahun, Syahdan Agogo. Di tengah obrolan kacau balau tentang seni, politik, hingga nasib pelukis Sadrah Kuncir, Syahdan sibuk membayangkan namanya disebut sebagai pemenang Nobel Sastra.

Penyair Syahdan Agogo Selengkapnya

Cerpen

Anak Panah Bermata “Tunung”

Maristi sudah terbiasa dan berusaha untuk tidak pernah takluk dengan mata merah Yudas, pria yang selalu mengawasinya. “Biar nanti matanya buta kalau terus menatapmu seperti itu,” ujarnya kepada Lidiana. Tapi kini ladang keluarganya hancur, dan kemarahan telah memuncak. Sekembalinya ke rumah, Maristi mendapati Yudas terkulai dengan anak panah menancap di mata kirinya. Sebuah hukuman yang mengerikan.

Anak Panah Bermata “Tunung” Selengkapnya

Cerpen

Azimat Palembang

“Manuskrip itu bukan sekadar benda. Mereka memuat sejarah, cerita, atau bahkan darah dan kepedihan tak terkira,” ujar Arman, menyarankan saya ‘memantaskan diri’ sebelum menyentuh pusaka ratusan tahun itu.

Namun, ketika klise foto diletakkan di alat pemindai digital di Perpustakaan Leiden, hasilnya mengejutkan. Tak satu lembar pun menunjukkan aksara. Semuanya menjelma batu hitam yang ditembak cahaya tajam dari belakang. Azimat itu merupa objek korban backlight.

“Kadang-kadang, hal ini memang terjadi,” kata pustakawan Erl, menggeleng kesal. Pusaka itu seolah tak ingin disentuh teknologi.

Azimat Palembang Selengkapnya

Scroll to Top