Sketsa

Pada Sebuah Sumur Tua

Di atas sumur tua tempat mayat-mayat ditimbun tergesa, kini tumbuh pohon besar yang daunnya rutin diambil untuk pengalas kue bika. Namun, di balik lezatnya kue itu, saat malam tiba terdengar jeritan lirih dari akar pohon: “Kami belum mati, Pak!”. Sebuah trauma sejarah yang menolak untuk mati.

Pada Sebuah Sumur Tua Selengkapnya

Liputan

Sinai dan Gunung-gunung Kecil yang Menyelinap Itu

Perjalanan ke Sinai dimulai dari Biara Santa Katarina, menyimpan manuskrip kuno. Pendakian bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan menyerap sejarah panjang rahib, kartografer, dan peziarah. Puncak Sinai menyajikan kerukunan: masjid dan gereja berdampingan, tempat para peziarah lintas latar berdialog dengan waktu. Sinai mengajarkan kesadaran tentang langkah, napas, dan kerendahan diri.

Sinai dan Gunung-gunung Kecil yang Menyelinap Itu Selengkapnya

Esai

Orkes Sakit Hati Multatuli, ‘Si Paling Menderita’ yang Dirayakan?

Esai ini mengulas kontroversi seputar Multatuli, penulis Max Havelaar, dan penobatannya sebagai ‘Pahlawan’. Karya besarnya mengungkap kekejian tanam paksa di Lebak. Namun, muncul kritik bahwa novel ini adalah protes pribadi dan manifestasi Orientalism, mempertanyakan apakah ia layak dirayakan oleh bekas koloni.

Orkes Sakit Hati Multatuli, ‘Si Paling Menderita’ yang Dirayakan? Selengkapnya

Cerpen

Jono

“Namamu siapa?” tanya polisi. Jono menjawab cepat, “Maling, Pak, bukan PKI. Maksudnya, saya dituduh maling .” Ia terancam lima tahun penjara karena mengambil logam kuningan dari tempat sampah. Semula, Jono hanya ingin melihat pohon petai di pabrik lamanya. Sayang, harapannya pupus. Tubuhnya akhirnya tak bangun lagi di pagi hari.

Jono Selengkapnya

Liputan

Ke Aleksandria, Teringat Sriwijaya

Perpustakaan Aleksandria kuno lenyap bukan karena perintah tunggal, melainkan akumulasi perang dan kelalaian. Penulis merenungi ironi ini saat melakukan perjalanan, menghubungkan kehilangan fisik Aleksandria dengan Sriwijaya, dua peradaban besar yang jejak fisiknya kini tercerai, namun gagasan dan pengaruhnya tetap hidup dalam ingatan, ilmu, dan kehidupan kota masa kini.

Ke Aleksandria, Teringat Sriwijaya Selengkapnya

Liputan

PPF 2025: Perpuisian Indonesia dalam “Harap dan Cemas”

Diskusi Dewan Juri PPF 2025 mengungkap “Harap dan Cemas” perpuisian Indonesia: potensi media baru vs. risiko standar “mana-suka”. Dari 108 manuskrip, juri menyoroti kurangnya inovasi dan keterampilan berbahasa meski ada pemanfaatan idiom teknologi. PPF berupaya meningkatkan mutu penyair melalui program mentoring intensif untuk para pemenang.

PPF 2025: Perpuisian Indonesia dalam “Harap dan Cemas” Selengkapnya

Liputan

PPF 2025 Menggali Dunia-dunia yang Ada di Dalam Puisi

PPF 2025 di Payakumbuh sukses besar dengan tema “Antardunia Dalam Puisi,” menggali khazanah puisi tradisional Minangkabau hingga lanskap perpuisian modern. Festival ini menampilkan kolaborasi apik Namal Siddiqui (Pakistan) dan musisi lokal, serta workshop penulisan puisi dan alih wahana sound serta visual poetry. Acara ini membuktikan bahwa puisi tak hanya teks, tapi juga ruang belajar yang luas untuk generasi muda.

PPF 2025 Menggali Dunia-dunia yang Ada di Dalam Puisi Selengkapnya

Esai

Apakah Pembacaan Komputasional Akan Menggantikan Pembacaan Tekstual?

Digital humanities muncul menawarkan solusi bagi studi sastra berskala besar yang mustahil dilakukan lewat pembacaan tekstual berbatas waktu. Namun, metode komputasional ini memicu kekhawatiran karena dianggap menyelewengkan dasar humaniora, hanya sebatas menghitung kata, dan tunduk pada kebijakan neoliberal. Padahal, keduanya tidak seharusnya saling meniadakan.

Apakah Pembacaan Komputasional Akan Menggantikan Pembacaan Tekstual? Selengkapnya

Scroll to Top