Liputan

Liputan

Walau dalam “Genangan”, di Ruang Temu Nan Tumpah Kesenian Hidup Bersama Warga

Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) menyelenggarakan program tahunan “Ke Rumah Nan Tumpah #10” di Korong Kasai, Padang Pariaman. Melalui Pameran Silotigo dan Kelana Akhir Pekan, KSNT menciptakan ruang kreativitas seni alternatif yang memberdayakan warga dan anak-anak setempat, memanfaatkan material lingkungan sekitar, meskipun hidup berdampingan dengan tantangan genangan air.

Walau dalam “Genangan”, di Ruang Temu Nan Tumpah Kesenian Hidup Bersama Warga Selengkapnya

Liputan

Out of the Boox di Padang: Merayakan dan Memaknai Minat Beli Pecinta Buku

Out of the Boox kembali mengguncang Fabriek Padang dengan ribuan koleksi buku, menarik minat tinggi dari keluarga muda hingga Gen Z. Lebih dari sekadar berburu diskon, event ini menjadi momen krusial bagi orang tua untuk menanamkan nilai literasi dan membangun “Home Library Culture” bagi anak-anak di era digital.

Out of the Boox di Padang: Merayakan dan Memaknai Minat Beli Pecinta Buku Selengkapnya

Liputan

Nanda Wirawan, Menenun Makna dan Revitalisasi Songket Tuo Minangkabau

Mengulik kisah Nanda Wirawan dan Studio Wastra Pinankabu dalam merevitalisasi songket tuo Minangkabau. Bukan sekadar kain, bagi Nanda, songket adalah manuskrip budaya yang penuh makna filosofis dan cerita daur hidup. Simak dedikasi mereka menjaga warisan tekstil leluhur melalui teknik tenun tradisional dan pewarna alami.

Nanda Wirawan, Menenun Makna dan Revitalisasi Songket Tuo Minangkabau Selengkapnya

Liputan

Apsas Dua Dekade Lebih: Jalan yang Memulangkan Suara untuk Pembaca

Apresiasi Sastra (Apsas) 2026 kembali hadir sebagai ruang “underground” yang mendobrak sekat antara pengarang dan pembaca. Bertempat di Bantul, kolaborasi bersama Radio Buku ini membahas sepuluh karya pilihan—mulai dari puisi hingga novel terjemahan—membuktikan bahwa di tengah arus digitalisasi, kecintaan pada literasi tetap menyala tanpa perlu menjadi elit.

Apsas Dua Dekade Lebih: Jalan yang Memulangkan Suara untuk Pembaca Selengkapnya

Liputan

Baca Di Tebet, Perpustakaan dan Ruang Temu Demi Kemerdekaan Berpikir

Baca Di Tebet hadir sebagai oase literasi modern di Jakarta Selatan yang menggabungkan konsep perpustakaan dan ruang temu yang nyaman. Didirikan oleh Kanti W Janis dan Wien Muldian, tempat ini menyimpan lebih dari 27.000 koleksi buku berkualitas. Tak sekadar tempat membaca, ia menjadi wadah merawat pengetahuan, kreativitas, dan kemerdekaan berpikir bagi kaum literat.

Baca Di Tebet, Perpustakaan dan Ruang Temu Demi Kemerdekaan Berpikir Selengkapnya

Liputan

West Sumatera Visual Art Exhibitions: Hulu Sebagai Cara Berpikir dan Sumber Penciptaan 

West Sumatera Visual Art Exhibitions hadir dengan tema “Hulu” sebagai respon kontemplatif terhadap krisis ekologi dan bencana alam yang melanda Sumatera Barat. Lewat instalasi memukau dan lukisan kritis, para perupa mempertanyakan kembali arah ekosistem seni rupa lokal yang dinilai sibuk bergerak namun kehilangan orientasi tujuan.

West Sumatera Visual Art Exhibitions: Hulu Sebagai Cara Berpikir dan Sumber Penciptaan  Selengkapnya

Liputan

Sinai dan Gunung-gunung Kecil yang Menyelinap Itu

Perjalanan ke Sinai dimulai dari Biara Santa Katarina, menyimpan manuskrip kuno. Pendakian bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan menyerap sejarah panjang rahib, kartografer, dan peziarah. Puncak Sinai menyajikan kerukunan: masjid dan gereja berdampingan, tempat para peziarah lintas latar berdialog dengan waktu. Sinai mengajarkan kesadaran tentang langkah, napas, dan kerendahan diri.

Sinai dan Gunung-gunung Kecil yang Menyelinap Itu Selengkapnya

Liputan

Ke Aleksandria, Teringat Sriwijaya

Perpustakaan Aleksandria kuno lenyap bukan karena perintah tunggal, melainkan akumulasi perang dan kelalaian. Penulis merenungi ironi ini saat melakukan perjalanan, menghubungkan kehilangan fisik Aleksandria dengan Sriwijaya, dua peradaban besar yang jejak fisiknya kini tercerai, namun gagasan dan pengaruhnya tetap hidup dalam ingatan, ilmu, dan kehidupan kota masa kini.

Ke Aleksandria, Teringat Sriwijaya Selengkapnya

Liputan

PPF 2025: Perpuisian Indonesia dalam “Harap dan Cemas”

Diskusi Dewan Juri PPF 2025 mengungkap “Harap dan Cemas” perpuisian Indonesia: potensi media baru vs. risiko standar “mana-suka”. Dari 108 manuskrip, juri menyoroti kurangnya inovasi dan keterampilan berbahasa meski ada pemanfaatan idiom teknologi. PPF berupaya meningkatkan mutu penyair melalui program mentoring intensif untuk para pemenang.

PPF 2025: Perpuisian Indonesia dalam “Harap dan Cemas” Selengkapnya

Scroll to Top